
Dara menggigiti kuku-kuku jarinya demi menghilangkan rasa gugup, takut dan entah apalah yang ia rasakan malam ini. Yang jelas, ia berharap Nicholas tidak muncul dari balik pintu kamar mandi selamanya dan dirinya tidak harus melakukan sesuatu malam itu; sesuatu yang membuat tubuhnya panas dingin saat ini.
Dan, momen yang paling Dara takutkan akhirnya datang juga. Ternyata, doanya tidak dikabulkan oleh semesta. Nicholas muncul dari balik pintu kamar mandi. Gadis itu pun seketika menutup wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang tampak jelas meskipun di bawah penerangan lampu sedikit temaram kamar itu.
"Kau kenapa, Dara? Melihatku seperti melihat hantu," ucap Nicholas seraya mendekati gadis itu.
"Nic ...," panggil Dara lirih. "Aku ... tidak tahu harus bagaimana."
Nicholas merah tangan Dara agar tidak menutupi wajahnya lagi. Sebagai gantinya, gadis itu menunduk sambil melempar pandang ke sembarang arah. Pokoknya sebisa mungkin Dara menghindari tatapan Nicholas.
"Kau hanya tinggal menyambut semua yang aku lakukan. Tidak sesulit yang kau bayangkan, Dara. Itu sudah naluri, kau tahu?"
"Aku malu," ucap Dara lirih.
Nicholas terbahak. "Kenapa harus malu? Aku kan suamimu."
"Iya, tapi aku ...."
"Kemari," potong Nicholas seraya meraih tangan Dara dan membawa gadis itu ke pelukannya. Memperlakukan Dara akan sangat berbeda dengan caranya memperlakukan wanita-wanita yang dulu dia kencani. Dara baru pertama kali akan melakukan itu. Dan gadis itu sepertinya memang ketakutan. Tetapi, ia yakin, nanti jika sudah mulai terbiasa dengan perlakuannya, maka bisa saja Dara akan menjadi liar. Itu harapan Nicholas.
"Jangan dibuka," protes Dara saat Nicholas menurunkan gaun dari pundak Dara.
"Aku ingin melihat tubuhmu, Dara."
Dara menggeleng keras. "Tidak mau!"
__ADS_1
"Ya, sudah, bagaimana kalau kita berci uman terlebih dahulu?" tawar Nicholas seraya meraih dagu Dara.
Kali ini Dara tidak memprotes tindakan Nicholas saat bibir pemuda itu menyentuh bibirnya. Toh, ia sudah pernah melakukannya dengan pemuda itu. Tetapi, kali ini, Dara merasa aktifitas ciu man itu akan berlangsung lama dan tidak akan merembet ke hal lain.
Benar dugaan Dara. Tangan Nicholas mulai nakal menyentuh da danya. Kemudian mere masnya lembut. Gadis itu sedikit terkejut, tetapi ia mencoba membuka diri untuk menerima perlakuan pemuda yang telah menjadi suaminya itu.
"Nic," lenguh Dara.
"Sstt! Diam, Dara. Biarkan aku melakukan tugasku. Kau terima saja, okay?"
Pelan Dara mengangguk. Ia pasrah saja. Ia buang semua rasa malunya dan berusaha untuk menikmatinya saja.
"Boleh, ya, sekarang?" tanya Nicholas saat menyelesaikan adegan ciu mannya dan kembali menurunkan gaun dari pundak Dara.
Dara memejamkan mata. Pancingan dari Nicholas barusan mampu membuat perasaannya tidak karu-karuan. Namun, ternyata jauh di lubuk hatinya, ia menginginkan sentuhan Nicholas lebih lanjut. Sebab lama kelamaan, dirinya merasa penasaran ingin merasakan sesuatu yang membuat jantungnya melompat-lompat.
"Singkirkan tanganmu, Sayang," pinta Nicholas. Dara menggeleng pelan. Namun, Nicholas tidak memedulikan penolakan gadis itu.
"Ayo, Dara," bujuk Nicholas. "Tidak usah malu denganku. Lagi pula tubuhmu ini indah sekali," kata Nicholas dengan tidak sabarnya.
"Tunggu, Nic ...," tahan Dara.
Nicholas menggeleng. Sedikit susah payah ia menyingkirkan kedua lengan gadis itu dari dadanya. Sepasang matanya berbinar melihat betapa indahnya tubuh polos Dara. Naluri kelelakiannya yang sudah bangkit sejak dari dalam kamar mandi, kini semakin menjadi-jadi. Tetapi, ia harus bisa menahan gejolak yang membara, agar Dara tetap merasa nyaman. Jika yang ada di hadapannya adalah wanita sembarangan, maka sudah pasti Nicholas akan mengerjainya habis-habisan.
Dara menurut saat Nicholas mendorongnya pelan hingga dirinya merebahkan diri di atas ranjang. Sepasang mata mereka saling tatap dan tangan Nicholas menyingkirkan pakaian yang masih membalut pinggang kebawah. Kemudian ia meloloskan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya sehingga membuat Dara buru-buru memalingkan wajah. Malunya bukan main. Ia tidak berani menatap apapun yang ada di tubuh Nicholas. Padahal sebagian dirinya menginginkan menikmati pemandangan indah di depan matanya itu.
__ADS_1
"Wow!" ucap Nicholas terkagum-kagum. "You're so beautiful," ucapnya serasa mendaratkan ciuman di kening Dara. Lalu turun ke pipi, leher dan puncak da da gadis itu.
Geli. Namun, mampu membangkitkan sesuatu di dalam diri Dara. Sesuatu yang baru dan ternyata menyenangkan sekali.
"Nic," lenguh Dara. Malu sebenarnya untuk mengeluarkan suara-suara aneh dari bibirnya. Tetapi, Dara seperti tidak mampu untuk menahan gelombang rasa nikmat yang melanda sanubari.
Selanjutnya, semua mengalir begitu saja seakan tidak perlu ada skenario adegan peradegan yang Dara dan Nicholas lakukan di atas ranjang ukuran King Size itu.
Seperti rezeki nomplok bagi Nicholas mendapatkan seorang pera wan yang masih minim pengalaman bercin ta. Susah pada awalnya karena Nicholas harus mengeluarkan energi ekstra untuk membobol pertahanan Dara.
Iba, saat Dara harus menahan kesakitan pertama kali. Sampai-sampai dirinya harus menahan diri untuk tidak mengobrak-abrik tubuh perempuan itu. Maklumlah, Nicholas sudah menunggu cukup lama untuk malam ini.
Berkali-kali mengucapkan maaf dengan kondisi Dara pada awalnya, namun seiring waktu berjalan, dirinya semakin bersemangat untuk melakukan lebih dan lebih. Hingga keduanya tenggelam dalam manisnya interaksi dua tubuh yang saling menghangatkan.
"Oh, My God! Oh, my God, oh my God!" seru Nicholas saat hendak mencapai puncak Everest yang tingginya 29.000 kaki.
Bagi, Dara, pengalaman pertama ini sungguh luar biasa ternyata. Segalanya terasa di luar dugaannya. Dan yang membuatnya malu bukan main adalah, ia tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya yang jika diingat-ingat setelah selesai, sungguh memalukan. Liar sekali.
"Jangan menggodaku terus!" sungut Dara sambil mendorong wajah Nicholas. Pasalnya pemuda itu mengucapkan kata-kata tidak senonoh yang membuat pipinya semakin bersemu merah.
"Tepat seperti prediksiku, Dara. Kau ... liar!"
"Diam!"
Nicholas terkekeh. "Aku minta ini setiap hari, okay?"
__ADS_1
"Ish!" Dara memukul bahu Nicholas pelan, kemudian dibalas oleh rangkulan mesra Nicholas.
*****