
Sejujur apapun Braden dan Alison bersaksi bahwa mereka melakukan penculikan dan percobaan pembunuhan atas perintah seseorang, atau lebih tepatnya salah seorang yang berpengaruh di negeri ini. Tentu Portia sudah mencuci tangan dari kasus ini dan berdiam diri di mansion mewahnya dengan tenang. Sementara Alison dan Braden dijebloskan ke penjara selama bertahun-tahun.
Hari itu Portia memanggil Alexandra menghadapnya. Putrinya itu satu-satunya harapan untuk memuluskan semua bisnis yang sedang dijalankan oleh keluarga Johanssen. Ia tidak bisa mengandalkan suaminya yang lebih memilih tinggal dengan gundiknya di mansion mereka yang lain. Ah---pernikahan mereka memang sudah lama hambar dan memutuskan untuk hidup sendiri meskipun masih berstatus suami-istri. Sekali lagi, itu hanya untuk image semata.
"Ada apa, Ma?" tanya Alexandra saat sudah berada di ruangan sang ibu. "Apa kau punya rencana lain tentang Nicholas dan gadis itu?"
Portia memijit keningnya. "Ya, aku punya rencana lain, tetapi bukan tentang Nicholas."
Alexandra mengerutkan kening. "Lalu?"
"Kau, Alexandra."
Gadis berambut pirang itu menaikkan alis. "Aku?"
"Ya, kau satu-satunya harapanku untuk terhindar dari pajak besar yang membelenggu bisnis. Kau tahu, bukan, perdana menteri tidak mau membantuku lagi, kecuali ...."
"Kecuali apa? Apa hubungannya denganku?"
"Kau menikah dengan putranya, kakak Alena, Reynold Sturgeon."
Mata biru Alexandra membulat sempurna. Bahkan mulutnya menganga tidak percaya. "Kau pasti bercanda, Ma." Ini kabar terburuk yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Reynold Sturgeon. Pria buruk rupa yang tidak pernah berada di dalam radarnya.
"Ini keputusanku dan kau tidak bisa menolak, Alexandra. Atau kau ingin bernasib sama dengan Thomas dan Nicholas?"
Ini benar-benar mimpi buruk untuk Alexandra. Ia adalah gadis manja yang selalu bergelimang harta. Sejak lahir sudah terbiasa dengan fasilitas mewah dan dirinya tidak mungkin bertahan hidup tanpa semua itu. Tetapi, kenapa harus menikah dengan Reinhold Sturgeon.
"Hubunganku dengan perdana menteri sudah sangat buruk karena ulah adikmu. Kau, harus memperbaikinya. Ini jalan satu-satunya."
"Tapi, Ma ...."
Portia menggeleng. Keputusannya sudah bulat. Alexandra tidak diizinkan untuk membantah. Dan rencananya tidak boleh gagal.
__ADS_1
****
Hari bahagia itu tiba. Di ruangan yang tidak terlalu luas itu, Dara sedang menatap cermin melihat pantulan dirinya yang mengenakan gaun putih sederhana. Di samping kanan kirinya ada Gwen dan Magdalene---istri Thomas, yang tadinya membantu Dara mengenakan gaun pengantin dan merias wajah gadis itu seadanya.
"Cantik sekali." Gwen memeluk bahu Dara sambil ikut memperhatikan pantulan mereka di dalam cermin.
Pipi Dara bersemu merah. Sudah sejak semalam ia begitu gelisah memikirkan hari ini. Hari di mana ia benar-benar akan menikah dengan Nicholas. Dadanya tidak henti-hentinya berdebar.
"Nicholas pasti tidak sabar menunggumu di ruang hakim," kekeh Magdalene seraya merapikan kerudung transparan di kepala Dara.
Dara tersenyum tipis. Ia membayangkan saat Nicholas melihatnya masuk ke ruangan hakim. Membayangkan ekspresi wajahnya yang jahil. Mesum lebih tepatnya.
Ini seharusnya menjadi hari yang paling membuatnya bahagia. Meskipun ada beberapa hal yang mengganjal. Seharusnya Dara didampingi oleh kedua orang tuanya menuju altar. Namun, sepertinya hal itu mustahil terjadi. Ayah ibunya sudah sibuk dengan hidup baru masing-masing. Ayahnya sudah punya keluarga baru, begitupun ibunya. Sedang nenek---semoga ia bahagia di alam sana.
"Ayo, sepertinya acara sudah akan dimulai," ucap Magdalene. Bersama Gwen, wanita cantik itu menggandeng Dara keluar dari ruangan itu, menelusuri koridor menuju ke sebuah ruang dengan pintu kayu tinggi menjulang yang tertutup rapat.
Seorang petugas membukakan pintu dan mempersilahkan ketiga wanita itu masuk. Dara menahan napas saat melihat Nicholas berdiri dengan setelan kemeja putih dengan celana denim krem lengkap dengan gasper yang menggantung di kedua bahu. Rambutnya diikat rapi dan wajah tampannya berseri-seri saat melihat kedatangannya.
"Cantik sekali." Dua kata itu yang terucap dari mulut Nicholas setelah Gwen menyerahkan gadis itu padanya.
Dara hanya meringis sambil menundukkan wajah. Kenapa dirinya jadi secanggung ini dengan Nicholas. Saat tangannya digenggam oleh pemuda itu, rasanya ia seperti tersengat aliran listrik bertegangan rendah yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Namun, tidak ada yang lebih menegangkan selain saat hakim menanyakan janji pernikahan antara keduanya. Sungguh, ini adalah momen baru yang akan menghantar keduanya pada kehidupan baru.
Kehidupan menjadi sepasang suami istri yang tidak hanya saling bersikap manis satu sama lain, namun juga saling mengganggu satu sama lain.
Hanya sepuluh menit saja ikrar yang mereka ucapkan dan detik itu hingga seterusnya, keduanya resmi menjadi pasangan yang siap untuk menaklukan dunia dengan kerumitannya.
Setelah melalui hari yang menegangkan dan berakhir menjadi suami-istri, mereka menikmati pesta kecil-kecilan yang diadakan di rumah Thomas. Hanya ada Nicholas dan Dara, Thomas dan Magdalene, lalu Gwen, Alastair dan Aegon. Tetapi, momen yang begitu intim itu terasa hangat. Semua tampak berbahagia. Tidak terkecuali Nicholas dan Dara.
Lelah berdansa dan melakukan permainan tradisional seru layaknya anak-anak Eropa pada zaman dulu, yang biasanya memang dilakukan saat pesta pernikahan untuk menambah seru suasana, Dara memutuskan untuk beristirahat di kursi panjang yang ada di taman belakang rumah kakak iparnya itu.
__ADS_1
Nicholas datang membawa segelas anggur dan duduk di samping Dara dengan tatapan jahilnya seperti biasa. "Kau sudah siap?" tanyanya sambil menaik-naikkan alis tebalnya.
"Hah? Siapa apa?" Tiba-tiba saja ketegangan kembali menyerang dirinya. Yang dimaksud Nicholas pasti itu. Sepertinya dirinya memang tidak bisa mengelak lagi. Thomas bahkan sudah menyediakan kamar khusus di lantai atas untuk mereka berdua.
"Pergi dari Edinburgh. Memangnya apa yang kau pikirkan?"
Dara hampir tersedak cairan merah yang hampir melewati tenggorokannya. "Oh, i-itu. Iya, aku sudah siap," jawabnya malu. Pipinya saat ini pasti sudah serupa warna anggur yang sedang ia minum.
"Thomas dan Magdalene sudah menyiapkan satu kamar untuk kita."
"A-aku sudah tahu."
"Kenapa tegang begitu. Santai saja, Dara. Memangnya kau menikah dengan pria buruk rupa yang dijodohkan oleh orang tuamu? Lihatlah, suamimu ini tampan bukan main. Apa kau tidak ingin mencicipinya malam ini?" gelak Nicholas.
Dara mendelik. "Pokoknya malam ini aku cuma ingin tidur. Kau jangan macam-macam, Nic!" ancamnya.
Nicholas mengangkat kedua tangan sambil mencebik. "Ya, aku usahakan untuk tidak macam-macam. Hanya satu macam saja, boleh, bukan?"
Dara menepuk kening. Sungguh ia tegang bukan main. Ini malam yang selalu dibicarakan Nicholas dengan otak mesumnya itu. Tentu ia tahu bahwa dirinya tidak akan lolos.
*Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Hi, tinggal satu Chapter lagi dan cerita ini selesai yaa. Tapi aku ada novel baru, sih. Ini lanjutan novel sebelumnya yang judulnya Gendhis (Pangrasa Ning Ati).
Nah, bagi yang belum baca novel sebelumnya, disarankan baca dulu sebelum baca novel lanjutannya ini
Ceritanya ringan saja, akan update setiap hari untuk teman kalian berpuasa (bagi yang menjalankannya).
__ADS_1
Udah gitu aja, sih, hehehehe.