
Suasana hati Nicholas malam ini sedang buruk. Ia yang biasanya banyak bicara dan menggoda gadis-gadis yang datang ke bar di mana dirinya berada saat ini bersama Alastair dan Aegon, kini tampak murung. Ia bahkan tidak begitu aktif menimpali obrolan dua sahabatnya itu.
"Kau lihat gadis berbaju merah yang baru saja masuk?"
"Yeah, dia seksi."
"Aku ingin bicara dengannya, tapi, sudah pasti dia akan lebih tertarik dengan Nicholas."
Gelak tawa Alastair dan Aegon tidak membuat Nicholas bergeming. Meskipun ada gadis cantik yang sedang mereka bicarakan, pemuda itu lebih memilih memperhatikan gelas berisi cairan kuning kecoklatan di tangannya.
"Ambil saja kalau kau mau. Aku tidak berminat," sahut Nicholas acuh tidak acuh. Ia hanya menoleh sekilas pada seorang gadis cantik berpakaian minim dengan mantel bulu yang sedang duduk di ujung meja bar.
Alastair dan Aegon saling melempar pandang. Tidak biasanya Nicholas menolak gadis cantik saat ia minum. Biasanya ia harus ditemani atau bahkan membawa seorang gadis ke apartemennya. Malam ini Nicholas tidak seperti Nicholas yang mereka kenal.
"Kau kenapa?" tanya Alastair.
"Tidak apa-apa. Kenapa?" Nicholas balik bertanya.
"Gadis itu sangat cantik, Nic. Sungguh kau tidak berminat?"
"Naaah!" sahut Nicholas sambil menggeleng.
"Kau Nicholas, bukan?" tanya Alastair seraya memeriksa wajah Nicholas dari dekat.
Nicholas mendesis. Diteguknya cairan whisky dalam gelasnya, lalu meminta bartender untuk mengisinya lagi. "Aku hanya ingin minum malam ini. Dan melupakan ... pfffh," gerutunya.
"Melupakan apa?" tanya Aegon curiga.
Nicholas menghembuskan napasnya kasar. "Melupakan gadis menyebalkan yang sudah menolakku," jawabnya. Wajah Dara melintas di benaknya tanpa basa-basi. Dan Nicholas merasa sebal bukan main.
Kembali Alastair dan Aegon saling melempar pandang. Sepertinya kedua pemuda itu memiliki tebakan yang sama. "Gadis berwajah Asia itu maksudmu?"
Nicholas tidak menjawab. Ia meneguk cairan dalam gelasnya, dan meminta pada bartender untuk memenuhi gelasnya lagi.
"Kau serius menyukai gadis itu, Nic?"
__ADS_1
"Semacam itu," sahut Nicholas seraya mengedikkan bahu.
"Kami pikir kau hanya ingin mengerjainya saja," gumam Aegon seraya mengelus dagunya.
"Dia itu ...." Nicholas meneguk isi gelasnya. "Gadis paling aneh yang pernah aku temui. Maksudku, bukan aneh, tapi ... ah, apa namanya, menyebalkan. Sia lan! Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
Alastair dan Aegon meloloskan tawa mereka. Lalu manggut-manggut bersamaan. Mereka tahu Nicholas sedang bingung dan frustrasi. Dan ini pertama kalinya mereka melihat pemuda itu bersikap seperti ini.
"Dara, bukan? Nama gadis itu?" tanya Alastair.
"Hmm."
"Ternyata kau kena batunya, Nic," ungkap Alastair sambil tergelak dan menunjuk wajah Nicholas.
"Sia lan kau!" maki Nicholas kesal.
"Tunggu," ucap Aegon. "Aku rasa kau hanya penasaran saja dengan gadis itu."
Alastair mengangguk setuju dengan pendapat Aegon. "Ya, kau hanya penasaran karena dia tidak memedulikanmu. Sedangkan kau biasanya dikejar banyak gadis cantik dan seksi. Semacam Sophie."
Nicholas menghembuskan napasnya kasar. Penasaran. Mungkin juga. Ia memang penasaran dengan Dara, awalnya. Tapi, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia pikir alkohol bisa sedikit membantunya melupakan Dara sejenak. Tapi, yang terjadi justru, gadis itu semakin memenuhi pikirannya. Alkohol sia lan, memang, pikirnya.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Aegon saat melihat Nicholas beranjak dari duduknya dan meletakkan bill minumannya ke atas meja. Tidak lupa ia memberi tips besar pada bartender yang membuat pria berambut merah itu kegirangan.
Nicholas tidak menyahut pertanyaan Aegon, ia hanya menaikkan alisnya dan menarik sudut bibirnya. Lalu berlalu begitu saja meninggalkan dua sahabatnya yang keheranan.
Ia masuk ke dalam Cadillacnya dan melaju kencang membelah jalanan Edinburgh yang sepi malam itu. Tentu saja sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dan ide dalam kepala Nicholas yang tadi terlintas begitu saja, akan segera pemuda itu wujudkan.
Nicholas menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen yang lengang. Ada beberapa tuna wisma yang tertidur di bawah pagar pembatas trotoar, tapi tidak mengacuhkan kehadiran Nicholas. Langkah pemuda itu sedikit gontai memasuki gedung.
Gedung itu tidak memiliki lift. Sehingga Nicholas cukup kelelahan untuk mencapai lantai di mana Dara tinggal. Sampai di depan pintu apartemen gadis itu, ia mengetuknya keras. Menggedor, lebih tepatnya.
Di dalam apartemen, Gwen yang ketiduran di sofa saat menonton televisi, terlonjak kaget mendengar pintu digedor seseorang. Susah payah mengumpulkan nyawa yang berhamburan ke mana-mana, Gwen melangkah menuju pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Nicholas ... Johanssen ...," tunjuknya pada pemuda tampan yang wajahnya bersemu merah di depannya.
"Hei, temanmu ada?" kekeh Nicholas seraya menaik-naikkan alisnya.
"Dara?" tanya Gwen.
"Iya. Memangnya kau punya teman lain yang tinggal di sini?"
Gwen meringis. "Ada di kamarnya. Tidur," jawabnya polos.
"Okay," sahut Nicholas seraya mendorong pelan bahu Gwen agar gadis itu tidak menghalanginya masuk.
"Nicholas, tunggu! Kau mau aku membangunkannya?" tawar Gwen sambil mengikuti langkah Nicholas menuju kamar Dara.
"Aku akan membangunkannya sendiri," kekeh Nicholas seraya menekan handle pintu.
"Mmmm ... wait! Sh it!" maki Gwen. Ia terlambat mencegah Nicholas masuk ke dalam kamar Dara. Ia mengintip dari balik pintu dan menyaksikan Nicholas menghambur ke atas ranjang Dara, dan membuat gadis yang sedang tertidur lelap itu pun menjerit.
Gwen hanya meringis. Ia pelan melangkah mundur dan berlari masuk ke dalam kamarnya dan bersembunyi di sana.
"Nic? Apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa yang mengizinkanmu masuk? Gwen? Gwen!" teriak Dara.
"Hei, Dara! Tenanglah," ujar Nicholas seraya membekap mulut Dara.
Tentu saja Dara berontak. Ia benar-benar dibuat terkejut bukan main oleh Nicholas. Keterkejutannya seketika berubah menjadi kemarahan. Ia menghujani Nicholas dengan pukulan tangan, dan tidak berhenti memukuli pemuda itu hingga kedua tangannya terpaksa dicekal oleh Nicholas.
"Aku bilang, tenang, okay?" Nicholas berbicara begitu lembut pada Dara. Gadis itu tersengal-sengal.
"Maaf, aku membuatmu terkejut. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu," ucap Nicholas. "I miss you, I don't know why (Aku merindukanmu, aku tidak tahu kenapa)."
Mata Dara membulat. Ia masih berusaha melepaskan lengannya dari cekalan tangan Nicholas meski gerakannya melemah. Perhatiannya teralihkan oleh sorot mata biru Nicholas yang sendu. Rambut pirangnya yang mulai memanjang terlihat berantakan, wajah tampannya bersemu merah. Untuk sesaat Dara terkesima.
"Jangan protes, Dara, tolonglah ...," pinta Nicholas. "Malam ini aku sedang melankolis. Aku hanya ingin berada di dekatmu. Itu saja."
Suara Nicholas yang begitu lembut dan ekspresi wajahnya yang tampak begitu pasrah, membuat Dara merasakan keanehan dalam relung hatinya. Tanpa terasa, pelan Dara menghentikan gerakan tangannya melepaskan diri dari cengkeraman Nicholas. Hingga pemuda itu melepas mantel yang membalut tubuh kokohnya, dan berbaring di hadapannya, Dara hanya mampu memandanginya.
__ADS_1
***