
Nicholas tidak bisa menahan diri untuk menghampiri dua orang yang terlihat begitu akrab itu. Dan tentu saja kehadirannya membuat Dara terkejut, begitu juga Braden. Wajah Nicholas sudah seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa.
"Ada masalah?" tanya Braden pada Nicholas yang telah berdiri di tengah-tengah dirinya dan Dara.
Sementara Nicholas menatap Braden dengan sengit, sambil menepis tangan Dara yang menarik-narik mantelnya, mencoba menyingkirkannya dari hadapan gadis itu. Nicholas menoleh ke arah Dara dan menyuruhnya diam.
"Masih bertanya? Aku sudah peringatkan kau untuk tidak mendekati Dara!"
Braden tergelak. "Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?" tanyanya.
"Karena aku sudah tahu niat busukmu!" timpal Nicholas geram.
"Nic!" sergah Dara.
"Diam kau, Dara!"
Dara mendesis. Ia menggerutu sendiri di belakang Nicholas. Gadis itu membuat
gerakan mencakar-cakar udara yang diarahkan ke punggung Nicholas saking kesalnya.
"Mau apa kau ke sini menemui Dara?" Nicholas melipat kedua lengan di depan dada.
Braden terkekeh. "Aku ingin bertemu dengannya," jawabnya santai. "Apa kau ada masalah dengan itu, Tuan Muda Johanssen?" ejeknya.
"Masalahku adalah kau, mengerti?!" hardik Nicholas. Tangannya menahan Dara yang hendak melangkah kaki melaluinya. Tapi, tatapannya tetap tertuju pada Braden.
"Kita tidak punya masalah apa-apa. Kita tidak saling kenal. Dan aku kemari untuk menjemput Dara. Dia temanku dan aku rasa tidak ada yang salah dengan itu," ujar Braden, masih bersikap tenang.
"Kalau aku bilang aku tidak suka dan tidak mengizinkan kau menjemput Dara, kau mau apa?" tantang Nicholas.
"Apa hakmu? Apa Dara pacarmu?" ejek Braden kembali.
"Tidak lama lagi," jawab Nicholas penuh percaya diri.
Mendengar ucapan Nicholas, Dara membulatkan kedua bola matanya. Ia menggeleng keras mengisyaratkan pada Braden kalau ucapan Nicholas hanya omong kosong.
"Oh ya?" tanya Braden. Ia lalu memiringkan badannya untuk menatap langsung Dara yang masih tertahan di belakang Nicholas. "Benar, Dara?"
"Tidak benar," jawab Dara cepat. "Nic, apa-apaan kau ini?"
Braden kembali terkekeh. "Ayo, Dara," ajaknya kemudian pada gadis itu, tanpa memedulikan Nicholas melarang atau tidak.
__ADS_1
Cengkeraman tangan Nicholas di lengan Dara bertambah erat. Ia tidak mungkin membiarkan gadis itu pergi dengan pemuda menyebalkan yang tidak memiliki pendirian itu.
"Dara, kalau pergi dengannya, aku akan buat keributan besar di sini, dan aku pastikan temanmu ini babak belur," ancam Nicholas membuat nyali Dara menciut.
Pasalnya, Nicholas sepertinya bersungguh-sungguh akan melakukan apa yang baru saja ia ucapkan. Tatapan pemuda itu tajam ke arah dirinya, dan membuatnya bergidik ngeri.
"Braden, kita bicara nanti saja," ucap Dara, meminta Braden untuk pergi. Ia tidak ingin Nicholas benar-benar membuat keributan dan tidak mau Braden celaka.
Braden menggeleng seraya menghembuskan napasnya kasar. Ia lalu menatap Nicholas dengan tatapan sinis. "Kau hanya seorang pembully dan pemaksa. Jelas kau bukan tipe Dara. Well, good luck," sindirnya sebelum melangkah pergi.
Nicholas tersenyum puas. Ia memandangi kepergian pemuda itu, memastikannya tidak kembali lagi. Tangannya masih menahan lengan Dara.
"Kau menyebalkan sekali!" maki Dara geram.
"Kau ini bebal sekali, ya? Aku sudah memperingatkanmu tentang pemuda itu," ujar Nicholas. Ia tidak kalah geramnya pada Dara, si gadis keras kepala itu.
"Aku mengenal dekat Braden. Aku tahu sifat dan kelakuannya. Sedang kau, kau baru kemarin bertemu dengannya dan sudah bisa membaca sifatnya? Hooh, hebat sekali, Nic," sahut Dara sinis.
"Aku memang hebat," ucap Nicholas dengan entengnya, membuat Dara merotasikan bola matanya.
"Terserah saja. Bisa kau lepaskan aku sekarang? Lenganku sakit!"
Nicholas duduk di belakang kemudi tanpa menyalakan mesin mobil. Ia menghadap pada Dara yang duduk di kursi penumpang di sampingnya.
"Aku menyukaimu. Itu alasan utama kenapa aku tidak mau dia mendekatimu. Alasan kedua, karena dia ingin mempermainkanmu," terang Nicholas. Kini, ia memelankan suaranya.
"Yang benar saja, Nic!" Dara menggeleng pelan seraya menghela napas berat. Ia tidak mau menganggap serius ucapan Nicholas. Meskipun dalam hati ia merasakan sesuatu yang cukup aneh. Sejujurnya beberapa ini ia merasa ada yang lain dari pada sorot mata Nicholas.
"Kau tidak percaya kalau aku menyukaimu?"
"Tidak."
"Why?"
"Karena aku bukan tipemu. Dan karena kau sangat suka mengerjaiku."
Nicholas tersenyum miring. "Kau mau bukti?" tanyanya seraya mendekatkan wajahnya pada Dara.
Gadis itu pun seketika mundur menghindari apapun yang akan dilakukan Nicholas terhadapnya. "Kau mau apa?" tanyanya seraya menahan dada pemuda itu.
"Mau menunjukkan bukti padamu."
__ADS_1
"B-bukti apa? Kau jangan macam-macam!"
Nicholas tidak menyahut. Ia mencekal kedua lengan Dara kuat hingga gadis itu tidak bisa memberontak. Kembali ia mendekatkan wajahnya pada Dara yang seketika menundukkan wajah menghindari Nicholas sambil memejamkan mata erat-erat.
Karen kesal, Nicholas meraih dagu Dara dan memaksa gadis itu menghadap pada wajahnya. Dan, tanpa permisi bibir Nicholas lancang melu mat bibirnya.
Dara yang masih memejamkan matanya terkejut bukan main. Ia mendelik, dan sebisa mungkin merapatkan bibirnya. Sementara satu tangannya yang telah terlepas dari cekalan pemuda itu pun reflek menampar pipi Nicholas keras.
"Aauch!" keluh Nicholas seraya mengelus pipinya yang terasa perih dan panas.
Kesempatan itu Dara pergunakan untuk membuka pintu mobil yang kebetulan tidak dikunci. "Dasar breng sek!" makinya dengan wajah memerah.
Dara melangkah cepat meninggalkan area parkir mobil dan berpapasan dengan Alastair serta Aegon yang baru saja muncul. Kemudian ia berlari menjauh hingga menghilang di balik pintu gerbang kampus.
Alastair dan Aegon memeriksa ke dalam mobil Nicholas dan mendapati pemuda itu tengah mengelus pipinya yang memerah.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanah Alastair keheranan.
"Apa gadis itu menamparmu?" tunjuk Aegon pada wajah Nicholas.
Yang keluar dari mulut Nicholas hanya umpatan kesal. Ia malas menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu. Jika mereka tahu, ia akan menjadi target ledekan mereka.
"Sepertinya gadis itu menolak cintanya," gumam Alastair, mencoba menebak-nebak.
"Wow! Benarkah?" tanya Aegon tidak percaya.
"Gadis itu keluar dari mobil Nicholas dengan wajah tegang dan marah, sepertinya. Lalu, saat kita menemukan Nicholas di dalam mobilnya, dia sedang mengelus-elus pipinya yang sepertinya bekas tamparan gadis itu," ujar Alastair berteori.
"Tunggu, tunggu!" Aegon mengangkat tangannya. "Kenapa gadis itu menampar Nicholas?"
"Sepertinya Nicholas mencoba untuk berbuat tidak senonoh pada gadis itu. Dan gadis itu tidak terima."
Aegon mengangguk-angguk. Pemuda berbadan jangkung itu menoleh ke arah Nicholas yang masih duduk di belakang kemudi. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada Alastair. Matanya membulat. Ia baru menyadari kalau Nicholas baru saja kehilangan reputasi dan harga dirinya sebagai pemuda yang tidak pernah ditolak oleh gadis manapun.
"Gadis itu menolak cinta Nicholas!" seru Aegon. "Ini berita yang luar biasa," kekehnya kemudian.
Di dalam mobil, Nicholas sudah sangat kesal. Jika saja ia tidak ingat bahwa kedua pemuda itu adalah sahabatnya, pastilah ia sudah menghajar mereka.
"Kalian sudah selesai bermain peran menjadi detektif amatir?" tanya Nicholas seraya memicingkan matanya.
***
__ADS_1