My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 31. Dari Hati Ke Hati.


__ADS_3

"Berbaring saja, Dara. Aku tidak akan macam-macam," pinta Nicholas seraya menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Dara yang masih duduk menjaga jarak dengan Nicholas, tidak bergeming.


"Maafkan aku, Dara. Please."


"Sebenarnya apa maumu, Nic?" Dara mengalihkan pandangannya pada Nicholas.


"Aku sudah bilang aku rindu padamu." Nicholas memutar badan dan terlentang dengan kedua lengan ia lipat di bawah kepala.


Dara memijit kening seraya menundukkan kepala. "Tapi, kau tidak harus menerobos kamarku dan sekarang seenaknya tidur di sini," gerutunya.


"Aku juga sudah bilang kalau aku ingin dekat denganmu malam ini," kekeh Nicholas.


Terdengar Dara menghela napas berat. Kemudian gadis itu menjatuhkan badannya ke atas ranjang. Posisinya kini sama dengan Nicholas, sama-sama terlentang.


"Jangan membenciku, Dara. Aku sungguh-sungguh menyukaimu."


"Kau sedang mabuk, Nic," sahut Dara cepat.


Nicholas terkekeh. "Ya, aku mabuk. Tapi, apa yang aku katakan itu benar. Aku tidak mengada-ada."


"Terserah kau saja," ucap Dara pasrah. Gadis itu menutup matanya dengan satu lengan.


Nicholas menyunggingkan senyumnya. Akhirnya, Dara menyerah juga. Sepertinya gadis itu sedang tidak ingin berdebat dengannya. "Jadi, kau mau jadi pacarku?"


"Tidak mau!"


Nicholas meloloskan tawanya. "Nanti kau akan menyesal karena telah menolakku."


"Tidak akan!"


"Kau akan merindukan aku, Dara. Percayalah."


"Tidak mungkin!"


Nicholas mencebik. "Lihat saja nanti."


"Bicara apa kau?" timpal Dara. "Aku menyukai Braden, Nic. Kau mengerti?"


"Ya, ya ... aku tahu. Tapi, kalau dia tidak menyukaimu bagaimana?"


"Siapa bilang dia tidak menyukaiku?"


"Apa dia sudah mengungkapkan perasaannya padamu?"


Dara menggeleng. Tentu saja belum. Sejujurnya Dara ragu apakah Braden memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Sikap pemuda itu sungguh membuatnya bingung.


"Kau akan menunggu sampai dia mengatakannya padamu?"


"Mungkin."


Nicholas mendecak. "Buang-buang waktu saja. Kenapa kau tidak menerimaku saja, Dara? Yang sudah jelas-jelas berkata jujur padamu. Setidaknya aku tidak membuatmu menunggu."


"Aku tidak menyukaimu, Nic. Aku tidak punya perasaan apa pun padamu."


"Waktu yang akan membuatmu menyukaiku. Yang penting kau tidak malas untuk mengenalku lebih jauh."


Dara melenguh pelan. "Masalahnya, aku malas mengenalmu lebih jauh."

__ADS_1


"Why?"


Dara terdiam sejenak. Ia menoleh pada Nicholas dan memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Tidak ada yang salah dengan Nicholas. Dia tampan sekali, bahkan lebih tampan dari Braden. Tapi, rasanya dunianya dan dunia Nicholas sangat berbeda.


"Karena kau putra orang terkaya di Edinburgh," jawab Dara. Meskipun ia asal menjawab, tapi jawaban itu juga salah satu faktor kenapa ia tidak menyukai Nicholas.


"Jadi, alasanmu cuma karena keluargaku?"


"Tidak cuma itu, Nic. Lagi pula, kenapa kau harus menyukaiku? Aku tidak seperti gadis-gadis yang pernah kau tiduri. Aku tidak cantik, aku tidak seksi, aku tidak glamour."


"Siapa bilang kau tidak cantik?" protes Nicholas. "Kau cantik, Dara."


Dara memutar bola matanya. Dasar Nicholas pembual, gerutunya dalam hati. Ia tidak mau menelan mentah-mentah pujian pemuda itu, meskipun tiba-tiba saja hatinya menghangat.


"Yang jelas mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai pacarku."


"Hah? Mana bisa begitu?" Dara melayangkan guling ke arah Nicholas hingga menghantam tubuh pemuda itu. Tapi, si mata biru itu malah tertawa-tawa.


"Menyebalkan sekali," sungut Dara. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Nic."


"Yang mana?" tanya Nicholas di sela-sela tawanya. "Oh, kenapa aku menyukaimu?"


"Hmm."


"Aku tidak tahu. Apa harus ada alasan untuk menyukai seseorang?"


Dara mengedikkan bahu. Ia memutar badan memunggungi Nicholas. Matanya belum bisa ia pejamkan kembali. Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat, membuat suasana kamar menjadi hening. Hanya terdengar sirine mobil patroli polisi meraung-raung dari kejauhan.


"Aku menyukaimu karena kau bersikap apa adanya. Tidak dibuat-buat."


Pukul dua dini hari Dara tiba-tiba saja terbangun. Ia merasakan tubuhnya begitu hangat. Masih di sela-sela kesadaran yang belum kembali pulih, ia merasakan hembusan napas halus meniup-niup ujung kepalanya.


"Nic?" Dara mengerjap-ngerjapkan mata. Pandangannya terhalang dada Nicholas yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Hmm," gumam Nicholas.


Dara mendorong dada Nicholas, tetapi pemuda itu justru memeluknya semakin erat. "Apa kau tidak bisa diam?" gerutunya sambil membuka mata. Telapak tangan Dara masih dalam posisi mendorong dada Nicholas, menahan agar jarak di antara mereka tidak terkikis.


"Kau bilang kau tidak akan macam-macam. Dasar mesum!" seru Dara kesal.


"Memangnya aku macam-macam? Kita hanya tidur berpelukan. Lagi pula kau sendiri yang tiba-tiba mendekat padaku."


Mata Dara membulat. "Tidak mungkin!" sergahnya.


"Terserah saja kalau kau tidak percaya. Untuk apa aku berbohong?" cebik Nicholas.


"Ya, sudah ... lepaskan aku sekarang!"


"Tidak mau!"


"Nic! Ish!" Dara kembali mendorong dada Nicholas, namun sepertinya pemuda itu enggan melepaskannya.


"Dara, diam sebentar," pinta Nicholas seraya menatap sepasang mata gadis itu lekat. Untuk beberapa saat lamanya tatapan mata keduanya saling beradu. Detak jantung keduanya seakan-akan terdengar begitu jelas di keheningan malam.


Nicholas pelan mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. Matanya tertuju pada bibir gadis itu. Namun, beberapa saat lagi jarak di antara bibir mereka terkikis. Telapak tangan Dara membungkam mulut Nicholas dan mendorongnya wajahnya menjauh.


"Dasar kau menyebalkan!" gerutu Dara. Namun, dadanya masih berdebar kencang dan perasaan canggung hinggap begitu saja dalam hatinya.

__ADS_1


***


"Kau tahu di mana Nicholas?"


Alastair yang sedang mengobrol dengan Aegon terkejut melihat sosok gadis cantik yang baru saja datang menghampiri mereka. Kedua pemuda itu memindai tubuh si gadis dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kau mahaswisi baru?" tanya Alastair.


Si gadis tertawa renyah. "Tidak. Namaku Alena Sturgeon."


Alastair dan Aegon saling melempar pandang. Kemudian, serempak mereka menatap Alena dengan ekspresi wajah heran. Yang mereka tahu, Alena Sturgeon adalah putri perdana menteri yang buruk rupa. Namun, gadis yang ada di hadapan mereka itu sangat berbeda.


"Jadi, kalian tahu di mana Nicholas?" tanya Alena kembali menyadarkan kedua pemuda itu.


"Mmm ... tadi sepertinya dia pergi ke perpustakaan," jawab Aegon tanpa mengalihkan pandangnya dari Alena.


"Thanks, Guys." Alena berlalu meninggalkan dua pemuda yang masih terheran-heran melihatnya.


Senyum Alena mengembang. Reaksi Alastair dan Aegon yang terkejut melihat penampilan barunya, membuatnya tidak sabar untuk menemui Nicholas dan membuat memberi kejutan pada pemuda itu.


Masuk ke dalam perpustakaan, Alena mencari-cari sosok pemuda berambut pirang di dalam ruang baca yang cukup luas. Gadis itu menarik sudut bibirnya saat melihat Nicholas di sudut ruangan, bersama dengan gadis yang pernah disebut sebagai pacarnya.


Dengan langkah percaya diri, Alena mendekati Nicholas. Ia memasang senyum termanisnya saat mata pemuda itu tertuju padanya.


"Hi, Nic," sapa Alena.


"Ya? Siapa kau?" tanya Nicholas sembari mengerutkan kening. Ia menoleh pada Dara yang langsung mengedikkan bahu.


"Kau tidak mengenalku? Aku Alena ... Alena Sturgeon."


"Alena?" Nicholas mencebikkan bibir. "Oh, di mana kawat gigimu?" tanyanya asal.


Alena meloloskan tawanya. Namun, ia sedikit kecewa dengan reaksi Nicholas yang terlihat biasa-biasa saja. "Aku tidak membutuhkannya lagi."


"Oh, okay. Kau ada perlu?" tanya Nicholas acuh tak acuh.


Alena mengambil sebuah undangan dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja. "Aku mengundangmu ke pesta ulang tahunku besok, sebagai tamu spesial."


"Apa?"


"Aku tunggu besok di rumahku, Nic," ucap Alena seraya mencium sekilas pipi Nicholas, kemudian berlalu dari ruangan itu.


Nicholas mencebik sambil memeriksa undangan berwarna merah marun bertuliskan ALENA'S BIRTHDAY AND BALL. "Pesta ulang tahun. Memangnya umur berapa dia. Seperti anak kecil saja," desisnya.


"Apa dia telah mempermak wajahnya?" celetuk Dara seraya menutup laptopnya.


"Sepertinya. Kawat giginya sudah hilang," kekeh Nicholas.


Dara mendecak. "Kau tidak lihat, bukan hanya kawat giginya saja yang menghilang. Tapi, wajahnya juga berbeda. Dia ... terlihat cantik sekali."


"Ya, kau benar, Dara. Dia memang terlihat cantik," sahut Nicholas. "Sia lan! Dia terlihat sangat cantik!" pekiknya kemudian. Sepertinya ia baru menyadari kalau si buruk rupa Alena Sturgeon telah berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Penampilannya pun terlihat lebih modern. "Berapa dia menghabiskan biaya permak wajah, ya? Pasti mahal sekali," kekehnya.


Dara mendesis. Ia beranjak dari duduknya tanpa menyahut ucapan Nicholas.


"Dara, tunggu!"


***

__ADS_1


__ADS_2