My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 32. Kenyataan Pahit.


__ADS_3

Dunia ini sungguh tidak adil, begitu gerutu Dara dalam hati. Semua mudah untuk orang yang memiliki banyak uang. Sementara dirinya, harus mengais-ngais rezeki dengan tenaga ekstra. Itu saja ia harus berhemat agar bisa makan dalam sebulan. Satu-satunya keberuntungan yang datang dalam hidupnya hanyalah, mendapat beasiswa di universitas Edinburgh.


Melihat Alena Sturgeon yang telah menjelma menjadi bidadari, entah kenapa membuat hatinya begitu gundah. Alasannya, Dara bahkan tidak mampu menjelaskannya.


"Kau ini kenapa?"


Suara seseorang yang begitu tidak asing di telinganya membuat lamunan Dara buyar. Nicholas sudah berjalan di sisinya, seraya mencondongkan badan guna memeriksa wajahya yang terlihat murung.


"Kenapa memangnya?" tanya Dara.


"Kau tiba-tiba saja terlihat marah. Kau pergi begitu saja dari perpustakaan tanpa berpamitan padaku. Padahal, sebelumnya kau baik-baik saja," jelas Nicholas.


Dara mendesis pelan. "Aku tidak marah dan tidak ada apa-apa!" jelasnya dengan intonasi suara sedikit meninggi.


Nicholas mengangkat kedua tangannya. "Okay. Mungkin itu hanya perasaanku saja."


"Memang hanya perasaanmu," decak Dara. Langkah gadis itu cepat menuju kelasnya.


"Dara, bagaimana kalau besok kau menemaniku ke pesta ulang tahun si cantik Alena?" ajak Nicholas sambil terkekeh.


Si cantik. Dara memutar kedua bola mata. Ya--Alena cantik. Sangat cantik. Nicholas tidak perlu memperjelasnya. Ia sudah tahu.


"Pergi saja sendiri. Untuk apa mengajakku?" Dara mendorong pintu kelas, namun Nicholas buru-buru menahannya.


"Kau, kan, pacarku."


"Ish!" desis Dara. "Kapan aku bilang aku setuju menjadi pacarmu?"


"Apa pun itu, yang penting kau temani aku besok," ujar Nicholas seraya menghalangi pintu masuk kelas dengan lengannya.


Dara mendecak sebal. "Aku tidak mau. Pesta seperti itu bukan duniaku. Lagi pula si cantik itu hanya mengundangmu," sungutnya.


"Please!" pinta Nicholas seraya memasang wajah memelas. Bahkan pemuda itu sampai menyatukan telapak tangan di depan dada.


Saat ada beberapa orang melintas dan memandang ke arah keduanya, Nicholas mendelik pada mereka. "Liat apa kalian?!" bentaknya membuat orang-orang yang hendak masuk ke dalam kelas itu buru-buru melewati pintu.


"Aku tidak punya gaun untuk pesta!" Dara beralasan. Berharap Nicholas mengurungkan niatnya.


"Nanti sore kita ke butik langganan ibu dan kakakku."

__ADS_1


"Aku tidak punya uang."


"Aku yang bayar."


"Hhhhfh!" Dara menghembuskan napas kasar. "Tugas kuliahku menumpuk."


"Siapa profesornya? Aku akan bilang padanya kau tidak perlu mengerjakan tugas."


Dara mengerutkan kening. "Mana bisa begitu?" protesnya. "Pokoknya aku tidak bisa, Nic. Lagi pula, kalau kau tidak ingin datang, ya tidak usah datang."


"Aku ingin datang, tapi denganmu. Aku ingin semua tahu kalau kita sedang dekat. Dan hubungan kita serius. Aku tidak mau mereka menganggap kau hanya mainanku, setelah aku membuang Sophie."


Dara menepuk keningnya. Ia sudah kehabisan alasan untuk menolak ajakan pangeran Edinburgh itu. Pengeran yang senang memaksakan kehendaknya.


"Minggir, aku harus masuk kelas," ucap Dara sembari menggerakkan dagu, memberi isyarat pada Nicholas untuk menyingkir dari hadapannya.


"Say yes!" Nicholas melipat kedua lengan di depan dada, menunggu jawaban iya dari Dara.


Dara memijit keningnya. "Okay, okay," jawabnya pasrah. Ia ingin Nicholas segera membiarkannya masuk ke kelas karena dari kejauhan ia melihat profesor yang akan mengajar di kelasnya tengah berjalan mendekat.


Nicholas tersenyum gembira. "Sampai nanti sore kalau begitu," ucapnya seraya mendekatkan wajahnya pada Dara, mengincar pipi gadis itu untuk ia cium.


"Dasar gila!" sungut Dara seraya melangkah masuk ke dalam kelas.


***


Setelah menyelesaikan semua kelas hari itu, seperti biasa, Dara berangkat ke toko bunga milik Alison dan menghabiskan siang hingga sore bekerja di sana. Bosnya tidak masuk hari itu dan menyerahkan semua pekerjaan padanya.


Dara kelelahan melayani pembeli yang cukup banyak berdatangan. Sebagian sudah memesan bunga jauh-jauh hari, dan datang hanya untuk mengambil pesanan mereka.


Menjelang tutup toko, Braden datang untuk menjemputnya seperti biasa. Saking senangnya dengan kedatangan pemuda pujaannya itu, Dara lupa kalau sore ini Nicholas akan mengajaknya pergi ke butik untuk membeli gaun.


Kini Dara sudah berada di dalam mobil Braden yang melaju pelan membelah jalanan Edinburgh yang ramai. Sesekali Dara melirik ke arah pemuda berambut panjang ikal itu, yang sedikit pendiam. Bahkan ia tidak berani memulai pembicaraan.


"Aku ingin bicara denganmu, Dara," ucap Braden.


"Oh, bicara tentang apa?"


Braden tidak menyahut. Ia menepikan mobilnya di depan pagar taman kota. Kemudian pemuda itu mengajaknya turun dan masuk ke dalam area taman. Setelah mendapatkan tempat duduk di samping pohon besar tanpa daun yang tertutup salju tipis, keduanya duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau bicarakan, Braden?" tanya Dara dengan dada berdebar kencang. Mungkinkah pemuda itu akan menyatakan perasaannya. Mungkin saja. Tempat indah ini sangat mendukung suasana romantis yang akan tercipta saat dirinya dan Braden menjadi sepasang kekasih.


"Sebelumnya aku minta maaf ...." Braden mengawali pembicaraan. "Kau tahu, aku sudah menganggapmu sahabat baik. Saat aku melakukan sesuatu untukmu, aku tulus dan tidak mengharapkan apapun darimu, Dara."


Dara mengangguk. Sungguh ucapan yang manis. Ia tahu Braden tulus padanya. Hal itulah yang membuat Dara jatuh cinta.


"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita. Maksudku, aku tidak mau kau menyalahartikan sikapku padamu."


"Aku menyukaimu, Dara. Sebagai sehabat. Tidak lebih."


Dara tertegun. Ia bisa mencerna dengan baik apa yang baru saja diucapkan Braden. Dan seketika ekspektasinya terkubur bersamaan dengan rasa kecewa menyeruak memenuhi perasaannya.


Melihat wajah Dara yang bermuram durja, Braden semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya. Ia telah melakukan kesalahan.


"Maafkan aku, Dara ... aku tidak bermaksud memberimu harapan. Aku harus berkata jujur padamu. Alison yang memintaku untuk mencoba menjadikanmu lebih dari sahabat."


"Ouh, be-gitu, ya?" sahut Dara tercekat. Ia butuh air segar untuk membasahi tenggorokannya. "K-kenapa?"


Braden menghela napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. "Alison mantan pacarku yang masih aku harapkan bisa kembali lagi. Dan ... kami sudah mencoba untuk menjalin hubungan lagi. Maksudnya, aku yang mencoba. Tapi, hatinya sudah terisi dengan cinta yang lain. Kekasihnya tinggal di London."


"Ouh," ucap Dara lirih. "Lalu ... kenapa Alison ingin kau dan aku ...." Dara tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Rasanya terlalu pedih hatinya saat ini. Meskipun begitu, ia dengan susah payah menahan agar buliran bening di matanya tidak jatuh di pipi.


"Karena dia ingin aku membuka hati pada perempuan lain."


"Dan ... kau sudah mencobanya? Membuka hati untukku?"


Braden mengangguk. "Sorry, Dara."


Kata-kata maaf yang diucapkan Braden hanya untuk menghibur hatinya semata. Jawabannya sudah jelas, kalau Braden tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.


"It's okay, Braden ... kita masih bisa jadi sahabat," ucap Dara, mencoba untuk tegar. Mulut dan hati gadis itu sungguh bertentangan saat ini. Bibir boleh mengatakan tidak apa-apa, tetapi, hati menjerit pilu.


"Dara, dari tadi ponselmu bergetar," ujar Braden membuat Dara terkesiap. Ia sebenernya tahu sedari tadi ponselnya tidak henti-hentinya bergetar. Namun, ia mengabaikannya.


"Angkat saja, siapa tahu ada urusan penting."


Dara mengangguk pasrah. Ia mengambil ponsel dari dalam tas, lalu memeriksa layarnya. Puluhan panggilan tidak terjawab dari nomer tidak dikenal tertera di sana. Dan satu pesan baru saja muncul. Tulisan huruf kapital yang terbaca dari pesan itu menandakan si pengirimnya sedang murka.


DARA! WHERE THE HELL ARE YOU!

__ADS_1


***


__ADS_2