My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 42. Kalau Cemburu, Bilang saja.


__ADS_3

"Nic!" panggil Alena seraya berlarian menghampiri Nicholas. "Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kau baru selesai kelasmu," ujar gadis itu dengan senyum lebar.


"Kenapa mencariku?" tanya Nicholas sengit.


"Aku ingin kita menjenguk Tobias. Dia masih dirawat di rumah sakit."


Nicholas mengerutkan kening. "Siapa Tobias?"


"Astaga! Pemuda yang kau pukuli sampai babak belur."


Nicholas mendecak. "Untuk apa aku menjenguknya? Lagi pula kenapa dia tidak mati saja?" sungutnya.


Alena meraih tangan Nicholas dan menggandengnya. Pemuda itu buru-buru mendorong tubuh si gadis, namun ia tidak mau melepaskannya.


"Lepaskan tanganmu!" bentak Nicholas kesal. Kalau saja Alena bukan seorang perempuan, ia pasti sudah memukulinya.


"Nic! Kalau kau tidak menjenguknya dan minta maaf, keluarganya akan melaporkanmu ke polisi."


Nicholas tergelak. "Memangnya dia berani? Apa dia tidak tahu siapa aku?"


"Dia tahu. Tapi, keluarga Tobias juga bukan keluarga sembarangan."


Nicholas memutar kedua bola matanya. "So what? Aku tidak peduli. Dia sudah mengganggu Dara dan itu adalah hukumannya."


"Banyak saksi, Nicholas. Kau bisa dipenjara."


Pemuda itu terbahak. "Apa mereka bisa melawan keluarga Johanssen?"


"Masalahnya, keluargamu tidak mau ikut campur."


Nicholas menaikkan alisnya. "Apa kau bilang? Dari mana kau tahu?"


"Ibumu bilang sendiri padaku."


Nicholas menggeram. Sepertinya Portia sedang mengerjainya. Sang ibu melakukan hal itu untuk memberi pelajaran padanya.


"Lepas!" Nicholas yang baru sadar sejak tadi membiarkan Alena menggandeng lengannya, segera menarik diri. Jika Dara melihatnya, gadis itu bisa salah paham.


Semangat tidak jauh dari keduanya, Dara menarik Gwen untuk masuk kembali ke dalam kelas setelah melihat Nicholas dari kejauhan berjalan melintas, bersama dengan Alena yang sedang menggandeng lengannya.


"Hei, ada apa, Dara?" tanya Gwen kebingungan.


"Aku melihat Nicholas," jawab Dara dengan wajah muram.


"Hah? So?" Gwen mengamati wajah sahabatnya. "Kenapa memangnya kalau ada Nicholas? Bukankah dia pacarmu?"


"Siapa bilang dia pacarku? Aku lihat dia sedang bersama Alena. Bergandengan tangan!"

__ADS_1


Gwen menaikkan kedua alis tebalnya. "Kau cemburu?" tunjuknya.


"What? No, no, no, no way!" timpal Dara sembari berlalu. Gwen mengejarnya. Gadis itu memiringkan badan mengamati Dara yang tampak bersungut-sungut.


"Hei, Dara ... kau tidak ada kelas lagi setelah ini?"


"Tidak. Aku mau pulang." Dara melangkah cepat menuju gerbang kampus. Ia tidak ingin bertemu dengan sosok menyebalkan si pangeran Edinburgh itu.


***


Setelah menuruti permintaan Alena untuk pergi ke rumah sakit menemui pemuda yang ia buat babak belur, dan mengupayakan perdamaian agar tidak merugikannya di masa datang, Nicholas kembali ke kampus untuk mencari Dara. Sedari pagi ia tidak melihat gadis itu. Begitupun sekarang. Ia mencari Dara dan tidak menemukannya di mana-mana.


"Ke mana dia?" gerutunya sebal.


Ia memutuskan untuk pergi ke apartemen Dara. Berharap gadis itu sudah pulang ke sana. Sesampainya di sana, Gwen yang membukakan pintu. Wajah gadis itu tampak berseri melihat keadatangannya.


"Mana Dara?" tanya Nicholas tidak sabar.


"Ada di kamarnya. Tapi ...." Gwen menggantung ucapannya.


"Tapi apa?" tanya Nicholas penasaran.


"Sepertinya suasana hatinya sedang tidak bagus. Dia memarahiku terus sejak pulang dari kampus untuk alasan yang tidak jelas," ujar Gwen sembari menggaruk kepala.


"Memangnya kenapa dia?"


"Aku tidak tahu." Gwen mengedikkan bahu. Namun, sejurus kemudian gadis itu terlonjak. "Ah, sepertinya dia marah karena melihatmu bersama Alena. Moodnya menjadi sangat sangat buruk, Nic."


"Dara! Hei! Buka pintunya!" Nicholas menggedor pintu keras. Ia tidak sabar untuk menjelaskan tentang apa yang dilihat Dara siang tadi di kampus.


Namun, tidak ada jawaban apapun. Nicholas gusar. Ia kembali menggedor pintu kamar. Kali ini lebih keras, memanggil-manggil nama Dara berkali-kali.


Pelan pintu dibuka dari dalam. Wajah kusut Dara menyembul dari baliknya. "Ada apa? Mengganggu orang tidur saja!" sungutnya.


"Hei, kau marah?" tanya Nicholas seraya menerobos masuk.


"Marah kenapa? Dasar orang aneh!"


Nicholas mengulas senyumnya. Sejujurnya ia gembira. Dara sepertinya cemburu melihat dirinya bersama Alena. Dipegangnya kedua bahu gadis itu, dan ia mendekatkan wajahnya. "Kau marah karena melihatmu bersama Alena, bukan?"


"What? Dasar sinting. Tentu saja tidak. Kau bebas bersama siapa pun. Untuk apa aku marah?" Dara mengibaskan tangan. Namun, ekspresi wajahnya tentu tidak bisa berbohong. Bibirnya cemberut, tatapan matanya sinis.


"Aku akan menjelaskannya padamu. Alena memintaku pergi ke rumah sakit menjenguk Tobias, kau ingat pemuda yang aku buat babak belur di pesta ulang tahun Alena, bukan?" terang Nicholas. "Aku terpaksa harus meminta maaf karena keluarga mereka akan menuntutku. Sementara keluargaku tidak mau ikut campur atau bahkan membantuku. Kalau aku di penjara, nanti kau akan merindukanku."


"Tapi, kenapa dia harus menggandeng tanganmu!" bentak Dara. Sialan. Ia keceplosan. Buru-buru ia meralat kata-katanya. "Maksudku ...."


Nicholas meloloskan tawanya kegirangan. "See? You're jealous!" tuduhnya.

__ADS_1


"No way!"


"Ayolah, mengaku saja."


"Tidak! Pergi sana!" Dara mendorong dada Nicholas hingga pemuda itu mundur ke arah pintu.


"Aku mau mengajakmu pergi."


"Tidak mau!"


"Kenapa?"


"Pergi saja dengan Alena!"


Kembali Nicholas terbahak. Ia mencekal kedua lengan Dara dan menyatukannya di dada. Kemudian secepat kilat ia mendekap gadis itu.


"Lepas!" Dara yang kesal memberontak dalam dekapan Nicholas. Namun, tentu saja pemuda itu tidak akan melepaskannya.


"Hei, easy, Baby."


"Don't you dare calling me baby!" sembur Dara membuat Nicholas gemas bukan main. Ia melepaskan gadis itu, namun sebagai gantinya, ia mendorong Dara hingga jatuh ke atas ranjang. Sigap ia mengunci tubuh Dara di bawahnya, kemudian memaksakan ciuman pada bibir gadis itu.


"Breng sek kau, Nic!" teriak Dara marah. Napasnya tersengal karena Nicholas tidak memberinya kesempatan untuk menghindari ciumannya.


"Aku sudah bilang, tenang. Tapi, kau tidak mau mendengarkanku."


"Aaargh! Kau sangat menyebalkan!" Dara ingin mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangan, namun kedua tangannya berada dalam kekuasaan Nicholas.


Nicholas memberinya seringai culas. Alisnya naik dan mata birunya menatap Dara jahil. "Akui kalau kau cemburu."


"Aku tidak cemburu."


"Masih keras kepala?"


"Aku memang tidak cemburu. Please, let me go," pintanya setengah memohon.


"Nope. Sampai kau mengakui kalau kau cemburu. Itu sangat penting buatku, Dara."


"Kanapa kau memaksa? Apa untungnya bagimu?"


Nicholas mengulas senyumnya. Ia menatap Dara lekat. "Karena aku bisa tahu kalau kau suka padaku."


Dara mendecih. Ia memalingkan wajahnya ke samping, tidak sudi menatap Nicholas di atasnya. Saat ini ia dilanda rasa gugup yang luar biasa.


"Astaga, kalian berdua!" seru Gwen dari ambang pintu. Sontak keduanya menoleh.


"Tutup pintunya kalau ingin ber cinta!" sungut gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa kau mengintip?" tanya Dara dan Nicholas bersamaan.


***


__ADS_2