My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 41. Yeay! Level Up.


__ADS_3

"Ini bukan jalan ke apartemenku," protes Dara sembari mengamati jalanan. Ia tentu sudah hapal jalan menuju apartemennya. Sejak tadi Lothian Road tidak pernah dilewati oleh Nicholas. Satu-satunya jalan menuju ke apartemennya, di mana Nicholas pernah dihajae oleh beberapa pemuda mabuk di sana.


"Memang aku tidak mau mengantarmu ke sana," kekeh Nicholas. Ekspresi wajahnya nakal, membuat Dara sebal bukan main.


"Hei, kau harus ceritakan yang sebenarnya, Dara. Apa yang mamaku katakan padamu?"


Dara bersungut-sungut. "Memangnya kau tidak menguping?"


"Menguping? Memangnya aku kurang kerjaan?"


Bibir Dara mengerucut. Ia melirik Nicholas sekilas. Apa yang ada di benak pemuda itu sekarang. Mau dibawa pergi ke apartemen miliknya yang mana lagi.


"Jadi?" desak Nicholas.


"Ibumu ... tidak melarang aku berteman denganmu. Tapi, nantinya kau akan tetap dijodohkan dengan gadis yang sepadan dengan keluargamu." Yang disampaikan oleh Portia kurang lebih seperti ini, meskipun harus dengan kata-kata yang mengecilkan dirinya.


Nicholas terbahak. "Astaga, wanita itu memang benar-benar kolot."


"Lagi pula siapa yang mau menjadi istrimu? Anaknya saja yang memaksakan kehendaknya padaku. Ada-ada saja ibumu itu," gerutu Dara.


"Hei ... kau sudah menerimaku menjadi pacarmu. Kau ingat?"


Dara menyipitkan matanya menatap Nicholas. Ia tidak setuju dengan pernyataan pemuda itu. "Kau jangan mengada-ada, Nic. Kapan aku menerimamu menjadi pacarku?"


"Apa ciumanmu semalam bukan jawaban?"


"Sialan!" maki Dara membuat Nicholas mengeraskan tawanya. "See?"


Dara memutar kedua bola mata. Ia membenci dirinya yang lemah. Nicholas sepertinya telah mati-matian mengumbar pesona di hadapannya semalam, sehingga pertahanannya runtuh.


"Sudahlah, Dara. Terima saja kenyataannya. Kau menyukaiku dan kau adalah pacarku sekarang."


"Pfffhh! Claim sepihak. Lagi-lagi," sungut Dara. Ia tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Jika Nicholas adalah orang biasa, seperti Braden, misalnya, mungkin Dara akan menerima saja rasa yang pemuda itu tawarkan. Sayangnya, latar belakang Nicholas begitu mengerikan. Ia tidak boleh jatuh cinta dengan Nicholas.


"Kau tahu, Thomas memiliki istri dari keluarga sederhana. Portia tidak setuju. Tapi, dia tidak peduli," cerita Nicholas.


"Oh ya? Lalu bagaimana?"


"Dia memilih untuk keluar dari mansion dan membangun hidupnya sendiri. Tapi, itu lima tahun yang lalu. Hubungannya dengan Portia sudah membaik. Kau lihat sendiri bukan tadi dia datang mengunjungi mama."


Dara mengangguk-angguk. Namun, sejurus kemudian ia menatap Nicholas. "Kau dalam masalah besar," ujarnya.


"Apa maksudmu?" tanya Nicholas tidak mengerti.


"Ibumu tidak akan membiarkan kau mengulangi apa yang Thomas lakukan."

__ADS_1


Nicholas terbahak. "Kenapa kau berpikir begitu?"


"Kau berapa bersaudara?"


"Tiga orang. Thomas, musuh bebuyutanku Alexandra, dan aku."


Dara mencebik. "Ibumu tidak bisa mengganggu Thomas lagi. Sedang Alexandra, dia adalah kaki tangan ibumu. Jadi, dia bukan masalah. Sementara kau, anak bungsu laki-laki yang akan ibumu jaga agar tidak mengulangi kesalahan kakakmu."


"Begitu?"


Dara mengangguk. Ia bisa menyimpulkannya dari ucapan-ucapan Portia saat makan malam. Wanita itu begitu kentara ingin agar Nicholas menjadi penerus tradisi keluarga mereka--dijodohkan dengan gadis yang sederajat.


"Sayangnya aku memang mengikuti jejak kakakku."


Dara menghela napasnya dalam-dalam. "Nanti kau akan kehilangan warisanmu kalau kau membantah keinginan ibumu."


"Persetan dengan itu."


Dara mencibir. "Aku sangat meragukan kau mampu hidup sederhana."


Nicholas tergelak. "Asal denganmu aku bisa."


"Omong kosong!" sembur Dara. Ia sangat meragukan hal itu. Tidak mungkin seorang Nicholas akan melepaskan semua demi dirinya.


"Apa aku harus menginap di sini lagi?" tanya Dara malas.


"Iya. Kalau perlu kau tinggal di sini bersamaku," kekeh Nicholas seraya menghambur keluar, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Dara.


***


Dara belum bisa memejamkan mata. Padahal jam menunjukkan pukul dua belas malam. Ia masih betah duduk di kursi yang berada di dekat jendela, sambil sesekali memandangi Nicholas yang tertidur pulas di atas ranjang.


Ruangan kamar yang luas begitu sunyi. Hanya terdengar napas Nicholas yang teratur. Akhir-akhir ini, ia tidak mampu menolak semua keinginan Nicholas--kecuali yang satu itu. Ia tidak mau jika dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Nicholas, hingga suatu saat nanti ia akan sulit untuk melepaskan diri.


"Kenapa belum tidur?" tanya Nicholas membuat Dara terkesiap.


"Entahlah. Aku belum mengantuk."


"Kemari!"


"Tidak mau. Aku di sini saja."


Nicholas mendecak sebal. Ia menginginkan Dara di sampingnya agar ia bisa memeluk gadis itu. "Cepatlah!" perintahnya.


"Aku bilang aku tidak mau."

__ADS_1


Nicholas menggeram. Ia menyibakkan selimut dan turun dari atas ranjang kemudian menghampiri Dara. "Ayo ...." Ia mengulurkan tangan.


"Tidak mau!" Dara menepis tangan Nicholas. "Eh! Nic! turunkan!" pekiknya saat pemuda itu mengangkatnya dengan paksa lalu membawanya ke ranjang.


"Diam di sini, jangan ke mana-mana!" ujarnya seraya mendekap Dara erat, sehingga gadis itu kesulitan melepaskan dirinya.


"Ish! Nic! Kenapa kau selalu saja begini. Memaksakan kehendakmu!" gerutu Dara gusar.


"Jangan berisik!" Nicholas bergeming. Ia tidak berniat untuk melepaskan gadis itu begitu saja.


Dara mendengus kesal. Pemuda yang sedang berbaring di sampingnya, sambil tangannya mendekap dirinya dengan erat ini sungguh menyebalkan. Dan yang paling menyebalkan adalah, Nicholas terlihat sangat tampan dengan rambutnya yang berantakan. Dara sungguh harus berhati-hati dengan perasaannya.


"Nic ...," panggil Dara beberapa saat kemudian kesunyian kembali melanda ruangan kamar.


"Hmmm ...."


"Kau sudah tidur?"


"Almost. Why?"


"Aku gelisah. Aku tidak bisa tidur."


Nicholas membuka matanya. Ia melepaskan dekapannya pada Dara. Kemudian mengangkat kepala dan menyangganya dengan telapak tangan. "Apa yang kau pikirkan?"


"Aku tidak tahu. Aku bingung."


Nicholas menghela napasnya pelan. Tangannya pelan merapikan anak-anak rambut Dara yang menutupi sebagian kening gadis itu.


"Apa kau suka padaku, Dara?" tanya Nicholas senang suara serak.


"Aku tidak tahu."


Nicholas tersenyum lebar. "Ah, jawabanmu sudah lebih baik. Dulu kau begitu tegas mengatakan kau tidak menyukaiku. Yeay! Level up!" soraknya gembira.


Dara berusaha menahan tawanya. Nicholas mirip sekali seperti anak kecil yang kegirangan saat mendapatkan mainan baru. Tangannya bergerak meraih segenggam rambut Nicholas dan menariknya pelan. "Dasar aneh!" sungutnya.


"Tanpa sadar kau sudah mulai menyukaiku, Dara. Dalam benakmu ini ...." Nicholas mengetuk-ngetuk kening Dara dengan jari telunjuknya. "Sudah penuh dengan bayanganku."


"Kau ini terlalu percaya diri," cebik Dara. Namun, ia setengah membenarkan ucapan pemuda itu. Akhir-akhir ini ia begitu gelisah memikirkan perasaan anehnya pada Nicholas. Pemuda itu seakan-akan selalu menghantui pikirannya.


"Terima dan nikmati," ucap Nicholas dengan suara pelan. Matanya sudah berat menahan kantuk.


Terima dan nikmati. Apa memang harus demikian. Bagaimana nanti kalau ia benar-benar jatuh cinta pada pemuda sinting ini.


***

__ADS_1


__ADS_2