My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 33. Memanfaatkan Keadaan.


__ADS_3

Nicholas datang ke toko bunga untuk menjemput Dara, namun toko itu sudah tutup. Ia pun akhirnya menelusuri jalan ke apartemen gadis itu, barangkali bisa menyusulnya. Tetap saja ia tidak menemukan Dara.


Pemuda itu memutuskan untuk mencari Dara di apartemennya. Namun, ia hanya menemui Gwen. Teman satu apartemen gadis itu mengatakan kalau Dara belum pulang. Hal itu membuatnya heran, karena jelas-jelas toko bunga tempatnya bekerja sudah tutup.


Nicholas pun meminta nomer telepon Dara pada Gwen. Ia menghubungi gadis itu berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Padahal, ponselnya aktif. Apa gadis itu sengaja tidak mengangkat teleponnya. Memikirkan hal itu membuat Nicholas geram.


Pemuda itu berdiam diri di dalam mobilnya yang terparkir di depan apartemen Dara, menunggu gadis itu muncul. Sesekali ia menghubungi nomer gadis menyebalkan itu meskipun tetap tidak ada jawaban.


Hampir dua jam Nicholas menunggu, penantiannya pun berakhir saat melihat sebuah mobil sedan tua menepi tidak jauh dari mobilnya. Dada Nicholas bergemuruh saat melihat Dara menghambur keluar.


Tanpa pikir panjang Nicholas menghampiri gadis itu dan berniat mengkonfrontasinya. Namun, saat dilihatnya mata Dara basah dan wajahnya sedikit sembab, ia mengurungkan niatnya.


"Dara? Hei! Dari mana kau? Aku sudah berjam-jam menunggumu."


Dara yang tampak terkejut melihat Nicholas, tidak menyahut. Ia justru mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung apartemen. Nicholas yang keheranan mengalihkan pandang ke dalam mobil sedan tua di mana Braden duduk di belakang kemudi.


Tangan pemuda itu terkepal. Ia dekati mobil itu dan melongok ke dalam dari jendela yang terbuka. "Apa yang kau lakukan pada Dara?" tanyanya dengan raut wajah menahan kesal.


"Maaf, bukan urusanmu, Pangeran," sahut Braden dengan suara tenang.


"Kalau menyangkut tentang Dara, itu menjadi urusanku. Keluar kau, Breng sek!" Nicholas memukul atap mobil dengan keras.


"Aku tidak ada urusan denganmu." Braden mengulas senyumnya.


"Keluar kau!" bentak Nicholas seraya memutari mobil Braden dan membuka pintu dengan kasar.


Braden mengangkat kedua tangannya. Ia melangkah keluar dan menghadapi Nicholas yang sepertinya sudah siap menghajarnya.


"Apa yang kau lakukan pada Dara? Kenapa dia menangis?" desak Nicholas.


Braden menggeleng sembari mengulas senyum tipis. Ia lalu menatap Nicholas remeh. "Dengar, Tuan Muda Johanssen ... kalau kau menginginkan Dara, ambil saja dia. Aku tidak berniat untuk menjadikannya kekasih."


Gigi Nicholas gemeretak menahan geram. Ia tidak suka cara pemuda itu membicarakan Dara. Apalagi, beberapa waktu terakhir Braden seperti memberi harapan pada gadis itu, agar terus memupuk perasaannya.


"Kau memang breng sek!"

__ADS_1


Bugggh


Bogem mentah Nicholas mendarat di perut Braden dengan telak. Pemuda itu terhuyung. Belum puas, Nicholas menarik kerah bagian belakang mantel Braden lalu mendorong tubuh pemuda itu menempel pada jendela mobil. Satu lengannya tidak lupa ia pelintir ke belakang, membuat Braden mengerang kesakitan.


Nicholas menekan kepala Braden ke atap mobil dengan keras. "Jangan pernah temui Dara lagi. Aku bahkan tidak mengizinkanmu berteman dengannya. Kau mengerti?"


Braden terkekeh di sela-sela kesakitannya. Sementara Nicholas menarik segenggam rambutnya, mengangkat kepala pemuda itu dan membantingnya ke atap mobil. Kemudian, ia meninggalkan Braden yang mengerang dan memaki, menikmati rasa sakit di wajahnya yang memar.


Nicholas menaiki tangga dan melangkah cepat menuju apartemen Dara. Ada Gwen di ruang tamu yang kebingungan sambil menunjuk pintu kamar sahabatnya.


"Aku akan bicara padanya," ujar Nicholas seraya menepuk bahu Gwen.


Pemuda itu menekan handle pintu dan melangkah masuk. Dilihatnya Dara sedang meringkuk di atas ranjang, memunggunginya.


"Aku sudah bilang tidak ingin diganggu, Gwen," ujar Dara dari dalam selimut.


"Ini aku."


Dara terlonjak kaget. Ia memutar badan dan mendapati Nicholas berdiri di dekat ranjang sambil mengulas senyum.


Nicholas mengedikkan bahu, lalu meloncat ke atas ranjang, duduk di hadapan Dara. "Kau tahu, aku sudah menghajar pemuda itu untukmu. Ayo, berterimakasihlah padaku," kekehnya.


Mata Dara membulat. "Kau menghajar Braden? Astaga! Kenapa kau lakukan itu, Nic?"


"Dia membuatmu menangis."


Dara mendecak sebal. "Bukan dia yang membuatku menangis. Aku sendiri yang terlalu bodoh."


"Lihatlah! Kau masih saja membelanya. Kau ini memang gadis bodoh, ya?" Nicholas menoyor kening Dara gemas.


"Ish!" tepis Dara.


Nicholas tergelak sambil memperhatikan wajah cemberut dan mata sembab Dara. "Ayolah, tidak usah menangisi pemuda breng sek seperti dia. Tidak ada gunanya."


"Siapa bilang dia breng sek? Dia tidak bersalah. Aku yang terlalu berharap. Kenyataannya, dia memang hanya menganggapku teman."

__ADS_1


"Tapi, dia seharusnya tidak perlu memberi harapan padamu. Dia bersikap seolah-oleh dia menyukaimu." Nicholas memutar bola matanya sebal.


Bibir Dara menukik. Mengingat penolakan Braden padanya membuat hatinya kembali perih. Gadis itu pun meloloskan tangisnya, bagai anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


"Hei, hei, Dara." Nicholas meraih kepala gadis itu dan membenamkannya di dada. Ia memeluk Dara dengan erat seraya menciumi puncak kepalanya. "Sudahlah, ada aku di sini. Aku yang tidak memberimu harapan palsu."


Sepertinya Dara tidak terlalu memperhatikan ucapan Nicholas. Gadis itu terus menumpahkan air matanya sehingga kaos yang dipakai oleh Nicholas pun basah.


Nicholas membiarkan saja Dara menuntaskan kesedihan hingga hampir satu jam lamanya. Suara isakan tangis Dara mulai mereda, namun gadis itu masih betah menempel padanya. Nicholas tersenyum-senyum sendiri menikmati pelukan Dara yang hangat. Bahkan, kini ia berani membelai rambut dan punggung gadis itu.


Begini ternyata rasanya menyukai seorang gadis. Begitu nyaman. Hatinya terasa penuh. Ia merasa begitu bahagia.


Bibirnya mendarat di puncak kepala gadis itu sekali lagi, kemudian turun ke kening, lalu tangannya bergerak mengangkat dagu Dara hingga wajah gadis itu berhadapan dengan wajahnya. Pelan ia daratkan bibirnya pada bibir tipis yang berwarna merah muda itu dan mengecupnya.


Anehnya, Dara tidak menolak. Hal itu membuat Nicholas semakin berani memagut bibir gadis itu.


"Nic!" pekik Dara saat menyadari apa yang dilakukan Nicholas padanya. "Kau memanfaatkan keadaan! Dasar menyebalkan!" Tangannya bergerak menarik segenggam rambut Nicholas.


"Auch! Sakit, Dara!" erang Nicholas." Iya, iya, maaf ... aku terhanyut." Nicholas berusaha melepaskan rambutnya dari tangan gadis itu.


"Ish!" Dara melepaskan rambut Nicholas, lalu sebagai gantinya, ia mendorong dada pemuda itu menjauh.


Nicholas menggaruk kepalanya sambil terkekeh. "Aku hanya ingin menghibur."


"Begitu caramu menghiburku?" Bibir Dara menukik dan tangisnya pun kembali pecah.


"Aduh, Dara ... maaf. Iya, iya, aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi, diam dulu, ya," bujuk Nicholas kebingungan. "Kemari, aku peluk lagi."


"Tidak mau!"


"Okay, okay ... tapi diam, ya ... aku bingung menghadapi perempuan yang sedang menangis."


Dara membenamkan wajahnya di atas bantal dan melanjutkan tangisnya di sana. Sementara Nicholas kembali menggaruk kepalanya. Ia kebingungan sendiri bagaimana membuat Dara berhenti menangis. Akhirnya, ia hanya membiarkan saja gadis itu menumpahkan kesedihannya hingga kelelahan sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2