My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 14. Frustrasi.


__ADS_3

"Hei! Kau sedang mengobati atau menyiksaku?" Nicholas menepis tangan Dara yang sengaja menekan luka di sudut bibirnya keras dengan keras.


Dara tidak bergeming. Ia terus mengulang perlakuan yang sama pada bibir Nicholas. Sehingga pemuda itu pun akhirnya menyuruh Dara berhenti.


Dara mendesis sambil beranjak menuju kotak P3K yang tertempel di dekat pintu kamarnya. Ia mencari oparim gel penghilang memar yang secara kebetulan ada di sana. Mungkin Gwen yang menaruhnya di sana.


"Oleskan sendiri." Dara melempar gel ke arah Nicholas.


"Hei! Tidak bisa. Itu tugasmu!" protes Nicholas seraya melemparkan kembali gel pada Dara.


Dara buru-buru menangkap benda itu. "Apa kau tidak bisa melakukannya sendiri? Apa kau sebodoh itu?"


"Aku tidak mau melakukannya sendiri karena aku ingin mengajarimu cara berterimakasih!"


Dara tergelak. "Oh, pintar sekali, ya, Anak Manja!"


"Kau ingin aku pergi dari sini, kan? Jadi, cepatlah."


Dara menggeram kesal. Dengan sangat terpaksa ia melakukan permintaan Nicholas. Mengolesi sudut bibir dan sebagian wajahnya yang memar.


"Kau manis juga, ya?" kekeh Nicholas seraya menatap Dara.


"Aku tidak butuh pujianmu!" Dara menyelesaikan olesan terakhir pada pipi Nicholas. "Done! Now, go (Selesai! Sekarang pergilah)!"


"Hei, aku harus beristirahat sebentar." Nicholas dengan santainya merebahkan diri di atas sofa.


"What?!" Dara mendelik tak percaya. Jelas Nicholas melanggar janjinya. Gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan kehadiran Nicholas.


"Kau tidak lihat aku kelelahan?"


Dara menggeram. Giginya gemeretak, dan tangannya mengepal. Sungguh, berurusan dengan Nicholas bisa membuatnya darah tinggi.


"Kau pasti punya kamar yang luar biasa nyaman dan bagus di dalam istanamu. Atau, apartemen mewahmu. Kenapa kau harus beristirahat di sini?"


"Karena aku mau." Nicholas mengedikkan bahunya.


"Aargh!" Dara mengangkat kedua tangan seraya menggeleng. Tidak ada gunanya meladeni manusia satu itu.


"Terserah!" gerutu Dara seraya melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu dengan keras, dan menguncinya.


Nicholas tertawa saja melihat tingkah Dara. Sambil berbaring, ia melihat sekelilingnya. Sungguh memprihatinkan, pikirnya. Apartemen itu cukup kecil. Ada dua orang yang menghuni dan harus berbagi kamar mandi. perabotannya pun seadanya.


Bagi Nicholas, ini pertama kalinya ia berada di tempat kumuh seperti itu. Baru kali ini. Dan itu karena ia begitu kesal dan penasaran dengan sosok gadis Asia yang menghuninya.

__ADS_1


***


Dara yang baru saja keluar dari kelas, dikejutkan dengan munculnya Sophie secara tiba-tiba di hadapannya. Dari raut wajahnya, Dara bisa menebak kalau gadis itu sedang tidak senang.


"Ternyata kau gadis yang licik, ya?" Sophie mendorong bahu Dara hingga punggung gadis itu menabrak dinding.


Tentu Dara sangat membenci Sophie karena telah merusak sepeda kesayangannya yang baru selesai diperbaiki. Jika saja ini bukan lingkungan kampus, Dara pasti sudah menghadiahi gadis itu bogem mentah. Tapi, ia mencoba untuk bersabar, karena tidak ingin membuat keributan.


"Katakan saja apa maksudmu, tidak usah berbasa-basi." Dara balik mendorong bahu Sophie. Meskipun ia tidak ingin membuat keributan, tapi, ia tidak suka diintimidasi.


"Kau ingin merebut Nicholas dariku. Benar? Mengaku saja kau!" tunjuk Sophie tepat di depan wajah Dara.


"Apa? Dari mana kau mendapat ide bodoh seperti itu?"


"Aku melihatmu dekat dengan Nicholas."


Dara mendecak sebal. "Kau bisa katakan pada pacarmu itu untuk tidak menggangguku," timpalnya seraya mendorong badan Sophie menyingkir dari hadapannya.


"Auuch!" Dara terpekik saat tiba-tiba rambutnya ditarik dengan keras. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Sophie.


"Enak saja kau melenggang pergi."


Dara berusaha menyelamatkan rambutnya dari siksaan gadis yang sedang diselimuti amarah itu. Beberapa orang yang melintas sama sekali tidak ada yang berniat untuk menghentikan penganiayaan Sophie terhadapnya.


"Nicholas siapa?"


Sophie dan Dara menoleh ke asal suara bersamaan. Nicholas berdiri tidak jauh dari kedua gadis itu. Sophie pelan melepaskan cengkeramannya di rambut Dara.


"Kenapa kau mengganggu Dara?" tanya Nicholas.


Intonasi suaranya normal. Tapi, bagi Sophie, terdengar sangat menyakitkan. Sebabnya, Nicholas mengucapkan nama gadis itu, seakan-akan gadis itu begitu penting untuknya.


"A-aku hanya tidak ingin kau dekat dengan gadis licik ini, Nic."


Tawa Nicholas lolos. "Kau punya kaca besar di rumahmu?" sindir Nicholas. Pemuda itu meraih lengan Dara dan membawa gadis itu pergi dari hadapan Sophie yang seketika membelalakkan matanya.


"Lepas!" Dara menarik lengannya kasar. Ia tidak mau orang-orang menyangka bahwa dirinya adalah mainan Nicholas yang baru.


"Hei, Dara! Tunggu!" seru Nicholas. Ia mengangkat kedua tangan menyaksikan Dara berlari menjauh darinya.


"Dasar aneh!" gerutunya kemudian seraya menggelengkan kepala.


Sementara Dara, ia berhasil menemukan Gwen yang baru keluar dari kelasnya. Napasnya terengah.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Gwen sambil meneliti wajah Dara yang memerah.


"Ayo, pulang," ajak Dara seraya menggandeng lengan Gwen.


"Dara?" Gwen yang penasaran menuntut Dara menjelaskan arti sikapnya yang aneh itu.


"Aku ceritakan nanti," ucap Dara.


Gwen mencebikkan bibir. "Terserahlah," ujarnya.


Sampai di apartemen mereka, baru Gwen kembali menanyakan apa yang terjadi. Ia prihatin pada sahabatnya itu. Akhir-akhir ini menjadi mudah marah dan gugup.


"Semua ini gara-gara orang-orang menyebalkan itu!" gerutu Dara. Ia menceritakan gangguan dari Sophie yang ia dapatkan.


"Kalau tahu begini, seharusnya aku tidak perlu mempermasalahkan sepedaku pada Nicholas. Kalau aku tahu ... aku berurusan dengan ... eerrrrgh!" erang Dara geram.


Gwen justru tergelak mendengar cerita Dara. Sahabatnya itu terlihat begitu frustrasi.


"Aku tidak tahu harus menyebutmu bodoh atau apa. Yang jelas, semua gadis ingin berurusan dengan Nicholas. Tapi, kau justru stres dibuatnya," kekeh Gwen.


"Kau tahu betapa terkejutnya aku saat kau membawa Nicholas pulang kemarin?"


"Hei! Aku tidak membawanya pulang. Dia yang memaksa," sergah Dara sebal.


"Tapi, kau hebat sekali, Dara. Seorang Nicholas rela babak belur demi kau."


Dara mendecak. "Dia kurang kerjaan."


"Dia penasaran denganmu."


"Eeegh! Jangan sampai!"


"Tapi dia sudah terlanjur penasaran denganmu, Silly!"


Dara memijit keningnya. Ia tidak menginginkan semua itu. Ia hanya ingin hidup damai di negara ini tanpa berurusan dengan orang-orang yang tentu saja bukan dari circle-nya.


Dara memejamkan matanya. Bayangan Braden terlintas begitu saja. Tiba-tiba ia merasa rindu. Rindu menghabiskan waktu dengan pemuda itu, mengobrol tentang apa saja, mentertawakan gurauannya, pergi ke sudut-sudut Edinburgh yang belum pernah ia kunjungi, dan sebagainya.


Namun, setiap kali Dara melihat Alison, ia merasa Braden bukan miliknya lagi. Ya, memang tidak pernah menjadi miliknya. Tapi, semua hal menyenangkan dalam diri Braden, Alison lah yang menikmatinya. Pasti.


Ah-beruntung sekali bosnya itu.


"Dara? Aku rasa kau mulai ada gejala stres," ucap Gwen panik.

__ADS_1


***


__ADS_2