
Dara terdiam mendengar ucapan Nicholas. Lebih tepatnya, tertegun. Ia sempat memandang pemuda itu untuk beberapa saat. Sepertinya Nicholas serius saat mengucapkan kata-katanya itu.
"Bisa kau antar aku pulang saja?" tanya Dara. Ia malas pergi ke mana-mana.
"Okay." Nicholas menurut. Hal itu membuat Dara keheranan. Tidak biasanya si menyebalkan ini mengiyakan saja permintaannya.
Sampai di depan apartemen Dara, Nicholas menghentikan mobilnya. Pemuda itu tidak banyak bicara lagi, tapi, saat Dara mengucapkan terimakasih dan turun dari mobilnya, ia pun mengikuti.
"Kenapa kau ikut turun?" tanya Dara keheranan. Tapi Nicholas tidak menjawab. Ia melenggang masuk dengan santainya.
"Hei! Nicholas!" Dara mengejar pemuda itu hingga menaiki tangga menuju apartemennya. "Mau apa kau?" tanyanya.
"Aku ingin menginap di sini."
"Hah? Oh, tidak bisa, Nic." Dara ingat Gwenn pekan ini akan menginap di tempat pacarnya, dan ia tidak mau berduaan dengan Nicholas.
"Cepat buka pintunya!" perintah Nicholas.
"Aku bilang tidak bisa!"
Nicholas merebut kunci dari tangan Dara dan membuka pintu dengan cepat. Tanpa menunggu persetujuan Dara, Nicholas melenggang masuk dan menjatuhkan badannya di atas sofa.
"Kau ini! Kenapa seenaknya sendiri?!" hardik Dara sebal. Sudah menggagalkan acara jalan-jalannya dengan Braden tanpa alasan yang jelas, lalu sekarang memaksa menginap di apartemennya. Pemuda itu benar-benar membuatnya sebal.
"Aku butuh tempat untuk menginap, please," rengek Nicholas.
"Kau sedang bercanda, ya? Kau punya banyak apartemen, kenapa harus menginap di sini?" Dara memutar kedua bola matanya.
"Karena malam ini, ibuku pasti mencariku ke semua apartemen kami."
"Kenapa?" Dara melipat kedua lengannya.
"Karena aku membatalkan acara makan malam dengan si gadis kawat gigi," ujar Nicholas sambil memasang wajah cemberut.
Dara menggeram. Kenapa ia harus ikut terlibat dengan masalah Nicholas. "Kau bisa menyewa kamar hotel!"
"Kau mau menemaniku di hotel?"
"Dalam mimpimu!"
"Ya, sudah, kau tidak boleh protes kalau aku menginap di sini." Nicholas mengedikkan bahunya.
Dara memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Nicholas seperti bayangan buruk yang menghantuinya ke mana-mana.
__ADS_1
"Dari pada kau marah-marah terus, Dara, kau bisa membuatkan aku teh hangat atau coklat panas, mungkin?" Nicholas terkekeh.
"Buat saja sendiri," ujar Dara seraya bersungut-sungut melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Dara menghela napasnya dalam-dalam. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu seraya kepalanya menengadah ke langit-langit kamar.
Ia tidak habis pikir kenapa Nicholas selalu saja datang mengganggunya. Di kampus, di tempat kerja, bahkan di jalan. Nicholas seakan-akan selalu mengikutinya ke mana-mana. Dan sekarang, pemuda itu ada di apartemennya.
Dara membasuh mukanya di kamar mandi, menghilangkan kusutnya. Ia pandangi sejenak pantulan wajahnya di dalam cermin. Tidak terlalu buruk. Hanya terlihat lelah. Sepertinya lelah akan beban hidup yang berat.
Gadis itu terkikik. Kemudian mengeringkan wajahnya dengan handuk dan mengganti pakaian dengan pakaian rumahan. Baru selesai ia menjemur handuknya di balkon kamarnya, terdengar suara benda pecah dari arah dapur.
Dara segera berlari keluar kamar dan melangkah ke arah dapur, di mana Nicholas tengah meringis menatap pecahan kaca di lantai.
"Maaf, Dara. Aku tidak sengaja menjatuhkan cangkirnya. Tadi aku berniat membuat teh," ucap Nicholas seraya menggaruk kepalanya.
Dara menghela napasnya berat. Ia tahu Nicholas tidak terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Semua yang ia butuhkan pasti sudah dilayani oleh asisten-asistennya.
"Kau duduk saja. Biar aku bereskan," ucap Dara. Ia merasa kasihan juga dengan pemuda itu.
"Aku bantu membereskan pecahan kacanya," ujar Nicholas sambil berjongkok mengikuti gerakan tubuh Dara.
"Tidak perlu. Kau duduk saja ... auch!" pekik Dara seraya mengangi jarinya yang berdarah. Ia hendak merebut pecahan kaca dari Nicholas, tapi jarinya justru tidak sengaja teriris.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Nicholas. "Biar aku lihat." Nicholas meraih tangan Dara untuk memeriksa jari tangan gadis itu yang terluka.
"Astaga! Lukanya cukup dalam. Kau punya kotak obat-obatan, bukan?" tanya Nicholas seraya menekan luka Dara agar darahnya berhenti keluar.
Dara hanya mengangguk. Ia menunjuk sebuah kotak yang menempel di dinding dekat pintu kamarnya.
"Kau pegang dulu lukanya, biar aku yang ambil obatnya," ujar Nicholas seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Di depan kotak obat, terlihat pemuda itu menggulir layar ponsel beberapa saat.
Mungkin dia sedang membaca cara mengobati luka sobek di internet. Dara menahan senyumnya saat Nicholas kembali dengan membawa obat luka dan plester.
Masih dengan posisi berjongkok, keduanya kini saling berhadapan. Nicholas mengambil tangan Dara dan meletakkannya di pangkuan pemuda itu.
Sesekali Nicholas memandang Dara sambil mengulas senyum tipis. Sementara tangannya cekatan mengurus luka di jari gadis itu.
"Sudah selesai, Dara. Kau mencuri kesempatan untuk memegang pahaku, ya?"
"Hah!" Dara yang memang sedang menatap ke arah lain saat Nicholas mengurus lukanya, tersentak mendengar ucapan pemuda itu.
Dara buru-buru menarik tangannya. "Siapa yang mencuri kesempatan?" protesnya. Ia kembali memunguti pecahan kaca dengan hati-hati dan memasukkannya ke tempat sampah. Kemudian gadis itu memvacum sisanya hingga tidak ada yang tertinggal.
__ADS_1
"Kau mau membuatkanku teh hangat?" tanya Nicholas seraya menghampiri Dara yang kini sedang mengambil cangkir lain.
"Hmmm ...."
Nicholas memperhatikan gerak-gerik Dara yang cekatan menyeduh teh untuknya. Bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman tipis.
"Mana temanmu?" tanya Nicholas.
"Pergi ke tempat pacarnya."
"Wah, bagus sekali. Berarti malam ini kita hanya berdua," kekeh Nicholas.
Dara memicingkan matanya menatap Nicholas. "Kalau kau mau tidur di sini, pastikan kau tidak akan macam-macam," ujarnya memperingatkan pemuda itu.
Nicholas mengangkat tangannya. "Aku anak baik," kekehnya.
Dara mendesis. Ia meletakkan cangkir teh ke atas meja. Kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Dara!" panggil Nicholas membuat Dara urung mendorong pintu kamarnya.
"Apa lagi?"
"Kau tidak mau duduk di sini mengobrol denganku?"
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan."
Nicholas tergelak. "Sepertinya kau harus terkena alkohol lebih dulu."
Dara menghela napasnya. "Aku akan mengambilkan bantal dan selimut untukmu," ucapnya seraya melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
Beberapa saat kemudian, gadis itu muncul kembali dengan satu bantal dan selimut di tangannya.
"Memangnya tempat tidurmu sempit?" tanya Nicholas dengan senyum jahilnya.
"Sempit sekali dan aku tidak suka membaginya dengan orang lain."
"Mungkin ada extra bed di bawah kasurmu?" Nicholas masih mencoba menggodai Dara. Ia suka dengan ekspresi kesal gadis itu. Lucu.
"Tidak ada. Kalaupun ada, aku akan membawanya ke ruang tamu!" tegas Dara. "Kau mengatakan Braden hanya ingin tidur denganku? Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri?" ujarnya sengit.
Nicholas terbahak. "Aku berbeda dengan siapa namanya ... Braden? Ya. Aku berbeda dengannya. Aku begini karena aku menyukaimu."
Dara mengibaskan tangan menimpali ucapan omong kosong Nicholas. Setelah itu, ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
__ADS_1
"Hei, Dara! Aku memang menyukaimu. Percayalah!"
***