
"Maaf suamiku tidak bisa datang malam ini karena dia sedang berada di London, Tuan Sturgeon." Portia berbicara pada seorang pria berjenggot tebal dan berwajah tirus yang duduk di seberang meja.
Dia, Robert Sturgeon; perdana menteri Scottland, mengangguk seraya mengangkat satu tangannya. Kemudian pandangan matanya beralih pada Nicholas.
"Jadi ini putra bungsumu, Nyonya Johanssen?" tunjuknya pada Nicholas.
"Benar sekali, Tuan Sturgeon. Ini Nicholas, putra bungsuku yang sedang berkuliah di Edinburgh University, jurusan Humanities And Social Sciences, semester ke empat," jawab Portia, membanggakan putranya.
Sang perdana menteri mengangguk-angguk. Ia lalu menyentuh bahu seorang gadis berkacamata dan berwajah tirus seperti dirinya, yang duduk di sebelahnya. "Dan ini putriku satu-satunya, Alena. Kebetulan sekali, Alena baru masuk tahun ini di Edinburgh University."
"Oh, begitu?" ucap Portia senang. "Apa kau sudah kenal dengan Alena, Nic? Jangan-jangan kalian sudah saling kenal," lanjutnya.
Baik Nicholas maupun Alena menggeleng. Nicholas memperhatikan sekilas gadis di seberang meja. Penampilannya buruk. Berkacamata, giginya sedikit tonggos dan berkawat, serta wajahnya dipenuhi bintik-bintik coklat.
"Tenang saja, Nyonya Johanssen, setelah ini mereka akan saling kenal. Dan mungkin akan berteman di kampus," seloroh Robert.
Dalam hati Nicholas ingin sekali memaki-maki ibunya. Ini sebuah konspirasi. Ia menduga, dirinya dipaksa datang ke acara membosankan ini untuk dijodohkan dengan gadis buruk rupa itu.
"Acara malam ini penting untuk diperkenalkan pada generasi muda seperti anak-anak kita, Nyonya Johanssen. Aku sangat menghargai kehadiran putramu malam ini."
"Aku juga sengaja membawa Alena agar dia mengerti budaya negerinya sendiri. Kau tahu, bukan, tabiat anak muda sekarang, mereka lebih menyukai budaya dari Amerika."
"Tepat sekali, Tuan Sturgeon," sahut Portia seraya menepuk-nepuk lengan Nicholas.
Di atas panggung, sedang berlangsung pertunjukan musik bagpipe yang dimainkan oleh beberapa pria dalam balutan kilt (sarung pendek bermotif kotak-kotak).
Sementara Nicholas tampak jengah saat beberapa kali ia bertemu pandang dengan Alena, yang selalu melempar senyuman padanya. Kawat gigi gadis itu sungguh mengganggu matanya.
"Kau tidak bisa berhati-hati, ya? Kau menumpahkan minuman di gaunku. Lihat gaunku basah!"
"Maaf, Nyonya, biar aku bersihkan."
"Jangan sentuh aku!"
Keributan di meja sebelah membuat semua mata tertuju ke arah sana. Mata Nicholas seketika membulat.
"Dara?" ucapnya pelan. Nicholas melihat Dara yang berpakaian pelayan, sedang berusaha membujuk wanita bergaun putih. Wajah gadis itu terlihat panik dan pucat.
"Pekerja imigran. Amatiran sekali," celetuk Portia. "Aku tidak mengerti kenapa mereka mempekerjakan amatiran seperti mereka," keluhnya.
"Ide sayap kiri." Robert memutar kedua bola matanya. "Mereka pikir Scottland membutuhkan banyak imigran." Ia menyesap gelas anggurnya.
__ADS_1
"Mereka orang-orang dengan pemikiran yang mereka pikir maju dan terbuka. Lihatlah, mereka hanya membawa masalah masuk ke negara ini," lanjut pria itu.
Portia menggeleng. Ia setuju dengan ucapan sang perdana menteri. Keduanya pun terlibat pembicaraan politik yang membuat Nicholas semakin bertambah bosan.
"Kenapa kau tidak diam saja di negaramu, Bodoh!"
Suara si wanita yang gaunnya basah karena ulah Dara, kembali terdengar. Tapi, kali ini hanya Nicholas yang memperhatikan.
Dilihatnya Dara masih membujuk wanita itu dan meminta maaf, tapi yang gadis itu terima hanya makian. Sepertinya Nicholas tergerak hatinya untuk menghentikan semua itu. Ia merasa terganggu dengan kata-kata kasar si wanita, yang membuat Dara terlihat semakin pucat.
"Nicholas, kau mau ke mana?" Portia terkejut melihat Nicholas beranjak dari duduknya.
Nicholas tidak menjawab pertanyaan sang ibu. Ia berjalan ke arah meja sebelah dan menarik lengan Dara. Ia menempatkan gadis itu di belakangnya.
"Nyonya, gadis ini sudah meminta maaf padamu. Kau tidak perlu memakinya seperti itu."
"Kau tidak lihat gaunku rusak? Kau tidak tahu berapa lama aku memesan gaun ini dari designer terbaik di Edinburgh?" Wanita itu menunjuk gaun putihnya yang kini berwarna kemerahan di bagian depannya.
"Berapa harga gaunmu? Aku akan menggantinya. Kau tidak perlu memaki-maki gadis ini," bela Nicholas.
Wanita itu terkejut, begitupun orang-orang di sekitarnya. Mereka saling menatap dengan ekspresi heran.
Sebelum si wanita menjawab, Nicholas sudah menarik lengan Dara dan membawanya pergi dari tempat itu. Ia tidak memedulikan panggilan Portia yang terdengar begitu murka.
***
Dara menarik tangannya kasar dari genggaman tangan Nicholas. Gadis itu memaksa mereka untuk berhenti setelah beberapa saat lalu meninggalkan ballroom hotel, dan kini keduanya berada di pinggir jalan.
"Aku harus kembali ke ballroom." Dara memutar badan hendak berlari kembali ke arah hotel, tapi Nicholas buru-buru mencegatnya.
"Untuk apa kembali ke sana?"
"Kau bodoh, ya? Aku harus bekerja. Aku harus meminta membujuk wanita itu sampai dia mau memaafkanku. Kalau tidak aku tidak akan dibayar oleh atasanku!"
Nicholas mendecak. "Kau tidak dengar dia memaki-makimu?"
"Aku tidak peduli. Aku harus kembali ke hotel."
"No!" seru Nicholas. Wajah tampannya tampak kesal bukan main. Sampai-sampai ia mencengkeram bahu Dara dengan keras.
"Minggir!" Dara berusaha mendorong dada Nicholas. Tapi, pemuda itu tidak bergeming.
__ADS_1
"Lihatlah, kau memang tidak tahu terimakasih. Aku sudah menyelamatkanmu dari nenek sihir itu, Gadis Bodoh!"
"Omong kosong! Kau hanya membuatku semakin terlibat dalam masalah."
Nicholas memukul ujung kepala Dara gemas. "Dasar tidak tahu terimakasih!" gerutunya.
"Minggir!" teriak Dara.
"Aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke sana lagi!"
Dara membulatkan sepasang matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bossy sekali pemuda gila ini, pikirnya.
"Aku tidak peduli kau menzinkanku atau tidak. Memangnya siapa kau?"
"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak!"
Dara mendesis. Ia mendorong kembali dada Nicholas keras. Kemudian melenggang meninggalkan pemuda itu. Tapi, Nicholas tidak tinggal diam. Ia mengejar Dara dan menangkap lengan gadis itu, kemudian memelintirnya.
"Auch! Sakit, Nicholas! Dasar gila!" pekik Dara. Kakinya refleks menginjak sepatu Nicholas. Tapi, pemuda itu tetap tidak mau melepaskan cekalan tangannya.
Ponsel di saku celananya berdering. Satu tangannya menahan Dara agar tidak kabur dengan mendekap gadis itu, satu lagi meraih ponsel.
"Nicholas Johanssen where are you? Get back here (Kembali kesini)!" bentak Portia dari seberang.
"Sorry, Mum, I'm busy!" Nicholas menutup telepon sepihak. Lalu kembali menahan Dara yang memberontak dalam dekapannya.
"Dasar orang gila! Lepaskan aku! Tolong! Tolo ... mmmmh!"
Nicholas membekap mulut Dara dengan telapak tangannya. "Diam! Jangan melawan!" bentaknya.
"Mmmmh! Mmmh!" Napas Dara terengah setelah melakukan perlawanan yang sia-sia.
"Aku antar kau pulang."
"Aku tidak mau!"
"Jangan membantah!"
"Lepaskan aku, Gila!"
Nicholas tidak memedulikan protes Dara. Ia menghentikan taksi yang melintas dan memaksa Dara masuk. Didorongnya kasar tubuh gadis itu ke dalam mobil, kemudian ia pun ikut masuk.
__ADS_1
"Pakaian dan tasku masih ada di sana, Dasar Bodoh!" gerutu Dara.
***