
Tanpa sengaja, Nicholas melihat Sophie sedang berbicara serius dengan gadis yang telah memukul wajahnya. Entah kenapa ia merasa penasaran dengan pembicaraan keduanya. Pasalnya, ia tidak tahu kalau Sophie mengenal gadis itu.
"Kau bicara apa dengannya?" tanya Nicholas mengagetkan Sophie yang sedang memandangi pintu kelas.
Sophie terkejut mendengar suara Nicholas dari balik punggungnya. "Owh, hi, Sayang. Kau ... berangkat pagi sekali," ucapnya sambil buru-buru bergelayut di pundak Nicholas.
"Kau bicara apa dengan gadis itu?" Nicholas mengulang pertanyaannya seraya melepaskan tangan Sophie dari pundaknya.
"Tidak ada. Hanya obrolan gadis-gadis."
Nicholas menatap curiga pada Sophie. Rasanya ada yang aneh dengan sikap teman tidurnya itu.
"Ah, Nic, aku ada kelas pagi. Dosennya sedikit ketat. Aku harus pergi. Sampai jumpa nanti malam? Apa kau akan bersamaku?"
"Entahlah, aku kabari kau nanti."
Nicholas memandangi punggung Sophie menjauh. Ia lalu menatap pintu kelas di depannya, sambil sesekali tersenyum seadanya pada beberapa orang yang menyapanya.
Bukan Nicholas namanya jika ada sesuatu yang membuatnya curiga, dan ia tidak mengusutnya sampai tuntas. Gerak-gerik Sophie dan gadis itu aneh saat ia melihat mereka berkomunikasi.
Tangannya mendorong pelan pintu kelas dan melangkah masuk. Ia mencari seseorang yang akan ia interogasi. Dan seseorang itu duduk di deretan belakang paling pojok.
Ia menarik sudut bibirnya seraya melangkah mendekati gadis yang sedang berkutat dengan bukunya.
Dara terkejut melihat kehadiran Nicholas. Seketika ia memasang wajah tidak ramahnya pada pemuda itu. Hidung Nicholas masih terlihat memar akibat pukulan yang ia hadiahkan.
"Mau apa kau?" tanya Dara ketus.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Nicholas dengan santainya duduk di sebelah Dara.
"Aku tidak punya urusan denganmu."
Nicholas terbahak. "Sekarang ada."
Dada Dara berdebar kencang. Ia berharap Nicholas tidak akan menanyakan sesuatu yang ia lihat di toilet. Tidak mungkin secepat ini.
"Ada urusan apa kau dengan Sophie?"
"Sophie? Siapa Sophie? Aku tidak mengenalnya."
Nicholas mencengkeram lengan Dara hingga gadis itu meringis kesakitan. "Aku melihatmu berbicara dengannya tadi di depan kelas. Apa yang kalian bicarakan?"
"Kau salah lihat ... auch!" pekik Dara saat Nicholas menguatkan cengkeraman tangannya.
__ADS_1
"Jangan coba-coba membohongiku!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
Nicholas memelintir lengan Dara keras, membuat gadis itu kembali meringis kesakitan. "Katakan yang sebenarnya, atau aku akan menyakitimu lebih dari ini. Kau tahu, bukan, menyakitimu adalah hal sangat mudah bagiku," ancamnya.
"Aku tidak mau terlibat masalah kalian dan aku tidak peduli!" jelas Dara. "Leave me alone (Tinggalkan aku sendiri)!"
"Tidak semudah itu. Kau sudah terlibat. Ayo, ikut aku!" Nicholas menarik lengan Dara dan menyeretnya keluar kelas.
Beberapa orang memandang ke arah mereka tapi hanya membiarkannya saja tanpa berniat menolong Dara. Tentu mereka tidak mau berurusan dengan Nicholas.
Nicholas membawa Dara ke parkiran dan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya. Ia tidak memedulikan protes dari Dara. Mobilnya ia lakukan keluar area kampus.
"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Dara kesal. "Sudah aku bilang aku tidak ingin terlibat urusan kalian!"
"Diam, Gadis Bodoh!" bentak Nicholas.
Dara menghembuskan napas kasar. Ia benci dipanggil dengan sebutan itu. Tapi, jika ia melawan, maka masalah akan berlarut-larut. Ia benar-benar tidak ingin lama-lama berurusan dengan Nicholas.
Sampai di depan sebuah gedung apartemen mewah, Nicholas menghentikan mobil Cadillac-nya. Ia turun dan menarik keluar Dara. Ia membawa paksa gadis itu masuk ke dalam gedung.
Dara terkejut saat Nicholas membawanya masuk ke sebuah unit apartemen. Ia diseret menuju sebuah kamar. Dan Nicholas menghempaskan tubuh kurusnya ke atas ranjang.
Dara buru-buru bangkit tapi Nicholas keburu menekan kedua bahunya dari atas.
"Katakan yang sebenarnya sekarang atau aku akan mengerjaimu, Gadis Bodoh!"
"Lepas!" teriak Dara. "Tolong!"
Nicholas terbahak. "Tidak ada yang bisa mendengarmu. Ruangan ini kedap suara."
"Breng sek kau!" maki Dara. Wajahnya telah memerah menahan kesal.
"Jadi?" Nicholas mencengkeram kerah baju Dara dan bersiap merobeknya. Sekali tarik saja, mungkin kancing-kancing bajunya akan terlepas.
"Ini penculikan. Aku akan melaporkanmu pada polisi!"
Nicholas tergelak mendengar ucapan Dara. "Mau lapor polisi? Polisi yang mana?"
Dara menggeram marah. Ia sadar siapa yang sedang dihadapinya. Tentu saja ancamannya hanya angin lalu semata untuk Nicholas.
"Okay, okay!" Dara pun akhirnya menyerah. Tidak ada gunanya ia melawan. Tenaga Nicholas terlalu kuat.
__ADS_1
"So?" Nicholas menunggu Dara membuka mulutnya. Ia menatap tajam gadis itu.
"Kalau aku katakan yang sebenarnya, apa kau akan melepaskanku?"
"We'll see. Maybe." Nicholas mengedikkan bahunya.
Dara menarik napas dalam-dalam. "Aku memergoki Sophie bercin ta dengan Daniel Murphy di toilet."
Nicholas menaikkan kedua alisnya. "Kau memergoki Sophie bercin ta dengan siapa?"
"Daniel Murphy. Dosen di kampus? Kau mengenalnya, bukan?"
"Ya, aku tahu dia. Lalu?"
"Aku tidak berniat memberitahukan apa yang aku lihat pada siapapun. Pertama, aku tidak mengenal Sophie, kedua, aku juga tidak ingin mencampuri urusan Daniel Murphy."
"And?" Nicholas menajamkan tatapannya pada Dara.
"Tapi, Sophie terlalu khawatir. Dan dia memintaku untuk tidak menceritakan ini pada orang lain, terutama padamu."
"Why?"
"Karena dia bilang dia ada hubungan khusus denganmu."
Nicholas menarik sudut bibirnya. "What a B itch (Dasar Ja Lang)!" makinya. "Dia teman tidurku. Dan aku tidak suka berbagi wanita dengan lelaki lain."
Dara menggeleng. "Aku sungguh tidak mau tahu urusan kalian. Aku tidak peduli hubunganmu dengan Sophie. Tapi, sekarang kau membuatku buka mulut!" gerutu Dara.
Nicholas menatap Dara lekat. Ia memperhatikan wajah manis gadis itu. "Well, mungkin aku harus berterimakasih padamu," kekehnya. Ia mengelus pipi Dara dengan punggung tangannya.
"Tidak perlu. Okay, aku harus pergi." Dara mendorong dada Nicholas dan beranjak dari atas ranjang. Ia melangkah cepat menjauh dari ranjang.
Nicholas membiarkan Dara melangkah ke arah pintu dan keluar dari kamarnya. Ia mengulas senyum. Sebentar lagi, gadis itu pasti akan muncul kembali dari balik pintu kamar dan meminta bantuan padanya.
"Emm ... aku tidak tahu cara membuka pintu depan."
Nicholas terbahak. Tepat dugaannya. Ia pun beranjak dari ranjangnya dan mengikuti langkah gadis itu. Ia membantunya membuka pintu karena harus menggunakan kode rahasia.
"Aku sudah memberitahu yang sebenarnya. Mulai sekarang, jangan libatkan aku lagi," ucap Dara saat menunggu pintu lift terbuka.
"Aku tidak bisa berjanji," jawab Nicholas asal.
"Aku tidak mau tahu. Jangan ganggu aku!" ancam Dara seraya melangkah masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Kedua pasang mata mereka saling menatap. Nicholas dengan senyum jahilnya, sementara Dara dengan ekspresi wajah sengitnya.
***