My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 43. Inisiatif Pertama Dari Dara.


__ADS_3

"Bicaralah, Dara. Jangan diam saja," pinta Nicholas. Ia mengajak Dara ke pinggir sungai Leith. Memang di sana tempat paling nyaman untuk menenangkan diri, atau mengembalikan suasana hati menjadi baik.


Dara merapatkan sweaternya menghalau udara dingin. Ia sebenarnya malas sekali menanggapi pemuda yang sedang duduk di sampingnya ini. Entah karena marah atau cemburu, dirinya bahkan tidak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini.


"Aku sedang malas bicara," jawab Dara, masih dengan ekspresi wajah masam.


Nicholas mengangkat kedua tangan. Sejujurnya ia bingung. Bagaimana menyikapi Dara saat sedang marah seperti ini. Jika ia terus menggodanya, maka sudah bisa dipastikan gadis itu akan bertambah marah. Memaksanya mengaku bahwa Dara cemburu pun mustahil. Gadis itu tidak akan mungkin mau mengakui perasaannya. Jadi, yang ia lakukan hanya ikut berdiam diri di samping gadis itu.


"Nic," panggil Dara setelah sekitar tiga puluhan menit ia mendiamkan pemuda itu. Sepertinya ia merasa kasihan sekarang.


"Ya?" jawab Nicholas cepat.


Dara memutar badan menghadap ke arah Nicholas, dan pemuda itu melakukan hal yang sama. Beberapa saat Dara hanya menatap Nicholas tanpa kata.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nicholas penasaran.


"Aku ...." Sungguh, hati Diliputi kebimbangan. Ia mengamati wajah Nicholas. Bahkan mengamati keseluruhan sosoknya. Ia merasa sudah sangat terbiasa dengan kehadiran pemuda itu. Meskipun menyebalkan dan seenaknya sendiri, namun, saat ia tidak melihat Nicholas sehari saja, ia rindu. Rindu. Benarkah. Apa perasaan ingin bertemu dan mendengar suara serta menghadapi kejahilannya memang disebut rindu.


"Dara? Kau membuatku penasaran saja," gerutu Nicholas.


"Mmmm ...." Dara begitu ragu mengungkapkan perasaannya. Ada sekelebat ketakutan yang membuatnya ragu. Ketakutan untuk benar-benar jatuh cinta dengan Nicholas. Karena ia tahu, apa yang akan menghadangnya di depan. Badai.


"Cepat katakan, Dara!" perintah Nicholas tidak sabar.


Dara menelan salivanya dengan susah payah. "Aku ...." Ia menghambur pada Nicholas dan mendaratkan bibirnya pada bibir pemuda itu. Nicholas tentu saja terkejut bukan main. Namun, tentu saja ia tidak menolak. Moment ini yang ia tunggu-tunggu. Dara berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Artinya, sudah tidak diragukan lagi, kalau gadis itu menyukainya.


Nicholas bahkan memperdalam ciumannya. Satu tangan mengelus pinggang ramping Dara lembut. Tangan yang lain memegangi kepala bagikan belakang Dara untuk semakin memperdalam ciuman mereka.


Dara menyudahi ciuman mereka yang cukup panas itu. Ia memutar badan kembali dengan cepat dan menghadap ke depan sembari menundukkan wajah malu. Gadis itu yakin, saat ini kedua pipinya pasti telah memerah.


"Hei, Dara ...." Nicholas memiringkan badan, berusaha memeriksa wajah Dara yang disembunyikan.


"Diam!" sungut Dara.


Nicholas terbahak. Masih saja Dara berusaha untuk terlihat angkuh di hadapannya. Namun, sejak beberapa detik lalu, ia sudah resmi berpacaran dengan Dara.

__ADS_1


Ia meraih tangan Dara dan menciumnya. "Kau pacarku sekarang dan kau harus mengakuinya."


"Terserah," jawab Dara pendek.


"Astaga!" Nicholas menempelkan kening ke kepala Dara. "Akhirnya aku mendapatkanmu. Kau tahu, kau adalah gadis tersulit yang pernah aku kejar. Hanya kau yang mampu membuatku kacau."


"Aku tidak sulit. Aku hanya ... menghindarimu."


"Kau tahu, terkadang kau membuatku gila!"


Bibir Dara mencebik. "Bukannya memang kau pemuda gila?"


Nicholas tergelak. "Ya, ya ... aku tahu. Tapi, gilaku karenamu beda. Kau memang membuatku kacau."


"Kau juga mengacaukan hidupku yang tenang," sungut Dara. Memang, sejak kehadiran Nicholas, hidupnya tidak tenang lagi. Entah karena tingkah pemuda itu yang sering membuatnya senewen, atau karena perasaannya yang sering bimbang dengan sikap Nicholas yang terkadang di luar dugaannya.


"Ya, sudah. Beri kesempatan padaku untuk membuat hidupmu tenang."


Dara mengerutkan keningnya. "Apa yang akan kau lakukan?"


"Memberimu cinta, memberimu kebahagiaan, dan memberimu ... kenik matan."


"Untuk kata-kata yang terakhir, aku hanya bercanda, Dara," ujar Nicholas seraya mengelus kepalanya. "Aku yakin kau masih perawan dan aku tidak akan memaksamu."


Mata Dara mendelik. Tidak bisa dipercaya Nicholas justru membahasnya lebih lanjut. Hal itu membuat pipi Dara semakin merona merah.


"Bukan itu saja yang aku inginkan darimu, Dara. Ya, meskipun itu penting," kekehnya.


"Aku ingin bersamamu. Itu yang pasti."


Dada terdiam. Keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.


***


Dara menurut saja saat Nicholas menggandengnya masuk ke dalam kamar milik pemuda itu di apartemen yang berada di pinggir kota Oslo. Entah apa yang akan Nicholas lakukan padanya malam itu, yang jelas Dara juga menginginkannya.

__ADS_1


Mereka kini duduk di tepi ranjang, saling menatap dengan tatapan sendu. Satu tangan Nicholas menggenggam tangan Dara, sedang tangan yang lain merapikan anak rambut rambut gadis itu.


"Kau cantik, Dara," pujinya seraya mengelus pipi gadis itu. "Tapi bukan itu yang membuatku jatuh cinta padamu. Kau berbeda dari gadis-gadis lain."


"Aku tidak sedang membual. Aku mengatakan yang sebenarnya."


Dara tersenyum tipis. "Aku takut," timpalnya.


"Apa yang kau takutkan?"


"Takut memiliki perasaan yang dalam padamu."


Sepertinya Nicholas sudah tahu ke mana arah pembicaraan gadis itu. Tentu ia tidak menampik, keluarganya---terutama Portia---terang-terangan menentang dirinya berhubungan dengan gadis ini. Baginya, alasan Portia konyol. Namun, keluarga Johanssen memang seperti itu adanya. Bangga dengan status kebangsawanan mereka dan tidak ingin anak-anak mereka berhubungan, atau bahkan menikah dengan orang-orang yang tidak sederajat.


"Kalau aku terlanjur jatuh cinta denganmu, dan pada akhirnya kita tidak bisa bersama, aku pasti akan hancur."


"Aku pasti akan memperjuangkanmu, Dara. Kalau perlu, aku akan tinggalkan semua fasilitas dari keluarga Johanssen."


Mata Dara membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut pemuda itu. "Benarkah? Kau rela hidup miskin?"


Nicholas terbahak. "Hidup sederhana lebih tepatnya."


"Tapi ... ibumu tidak akan membiarkan semua itu. Kau bilang, kakakmu Thomas sudah membangkang dengan menikahi wanita biasa. Ibumu pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Apalagi padamu. Kau anak bungsu laki-laki yang menjadi harapannya."


"Aku sudah lama hidup dengan caraku sendiri, Dara."


"Iya, tapi ...."


"Hei, sudahlah, Dara. Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Semua masih bisa kita usahakan agar sesuai dengan keinginan kita."


Dara menatap lekat sepasang mata biru yang indah itu. Rasanya masih tidak percaya kalau seorang Nicholas Johanssen begitu menginginkannya. Dan ia pun mulai menginginkan pemuda tampan itu.


"I love you, Dara. I really do," ucap Nicholas membuat hati Dara menghangat, meskipun ia belum berani untuk menjawab bahwa dirinya pun mulai merasakan hal yang sama.


Bibir mereka kembali saling bertaut untuk beberapa lama. Lembut dan manis. Heningnya ruangan itu membuat keduanya terhanyut.

__ADS_1


Bersambung.


***


__ADS_2