
Nicholas berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, menunggu kabar nasib Dara yang sedang ditangani oleh dokter di dalam sana. Ia bertekad, jika Dara bertahan, akan ia bawa pergi gadis itu dari Edinburgh. Akan ia bawa pergi dari jauh-jauh dari keluarganya yang---entahlah bagaimana ia bisa mengungkapkan kemarahannya pada mereka, terutama Portia.
Karena lelah, ia meletakkan bobot badannya di atas kursi ruang tunggu yang terletak di seberang ruang ICU. Lama ia berkutat dengan pikiran-pikiran buruk yang menghantui benaknya. Hingga seorang dokter menemuinya untuk mengabarkan bahwa Dara baik-baik saja, meskipun masih belum sadar dan belum boleh dikunjungi. Namun, hal itu sudah membuat Nicholas lega bukan main.
Thomas datang menemui Nicholas dan mengajak sang adik untuk sedikit menghirup udara segar di luar rumah sakit. Tepatnya di sebuah cafe di seberang jalan. Ia tahu, Nicholas begitu tegang beberapa hari ini dan puncaknya adalah saat menemukan Dara di rumah kosong itu.
"Baji ngan itu bagaimana? Apa dia mati?" tanya Nicholas. Rasa geram masih dominan dalam hatinya. Jika bisa, ia masih ingin menghajar Braden atas apa yang telah pemuda itu lakukan pada kekasihnya.
"Tidak. Dia tidak mati. Temanku sudah mengurusnya. Yang pasti mereka berdua akan mendekam di penjara karena kasus penculikan dan percobaan pembunuhan. Kalau Dara sadar, dia harus bersaksi di pengadilan."
Nicholas menggeleng. "Aku mau mereka dipenjara, tapi ... aku sudah berencana membawa Dara pergi dari Edinburgh secepatnya setelah dia sadar."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau Portia berbuat sesuatu yang lebih dari ini. Aku tidak mau Dara celaka lagi."
Thomas tersenyum seraya mengangguk-angguk. "Hanya butuh sekali kesaksian Dara dan itu sudah cukup untuk menjebloskan kedua orang itu ke penjara, Nic."
Nicholas mere mas wajahnya kasar. Lalu, diteguknya botol bir hingga habis setengahnya.
"Memangnya kau sudah tahu akan pergi ke mana?" tanya Thomas.
"Belum. Uangku saja tidak banyak," kekeh Nicholas. "Tapi, yang penting aku akan membawa Dara pergi ke tempat aman dan kami bisa memulai hidup baru."
"Kau tahu, Nic ... aku bangga padamu. Aku pikir kau selamanya akan menjadi anak breng sek yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang keluarga Johanssen," kekeh Thomas. Tetapi, ia mengucapkan semua itu dengan sungguh-sungguh.
"Well, jawabanku mungkin akan terdengar klise. Aku jatuh cinta, Thom."
****
Nicholas harus menginap satu malam di rumah sakit untuk menunggu Dara dipindahkan ke ruang perawatan. Gadis itu sudah sadar, meskipun masih belum bisa bergerak karena luka tembak di dadanya cukup dalam. Untungnya, peluru tidak mengenai organ vitalnya.
Kini, di ruangan kamar rumah sakit yang tidak terlalu luas, Dara terbaring lemas di atas ranjang. Menatap lekat Nicholas yang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya erat.
"Nic, I'm sorry ...." Hanya itu yang terucap dari bibir Dara. Semua ini terjadi karena ia tidak mengindahkan peringatan Nicholas agar tidak dekat-dekat lagi dengan Braden.
"Kenapa harus meminta maaf. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku bisa bertemu lagi denganmu dalam keadaan baik-baik saja."
__ADS_1
Dara tersenyum tipis. Rasanya hatinya terasa perih. Ia merasa telah menyia-nyiakan ketulusan Nicholas selama ini, dan terlalu lama membuka hati untuk pemuda tampan dengan sorot mata sendu itu.
"I love you, Nicholas," ucap Dara. Mantap dengan perasaannya.
"What?" Nicholas mendekatkan wajahnya pada Dara. "What did you say?"
"I love you." Kali ini Dara tidak keberatan untuk mengulang ucapannya, meskipun Nicholas hanya berpura-pura tidak mendengar.
Senyum Nicholas tersungging. Dielusnya pipi Dara lembut. "Akhirnya aku bisa mendengar kau mengatakannya dengan sungguh-sungguh."
"Maaf, aku terlalu lama menyatakan perasaanku padamu. Maaf, aku ... kalau perlakuanku selama ini padamu tidak menyenangkan. Maaf, aku terlalu menyebalkan ...."
"Sssttt!" bisik Nicholas. "Doesn't matter. Yang penting itu sekarang. Lupakan saja yang kemarin. Aku sudah tidak mengingatnya lagi."
"Rencana pernikahan kita gagal," kekeh Dara.
"Siapa bilang gagal? Kau pikir aku tidak mau melanjutkannya? Kau tidak bisa menghindar lagi setelah ini, Dara."
"Oh, sial," gurau Dara sambil terkikik.
"Kalau kau sudah pulih, aku akan langsung menikahimu, apapun yang terjadi."
"Ibumu bagaimana?" tanya Dara. Senyumnya menghilang saat mengingat wanita bernama Portia.
"Tidak usah memikirkannya. Setelah rencana jahatnya ini gagal, aku yakin perlu beberapa lama untuknya merencanakan sesuatu lagi."
Dara mere mas telapak tangan Nicholas yang masih berada dalam genggamannya. Tatapannya tetap beradu dengan iris biru milik pemuda itu.
"Kita akan pergi dari Edinburgh."
"Oh ya? Ke mana?"
"Akan kupikirkan nanti. Setelah menikah, aku akan membawamu kabur ke mana saja," kekeh Nicholas.
"Kuliahku bagaimana?" tanya Dara seraya mengerutkan kening.
"Tidak usah dipikirkan. Kuliah bukan sesuatu hal yang sulit. Kau percaya padaku, bukan? Aku akan menjamin kehidupanmu, Dara." Sebuah tekad yang teguh. Hanya itu yang dimiliki oleh Nicholas saat ini. Namun, ia benar-benar tidak takut menghadapi dunia dengan segala kerumitannya, asal ada Dara di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan pergi, Nic. Di sini saja, ya?" pinta Dara, terdengar manja.
Sungguh. Ini pertama kalinya Dara bersikap manja pada Nicholas. Pemuda itu senang bukan main. Selama ini, Dara selalu bertahan dengan egonya yang tinggi, tidak mau mengakui kalau gadis itu membutuhkan kehadirannya.
"Memangnya aku terlihat ingin pergi?"
"Aku takut ...." Tentu, Dara masih trauma dengan penculikan itu. Dan, hanya berada di dekat Nicholas, dirinya merasa aman.
"Ada pangeranmu di sini. Oh, bukan ... ksatriamu, yang akan selalu melindungimu." Nicholas menepuk-nepuk dadanya penuh percaya diri. Mau tidak mau membuat Dara meloloskan tawanya. Mulai lagi sikap over confodent Nicholas yang senang membangga-mbanggakan diri sendiri.
"Sudah turun derajat sekarang? Bukan lagi seorang pangeran?"
Nicholas mencebik. "Apa enaknya jadi seorang pangeran? Banyak aturan. Sangat menyebalkan."
"Kau memang sudah banyak berubah, Nic. Dari pemuda breng sek yang mengendarai Cadillac dengan sombongnya, hingga menjadi pemuda yang penuh tanggung jawab."
Nicholas tergelak. "Kau terdengar seperti Thomas, kau tahu?"
"Artinya bukan hanya aku yang merasakannya, bukan?"
Pemuda itu menarik napas dalam-dalam. "Ranjangnya terlalu sempit," keluhnya, membuat Dara mengerutkan kening.
"Memangnya kenapa?" tanya Dara keheranan.
"Aku ingin tidur di sebelahmu. Memelukmu, menciummu ...."
Dara mendecak. "Ini rumah sakit, Nic."
"So what?"
"Kau gila!"
"Satu ciuman mungkin tidak apa-apa, Dara."
"Nic!" Dara mendelik saat Nicholas mendekatkan wajah padanya. "Stop!"
"Tidak ada siapa-siapa. Lagi pula hanya ciuman kecil."
__ADS_1
Dara menggeleng sambil menunjuk ke belakang punggung Nicholas. Terdengar seorang wanita mendecak sambil bergumam, "Dasar anak muda!"
***