My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 22. Kita Lihat Saja Nanti, Dara.


__ADS_3

"Marry, di mana anak itu?" tanya Portia. Ia datang dengan wajah memerah menahan marah.


"Ada di kamarnya, Nyonya. Apa Nicholas membuat masalah lagi?"


Portia tidak menjawab pertanyaan sang asisten. Wanita itu menaiki tangga menuju kamar Nicholas di lantai dua.


Pemuda itu sedang bergelung dalam selimut. Bahkan kepalanya pun hanya nampak ujungnya saja. Portia menggeram. Dengan kasar, ia menarik selimut yang menutupi tubuh Nicholas.


"What the ...." Nicholas ingin memaki, tapi sejurus kemudian, "Hei, Mom. Ah, kau cantik sekali hari ini."


Portia memicingkan matanya. "Kau berhutang penjelasan padaku, Nic." Nada suara wanita itu jelas ditekan sedemikian rupa, agar tidak terdengar meledak-ledak. Ia seorang Duchess, semarah apapun dirinya, harus tetap terlihat elegan.


"Owh, aku ... tidak mengerti apa maksudmu."


"Nicholas!"


"Okay, okay." Nicholas mengangkat tangannya. Ia ngeri melihat urat leher sang ibu yang mulai terlihat jelas. "Aku menyelamatkan seorang gadis dari serangan Nenek Sihir," terangnya.


Portia menghembuskan napasnya kasar seraya mengibaskan kedua tangannya. Kemudian ia memijit kening. Sesalnya, kenapa ia bisa melahirkan anak laki-laki seperti ini.


"Kau sudah membuat aku malu di depan Pedana Menteri, Nic. Bravo! Bravo!"


"Thanks, Mom," kekeh Nicholas.


Portia menggeram. Apa yang harus ia lakukan pada anak ini. "Tapi, untuk mengembalikan reputasi keluarga Johanssen di depan Perdana Menteri, kau harus mengajak putrinya makan malam."


"Hah? Makan malam dengan gadis berkawat gigi yang buruk rupa itu?" pekik Nicholas.


"Astaga, Nicholas! Jaga bicaramu!" bentak Portia. Ia sudah kehilangan kesabaran dengan putra bungsunya itu.


"Itu kenyataan, Mom."


"Aku sudah membicarakan ini dengan Tuan Sturgeon. Nanti malam, kau akan mengajak Alena Sturgeon makan malam di Abey." Portia menyebutkan nama salah satu restauran miliknya. "Aku tidak mau mendengar bantahan darimu, kau mengerti, Nicholas?"


"Ini juga untuk menjaga hubungan baik antara keluarga Sturgeon dan Johanssen. Jadi, jadilah anak penurut," tambahnya.


"Apa Alena tidak memiliki saudara yang lebih cantik?"


"Jam tujuh malam, Nic. Jangan terlambat."


"Sial!" Nicholas memukul ranjangnya keras. Ia tidak suka ini. Ia baru mengerti, keluarganya memang masih terkungkung pada tradisi zaman medieval. Menjodohkan anak-anak mereka untuk urusan bisnis dan politik.


Lebih parahnya lagi, menjadikan dirinya tumbal untuk dekat dengan pemerintah, agar keluarga Johanssen terhindar dari pajak.


"Disgusting ( Menjijikkan)!" umpatnya.

__ADS_1


***


Nicholas memang sial. Si gadis buruk rupa itu satu kampus dengannya. Ia yang tadinya tidak pernah melihat gadis itu di mana-mana, kini harus rela Alena selalu muncul di hadapannya. Padahal, pertama kali bertemu dengan gadis itu di acara gala dinner, ia tampak malu-malu.


Seperti saat ini, saat ia sedang berbicara dengan Alastair dan Aegon, tiba-tiba Alena muncul di hadapannya entah dari mana. Sialnya, kedua sahabatnya yang breng sek itu justru meninggalkannya dengan Alena.


"Aku harap kau tidak keberatan dengan acara makan malam yang diatur oleh keluarga kita nanti malam." Alena meringis, memperlihatkan kawat giginya yang membuat Nicholas mual.


"Oh, aku sangat keberatan," sahut Nicholas terus terang. Ia sama sekali tidak ingin memberi harapan pada gadis itu untuk bisa dekat dengannya. Sungguh, Alena adalah gadis dengan wajah terburuk yang pernah ia temui.


"Kenapa?" tanya Alena dengan wajah sedih.


"Karena ...." Nicholas menghentikan ucapannya saat melihat Dara melintas tidak jauh darinya. "Dara!" panggilnya.


Dara yang terkejut melihat Nicholas, buru-buru melangkah cepat menghindari pemuda itu.


"Sebentar," pamitnya pada Alena.


Nicholas mengejar Dara dan menyeretnya ke tempatnya semula, berhadapan dengan si kawat gigi. "Karena, aku tidak mau membuat pacarku cemburu."


Dara membulatkan matanya. Saat gadis itu hendak mengucapkan sesuatu, Nicholas buru-buru menariknya ke pelukan dan membungkam mulutnya.


"J-jadi? Acara makan malam nanti batal?" tanya Alena dengan mata berkaca-kaca.


"Batal," sahut Nicholas. Ia masih membungkam mulut Dara meskipun gadis itu berusaha memberontak. Baru setelah Alena bersungut-sungut pergi, Nicholas melepaskan tangannya.


"Kau baru saja menyelamatkanku dari gadis buruk rupa itu," kekeh Nicholas.


"Aku tidak mengerti maksudmu. Dan jangan menilai fisik seorang wanita seenaknya seperti itu. Kau ini memang tidak punya perasaan!"


Nicholas mengacak rambutnya kasar. "Kau tidak tahu betapa sialnya aku."


"What happened?"


Pemuda itu menghembuskan napasnya kasar. "Aku dijodohkan dengan gadis itu. Kau puas?"


Dara seketika menutup mulutnya agar tawanya tidak lolos. Melihat wajah Nicholas yang putus asa, sejujurnya ia benar-benar ingin mentertawakannya. Ia harus mengatur napas beberapa kali agar tetap tenang.


"Sekarang kau tahu, aku juga tidak seberuntung yang kau kira." Nicholas mengingatkan Dara tentang curahan hati gadis itu kemarin malam.


"Memangnya sekarang tahun berapa--,"


"Aku tahu, aku tahu," potong Nicholas. Ia sudah menyebutkan, keluarganya kolot.


"Apa kau akan mendapat masalah besar kalau sampai menolak perjodohan itu?" tanya Dara, mencoba untuk bersimpati dengan nasib pemuda itu.

__ADS_1


"Entahlah ...."


"Akses uangmu akan dibekukan oleh keluargamu," tebak Dara.


"Mungkin."


"Kalau begitu, terima saja perjodohan itu, Nic. Kau tidak akan bisa hidup miskin," gelak Dara seraya menunjuk-nunjuk Nicholas.


"Hmmm." Nicholas mengelus dagunya. "Bagaimana kalau aku membawa Alena ke dokter bedah plastik?"


Dara memukul lengan Nicholas sebal. "Kau keterlaluan. Wajahnya tidak seburuk itu."


"Kau tidak lihat kawat giginya?"


Dara memijit keningnya. "Nic, masalahku sudah banyak. Jangan kau tambah lagi dengan urusan konyolmu itu." Ia mengibaskan tangan lalu berlalu dari hadapan Nicholas.


"Hei, kau kan temanku. Teman macam apa yang tidak mau mendengarkan keluhan temannya?"


"Aku bukan temanmu, Nic."


"Kau tidak mau berteman denganku?"


"Sama sekali tidak mau," tegas Dara. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau jadi pacarku saja?"


Dara menggeleng. "Dalam mimpimu!"


"Ayolah, kita sudah tidur satu ranjang dan ...."


Dara memutar badannya. Ia yang tadinya tidak ingin mendengarkan kata-kata Nicholas, kini berjalan mendekati pemuda itu.


"Dan apa?" Dara memicingkan matanya menatap Nicholas penuh selidik. "Nic?" tuntutnya.


"Dan ... tidak terjadi apa-apa. Hanya tidur satu ranjang," kekeh Nicholas. Ia senang mengerjai Dara. Ekspresi wajah kesal gadis itu menggemaskan.


Dara mendesis. "Aku tidak mau jadi temanmu, apalagi pacarmu. Oh, mungkin saat aku reinkarnasi ketujuh kalinya. Itu saja aku harus berpikir beribu-ribu kali."


"Kau menyakiti perasaanku, Dara. Sungguh!"


"Thanks," jawab Dara ironik. Gadis itu melambai sambil menarik sudut bibirnya dan berlalu dari hadapan Nicholas.


Nicholas mengulas senyumnya. Gadis yang susah didekati pastilah istimewa. Sikap dan sosok Dara semakin membuatnya ingin mengganggu gadis itu. Hanya sekedar mencari perhatiannya, atau mungkin lebih dari itu.


"Kita lihat saja nanti, Dara," gumamnya.

__ADS_1


***


__ADS_2