My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 18. Cara Nicholas Menghibur Dara.


__ADS_3

"Tidak usah," ujar Dara seraya melepaskan jas Nicholas.


Namun, pemuda itu menahannya. "Pakai saja. Kulitmu tipis, badanmu kurus, nanti kau mati membeku terkena udara dingin. Aku tidak mau kerepotan," kekeh Nicholas.


Dara memutar kedua bola matanya. "Kau berniat menolong atau membully-ku sebenarnya?"


"Dua-duanya," jawab Nicholas dengan entengnya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakannya sebatang.


"Kau mau?" tawar Nicholas seraya menyodorkan bungkus rokok pada Dara.


Dara menatap bungkusan berwarna putih dengan brand paling terkenal seluruh dunia itu. Mungkin benda itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit hati, pikirnya. Ia pun mengambil sebatang.


"Pinjam koreknya," pinta Dara.


"Biar aku nyalakan." Nicholas menyulut ujung rokok Dara.


"Uhukk!"


"Uhukk!"


Dara terbatuk-batuk saat asap rokok menyentuh rongga hidung hingga turun ke paru-paru.


"Hei, bukan begitu caranya." Nicholas memukul-mukul punggung Dara. "Hisap pelan-pelan, jangan sampai asapnya melewati tenggorokanmu, lalu keluarkan lewat hidung. Seperti ini ...." Ia memperagakan bagaimana cara merokok yang benar.


Dara menirukan apa yang diajarkan Nicholas, tapi tetap saja membuatnya terbatuk. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.


"Aku tidak mau merokok," ujar Dara seraya memberikan rokok di tangannya pada Nicholas.


Nicholas terbahak. Ia mengambil rokok dari tangan Dara, lalu mencecaknya di lantai, dan melemparnya ke tempat sampah.


Wajah Dara kembali terlihat sedih. Ia ingin menangis lagi, saat mengingat adegan ciuman Braden dan Alison. Dan memang, air matanya tidak mampu ia bendung. Tumpah membasahi pipinya.


"Kanapa menangis lagi?" tanya Nicholas sambil mendecak. Sejujurnya ia bingung saat melihat seorang wanita menangis.


"Kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku. Oh, kau pasti belum pernah merasakan rasanya melihat orang yang kau sukai bersama dengan orang lain!" gerutu Dara.


"Aku pernah," protes Nicholas.


"Aku tidak percaya."


"Terserah saja," ujar Nicholas. "Hei, apa pemuda itu tahu kau menyukainya?"


Dara menggeleng pelan. Sementara Nicholas meloloskan tawanya.


"Lihatlah, kau ini memang bodoh, ya?"


"Hei!" seru Dara tidak terima.


"Dengar, Dara. Kalau aku jadi kau, aku akan datangi pemuda itu, dan bilang padanya, aku menyukaimu, tolong tinggalkan pacarmu!" gelaknya keras.


"Dasar gila!" maki Dara sebal. Ia memukul bahu Nicholas untuk melampiaskan kekesalannya.

__ADS_1


"Apa salahnya? Siapa tahu dia akan melakukannya? Meninggalkan pacarnya demi kau?"


Dara menghembuskan napasnya kasar. Lalu menyandarkan kepalanya di dinding.


"Jadi, kau akan meratapi rasa sakit hatimu selamanya?" tanya Nicholas seraya menyikut lengan Dara.


"Apa aku tidak boleh bersedih? Aku sedang syok, Nicholas Johanssen!" gerutu Dara. "Aku sudah lama menyukai Braden."


"Oh, jadi namanya Braden," gumam Nicholas.


"Pertama datang ke negara ini, dia orang yang selalu membantuku. Dia sering mengajakku ke tempat-tempat anti-mainstream di Edinburgh. Dia memperkenalkanku pada banyak hal di kota ini." Dara menghela napasnya dalam-dalam. "Aku nyaman bersamanya."


"Kalau aku jadi Braden, aku juga akan memilih gadis yang dia cium itu dari pada kau," cebik Nicholas.


Dara memicingkan matanya memandang Nicholas. "Kenapa?"


"Karena kau galak, gaya berpakaianmu kuno, dan ...." Nicholas memindai tubuh Dara. "Kurus."


Mata Dara mendelik. Ia tidak tahan ingin memukuli Nicholas. Tapi, pemuda itu mencekal kedua tangannya.


"Bukankah aku orang paling jujur yang pernah kau temui?" kekeh Nicholas, berusaha menahan Dara yang sudah sangat ingin menyerangnya.


Dara kelelahan memberontak dari cekalan tangan Nicholas. Akhirnya ia pun menyerah. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke dinding.


"Apa memang aku seburuk itu? Tapi, kenapa dia begitu baik padaku? Apa dia memang hanya menganggapku teman?" tanya Dara entah pada siapa. Yang jelas ia tidak mengharapkan Nicholas menjawab pertanyaannya.


"Bisa saja dia hanya kasihan padamu ... atau ...." Nicholas menggantung ucapannya.


"Atau dia ingin tidur denganmu, satu atau dua kali, lumayan, bukan, untuk selingan?"


Mulut Dara menganga. Matanya mendelik. Tangannya telah ia siapkan untuk memukul Nicholas.


"Aku bercanda, aku bercanda," kekeh Nicholas seraya mengangkat kedua tangan, menyerah.


"Dia bukan pemuda sepertimu!" ujar Dara. "Dia tidak sepertimu!" tegasnya.


"Memangnya aku seperti apa?"


Dara mendecak. "Aku mendengar rumor, kalau kau senang mempermainkan wanita. Kau suka tidur dengan banyak wanita tanpa ada komitmen apapun."


"Itu benar." Nicholas tidak menampik. "Tapi, aku punya alasan yang bagus untuk itu."


"Coba jelaskan!"


"Karena aku belum pernah bertemu dengan wanita yang ... tulus mencintaiku," ucap Nicholas. "Mencintaiku karena aku. Bukan karena melihat siapa aku dan keluargaku."


Dara mengerutkan keningnya. Untuk sejenak ia merasa bersimpati pada pemuda di sampingnya ini. Mungkin ia belum pernah merasakan seperti apa cinta sejati itu. Semua yang ada disekitarnya adalah penjilat. Itu yang terjadi jika dirimu kaya raya.


"Tapi, aku tidak masalah dengan itu. Aku bisa mencoba berbagai tipe wanita ... auch!" pekik Nicholas saat satu pukulan Dara mendarat di bahunya.


"Aku menyesal sudah bersimpati padamu untuk beberapa detik!" sungut Dara.

__ADS_1


Nicholas tergelak. Dan terus tergelak saat melihat wajah masam Dara. Gadis itu sudah tidak menangis lagi. Mungkin ia berhasil merubah kesedihan Dara menjadi kekesalan.


"Jujur saja aku kadang kesepian," ungkap Nicholas. Ia meniru Dara menyandarkan kepalanya ke dinding.


"Kenapa?" tanya Dara.


"Entahlah, aku tidak punya teman atau pacar yang ... yeah, kau tahu, se-ja-ti," kekeh Nicholas.


"Kau serius mengatakannya?" tanya Dara curiga.


"Sangat serius." Nicholas memasang wajah serius, seperti ucapannya. "Dara," panggilnya.


"Ya?" Dara mengerutkan keningnya. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Nicholas.


"Aku benar-benar kesepian." Nicholas menatap Dara lekat.


"Hah?" Dara bengong. Ia juga menatap Nicholas, mencoba mencari tahu apakah pemuda itu benar-benar seorus dengan perkataannya atau tidak.


Sepasang mata Nicholas berubah sedih. Wajahnya pun membuat ekspresi ingin menangis. "Maukah kau jadi temanku, Dara?"


"Hah?"


"Dara, maukah kau jadi temanku? Please, Dara. Aku tidak punya teman. Ayolah, Dara, jadilah temanku," ucap Nicholas sembari mengguncang bahu Dara.


"Dara, jawab aku. Maukah kau jadi temanku, Dara. Bicaralah padaku, Dara!"


Dara yang terbengong-bengong menyaksikan sikap Nicholas yang sangat berlebihan dan aneh itu tampak kebingungan. Hingga ia menyadari, Nicholas sedang tertawa-tawa sambil menunjuk wajahnya.


"Lihat ekspresi wajahmu, Dara. Lucu sekali," gelak Nicholas seraya memegangi perutnya. "Gadis bodoh dengan wajah yang terlihat ... bodoh."


Dara menggeram. Rupanya ia baru saja terkena tipuan Nicholas. "Kau sungguh menyebalkan!" erangnya seraya beranjak dari duduknya.


"Tidak ada gunanya bicara denganmu!" sungut Dara seraya melangkah pergi.


"Hei! Tunggu, Dara!" Nicholas segera mengejar langkah cepat Dara.


"Jangan ganggu aku!" seru Dara kesal.


"Aku cuma mau mengambil jasku. Kau masih memakainya!"


Dara menggeram. Ia melepas jas milik Nicholas dan melemparkannya pada pemuda itu. Kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya.


"Hei, Dara, aku hanya bercanda," ucap Nicholas saat berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Dara.


"It's not funny!"


Nicholas menutup punggung Dara dengan jasnya. Gadis itu menolak. Nicholas memaksa, tapi Dara tetap menolak. Adegan itu berulang hingga beberap kali sampai Dara menyerah.


"Dara, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat yang bisa membuatmu melupakan sakit hatimu itu?"


***

__ADS_1


__ADS_2