
Hari di mana Dara benar-benar akan menikah dengan Nicholas semakin dekat. Gadis itu merasa gugup luar biasa. Nicholas memang tidak main-main dengan niatnya. Sepertinya tekadnya menikahi dirinya sudah sangat matang.
Berkali-kali Dara menanyakan kesungguhan Nicholas, dan jawabannya selalu sama. Pasalnya, banyak hal yang mengganggu pikiran gadis itu. Keluarga Nicholas, kuliahnya di Edinburgh University dan juga kesiapan mentalnya untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan Nicholas. Semua itu membuat Dara stres. Tidak enak makan, tidak nyenyak tidur, dan sering melamun.
"Dara, kau terlihat seperti zombie saja akhir-akhir ini," keluh Gwen. Pasalnya setiap kali berbicara dengan sahabatnya itu, seolah-olah Dara hanya bisa menanggapi sekenanya saja. Namun, tatapan gadis itu cenderung kosong.
"Aku ... mmm ... aku sedang bingung." Dara menyugar rambut panjangnya frustrasi.
"Kenapa?"
"Entahlah, Gwen. Rasanya semua terjadi begitu cepat. Dan kenapa harus Nicholas yang akan menikahiku? Dari sekian banyak pria yang ada di Edinburgh, kenapa harus Nicholas Johanssen?"
Gwen terkekeh. "Memangnya kenapa? Dari sekian banyak perempuan yang ingin menjadi pacar Nicholas, dia memilihmu, Dara."
Dara menghela napas dalam-dalam. Tentu dirinya bukan penganut aliran pernikahan dini. Tetapi, kenapa sekarang ia dihadapkan dengan godaan yang luar biasa seperti ini. Apa mentalnya memang sudah siap untuk menjadi seorang istri.
"Gwen ...."
"Hmm?"
"Apa kau tahu apa saja tugas seorang istri?" tanya Dara.
"Hmmm ... tidak ada. Menurutku, seorang istri tidak memiliki tugas apa pun. Seorang perempuan akan tahu dengan sendirinya, apa yang harus dilakukan saat sudah menikah nanti. Begitupun seorang lelaki. Masing-masing akan punya peran sesuai kesepakatan berdua."
Dara mengangguk-angguk. "Tapi, Gwen. Aku pernah dengar ... kalau seorang istri menolak keinginan suami, dia sudah berdosa."
"Astaga! Kau dengar dari mana, Dara?"
"Yeah ... dari sebuah sumber."
"Menurutku, pernyataan itu datang dari zaman patriaki masih kuat. Itu sebuah bentuk kontrol lelaki terhadap perempuan."
"Sudahlah, Dara. Jalani saja. Lagi pula ... menikah itu tidak terlalu buruk. Justru, mungkin semuanya akan jadi lebih mudah karena segala permasalahan bisa kalian hadapi berdua, bukan?"
Dara mengelus cincin yang tersemat di jari manisnya. Wajah Nicholas saat melamarnya waktu itu melintas dalam benaknya dan membuat bibirnya tidak mampu menahan senyum. Lucu sekali.
"Gwen, temani aku pergi ke butik."
"Astaga, Dara! Kau belum mengurus gaun pengantinmu?" tanya Gwen, membuat Dara hanya meringis sambil menggaruk kepalanya. Tentu, dengan senang hati Gwen menemani Dara pergi ke sebuah butik di downtown Edinburgh.
Malamnya, Nicholas yang pulang sedikit terlambat, terkejut saat tidak melihat Dara di apertemen. Pemuda itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah. Dua jam berlalu hingga jam menunjukkan pukul sepuluh, gadis itu pun belum juga muncul. Ponselnya pun tidak aktif.
__ADS_1
"Ke mana gadis menyebalkan itu?" gerutunya sembari menghembuskan napas kasar.
Tepat saat ia meraih mantel dan bersiap hendak pergi mencari Dara, pintu apartemen dibuka oleh seseorang. Nicholas bernapas lega melihat gadis cantik yang ia tunggu-tunggu kehadirannya, muncul.
"Dari mana kau?" tanya Nicholas dengan wajah tegang. "Kenapa kau membuatku khawatir seperti ini, hmm?"
"Maaf, aku pergi dengan Gwen ke butik. Gwen menginap di tempat pacarnya, jadi aku pulang sendiri," jawab Dara dengan kepala tertunduk.
"Butik?"
Dara meringis. "Iya. Aku mencari gaun ...."
"Owh, okay." Nicholas akhirnya meloloskan senyumnya. Diraihnya tangan Dara dan ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku khawatir sekali, Dara."
"Maaf, ponselku kehabisan baterai."
"It's okay. Yang penting kau tidak hilang."
Dara terkekeh. Ia melepaskan pelukan Nicholas dan mengamati wajah pemuda itu. "Nic ...."
"Ya?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Kita memang benar-benar akan menikah, ya?"
Nicholas terbahak. "Tentu saja, Dara. Pertanyaan macam apa itu? Kau pikir aku main-main?"
"Bukan begitu. Hanya saja ... ah, entahlah ... aku bingung mengungkapkan perasaanku saat ini."
Nicholas menyugar rambut Dara, meskipun setelah itu ia mengacaknya kembali. "Tugasmu hanya menikah denganku beberapa hari lagi. Semua hal di luar itu, serahkan padaku, okay?"
"Apa keluargamu tahu?" tanya Dara.
"Mungkin saja." Nicholas mengedikkan bahu. "Siapa yang peduli?" kekehnya kemudian.
Dara mengulas senyum. Sejujurnya, ia kagum dengan Nicholas. Meskipun menyebalkan, tapi, semua yang ia lakukan tidak bertele-tele. Semua yang ia ucapkan akan selalu diikuti dengan tindakan. Ia tidak menyangka, pangeran bad boy yang serampangan akan bersikap seteguh ini jika sudah menetapkan hati pada pilihannya.
"Kemari," pinta Nicholas. Pemuda itu kini sudah duduk di atas sofa dan bersandar di sana. Sementara Dara masih berdiri. Namun, atas permintaan Nicholas, ia kini naik ke atas sofa dan menyandarkan kepala di dada pemuda itu.
Dara merasakan nyaman yang luar biasa. Sebuah rasa yang telah lama hilang setelah kematian nenek---satu-satunya orang yang menjadi pelindungnya. Kehilangan orang yang menjadi tumpuan hidupnya tentu saja adalah pukulan besar bagi Dara. Ia terpaksa beradaptasi dengan kesendiriannya. Bukan hanya melawan kesepian, tapi juga bertahan hidup. Kini, Nicholas mengembalikan semua rasa nyaman, rasa aman, kasih sayang dan membuang sepi dalam hati Dara.
__ADS_1
"Nic, aku tidak punya keluarga. Maksudku, kedua orang tuaku sudah sibuk dengan kehidupan baru mereka masing-masing. Siapa yang akan mengantarku ke altar?" tanya Dara lirih.
"Thomas."
"Kakakmu?"
"Yes, Baby." Nicholas mengelus punggung Dara lembut. "Tidak perlu mengkhawatirkan semua itu, Dara. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Dara mengeratkan pelukannya pada Nicholas. Ia memejamkan mata menikmati hangatnya tubuh pemuda itu. Mungkin, Dara sudah sepenuhnya jatuh cinta pada Nicholas.
***
Saat keluar dari gerbang sekolah, Dara dikejutkan oleh sosok Alison di sana. Tidak hanya itu, mobil di samping gadis itu berdiri adalah mobil Braden. Namun, Dara sebenarnya tidak mau ambil pusing. Ia dekati saja Alison dan menyapa gadis itu dengan ramah. Toh, dirinya tidak ada masalah dengan mantan bosnya itu.
"Apa kabar, Dara?" tanya Alison dengan senyum ramahnya.
"Hi, Alison. Jujur saja kau membuatku bertanya-tanya kenapa kau ada di sini?" Dara melirik ke arah mobil Braden di samping gadis itu.
"Aku memang sengaja menemuimu. Aku ingin mengabarkan kalau Braden sakit dan sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit."
"Sakit?" Dara mengerutkan keningnya.
"Ya, cukup parah. Ada masalah dengan pembulu darahnya."
"Aku turut menyesal mendengarnya, Alison."
"Dara, Braden ingin sekali bertemu denganmu."
Dara menaikkan alisnya. "Kau datang kemari hanya untuk mengabarkan itu?"
"Aku datang kemari untuk menjemputmu ke rumah sakit."
"Mmm ...." Teringat ucapan Nicholas bahwa dirinya dilarang berhubungan lagi dengan Braden. Namun, pemuda itu sedang sakit dan ingin bertemu dengannya. Ini masalah kemanusiaan. Semoga saja Nicholas bisa mengerti.
Dara mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Nicholas. Namun, tidak ada jawaban dari pemuda itu.
"Di rumah sakit mana Braden dirawat?" tanya Dara saat telah berada di dalam mobil bersama Alison.
"Liberton." Alison melajukan mobil meninggalkan area kampus.
Dara segera mengabari Nicholas lewat pesan kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Braden. Ia tahu, Nicholas pasti akan marah. Tetapi, akan ia pikirkan nanti bagaimana menghadapi kemarahan pemuda itu.
__ADS_1
***