
Dara merenggangkan ototnya yang kaku setengah harian ini mondar-mandir mengurus pembeli. Menjelang hari valentine, banyak pesanan masuk dan pembeli yang datang bertambah dua kali lipat.
Sialnya, Alison tidak dapat membantunya karena sedang mengunjungi keluarganya di Roslin. Sebuah kota kecil yang masih berdekatan dengan Edinburgh.
Menjelang sore, saat pembeli sudah tidak lagi lagi datang, Dara dikejutkan oleh kedatangan pemuda yang beberapa hari ini membuatnya uring-uringan. Braden.
"Hi, Dara," sapa pemuda berambut kecoklatan itu dengan senyumnya yang membuat dada Dara berdebar kencang.
"H-hi, Braden ... emm ... Alison tidak ada di sini." Tentu kedatangan Braden untuk mencari kekasihnya itu. Dara tidak berharap apapun.
"Aku tahu," kekeh Braden. "Aku kemari ingin menemuimu."
Dara mengerutkan keningnya. Apa dirinya tidak salah dengar. Braden datang untuk menemuinya. Ada apakah gerangan.
"Menemuiku?" tanya Dara memastikan.
"Ya, menemuimu. Bukankah sudah lama kita tidak bertemu, Dara?"
Dara tidak tahu apa dirinya harus gembira mendengar ucapan Braden, atau sebaiknya ia mengabaikan saja. Saat ini ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"I miss you, you know?"
Tenggorokan Dara seakan tercekat. Ia mencoba mencerna kata-kata Braden. Atau ia sedang bermimpi.
"Kau sudah melupakan aku, ya? Kau tidak pernah menghubungiku lagi?"
"Emmm ... aku ... emm ... kau dan Alison sudah menjadi sepasang kekasih, dan ... aku tidak mau membuat Alison tidak nyaman."
Braden terbahak, membuat Dara semakin keheranan. Pemuda itu menyugar rambutnya. "Aku dan Alison apa?" tanyanya.
"Kalian sudah berpacaran, bukan?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena ...." Karena Dara melihat Braden berciuman dengan Alison di Leith Riverside. Apa itu tidak cukup menjelaskan bahwa mereka telah menjalin hubungan kembali.
"Okay, aku dan Alison beberapa waktu kemarin memang kembali dekat. Tapi, sepertinya kami sama-sama sadar kalau hubungan kami tidak akan berhasil."
Dara merasa seperti tersiram air dingin, yang membuat hatinya terasa begitu sejuk. Ini sungguh di luar dugaannya.
"Kenapa aku harus menjelaskan hubunganku dengan Alison padamu?" kekeh Braden. "Aku ke sini untuk menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan akhir pekan."
"Jadi ... kau dan Alison tidak ...."
Braden menggeleng. "Kau menghindar dariku karena berpikir aku kembali pada Alison?"
Dara meringis. "Dia bosku. Aku tidak mau membuat masalah dengannya. Aku takut kalau aku masih dekat denganmu, dia akan merasa cemburu."
__ADS_1
"Dara, Dara ... aku pikir kau marah padaku." Braden menghela napasnya pelan. "Kau sudah selesai, bukan?"
Dara mengangguk. Ia bahagia sekali mendengar ucapan pemuda manis di depannya ini. Dan tentu saja ajakan Braden tidak mungkin ia tolak. Segera diambilnya tas dan melangkah keluar mengikuti Braden.
Namun, sepertinya keberuntungan tidak sedang memihaknya, karena Dara melihat mobil Cadillac Nicholas menepi di hadapannya.
"Mau apa kau ke sini, Nic?" tanya Dara dengan wajah tidak sukanya. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi.
"Mau menjemputmu," jawab Nicholas seraya menatap selidik pada Braden. "Dan kenapa kau akan pergi dengannya?" tanyanya keheranan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukankah Dara mengatakan, pemuda itu pacar bosnya.
Braden juga terlihat keheranan dengan kehadiran Nicholas. Setahunya, pemuda ini terlibat konflik dengan Dara beberapa waktu lalu karena masalah sepeda dan beberapa hal lain. Lalu, kenapa pemuda itu malah ingin menjemput Dara.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menjemputku," ucap Dara ketus.
"Tunggu!" Nicholas mengangkat tangannya. "Kau akan pergi dengannya? Kemana?"
"Aku akan mengajak Dara jalan-jalan keliling Edinburgh dan mencari tempat-tempat anti-mainstream. Seperti yang sering kita lakukan, bukan, Dara?"
Sebelum Dara menjawab ucapan Braden, Nicholas tiba-tiba meraih lengan gadis itu dan membawanya mendekat padanya. Tentu saja hal itu membuat Dara memberontak. Tapi, Nicholas tidak bergeming. Ia menatap tajam pada Braden.
"Aku tidak mengizinkanmu pergi dengan Dara," tegas Nicholas.
"Oh ya? Kenapa?" kekeh Braden. Ia merasa pemuda itu sangat tidak masuk akal melarangnya pergi dengan Dara.
"Kau sudah punya kekasih, bukan? Untuk apa mendekati Dara?"
Nicholas mendecak. "Wanita yang kau cium malam itu di Leith Riverside," desisnya.
Braden menaikkan kedua alisnya. Bagaimana pemuda itu bisa tahu apa yang ia lakukan dengan Alison malam itu di Leith Riverside. Tapi, ia tidak berminat untuk menjelaskan semuanya pada Nicholas.
"Ayo, Dara," pinta Braden seraya mengulurkan tangannya. "Akan aku jelaskan semuanya nanti."
"Tidak bisa!" Nicholas mendorong dada Braden. Tangan kirinya masih menggenggam lengan Dara.
"Nicholas! what are you doing?" protes Dara. Tepat dugaannya. Nicholas membuat keributan seperti biasa.
"Aku ingin melindungimu dari orang ini!"
Dara memutar kedua bola matanya sebal. "Apa maksudmu, Nic? Lepaskan aku!" hardiknya.
"Pokoknya kau pergi denganku!" Nicholas menarik lengan Dara menuju mobilnya.
Braden tidak tinggal diam. Ia meraih bahu Nicholas dan memaksanya berhenti.
Buuggh
Dara menjerit saat kepalan tangan Nicholas mendarat di wajah Braden dengan keras. "Apa-apaan kau, Nicholas?!" bentaknya. Ia ingin menolong Braden, tapi cekalan tangan Nicholas begitu kuat.
__ADS_1
"Masuk, Dara!" Nicholas membuka pintu mobil dan mendorong Dara masuk. "Diam di situ!" perintahnya seraya menekan tombol kunci di remote mobilnya.
Ia kembali menghadapi Braden. Bersiap untuk menghadiahi pukulan kedua di wajah pemuda itu.
"Kau sungguh konyol!" maki Braden. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap anak keluarga Johanssen itu.
"Berani kau mempermainkan perasaan Dara, aku hajar kau!" Nicholas menunjuk tepat di depan wajah Braden.
Braden yang masih bingung, dan juga tidak ingin membuat keributan di tempat umum, apalagi dengan Nicholas Johanssen, mengangkat tangan tanda menyerah.
Nicholas tersenyum sinis seraya berjalan memutari mobil dan menyusul Dara yang tidak bisa keluar dari mobilnya. Pemuda itu melajukan mobilnya kencang meninggalkan tempat itu.
"Apa maksudmu dengan semua ini, Nic?!" Dara yang geram bukan main memukul bahu Nicholas yang tengah fokus pada jalanan.
"Kau ini murahan sekali!" hardik Nicholas.
"Apa kau bilang?" erang Dara.
"Dia sudah membuatmu menangis semalaman dan sekarang kau mau saja pergi dengannya?"
Dara mendecak. "Semua tidak seperti yang aku pikirkan. Braden dan Alison tidak memiliki hubungan apa-apa."
"Dan kau percaya? Setelah melihat mereka berciuman dengan ... panas?"
Dara menghembuskan napasnya kasar. "Dia akan menjelaskannya nanti. Kalau saja kau tidak datang mengacau. Ish!" Kembali Dara memukul bahu Nicholas dengan kesal.
"Hei! Jangan bodoh! Dia hanya ingin tidur denganmu, dan juga dengan Alison. Dia ingin meni duri kedua-duanya."
"Braden bukan orang seperti itu! Braden tidak seperti kau, Nicholas Johanssen!"
"Kau harus percaya kata-kataku, Dara!"
Dara mendesis. Mempercayai kata-kata Nicholas. Yang benar saja.
"Apa kau mengenalnya dengan baik? Hah? Apa kau pernah mengenalnya secara mendalam?"
"Kau sungguh berlebihan, Nic. Aku benar-benar tidak mengerti, KENAPA KAU SELALU MENGGANGGUKU!" teriak Dara kesal.
Nicholas menggeleng. "Aku memang brengsek. Aku memang tidak pernah berkomitmen dengan wanita-wanita yang aku ajak tidur." Nicholas menghela napasnya. Kemudian ia menoleh sekilas pada Dara sebelum akhirnya pandangannya kembali fokus ke jalan.
"Itu karena belum ada wanita tulus yang dekat denganku. Mereka semua hanya peduli dengan uangku."
"Kau berbeda, Dara. Meskipun kau sangat menyebalkan, tapi aku tahu kau gadis yang tulus."
"Dan aku tidak suka melihat gadis sepertimu dipermainkan!"
***
__ADS_1