
"Waktu satu bulan ini gunakan baik-baik untuk mengenali calon suamimu ini lebih dalam," ucap Nicholas seraya meletakkan sebuah kertas di pangkuan Dara. Gadis itu menekan tombol off pada remote televisi yang sedang ditontonnya, kemudian perhatiannya tertuju pada kertas di pangkuannya.
"Apa ini?" tanya Dara pada Nicholas yang telah duduk di sampingnya dan meluruskan lengan di belakang kepalanya.
"Persyaratan menikah di Skotlandia."
Dara membulatkan mata. Rupanya ini alasan Nick beberapa hari lalu meminjam dokumen keimigrasiannya. "Kau serius?" tanyanya tak percaya.
"Kertas ini aku dapatkan dengan susah payah. Apa aku terlihat kurang serius, Dara?"
"Mmm ... maksudku ... kenapa cepat sekali. Kita bahkan belum lulus kuliah." Tenggorokan Dara tercekat. Menikah. Aneh sekali. Ia datang ke Skotlandia untuk menuntut ilmu, bukan malah menikahi warga lokal.
"Aku sudah hampir lulus. Umurku sudah hampir dua puluh lima tahun. Aku punya pekerjaan. Aku sudah siap menikah. Apa lagi?"
"Mmmm ...." Dara benar-benar bingung. Ini di luar dugaannya. Okay---Nicholas memang melamarnya. Tetapi, bukan berarti mereka harus menikah secepat ini. Umurnya masih dua puluh dua tahun.
Nicholas mengetuk kening Dara cukup keras, membuat gadis itu mengaduh. "Terlalu banyak berpikir. Ambil kesempatan yang ada di hadapanmu, Dara. Diajak menikah oleh pemuda setampan aku tidak terjadi setiap hari."
Dara mencebik. Kepercayaan diri Nicholas memang ia akui sudah level dewa. Meskipun tidak lagi mengendarai Cadillac atau memiliki kartu-kartu debet berisi milyaran pound. "Tapi, perasaanku padamu belum seratus persen," ucapnya.
"Berapa persen? Lima puluh? Tujuh puluh? Berapa, Dara?"
"Tiga puluh persen, mungkin."
"Easy!" sahut Nicholas. "Nanti akan bertambah setelah kita menikah," ujarnya kemudian sembari mengerling nakal pada Dara.
Dana mengerucutkan bibir. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku tunggu jawabanmu lima menit dari sekarang," kekeh Nicholas saat tinju Dara mendarat di lengannya.
"Terima saja, Dara!" celetuk Gwen yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis itu sudah sejak tadi menguping pembicaraan dua sejoli itu rupanya. "Atau kalau kau tidak mau, aku saja yang menggantikan Dara menjadi istrimu, Nic. Aku tidak akan keberatan," sambungnya sambil mengedip-ngedipkan mata.
Nicholas terbahak. "Kau harus putus dengan pacarmu terlebih dahulu, Gwen," selorohnya.
"Okay. Akan aku putuskan dia hari ini juga."
__ADS_1
"Hei!" seru Dara. "Apa-apaan kalian?!" sungutnya. "Okay, aku terima. Tapi, alasanku menerimamu karena ... karena ... supaya aku mendapapatkan British Citizenship. That's all!" tegasnya.
Halelujah! Nicholas terlonjak senang. "Satu bulan, ya, Dara ... dari sekarang, kau akan menjadi Nyonya Johanssen," kekehnya.
Dara menghempaskan badan ke sandaran sofa. Kenapa semuanya begitu cepat. Nicholas membuat segala segala sesuatunya terkesan terburu-buru.
"Baiklah, Calon Istriku, aku harus berangkat kerja dulu. Tunggu aku di ranjangmu nanti malam," ucap Nicholas seraya meraih kepala Dara dan mencium keningnya. Gwen yang menyaksikan interaksi keduanya, menangkup kedua pipinya sendiri sambil tersenyum dan menggerakkan wajah ke kanan dan ke kiri saking gemasnya.
***
Sejak Nicholas bekerja paruh waktu, Dara menjadi sedikit merasa kesepian di kampus. Biasanya, ada yang tiba-tiba datang mengagetkannya, menjahilinya, dan membuat darahnya naik. Sekarang, jam kuliah Nicholas dan dirinya berbeda. Nicholas lebih sering berkuliah sore, sedang dirinya mulai pagi hari.
Mereka bisa bertemu malam hari, itu pun saat Dara sudah sangat mengantuk. Pagi-paginya, Nicholas sudah berangkat ke tempat kerjanya, dan terkadang dirinya belum bangun.
Dara terkejut saat ada seseorang yang menarik lengannya, kemudian menyeretnya menuju tempat sepi di ujung koridor. Alena.
"Aku ingin bicara denganmu!" Gadis itu sama sekali tidak ramah. Tatapannya pada Dara sinis dan remeh.
"Kalau itu tentang Nicholas__"
Dara mendesis. "So?"
"So, menjauh saja dari sekarang. Itu untuk kebaikanmu."
Dara melipat kedua lengan di depan dada. "Kau tidak mengenal seperti apa Nicholas. Dia tidak seperti kalian orang-orang kaya yang arogan dan ... bodoh!"
"Apa katamu?"
"Yeah. Kalian arogan dan bodoh. Rasis dan ... kolot!" Entah dari mana Dara mendapatkan keberanian mengatakan hal-hal semacam itu. Yang jelas, wajah Alena yang sebenarnya cukup cantik---meskipun hasil permak---membuatnya naik pitam. Apalagi ia tahu gadis ini tergila-gila dengan Nicholas. Ia harus mempertahankan miliknya. Apa? Nicholas miliknya?
"Tahun berapa ini, Nona?" sambung Dara. "Kalian masih mempertahankan tradisi konyol menjodohkan anak-anak kalian dengan kalangan kalian sendiri? Wake up, People!" Ia membuat suara dengan bertepuk tangan keras di depan wajah Alena.
Gadis itu menepis tangan Dara. Kalau saja dia adalah Alena yang dulu---itik buruk rupa berkawat gigi---tentu dirinya akan merasa terintimidasi dengan ucapan Dara. Namun, Alena yang sekarang berbeda. Ia seorang gadis yang penuh. Tidak ada yang tidak bisa ia miliki.
"Gadis sampah!" maki Alena. "Ingat siapa yang sedang kau hadapi sekarang. Lihat saja nanti, kau pasti akan menyesal!" tunjuknya tepat di depan wajah Dara sebelum akhirnya ia berlalu.
__ADS_1
Dara mendengus kesal sambil memandangi kepergian Alena. Bersungut-sungut ia meninggalkan tempat itu dan keluar dari gedung kampus menuju gerbang.
Kekesalannya belum reda saat ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang membuat kedua bola matanya membulat sempurna. Seorang pemuda berambut ikal panjang berwarna coklat berdiri di pinggir jalan, di samping sebuah mobil sedan tua.
"Braden?" ucapnya lirih.
Braden melambai pada seraya berjalan menghampiri. Tanpa aba-aba pemuda itu memeluknya dengan erat. "Dara, I miss you so much," ucapnya.
Dara yang kebingungan mencoba melepaskan diri dari pelukan Braden. Rasanya aneh kenapa tiba-tiba pemuda itu datang lagi, di saat perasaannya sudah mulai memudar, dan telah diisi oleh kehadiran Nicholas tanpa disadarinya.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Aku ingin menemuimu. Tadi aku ke apartemenmu dan kau belum pulang. Jadi, aku mencarimu kemari."
"K-kenapa mencariku?"
Braden menyentuh pipi Dara, dan gadis itu tidak sempat menghindar. "Bisa kita pergi ke suatu tempat? Aku ingin bicara denganmu."
"Mmm ... tidak bisa, Braden. Aku ...."
Braden mengerutkan kening. "Kenapa? Kau tidak senang melihatku?"
"Bukan begitu ...."
"Okay, aku memang payah. Aku sudah mengecewakanmu, Dara." Braden meraih tangan Dara dan mengikis jarak di antara mereka. "Aku menyesal."
"A-apa maksudmu menyesal?" tanya Dara heran.
"Aku menyesal ... tidak peka dengan perasaanmu padaku."
"Oh, itu ... it's okay ... aku sudah melupakannya."
"Ini yang harus aku bicarakan. Ikutlah denganku, please."
"Braden ... aku tidak bis ... mmmmph!" Ucapan Dara terputus saat Braden tiba-tiba membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Begitu cepat, sehingga tidak bisa terhindarkan. Membuat seseorang yang berdiri dengan rahang mengeras tidak jauh dari mereka mengepalkan tangan, bersiap untuk memberi pelajaran pada salah satu di antara mereka.
__ADS_1
***