My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 25. Penghangat Ruangan.


__ADS_3

Ketukan keras di pintu kamar membuat Dara terjaga dari tidurnya. Tapi, gadis itu malas beranjak dari ranjangnya. Hingga suara Nicholas memanggilnya membuatnya teringat bahwa pemuda itu sedang menginap di apartemennya.


"Apa lagi, sih, tu orang, haduuh!" Dara mengacak rambutnya kasar.


"Dara! Dara, help me!"


Suara Nicholas terdengar dari balik pintu. Dara menguap sekali, lalu dengan malas menyeret langkahnya menuju pintu.


"What?" tanyanya dengan suara serak. Dilihatnya Nicholas masih segar bugar.


Nicholas meringis. "Aku tidak bisa tidur. Sofanya terlalu sempit," ujarnya. "Penghangat ruangan juga sepertinya tidak berfungsi. Aku kedinginan."


Kembali Dara menguap. "Tidur saja di lantai," ujarnya asal. "Penghangat ruangan memang mati. Aku belum membayar tagihannya."


"Lalu, bagaimana nasibku?" tanya Nicholas memelas.


"Mana aku tahu." Dara mengedikkan bahu. "Sudah, jangan ganggu aku. Aku mengantuk sekali."


Nicholas menahan pintu yang hendak ditutup oleh Dara. Terjadilah aksi saling dorong pintu di antara mereka.


"Kamarmu sepertinya cukup hangat. Mungkin kau mau berbagi ranjang denganku?"


"Tidak bisa! Kau yang ingin menginap di sini. Jadi, terima saja apa adanya." Dara berusaha menutup pintu kamarnya, tapi Nicholas tetap menahannya.


"Apa kau tega melihatku menderita?" tanya Nicholas.


"Tidak usah mendramatisir keadaan!" hardik Dara. Sekuat tenaga ia berusaha menutup pintu dan berhasil.


Dara menarik napas dalam-dalam seraya menyandarkan punggungnya ke pintu. Tiba-tiba saja hatinya bimbang.


"Sialan!" makinya. Wajah memelas Nicholas tiba-tiba saja membuatnya iba. Mungkin pemuda itu memang benar-benar kedinginan. Selimut yang ia berikan cukup tipis karena biasanya ia menggunakannya untuk melapisi selimut yang dipakainya.


Dengan berat hati, Dara membuka pintu kamarnya. Dan Nicholas masih berdiri di sana.


"Aku tahu kau tidak tega padaku," kekeh Nicholas senang. "Jadi, aku boleh masuk?" tanyanya penuh harap.


Dara mendecak sebal. Sebal karena harus mempersilahkan Nicholas masuk ke dalam kamarnya.


"Terimakasih, Dara," ucap Nicholas dengan wajah berseri-seri. Lalu, tanpa menunggu aba-aba dari Dara, ia menghambur masuk ke kamar gadis itu.


"Damn! Ranjangnya sempit sekali."

__ADS_1


"Hei! Aaargh!" Dara hendak mencegah Nicholas naik ke atas ranjang, tapi pemuda itu sudah terlanjur berbaring di sana.


"Tapi, selimutmu cukup tebal, dan ranjangmu cukup nyaman," ujar Nicholas seraya menutupi badannya dengan selimut. Ia tidak berbohong saat mengatakan pada Dara bahwa dirinya tidak bisa tidur. Sofa di ruang tamu benar-benar tidak nyaman untuk tidur dan membuat badannya pegal-pegal.


Dara menggeleng pelan. Sekarang, dirinya yang kebingungan akan tidur di mana.


"Kenapa berdiri saja di situ? Come!" pinta Nicholas seraya menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


Dara memutar bola matanya. Ia tahu akal bulus Nicholas. Pemuda itu pasti sedang merencanakan sesuatu.


"Dara, come here!" pinta Nicholas kembali. "Jangan takut. Aku janji tidak akan macam-macam."


Dara masih merasa curiga dengan Nicholas meskipun pemuda itu berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang tidak senonoh padanya.


Dan entah apa yang terjadi pada diri Dara, ia menurut saja berbaring di samping Nicholas, walaupun dibatasi dengan guling di tengah-tengah mereka.


Meskipun beresiko, tapi, entah kenapa jauh di lubuk hati Dara, ia mempercayai Nicholas. Meskipun mulutnya memperingatkan pemuda itu untuk tidak macam-macam, tapi, hatinya mengatakan berbeda. Dara justru merasa aman akan kehadiran Nicholas. Sungguh aneh.


"Kau serius belum membayar tagihan penghangat ruangan?" tanya Nicholas.


Dara yang hampir terlelap kembali terjaga mendengar pertanyaan Nicholas. Gadis itu menggeleng.


"Kasihan sekali. Biar aku yang bayar, anggap saja sebagai uang sewa menginap di sini semalam," kekeh Nicholas.


"Dara?!" panggil Nicholas.


"Hmmm."


"Kau sudah tidur?"


"Aku sudah tidur," jawab Dara lirih.


Nicholas terbahak mendengar jawaban Dara. Mana ada orang tidur bisa bicara. Ia melongok ke balik guling. Dilihatnya mata Dara terpejam. Diperhatikannya sejenak wajah manis gadis itu seraya menumpu dagunya ke atas guling.


Napas Dara terdengar teratur. Artinya gadis itu memang sudah terlelap, atau dalam proses menuju ke alam mimpi.


Tangan Nicholas pelan menyisihkan anak-anak rambut Dara yang menutupi wajahnya. Lalu ibu jarinya mengusap-usap pipi gadis itu.


Seulas senyum terbit dari bibirnya. "Oidhche mhath (Selamat tidur), Dara," ucapnya dalam bahasa Gaelic Skotlandia.


***

__ADS_1


"Jadi, Nicholas mengatakan padamu kalau alasannya membatalkan acara makan malam karena pacarnya?" tanya Portia pada Alena yang duduk di seberangnya.


Ia sedang berada di ruang tamu mansionnya, bersama putri keduanya, Alexandra, dan juga Alena, anak sang perdana menteri.


"Iya, Nyonya Johanssen," jawab gadis berkawat gigi itu dengan wajah sedih.


"Nicholas memiliki pacar?" tanya Portia pada Alexandra.


Gadis cantik berambut pirang itu mengibaskan tangannya. "Paling hanya pacar semalam," kekehnya.


Portia menggeleng pelan. "Nicholas memang sedikit susah diatur. Makanya aku sangat berharap padamu, Alena ... kalau kau dekat dengannya, kau bisa membuatnya menjadi lebih baik."


Alena mengulas senyumnya. Ia menyukai Nicholas saat pertama bertatap muka di gala dinner malam itu. Meskipun, ia sudah tahu Nicholas dari dulu karena mereka satu kampus. Hanya saja, gadis sepertinya tidak mungkin mendapatkan perhatian seorang Nicholas Johanssen, jika tidak memakai kekuasaan sang ayah sebagai perdana menteri.


"Mum, aku punya ide," celetuk Alexandra.


"Apa itu?"


"Sebelumnya maaf, Alena ... karena aku harus mengatakan ini. Kau harus merubah penampilanmu kalau kau ingin mendapatkan perhatian Nicholas."


Portia mendelik ke arah Alexandra, memprotes ucapan putrinya itu karena takut menyinggung Alena.


"No, Mum ... ini serius," ujar Alexandra. Ia lalu mengalihkan pandang pada Alena.


"Aku bisa membantumu," ucap gadis itu kemudian.


Alena tersenyum senang. Ia mengangguk-angguk setuju. Ia rasa ayahnya tidak akan keberatan. Toh, ini demi mendapat perhatian dari Nicholas. Ayahnya juga pasti tahu, dukungan keluarga Johanssen sangat penting untuk kampanye melanjutkan jabatannya di pemilihan umum mendatang.


Iya, gadis yang mendampingi putra bungsu keluarga Johanssen itu harus cantik.


"See, Mum, Alena setuju," ujar Alexandra.


"Baiklah, kalian atur saja. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi anak itu."


Bagi Alexandra, merubah penampilan Alena mungkin akan memakan sedikit waktu. Ia akui, gadis itu memang tidak cantik. Tapi, semua bisa diatur.


"Sepertinya anak itu sudah pulang," ujar Portia saat mendengar deru mesin mobil Nicholas dari luar.


Beberapa saat kemudian Nicholas muncul dari pintu utama mansion. Melihat ada tiga wanita sedang berkumpul di ruang tamu, ia mengangkat kedua tangannya menyerah. Apalagi melihat wajah sang ibu yang terlihat seram di matanya.


"Kau tahu kau harus menjelaskan sesuatu pada Alena?" ujar Portia seraya melipat kedua telapak tangan.

__ADS_1


"Okay, okay. Tapi, kapan-kapan saja, Mum," timpal Nicholas tanpa menoleh pada Alena, dan berlalu dari rumah tamu.


***


__ADS_2