
Dara menghempaskan badannya ke atas sofa ruang tamu di apartemennya. Ia hapus jejak bibir Nicholas di bibirnya sambil mendesis. Dara tidak menyangka kalau Nicholas akan berbuat seperti itu padanya.
"Gila bener si Nicholas itu," gerutu Dara.
"Hei, kenapa bicara sendiri?" tanya Gwenn yang baru saja keluar dari kamarnya menuju dapur.
Dara menoleh dan meringis melihat Gwenn memandangnya dengan heran. Sahabatnya itu tidak heboh jika ia menceritakan perbuatan Nicholas padanya.
"Ah, Dara, kemarin aku menemukan kaus putih di atas sofa. Aku taruh di keranjang pakaian kotormu," kata Gwenn seraya melangkah menuju lemari pendingin.
"Owh, kaus putih?" tanya Dara. Sejurus kemudian ia menepuk keningnya. Pasti milik Nicholas.
"Bukan punyamu?" Gwenn membuka pintu lemari pendingin dan mengembalikan kotak jus yang baru ia teguk isinya.
"Mmmm ... itu ...."
"Ooowh, punya seorang pria?" Gwenn menghambur ke arahnya. Sudah dapat ditebak, ia akan mengorek keterangan dari Dara.
"Mmmm ... bukan, mmm ... iya, sebenarnya ... waktu malam kau pergi ke tempat pacarmu, Nicholas menginap di sini."
Gwenn terlonjak. "Nicholas? Menginap di sini? Nicholas Johanssen?" tanyanya memastikan.
Dara mengangguk seraya memijit tengkuknya. "Iya," jawabnya lirih.
"Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Yang jelas, tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya."
Gwenn memicingkan mata memandang Dara dengan curiga. Apapun alasan Nicholas menginap di apartemen mereka dan berduaan saja dengan Dara, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.
"Apapun itu, Dara ...." Gwenn menangkup kedua pipinya sendiri dan menggoyang-goyangkan badan. "Nicholas pasti sedang mengincarmu," kikinya.
"Iya, dia mengincarku sebagai target bullyannya."
"Bukan itu, Dara. Nicholas menyukaimu."
Dara menghembuskan napasnya kasar. Hal itu juga yang disampaikan oleh Nicholas padanya. Pemuda itu menyukainya. Ahh--pasti hanya omong kosong. Tapi, bagaimana dengan ciuman Nicholas.
"Aku harus berangkat kerja," pamit Dara seraya beranjak dari duduknya. Ia mengabaikan Gwenn yang bergumam sendiri. Mengungkapkan keheranannya pada Dara yang telah mendapatkan perhatian seorang Nicholas Johanssen, tapi justru tidak mau mengakuinya.
__ADS_1
Sementara Dara yang sudah mengganti pakaiannya, pergi dari apartemen menuju tempat kerjanya yang harus ia tempuh dengan berjalan kaki selama tiga puluh menit. Belum lagi ia harus melewati Lothian Road yang rawan dengan berhati-hati agar tidak terlalu menarik perhatian pemuda-pemuda nakal yang sering nongkrong di depan pertokoaan.
Setengah terengah ia mendorong pintu kaca dan mendapati Allison di meja kasir tersenyum padanya. Gadis itu menyapa Dara ramah.
"Hi, Dara."
"Hello, Allison," sahut Dara seraya menaruh tas selempang di lokernya yang berada di dekat meja kasir. "Bagaimana liburanmu?" tanyanya.
"Cukup seru."
Dara tersenyum. Lalu melangkah menuju rak-rak bunga yang sedikit berantakan dan segera merapikannya. Mungkin tadi ada pembeli yang datang.
"Bagaimana Braden?" tanya Allison, membuat Dara terkesiap.
"Braden?" Dara mengerutkan keningnya. Ia menghentikan aktifitasnya merapikan pot-pot bunga dan menatap Allison.
"Iya, apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?"
"Owh." Dana terkejut mendengar pertanyaan Allison. "Aku tidak tahu apa maksudmu."
"Braden menyukaimu. Dia bilang padaku," terang Allison.
Allison terkekeh. Senyumnya tetap tersungging di bibirnya. Tidak terlihat sama sekali ia terganggu dengan ucapannya sendiri. "Ya, aku serius."
"T-tapi ...."
"Jangan pikirkan tentang aku, Dara. Aku tidak apa-apa. Aku memang tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan Braden karena sesuatu dan lain hal," potong Allison.
Dara tidak tahu harus menjawab apa. Antara bahagia, terkejut dan rasa tidak enaknya dengan Allison bercampur menjadi satu. Rasanya seperti mimpi mendengar Braden ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Meskipun ia belum mendengar langsung dari pemuda itu.
Bagi Dara, ini akan menjadi hadiah valentine yang paling indah, jika Braden menyatakan rasa suka padanya. Rasanya Dara ingin melompat-lompat saking gembiranya. Tapi, ia harus menahan diri dan bersikap biasa-biasa saja, mengingat ia sedang berbicara dengan mantan pacar Braden.
Dan sore harinya, Dara juga dikejutkan dengan kedatangan Braden ke toko bunga Allison. Dadanya berdebar tidak karuan saat Braden mengatakan ia datang untuk menjemputnya.
Dara berharap sekali Nicholas tidak muncul tiba-tiba dan mengacau. Mengingat pemuda menyebalkan itu, hatinya menjadi was-was.
Setelah berpamitan pada Allison, Dara mengikuti Braden menuju mobilnya yang terparkir di depan toko. Ia menoleh ke sana kemari memeriksa apakah ada sosok Nicholas di sekitar. Aman.
Ia pun akhirnya bernapas lega dan duduk manis di samping Braden yang memegang kemudi. Pemuda itu tersenyum padanya sebelum melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Kau tidak ingin langsung pulang ke apartemenmu, bukan?" tanya Braden, seakan-akan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Dara.
Gadis itu memang sedang berharap Braden mengajaknya ke suatu tempat, entah di mana saja yang penting mereka bisa mengobrol. Atau jika Dara beruntung, Braden akan menyatakan perasaannya.
"Ya, kalau kau punya ide mengajakku ke suatu tempat," kekeh Dara.
Braden mencebikkan bibirnya. "Kita telusuri saja jalanan Edinbugh," ujarnya. "Maaf, aku belum punya ide tempat untuk menghabiskan waktu sore ini."
Dara memijit keningnya untuk menghilangkan rasa canggung yang sedang dialaminya saat ini. Ia melirik Braden. Penampilannya yang terlihat rapi membuat dadanya berdebar kencang.
"Sepertinya Pangeran keluarga Johanssen itu menyukaimu."
Dara terkesiap. "Owh, tidak, tidak. Dia memang senang mengerjaiku. Aku rasa dia hanya senang mengacau."
"Begitu?" tanya Braden.
Dara mengangguk mantap. "Gadis seperti aku tidak mungkin ada di radarnya."
"Kenapa? Kau cantik," ucap Braden.
Entah bagaimana Dara menenangkan jantungnya yang kini bertalu-talu mendengar pujian dari pemuda pujaannya itu. Baru kali ini ia mendengar Braden memujinya cantik.
"Atau dia hanya penasaran denganmu? Mungkin kau berbeda dari gadis-gadis lain ... yang bisa ia dapatkan dengan mudah."
Kembali Dara menggeleng. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Nicholas tentang dirinya, dan sejujurnya ia tidak peduli. Dara juga ingin melupakan kejadian tadi siang. Mengingatnya membuat rasa kesalnya pada Nicholas muncul kembali.
"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Braden.
"Aku? Pada Nicholas?" Dara terkekeh. "Tidak sama sekali. Kau tahu aku tidak suka dengan tingkahnya yang seenaknya sendiri itu. Tukang paksa, tukang bully, kasar, menyebalkan, pengganggu dan ...," terangnya, seakan-akan ia telah begitu mengenal Nicholas.
Namun, dalam hati Dara mengakui kalau ada sisi lain dari Nicholas yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Teringat saat Nicholas mendengarkan curahan hatinya malam saat ia melihat Braden dan Allison berciuman. Pemuda itu berusaha menghiburnya meskipun caranya sungguh menyebalkan.
Lalu, saat Nicholas menginap di apartemennya, tidak sengaja Dara terbangun tengah malam, dan melihat Nicholas tidur dengan nyenyak di sampingnya. Guling yang menjadi pembatas di antara mereka pun masih berada pada tempatnya. Dan itu pertama kalinya Dara melihat Nicholas terlihat begitu manis.
Tawa Braden membuyarkan lamunan Dara. Gadis itu ikut terkekeh.
"Sepertinya kau hapal sekali karakter sang Pangeran," ujar Braden seraya melirik Dara.
***
__ADS_1