My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 37. Nikmati Saja.


__ADS_3

Ciuman Nicholas sangat menghanyutkan. Entah kenapa Dara seperti terbius. Ia menurut saja saat pemuda itu membawa kedua tangannya melingkar di lehernya. Ah--ini ciuman pertama yang ia lakukan dengan seorang pria. Meskipun Nicholas sudah beberapa kali mencuri ciuman singkat sebelumnya. Namun, ini sungguh pertama kalinya Dara merasakan sensasinya.


Rasanya Dara tidak ingin berhenti. Bibir Nicholas begitu manis, begitu lembut, mirip marsmellow.


"Pemula. Tapi, tidak terlalu buruk."


Dara membuka mata mendengar celetukan Nicholas. Buru-buru ia menarik diri. Ia kebingungan sendiri bagaimana menghadapi pemuda itu sekarang. Malunya hingga ke ubun-ubun.


Nicholas tergelak. "Aku sudah tahu kau juga menyukaiku."


"Siapa yang menyukaimu?" cibir Dara. "Eh! Nic! Hentikan!" serunya seraya menahan dada Nicholas yang condong ke arahnya, hendak mengulang ciuman mereka.


"Sekali lagi, Dara, please."


"Tidak mau!" sungut Dara seraya mendorong Nicholas menjauh. "Aku mau pulang," ujarnya.


"Pulang? Ini belum larut," kekeh Nicholas seraya melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Memangnya kau mau ke mana?"


"Ke apartemenku."


Dara membulatkan mata. "Tidak, tidak, Nic. Kau pasti sedang merencanakan sesuatu."


"Kalau iya kenapa?"


"Ish!" Dara memukul lengan atas Nicholas pelan. "Aku tidak mau ke apartemenmu. Pokoknya aku tidak mau!"


"Okay, okay ... kalau begitu aku menginap di apartemenmu saja, ya?"


Dara menggeleng keras. Ini akan buruk. Ia tidak mau tidur satu kamar dengan Nicholas. Apalagi setelah ciuman mereka tadi. "Antar aku dan kau pulang saja," ujarnya.


"Tapi aku masih ingin bersamamu, Dara."


"Aku tidak peduli!"


Nicholas menghela napasnya berat. Gadis ini memang keras kepala. Ia pun terpaksa mengalah. Dengan berat hati diantarnya Dara pulang ke apartemen.

__ADS_1


"Kau yakin tidak mau aku menginap?" tanya Nicholas, mencoba sekali lagi membujuk Dara.


"Aku yakin," jawab Dara seraya membuka pintu mobil. "Thanks, Nic. Sampai jumpa." Nicholas meraih lengan Dara dan menarik gadis itu kembali ke posisi semula.


"Mau apa lagi, Nic?" gerutu Dara. Ia sedikit terkesiap saat melihat tatapan sendu Nicholas. Tatapan putus asa seorang Tuan Muda Johanssen.


"Apa tidak ada ciuman perpisahan?" tanya Nicholas dengan wajah memelas.


"Astaga!" Dara menepuk keningnya. Ia tidak bisa mengulang kejadian beberapa saat lalu. Bisa-bisa dirinya terhanyut dan luluh. Sungguh saat ini Dara sedang dalam keadaan bimbang yang luar biasa.


"Please ...." Suara memohon Nicholas menggetarkan hati Dara. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Kenapa ia tiba-tiba berat meninggalkan pemuda itu, dan berat menolak permintaannya.


Saat tangan kokoh Nicholas meraih tengkuknya dan membawa wajahnya mendekat, Dara justru memejamkan matanya. Kembali terjadi sebuah ciuman semi-panas di antara mereka. Kali ini lebih lama, dan lebih dalam. Nicholas tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk Dara melepas tautan bibir mereka. Tangannya kini bergerak menelusup ke pinggang Dara dan menekan pinggul gadis itu hingga dada mereka saling bersentuhan.


"Nic, sudah," engah Dara seraya mendorong Nicholas menjauh. Satu kecupan yang diakhiri dengan gigitan kecil di bibir Dara menjadi tanda ia menyudahi ciuman mereka.


"Sampai jumpa, Nic," ucap Dara seraya mendorong pintu dan menghambur keluar. Ia berlari masuk ke dalam gedung apartemen meninggalkan Nicholas yang masih terdiam di dalam mobilnya.


Ia tersenyum sembari mengusap bibirnya pelan. Bisa saja Nicholas memaksa menginap di apartemen Dara, namun entah kenapa ia tidak melakukannya. Mungkin malam ini ia akan terus memutar ulang di kepalanya, adegan ciuman manis-panas-menghanyutkannya dengan Dara.


***


"Kacau sekali," timpal Dara seraya menjatuhkan badannya di atas sofa.


"Apa yang terjadi?"


"Ada keributan di pesta itu."


"Bukan itu yang aku tanyakan. Tapi wajahmu. Kenapa merah sekali? Kenapa bibirmu bengkak?"


Dara mendelik. Astaga--Gwen sudah seperti penyidik yang sedang menginterogasi tersangka tindakan kriminal. "Ada apa dengan wajahku?" tanya Dara berpura-pura bodoh.


"Hei, aku tidak bodoh, Dara. Nicholas mengerjaimu, ya? Di mana kalian melakukannya? Di mobil? Ah--sangat mengundang adrenalin."


"Bicara apa kau?!" hardik Dara. Ia berusaha menutupi, namun pipinya justru semakin memerah.


Gwen tergelak. "Ayolah, Dara. Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku. Apa yang kau lakukan dengan Nicholas? Apa kau sudah tidak perawan? Ah, Dara ... selamat datang di dunia orang dewasa."

__ADS_1


"Ish!" Dara memukul ujung kepala Gwen. Gadis itu terkikik. "Apa-apan kau ini? Aku tidak melakukan apapun dengan Nicholas. Hanya ...."


"Hanya apa?" desak Gwen tidak sabar mengorek informasi dari Dara.


Dara menyentuh bibirnya. Memutar kembali dalam benaknya, adegan ciuman dengan Nicholas beberapa saat lalu di dalam mobi, menghasilkan gelenyar aneh dalam dadanya.


"Ciuman? Kau berciuman dengan Nicholas? Seperti apa rasanya? Is he a good kisser?"


"Very pro ... UPS!" Dara menutup mulutnya. Ia keceplosan dan membuat Gwen tertawa girang.


"Astaga ... aku tidak menyangka kau berhasil menarik perhatian Tuan Muda Johanssen."


Dara mendesis. Kenapa Gwen menganggap hal itu sesuatu yang luar biasa. Ia sendiri belum yakin apa yang tengah ia rasakan saat ini. Okay--ia memang membalas ciuman Nicholas. Tetapi, bukan berarti ia akan menerima pemuda itu sebagai pacarnya.


"Kau tahu betapa beruntungnya dirimu, Dara. Yang aku tahu, wanita yang mengejar Nicholas. Tapi, kau, justru Nicholas yang mengejarmu."


Dara menggigit bibirnya. Ia juga tidak habis pikir kenapa pemuda itu mengejar dirinya. Apa istimewanya ia jika dibandingkan dengan gadis-gadis yang mengelilingi Nicholas.


"Aku tidak tahu, Gwen. Aku bingung dan takut," ucap Dara lirih.


"Why?"


"Kau tahu siapa Nicholas, dan siapa aku, bukan? Kami sungguh berbeda. Pokoknya aku takut," ujar Dara. "Semalam aku bertemu dengan kakak perempuannya. Dan jelas-jelas dia memandang sebelah mata padaku."


Gwen menghembuskan napasnya kasar. "Persetan dengan kakaknya. Kau tidak pacaran dengan kakaknya, bukan?"


"Itu baru kakaknya, Gwen. Bagaimana dengan orang tuanya?" Dara bergidik ngeri membayangkan reaksi orang tua Nicholas jika mereka tahu, gadis yang dikejar putra mereka jauh dari kriteria seorang gadis bangsawan. Ah-- atau mungkin ia berpikir terlalu jauh. Lagi pula, kenapa ia harus memikirkan semua itu, sedang ia saja belum yakin dengan perasaannya.


"Hei, kalau kau tidak mencobanya, kau tidak akan tahu."


Dara memijit keningnya. Semuanya begitu rumit. Ia merasa terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Mau mundur, hatinya mengatakan jangan. Jika ia teruskan, resikonya begitu besar. Namun, yang dikatakan Gwen ada benarnya. Jika dirinya tidak mencoba maka ia tidak akan tahu hasilnya. Dihantui pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban pun bukan hal yang menyenangkan.


"What should I do, Gwen?"


"Nikmati saja semuanya. Lagi pula tampang Nicholas tidak terlalu buruk, bukan?" kekeh Gwen seraya menyikut lengannya.


Mata Dara membulat. "Kau bercanda? Dia tampan sekali." Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri yang lancang memberi pujian pada Nicholas.

__ADS_1


***


__ADS_2