
"Maukah kau berdansa denganku, Nic?" Alena mengulurkan tangannya pada Nicholas. Gadis itu sama sekali tidak menyapa Dara yang ada di sampingnya.
"Maaf, aku tidak suka berdansa," jawab Nicholas acuh tidak acuh. Alexandra yang berada di belakang Alena mendelik padanya.
"Alena, Nicholas akan berdansa denganmu." Alexandra melangkah maju dan menarik lengan Nicholas serta menautkan tangan sang adik pada Alena.
"Hei! Apa-apaan kau?!" sentak Nicholas seraya menarik cepat tangannya dari genggaman Alena.
Alexandra tidak memedulikan protes sang adik. Ia mendorong Nicholas dan Alena bersamaan ke tengah ruangan, sementara beberapa pasangan mulai ikut turun ke lantai dansa, seiring alunan musik yang mulai terdengar dari band orkestra yang ada di atas panggung.
Nicholas mendelik ke arah Dara yang hanya berdiri mematung tanpa membelanya. Sementara gadis itu hanya mengedikkan bahu seraya mencebik. Pertanda bahwa ia tidak tahu harus berbuat apa.
Dara akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat ke bagian perjamuan yang penuh dengan aneka macam makanan dan minuman. Gadis itu menggeleng. Orang kaya memang senang menghambur-hamburkan uang. Siapa yang akan memakan semua makanan ini, sementara yang berkenan menikmati makanan dan minuman hanya dirinya dan beberapa orang saja.
Ia mengunyah potongan kue yang baru saja ia isi ke piringnya sambil memperhatikan Nicholas yang sedang berdansa dengan Alena. Tampang Nicholas yang tampak suram terlihat lucu. Gerak-geriknya terlihat malas. Dara menggeleng sembari mengulas senyum tipis. Kasihan sekali gadis yang sedang berdansa dengannya itu. Begitu penuh perjuangan untuk mendapatkan perhatian Nicholas.
"Mereka pasangan yang serasi, ya?" Suara seseorang dari balik punggungnya membuat gadis itu terkesiap. Ia memutar badan dan mendapati seorang pemuda kulit putih berkumis tipis tengah melempar senyum padanya. Dara sepertinya pernah melihat sekilas pemuda itu di kampus, tetapi ia tidak mengenalnya.
"Ya, sangat serasi," timpal Dara sekenanya.
"Kau tidak cemburu?" tanya pemuda itu seraya berdiri di samping Dara.
"Kenapa aku harus cemburu?" Dara mengedikkan bahu.
"Aaah, aku tahu. Kau tidak ada komitmen apapun dengan Nicholas, bukan? Hanya sekedar mainan."
Dada Dara bergemuruh mendengar perkataan pemuda itu. Satu tangannya mengepal. Ternyata memang benar dugaannya. Orang-orang mengira dirinya adalah mainan Nicholas.
"Aku sudah lama memperhatikanmu ... Dara. Namamu Dara, bukan? Ya, aku memperhatikanmu sejak kau sering berinteraksi dengan Nicholas."
Dara mengerutkan kening. "Apa yang ingin kau katakan?" tegasnya.
__ADS_1
"Yeah, aku berpikir kalau setelah Nicholas selesai denganmu, aku bisa memakaimu," ucap pemuda itu dengan tatapan mata nakal memindai tubuh Dara.
"Kau jangan bicara sembarangan. Aku bukan mainan Nicholas dan aku bukan perempuan nakal!" seru Dara. Namun, tidak ada yang memperhatikan mereka karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Suara musik pun menenggelamkan seruannya.
"Oh, ayolah ... kau tidak usah jual mahal. Orang-orang di kampus sudah tahu siapa kau, Dara." Pemuda itu menyeringai. "Menjual tubuhmu untuk uang," desisnya. "GOLD DIGGER!" lanjutnya.
"Dasar breng sek!" maki Dara seraya melayangkan telapak tangannya hendak menampar si pemuda, namun ia menangkap dan memelintir lengannya, kemudian meraih pinggang Dara. Sekali hentakkan, tubuh Dara telah menempel pada pemuda itu.
Dara berusaha mendorong wajah pemuda itu yang mencoba untuk menciumnya. Sungguh sial, tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka. Cengkeraman pemuda itu begitu kuat, namun Dara tidak pernah menyerah.
Hingga dirasa ada seseorang yang menarik lengannya menjauh dari pemuda itu. Gerakan itu begitu cepat, sehingga, tahu-tahu ia mendapati Nicholas sedang memukuli pemuda yang hendak berbuat jahat padanya. Tidak hanya itu, kepanikan terjadi di dalam ballroom. Para gadis menjerit setiap kali kepalan tangan Nicholas menghantam wajah pemuda yang kini telah terkapar di lantai.
"Breng sek! Kau sudah bosan hidup?!" teriak Nicholas meluapkan amarahnya.
Alexandra dan Alena berusaha melerai. Mereka menjauhkan Nicholas dari pemuda yang sudah tidak berdaya itu.
"Lepaskan!" hardik Nicholas seraya menarik kasar lengannya dari genggaman Alena. Ia lalu menghampiri Dara dan menyambar tangan gadis itu, lalu membawanya keluar ballroom tanpa memedulikan panggilan Alexandra.
"Kau tidak apa-apa, Dara?" tanya Nicholas.
Dara menggeleng. Ucapan pemuda itu terus saja terngiang-ngiang di benaknya. Jadi, begitu orang-orang kampus menganggapnya selama ini.
"Breng sek! Beraninya dia mengganggumu," gerutu Nicholas.
"Nic ...," panggil Dara lirih.
"Ya?"
"Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi."
"Apa?" sontak Nicholas. Ia menepikan mobil di pinggir jalan yang cukup sepi. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Iya, kita tidak usah bertemu lagi. Anggap saja kita tidak saling kenal."
Nicholas mendecak. "Ada apa lagi, Dara?" tanyanya gemas. Ia setengah memutar badan menghadap ke arah Dara.
"Dunia kita berbeda. Aku tidak nyaman berada di lingkunganmu."
"Kenapa kau berkata seperti itu? Ada apa, Dara? Apa karena pemuda itu mengganggumu? Aku bisa pastikan dia tidak akan mengusikmu lagi."
Dara menunduk, lalu menggeleng. "Pokoknya aku tidak mau bertemu denganmu lagi," ujarnya seraya membuka pintu. Namun, saat hendak menghambur keluar, Nicholas menangkap pergelangan tangannya.
"Mau ke mana kau? Diam di sini!" seru Nicholas seraya menarik kembali Dara hingga duduk di posisinya semula. "Katakan kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu!" serunya. Tatapannya tajam menusuk relung hati Dara.
"Tidak mau!"
"Dara!" bentak Nicholas kesal.
"Semua orang menganggapku wanita murahan. Semua orang menganggapku mainanmu. Bahkan pemuda yang kau pukuli itu ingin memakai jasaku kalau kau sudah bosan denganku!" teriak Dara tidak kalah kerasnya.
"Sia lan!" maki Nicholas sambil memukul roda kemudi. "Kalau begitu aku akan membuat pengumuman di kampus kalau kau adalah pacarku!"
"Tidak perlu!" sergah Dara. "Lagi pula, aku bukan pacarmu. Kau tidak usah repot-repot membuat pengumuman. Lupakan saja aku!"
Nicholas menggeram marah. Antara marah dan gemas, ia mencengkeram kedua lengan Dara dan membawa gadis itu mendekat padanya. "Enak saja kau suruh aku melupakanmu," gerutunya.
Sepasang mata birunya menatap tajam ke arah Dara. Gadis itu terpaksa menghindar. Entah kenapa ia tidak kuasa menantang sorot mata itu.
"Dara ...," panggil Nicholas lembut. "Lihat kemari," pintanya.
Ragu-ragu Dara menghadapkan wajahnya pada Nicholas. Jarak keduanya begitu dekat. Dara memaki dalam hati. Sejak kapan ia berdebar begini saat berdekatan dengan si mata biru. Pipinya pun terasa memanas. Ia yakin wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus sekarang.
Dara tidak mampu menggerakkan tubuhnya saat bibir Nicholas menyentuh bibirnya. Ia justru memejamkan mata menikmati. Lagi-lagi, ia mengumpat dalam hati. Otaknya menolak, namun tubuhnya tidak mampu bergerak. Bahkan saat Nicholas memperdalam pagutannya, nalurinya membuat bibirnya turut bergerak mengimbangi.
__ADS_1
***