
"Waaah, ini apartemenmu?" tanya Dara sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
Jika dibandingkan dengan apartemen sempitnya, mungkin hanya seluas dapur apartemen milik Nicholas ini. Desainnya percampuran klasik-modern yang didominasi warna krem.
"Ya, tapi aku hanya kadang-kadang datang ke sini."
"Oowh, memangnya kau tinggal di mana?"
"Hardstone."
Mata Dara membulat. Hardstone adalah mansion super mewah yang cukup terkenal di Edinburgh. Selama ini ia pikir mansion itu adalah tempat wisata yang dibuka untuk umum. Ternyata, orang yang tinggal di sana ada di hadapannya.
"Woow!" gumam Dara. Ia menghempaskan badannya di atas sofa yang begitu empuk dan lembut. "Kau benar-benar kaya, ya?" kekehnya.
Nicholas mengangkat kedua tangannya. Ia ikut menghempaskan badan di samping Dara. Diperhatikannya wajah Dara yang bersemu merah. Matanya sayu, dan bibirnya selalu menyunggingkan senyum.
Dan hal itu sangat berbeda dengan Dara dalam kesehariannya. Nicholas tidak pernah melihat Dara tersenyum. Wajahnya selalu serius dan galak saat berinteraksi dengannya. Tapi, malam ini gadis itu terlihat santai.
"Aku heran dengan dunia ini," ucap Dara.
"Why?"
"Ada orang kaya seperti kau. Ada orang miskin sepertiku. Kenapa tidak dibuat adil saja?"
"Maskudmu?" Nicholas mengerutkan keningnya.
"Tidak ada kesenjangan sosial yang begitu kentara. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Seharusnya tidak ada orang kaya atau orang miskin, yang ada, semua sama, diatur oleh pemerintah," terang Dara.
"F uck Capital ism!" maki gadis itu. Tapi, sejurus kemudian ia kembali meloloskan tawanya.
"Sistem ini sudah ribuan tahun, Dara. Kau tidak bisa merubahnya begitu saja."
"Aku tidak bilang ingin merubahnya. Aku hanya menyampaikan pendapatku."
Nicholas mengulas senyumnya. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan sebotol anggur dan dua gelas berkaki panjang.
"Hei, Nic, apa kau rela kalau kekayaanmu dibagi ke seluruh rakyat Scottland?" tanya Dara seraya mengambil gelas berisi cairan merah yang disodorkan oleh Nicholas.
"Hmmm, pertanyaan yang sulit."
"See (Iya, kan)?" tunjuk Dara. "Sistem ini tumbuh subur karena ada orang kaya yang menikmati keistimewaan itu. Mereka tidak rela membaginya."
"Pasti mereka sebenarnya senang melihat banyak orang miskin. Itu membuat mereka merasa spesial."
Nicholas terbahak. "Aku tidak merasa seperti itu."
"Siapa yang menuduhmu? Aku berbicara secara general."
"Dara, kau terdengar seperti pimpinan revolusi Scottland," seloroh Nicholas.
__ADS_1
Dara menghela napasnya dalam-dalam. Kemudian memeriksa cairan merah dalam gelasnya. "Pasti ini anggur mahal."
"Mahal sekali."
"Aneh, ya?" kikik Dara. "Kau menghabiskan uang banyak hanya untuk sebotol anggur, sementara di sisi lain, ada banyak orang yang tidak bisa membayar sewa apartemen. Huffh!"
"Kau terdengar seperti ativis kemanusiaan." Baru kali ini Nicholas minum dengan seorang perempuan, dan yang dibicarakan adalah masalah politik dan sosial. Biasanya, si perempuan akan menghambur padanya dan meminta untuk diti duri tanpa basa-basi.
Nicholas pun sesungguhnya tahu, naluri kelaki-lakiannya tergelitik untuk membawa Dara ke kamarnya, atau mengerjainya di sofa saja. Tapi anehnya, ia betah mendengarkan celotehan Dara.
Entah kenapa ia tidak tega menyentuh Dara, meskipun ada sesuatu yang memberontak dalam dirinya.
"Nicholas ...," panggil Dara.
"Yes?"
"Bagaimana kau memandang seorang perempuan?"
"Hmmm ...." Nicholas yang mengelus dagunya. "Ada banyak jenis perempuan. Ibuku, kakakku, nenek-nenek, perempuan buruk rupa, mana yang kau maksud?"
Dara mendecak. "Perempuan yang membangkitkan hasratmu, Bodoh!"
"Hmmm ... aku memandangnya sebagai perempuan yang membangkitkan hasratmu."
Dara menepuk keningnya. "Hanya itu. Sebagai objek?"
"Yeah."
Nicholas tergelak. Ia meneguk gelas anggurnya. "Kau mengerikan, Dara."
Dara terdiam. Ia memandang langit-langit bercat polos. Matanya menerawang.
"Kau tahu, satu-satunya hal baik yang ada dalam hidupku adalah, aku mendapatkan beasiswa ke Edinburgh."
Nicholas menaikkan alisnya. Rupanya Dara penerima beasiswa. Artinya, otak gadis itu memang encer. Dan ia memanggilnya dengan sebutan gadis bodoh.
"Hidupku di Indonesia berantakan," gumam Dara.
Nicholas baru tahu kalau Dara berasal dari Indonesia. Negara dunia ketiga yang jarang terdengar gaungnya, jika dibandingkan dengan negara tetangganya, Thailand, Malaysia dan Singapore.
"Aku anak tunggal. Ayah ibuku sudah bercerai. Ibuku menikah lagi, begitu juga ayahku. Aku tinggal dengan nenekku, membantunya berjualan makanan ringan untuk menyambung hidup."
Nicholas menyimak cerita Dara dengan seksama. Ia bisa melihat mata gadis itu mulai berkaca-kaca.
"Tapi, sebelum aku berangkat kemari, nenekku meninggal," ucapnya dengan suara bergetar.
"Owh, I'm sorry to hear that, Dara." Nicholas menepuk-nepuk punggung Dara.
"Well, that's life, right?" kikik Dara seraya menyusut air matanya. Pengaruh alkohol membuatnya emosional.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku pernah kehilangan nenekku, dan itu sangat menyakitkan. Dulu aku cukup dekat dengannya."
Dara mengulas senyumnya. "Lebih menyakitkan kalau nenekmu adalah satu-satunya orang yang peduli padamu. Rasanya, aku seperti tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."
"Tapi, kau berhasil sampai di sini, dengan beasiswa. Itu luar biasa, Dara. Kau juga punya sahabat, kau punya ... aku, calon temanmu."
Dara menoleh ke arah Nicholas. "Kau? Mau berteman denganku?" tanyanya tidak yakin.
"Yeah. Kalau kau bersedia. Sepertinya kau teman yang menyenangkan."
Dara menghembuskan napasnya kasar. "Sepertinya kau akan jadi teman yang sangat merepotkan."
"Hei, kenapa kau selalu berpikir buruk tentangku?"
"Entahlah, caramu berinteraksi dengan orang lain, aneh. Kau bossy, Nic."
Nicholas menggaruk kepalanya sambil meringis. Ia terkesiap saat Dara tiba-tiba memukul bahunya.
"Aku tidak mau berteman denganmu," kekeh Dara. "Kau tetap akan jadi musuhku."
"Ah, aku merasa sangat terhormat," ucap Nicholas seraya membuat gerakan dengan tangannya, layaknya seorang kesatria yang baru mendapat tugas dari rajanya.
"Selain itu, aku benci padamu karena hidupmu sangat beruntung. Aku iri padamu!"
Nicholas meloloskan tawanya. Ia tidak bisa membedakan apakah Dara sedang bercanda atau tidak. Yang jelas, wajah gadis itu tampak serius.
"Owh, kenapa malam ini aku sial sekali," ucap Dara seraya menelungkupkan wajahnya ke atas meja. "Kenapa aku harus melihat Braden mencium Alison?" Ia menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"That's an ugly truth (Itu kenyataan yang pahit), Dara. Tapi, kau harus bersyukur mengetahuinya sekarang," ucap Nicholas. "Kau terlalu lambat, Dara. Seharusnya kau menyatakan perasaanmu dari awal kau tahu. Sekarang sudah terlambat," lanjutnya, membuat Dara termenung.
Beberapa saat kemudian, bibir Dara menukik. Air matanya pun bercucuran. "Kenapa aku bodoh sekali," ujarnya seraya mengacak rambutnya kasar.
"Ya, kau memang bodoh. Aku rasa kau hanya pintar di bidang akademis. Tapi, urusan cinta, kau bodoh," kekeh Nicholas.
"Huwaaaa ...." Dara menambah volume tangisannya seraya menutup wajah. Kata-kata Nicholas begitu menohoknya.
"Hei, hei, Dara, dengar ... aku tidak bermaksud membuatmu bertambah sedih."
"Terlambat!" bentak Dara. "Sekarang kau membuat kesedihanku seratus lima puluh kali lipat lebih parah."
"Banyak sekali kelipatannya?"
Dara kembali menambah volume tangisannya, membuat Nicholas kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana menenangkan Dara. Sepertinya, semua ucapan menghiburnya justru membuat reaksi Dara bertambah parah.
"Bagaimana kalau aku pinjamkan pelukanku saja?" tawar Nicholas.
Tidak disangka-sangka, Dara menghambur ke pelukannya dan meneruskan tangisannya di sana, hingga tersedu-sedu. Nicholas harus merelakan pakaiannya basah oleh air mata serta ingus Dara.
Sejujurnya Nicholas terkejut dengan sikap Dara yang tidak terduga ini. Dan naluri kelelakiannya kembali tergelitik. Tapi, di sisi lain, ada sesuatu yang menahannya untuk tidak melakukan apapun pada gadis itu, selain memberinya pelukan.
__ADS_1
***