
"Biar kulihat wajahmu," ujar Marry seraya memaksa Nicholas menghadap padanya. Perempuan paruh baya itu menggeleng.
"Kau memang tidak sayang dengan wajah tampanmu ini, Nicholas."
Meskipun sudah tidak bengkak, memar di sisi bibirnya masih terlihat. Marry tidak habis pikir dengan anak asuhnya itu. Sudah dua kali ini ia pulang dalam keadaan memprihatinkan.
"Jangan bilang kau dipukul lagi oleh gadis yang sama," ujar Marry seraya menyodorkan sepiring garlic bread pada Nicholas.
Nicholas adalah anggota keluarga Johanssen yang tidak pernah mau ikut aturan. Jarang makan bersama keluarga, selalu menghindari pertemuan-pertemuan penting yang harus dihadiri bersama keluarganya, berpakaian asal-asalan, dan yang pasti tidak pernah menjaga imagenya layaknya keluarga bangsawan.
Marry, sang kepala pelayan, sudah memaklumi hal itu. Tugasnya adalah menghibur Nyonya Portia Johanssen, agar tidak frustrasi dengan kelakuan putra bungsunya itu.
"Apa-apaan ini, Marry?!" teriak Nicholas seraya memuntahkan makanan yang sedang dikunyahnya.
"Ada apa?" tanya Marry keheranan.
"Kau mau meracuniku, ya? Ini asin sekali. Siapa yang membuat roti ini, biar aku buat perhitungan dengannya."
Marry terkekeh. "Oh, maaf, Nak, tadi aku menyuruh pelayan untuk membuatkan garlic bread untukmu. Karena aku harus mengurus acara ibumu dan teman-temannya."
Nicholas menggeram. "Dasar pelayan bodoh!" makinya.
"Kau mau aku membuatkan yang baru?"
"Tidak perlu. Aku sudah tidak lapar." Nicholas beranjak dari duduknya. Sungguh sial, saat hendak keluar dari area dapur, ia berpapasan dengan Portia.
"Astaga! Nicholas? Apa yang kau lakukan dengan wajahmu? Lagi?" tanya Portia tidak percaya.
"It's nothing, Mother."
Portia menggeram kesal. "Kau memang sengaja membuat cacat wajahmu agar aku tidak bisa mengajakmu ikut acara nanti malam? Begitu?"
"Apa? Tidak, Mama. Orang gila mana yang mau melukai diri sendiri?"
"Kau. Kau Nicholas. Aku tidak bisa percaya ini. Marry! Marry! Cepat kemari aku harus bicara denganmu!"
Nicholas buru-buru menaiki tangga menuju kamarnya, lalu mengunci pintu agar sang ibu tidak bisa masuk. Pemuda itu terkekeh pelan. Ia pandangi wajahnya di depan cermin. Gel yang dioleskan oleh Dara ke wajahnya cukup manjur. Meskipun mata jeli ibunya dan juga Marry masih bisa melihatnya.
Ia merebahkan badannya di atas kasur empuknya yang luas. Badannya seakan remuk akibat dikeroyok para pemuda di Lothian Road.
Yang tidak Nicholas mengerti, kenapa ia harus membahayakan dirinya demi gadis itu. Dara. Gadis Asia yang biasa-biasa saja. Yang tidak tahu terimakasih. Yang menolak mentah-mentah berdekatan dengannya.
Ia memikirkan gadis itu hingga tertidur pulas.
__ADS_1
Pukul tujuh malam, kamar Nicholas digedor oleh seseorang. Nicholas yang sedang menikmati tidurnya, kesal bukan main.
Kalau saja bukan Marry atau anggota keluarga lain yang membangunkannya, sudah pasti ia akan menghajar orang itu.
"Nyonya menyuruhku mengoleskan ini di luka memarmu." Marry menunjukkan kotak kecil berisi benda padat yang ditumpuk spon.
"Apa itu?" tanya Nicholas keheranan.
"A foundation (alas bedak)."
"A what?!" Nicholas terpekik.
Marry tidak menjawab pertanyaan Nicholas. Ia mendorong pemuda itu masuk ke kamar mandi. "Bersihkan dirimu, dan kenakan pakaian yang rapi!"
"Untuk apa?"
"Ini perintah Nyonya Portia."
"Aaargh!" geram Nicholas.
Marry melemparkan handuk pada Nicholas dan menutup pintu kamar mandi. Perempuan itu pun menunggu di luar kamar hingga Nicholas selesai mandi dan memakai pakaian.
"Hei!Hei! Marry, jauhkan benda itu dariku!" Nicholas menepis tangan Marry saat perempuan itu hendak menutup luka memarnya dengan alas bedak.
"Ide gila siapa ini? Portia?"
"Nona Alexandra."
"Akan kuhajar dia."
Dengan susah payah, Marry akhirnya selesai mendandani Nicholas. Pemuda itu siap untuk diantar pada ibunya.
"Well, well, my boy, you look gorgeous (Wah, wah, anakku, kau terlihat tampan sekali)," puji Portia saat melihat Nicholas menuruni tangga.
"Hi, Mama, kau akan membawaku ikut kontes kecantikan? Terimakasih, aku senang sekali," sindir Nicholas. Kemudian ia melotot pada gadis cantik yang berdiri di samping sang ibu.
Alexandra, sang kakak, tersenyum jahil pada Nicholas. Wajahnya membuat ekspresi memelas yang dibuat-buat.
"Awas kau!" ancam Nicholas.
Gadis berambut pirang dengan poni lurus itu menjulurkan lidahnya pada Nicholas. "Have fun, Nicholas Honey," ucap Alexandra dengan senyum lebar.
"Come on, Son." Portia menggandeng Nicholas keluar dari mansion mewah mereka, menuju limosin yang telah menunggu di depan gerbang.
__ADS_1
Sang supir membukakan pintu untuk kedua majikannya. Nicholas mempersilahkan sang ibu untuk masuk terlebih dahulu, kemudian dirinya pun menyusul.
Sementara di lain tempat, Dara dan Gwen berlarian menuju sebuah hotel bintang lima. Mereka tidak melewati lobi, tapi masuk melalui pintu belakang atas petunjuk petugas hotel setelah menanyai identitas dan keperluan mereka.
Dua hari lalu, Gwen mendapat tawaran pekerjaan satu malam menjadi waitress untuk sebuah acara gala dinner yang dihadiri para politisi dan juga bangsawan.
Ia diminta mencari seorang lagi, dan sudah pasti Gwen mengajak Dara. Tentu Dara senang sekali. Ia bisa menambah uang saku karena bayarannya cukup lumayan. Lagi pula, ia sudah memiliki pengalaman menjadi seorang waitress.
"Cepat pakai seragam kalian, jangan membuang waktu!"
Kepala pelayan, seorang wanita paruh baya berambut putih, berseru pada anak-anak muda yang malam ini akan menjadi bawahannya.
Dara, yang sudah berpengalaman menjadi waitress, kebagian tugas membawa gelas-gelas berisi cairan putih kekuningan yang dikumpulkan dalam satu nampan. Tentu ia harus berhati-hati. Karena, satu kesalahan saja, bisa fatal akibatnya.
Sementara Gwen bertugas menata menu dan tidak harus keluar ke ballroom.
"Kau yakin tidak akan membuat kesalahan?" tanya si pelayan pada Dara.
"Yakin, Mam."
"Aku baca riwayatmu, kau pernah menjadi waitress di sebuah restauran, bukan?"
"Yes, Mam."
"Okay, now go!"
Dara mengangguk. Dengan hati-hati ia mengangkat nampan besar berisi gelas-gelas berkaki panjang. Langkahnya tegap keluar menuju ballroom, di mana ruangan besar itu telah disulap menjadi serupa restauran kelas atas.
"Wine, Sir?"
"Wine, Mam?"
Dara dengan cekatan menawarkan minuman yang dibawanya pada orang-orang yang sudah menduduki kursi masing-masing.
"Thank you," ucap salah seorang pengunjung pada Dara, dan gadis itu menyahutnya dengan anggukan kepala.
Saat memutar badan hendak menuju meja yang lain, matanya terbelalak saat melihat Nicholas yang baru saja masuk dari pintu utama, digandeng oleh seorang wanita paruh baya.
"Sial banget aku, kenapa ada dia mulu, sih!" gerutu Dara.
Gadis itu berusaha menutupi wajah dengan tangan kanannya agar Nicholas tidak melihatnya, sambil sesekali memeriksa di sebelah mana pemuda itu akan mengambil tempat duduk.
Setelah tahu di mana Nicholas dan wanita itu duduk, Dara berusaha menjauh, dengan memilih untuk menawari minuman di meja yang jauh dari meja Nicholas.
__ADS_1