
Dara memperhatikan Alison yang sedang melayani pembeli dari balik meja kasir. Perempuan itu cantik sekali dengan rambut merah dan sepasang mata beriris hijau emerald itu.
Ia jadi membanding-bandingkannya dengan diri sendiri. Tentu Dara tidak secantik Alison. Tidak ada alasan untuk Braden lebih memandangnya dari pada mantan kekasihnya itu.
"Dara, kemari!"
Lamunan Dara buyar oleh panggilan Alison. Wanita itu baru saja membalik papan kecil dipintu kaca, dari open menjadi closed. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dan pekerjaan Dara telah selesai.
"Let's walk with me (Ayo, jalan pulang denganku)," ajak Alison seraya mengenakan mantel tebalnya.
"Okay," jawab Dara seraya mengulas senyum. Kebetulan arah tempat tinggal mereka sama. Tapi, apartemen Alison lebih dekat dari toko.
"Sudah lama kau mengenal Braden?" tanya Alison membuka obrolan di antara mereka saat keduanya menelusuri sidewalk.
"Dari pertama kali aku datang ke Edinburgh. Bengkelnya dekat dengan restauran tempatku dulu bekerja. Kami bertemu di sebuah cafe," jawab Dara seraya mengenang pertemuannya dengan Braden.
Pertama kalinya melihat sosok Braden yang membuatnya merasakan desiran aneh dalam dada.
"Dan kalian berteman sejak itu?" Alison menoleh dan menatap Dara.
"Ya. Dia membantuku dalam banyak hal."
Alison tertawa kecil. "Tipikal Braden. Dia selalu baik dengan siapapun," kenangnya. "Bahkan kadang-kadang terlalu baik."
"Kenapa ... kau putus dengannya?" tanya Dara memberanikan diri.
"Owh, dia sudah menceritakannya padamu," kekeh Alison. "Well, mungkin aku yang terlalu keras kepala," sesalnya.
Dara tersenyum kecut. "Kau menyesal?" tanyanya kemudian.
"Hmm ... aku masih memberi kesempatan pada hubungan kami ke depannya. Tapi, kita lihat saja nanti."
"Aku harap kalian bisa bersama lagi," ucap Dara dengan hati perih.
Alison tersenyum seraya menoleh kembali pada Dara. "Atau mungkin Braden sedang mendekatimu sekarang."
"Apa? Oh, tidak, tidak. Kau tidak perlu khawatir. Braden menganggapku teman biasa."
__ADS_1
Alison tertawa renyah. Ia menepuk-nepuk pundak Dara. Seakan-akan ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu. Tentu Alison bukan orang bodoh yang tidak mampu mengartikan cara Dara menatap mantan kekasihnya.
"He's cute, right (Dia tampan, kan)," kekeh Alison seraya menyikut pelan lengan Dara.
"Yeah," sahut Dara. Cute dan menyenangkan. Bersama Braden seakan-akan ia dikelilingi energi positif yang membuat semuanya menjadi begitu mudah.
"Aku tidak apa-apa kalau kau dan Braden ...."
"No, Alison ... aku dan Braden hanya akan jadi teman. Aku pikir dia masih mengharapkanmu."
"Oh ya? Kau pikir begitu? Bagaimana kau tahu? Apa dia mengatakannya padamu?" berondong Alison. Binar di matanya tidak mampu ia sembunyikan.
Dara merasa, secara tidak langsung, bosnya itu sedang mengorek keterangan tentang Braden dan perasaannya. Jelas, Alison masih mengharapkan mantan kekasihnya itu kembali. Hanya saja, wanita itu terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Dia tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku berkesimpulan seperti itu, dari apa yang aku lihat pada Braden."
Dara melirik Alison. Wanita itu menundukkan kepala menyembunyikan senyumannya. Senyuman bahagia, sepertinya.
***
Sepeda London Taxi kesayangan Dara telah berhasil diperbaiki oleh Braden. Tidak sempurna seperti semula, tapi, sudah sangat cukup untuk ia gunakan kembali sebagai transportasinya ke kampus dan ke tempat kerja.
Dara menghentikan langkah di depan pintu toilet yang sedikit terbuka, saat ia mendengar suara-suara aneh dari dalam. Dadanya berdebar saat ia memutuskan untuk membuka pelan pintu.
"Astaga!" pekiknya saat melihat pemandangan tidak senonoh terpampang di depan matanya.
Dua orang berlawanan jenis sedang memadu kasih dengan panasnya. Si gadis duduk di atas wastafel, dan si pria berdiri di hadapannya. Pakaian si gadis sudah sangat berantakan begitu juga rambutnya.
Yang membuat Dara terkejut adalah, ia mengenal si pria sebagai Daniel Murphy, salah satu dosennya. Dan si gadis, sepertinya seorang mahasiswi yang pernah ia lihat sekilas lalu.
Usia Daniel Murphy sudah lebih dari setengah abad. Dan yang dilihat oleh Dara tentu saja adalah scandal yang bisa membahayakan posisinya sebagai dosen.
Kedua pasangan itu sangat terkejut melihat kehadiran Dara. Ketiganya saling menatap untuk beberapa saat.
"Ini tidak seperti yang kau lihat," jelas Daniel seraya merapikan pakaiannya. Wajahnya kini sepucat kertas. Ia membayangkan apa yang akan ia hadapi ke depannya. Rasa sesal menyelimuti hatinya, ia harus menuruti gadis yang bergumul dengannya beberapa saat lalu, yang mengajaknya melakukan hal-hal gila untuk adrenalin.
Bercin ta di toilet kampus saat pagi hari yang masih sepi. Gairah dan resiko membuat toilet wanita kampus pagi itu begitu membara. Meskipun resiko itu benar-benar terjadi. Seorang mahasiswi memergokinya.
__ADS_1
"Emm ... maaf, aku tidak tahu kalau ada orang di sini dan ...." Dara buru-buru menutup pintu dan berlalu dari tempat itu. Ia melangkah cepat meninggalkan area toilet. Ia merasa begitu aneh melihat dua manusia berbeda jenis bergumul di depan matanya.
"Hei!" panggil seseorang dari arah belakangnya.
Si wanita di dalam toilet kini sudah berjalan di samping Dara. "Kau tidak akan membocorkan apa yang kau lihat tadi, bukan?" Ia mencengkeram lengan Dara.
"Emm ... itu bukan urusanku," jawab Dara seraya menelan salivanya.
"Aku Sophie. Kau pasti tahu siapa aku, bukan?"
"Aku tidak tahu siapa kau. Dan yang terjadi di dalam toilet bukan urusanku," tegas Dara. Ia berjalan mendahului Sophie. Tetapi, wanita itu kembali menyejajarkan langkah di samping Dara.
"Kau tahu Nicholas Johanssen, bukan?" tanya Sophie.
Dara mendecak. "Aku tidak tahu."
"Tidak mungkin kau tidak tahu siapa Nicholas Johanssen."
"So what?" Dara mulai risih dengan wanita di sampingnya itu.
"Aku punya hubungan khusus dengan Nicholas. Yang ingin aku katakan adalah, jangan coba-coba memberitahukan semua yang kau lihat di dalam toilet, pada Nicholas."
"Dengar, Sophie ... aku tidak mau terlibat dengan semua itu. Anggap saja aku tidak pernah melihatnya, ya?" Dara mendorong pintu kelas, tetapi Sophie menahan tangannya.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu?"
"Karena aku tidak peduli. Aku tidak mengenalmu apalagi si orang gila itu!"
Sophie mengerutkan keningnya. "Orang gila?" tanyanya heran.
"Maksudku ... Nicholas, atau siapapun itu. Tolong jangan libatkan aku."
"Okay ...." Sophie menarik sudut bibirnya. "Daniel Murphy akan bicara denganmu nanti."
Dara menepuk keningnya. Sial sekali pagi ini ia harus memergoki scandal di dalam toilet. Dan yang paling menyebalkan adalah, ada hubungannya dengan Nicholas Johanssen.
Perasaannya tidak enak. Ia merasa akan kembali terlibat masalah dengan pemuda itu. Dan itu sangat menyebalkan.
__ADS_1
***