
"Hei, berikan aku sedikit senyuman," pinta Nicholas seraya menyentuh ujung hidung Dara. Gadis itu mendesis. Bibirnya mengerucut sejak sebelum masuk ke butik mewah yang berada di downtown Edinburgh.
"Kalau kau diam terus seperti ini, bagaimana aku bisa tahu gaun mana yang kau inginkan?" ujar Nicholas frustrasi.
"Semua gaun di sini mahal sekali," timpal Dara. Ia mendadak merasa tidak percaya diri. Untuk apa dirinya memakai gaun semahal itu, jika hidup sehari-harinya saja kesusahan.
"Kau tidak usah melihat harganya. Pilih saja yang kau mau."
Dara menghela napasnya dalam-dalam. Ia menatap Nicholas dengan tatapan yang masih terlihat sedih. "Apa memang aku harus ikut ke pesta itu? Kenapa kau tidak datang sendiri saja?"
"Aku sudah mengatakan alasannya."
"Kalau begitu, kau tidak usah datang saja."
"Aku juga sudah mengatakan alasannya."
Kembali Dara menghela napas dalam-dalam. Apa yang akan ia lakukan di pesta anak-anak orang kaya itu. Ia hanya akan terlihat seperti alien.
Terdengar Nicholas mendecak sebal, lalu berbicara dengan wanita penjaga butik yang sejak tadi menunggui mereka memilih gaun. "Tolong kau pilihkan gaun yang paling cocok dengan Nona ini."
"Baik, Tuan Johanssen."
Dara menoleh ke arah wanita penjaga butik yang tengah memilih gaun. Bahkan seorang penjaga butik mewah saja begitu cantik dan elegan. Ia lalu melihat pantulan dirinya di cermin. Lusuh, sangat tidak menarik. Ia tidak secantik Alison. Ah--ia adalah gadis terjelek sedunia.
"Dara, hei, Dara!" panggil Nicholas seraya mengguncang bahu gadis itu.
"Apa?" tanya Dara lirih.
"Kenapa menangis lagi?" Nicholas menghapus buliran bening di pipi Dara dengan telapak tangan.
"Siapa yang menangis?" Dara buru-buru menyusut air mata yang masih tersisa dengan punggung tangan.
Nicholas menggeleng. Lalu menoleh pada si penjaga butik yang memanggilnya. Wanita itu menunjukkan sebuah gaun berwarna salem tanpa lengan yang desain sederhana, tetapi tetap terlihat mahal.
"Ya, itu bagus," ucap Nicholas menyetujui.
__ADS_1
"Silahkan, Nona." Wanita itu menyerahkan gaun pada Dara dan mengantar gadis itu masuk ke ruang ganti.
Nicholas melempar senyumnya pada Dara sebelum gadis itu menutup pintu. Ia menunggu beberapa saat dengan dada berdebar. Ia yakin gaun itu akan sangat cocok di tubuh Dara.
Dan benar, saat Dara muncul dari balik pintu, ia terpukau melihat penampilan gadis itu. Meskipun tanpa riasan wajah, Dara tetap membuatnya tidak mampu memalingkan pandang.
"Kenapa melihatku seperti itu? Gaunnya tidak cocok, ya?" tanya Dara membuyarkan pikiran Nicholas yang tidak-tidak.
"Ouh, perfect. Cocok sekali. Benar, bukan, Nona McKenzie?"
"Absolutely," sahut si penjaga butik seraya membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari.
Dara tidak serta merta percaya dengan ucapan Nicholas. Pemuda itu pasti hanya ingin membuatnya senang saja. Dan wanita yang dipanggil dengan nama Nona McKenzie itu pasti sudah dibayar oleh Nicholas untuk mengatakan hal yang sama.
Setelah mengurus pembayaran dan gaun sudah berada di tangan Dara, keduanya pun meninggalkan butik. Nicholas belum ingin mengantar Dara pulang. Ia membawa gadis itu berkeliling kota Edinburgh, menikmati suasana malam yang dingin.
Ia mencoba menghibur Dara dengan lelucon-lelucon konyol, namun belum mampu membuat gadis itu kembali ceria. Nicholas bahkan membawanya ke sebuah restauran mewah untuk menikmati makan malam romantis--menurut Nicholas.
Setelah makan, Nicholas mengajak Dara ke Leith Riverside. Duduk di atas rerumputan di tepian sungai yang airnya tampak berwarna keemasan akibat refleksi dari lampu yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya.
"Dara ...," panggil Nicholas.
"Aku tidak mengizinkanmu bekerja di toko bunga itu lagi."
Dara menoleh ke arah pemuda tampan di sampingnya. Keningnya berkerut. "Kenapa?"
"Kau tidak boleh berhubungan lagi dengan semua yang berkaitan dengan pemuda breng sek itu."
Dara mendecak. "Mudah sekali kau mengatakan hal seperti itu. Kalau aku tidak bekerja, bagaimana aku membayar uang sewa dan mencukupi kebutuhanku sehari-hari? Dasar kau orang kaya yang tidak tahu susahnya menjadi orang miskin!" gerutunya.
Nicholas mengambil ponsel dari saku mantelnya. Ia mengutak-atiknya sebentar, lalu menyodorkannya pada Dara. "Tulis nomer rekeningmu," pintanya.
"Apa maksudnya?" tanya Dara keheranan.
"Sudah, jangan banyak tanya. Tulis saja nomer rekeningmu di situ."
__ADS_1
"Kau mau apa?"
"Aku akan mentransfermu uang setiap bulannya. Kau bisa bayar sewa apartemen, makan, belanja, bersenang-senang. Terserah apa pun yang ingin kau lakukan dengan uang itu. Atau kalau perlu, akan kubelikan kau apartemen agar kau tidak perlu memikirkan uang sewa."
Mata Dara membulat. "Kau ingin membeliku, ya?"
"Tidak sama sekali."
"Tapi, kau pasti mengharapkan sesuatu dariku. Tidak mungkin kau mau melakukannya secara cuma-cuma."
"Aku memang mengharapkan kau jadi pacarku, Dara."
Dara mengibaskan tangannya. "You see (Iya, kan)?" desisnya.
"Hei, aku tidak akan memaksamu untuk menjadi pacarku detik ini juga. Tapi, yang aku minta, kau jangan malas untuk mengenalku lebih dekat. Aku ingin kau menerimaku karena memang itu keinginanmu sendiri."
Dara terdiam. Dipandanginya ponsel yang masih ada di tangan Nicholas. Ia ragu-ragu hendak menerima benda itu dan menuliskan nomer rekening di sana.
"Kau tahu, aku bersedia menunggu. Menjadi temanmu terlebih dahulu juga tidak apa-apa."
Pandangan mata Dara beralih pada Nicholas. Ia mengamati pemuda itu beberapa saat. Jika dipikir-pikir, pemuda menyebalkan ini selalu ada di saat ia bersedih akhir-akhir ini. Meskipun, cara Nicholas menghibur terkadang sungguh membuatnya kesal.
"Cepat tulis nomer rekeningmu, Dara. Tidak usah banyak berpikir," kata Nicholas seraya meletakkan ponsel di tangan gadis itu.
Ragu-ragu ia menulis beberapa angka, nama lengkapnya dan nama sebuah bank di dalam layar. Kemudian menyerahkan benda pipih itu kembali pada Nicholas.
"Good girl," ucap Nicholas senang.
Dara tersenyum tipis. "Kalau begini aku tidak ada bedanya dengan gadis-gadis yang berkencan denganmu, lalu mendapatkan fasilitas darimu."
Nicholas terbahak. "Gadis-gadis itu memang aku beli. Dan tujuan mereka memang mendapatkan fasilitas dariku. Kau berbeda. Aku yang memaksamu menerima apa yang ingin aku berikan padamu. Dan kau tidak harus menjadi pacarku sekarang," terangnya. "Tidak sekarang, tapi nanti," gelaknya kemudian.
"Ish!" Dara memukul pelan lengan atas Nicholas. "Sama saja kalau begitu."
"No." Nicholas menggeleng. "Kau harus tahu, aku tidak pernah memiliki perasaan khusus dengan gadis-gadis itu. Tapi denganmu ... aku memang benar-benar menyukaimu, Dara."
__ADS_1
Dara kembali menoleh pada Nicholas. Mengamati kembali sosok pemuda tampan yang sejujurnya memiliki fisik yang nyaris sempurna. Bohong jika ia tidak tertarik sama sekali dengan Nicholas dan segala pesonanya. Namun, sepertinya ia memiliki firasat buruk jika dirinya memupuk perasaan itu. Mungkin, sejak awal ia memang telah membentengi diri untuk tidak jatuh dalam pesona sang pangeran Edinburgh.
***