My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 6. Level Up


__ADS_3

Perhatian Nicholas teralihkan pada sosok gadis kurus yang melintas tidak jauh dari tempatnya dan dua sahabatnya berada. Gadis berambut hitam panjang yang diikat ekor kuda itu berjalan menuju gedung perpustakaan.


"Tunggu di sini," pinta Nicholas pada Alastair dan Aegon. "Aku mau ke perpustakaan."


"Huh? Perpustakaan?" tanya Alastair bingung. Begitupun Aegon.


"Sejak kapan?" Kini Aegon yang bertanya.


Alastair mengedikkan bahunya. "Mungkin dia ingin mencari buku Kama Sutra," cebiknya. Keduanya menahan tawa.


"Hei! Aku mendengar kalian!" seru Nicholas yang baru berjalan beberapa langkah meninggalkan dua temannya itu.


Nicholas melanjutkan langkahnya menuju gedung perpustakaan. Saat ia melihat Shopie melintas, tiba-tiba terbersit sebuah ide brilliant di kepalanya.


"Hi, Nic," sapa Shopie seraya bergelayut di pundak Nicholas.


"Kau bisa membantuku?" tanya Nicholas.


"Sure. Apa itu, Nic?"


Nicholas menyeret Shopie ke samping gedung perpustakaan yang sepi. "Take off your underwear ( Lepaskan celana dalammu)," perintahnya.


"Apa? Di sini? Kau ingin melakukannya di sini? Aah, you dirty dirty boy," kekeh Sophie seraya mendorong dada Nicholas pelan.


"Bukan itu! Cepat lakukan yang aku minta!" Nicholas mencekal lengan Shopie dan menghempaskannya.


Gadis bertubuh sintal itu mengerutkan keningnya. Tetapi, tanpa bertanya lebih lanjut, ia segera melepaskan ****** ******** sesuai yang diperintahkan Nicholas.


Nicholas memasukkan ****** ***** milik Shopie ke dalam kantong celananya. Kemudian, tanpa menjelaskan maksudnya, pemuda itu berlalu dari hadapan Shopie yang keheranan.


Ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Matanya nanar mencari keberadaan seorang gadis Asia di antara pengunjung perpustakaan.


Senyum miringnya terbit saat melihat gadis yang ia cari duduk di sudut ruangan, sibuk dengan laptop dan sebuah buku.


"Hei!" panggil Nicholas seraya mengetuk-ngetukan jari ke meja Dara. Membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah mereka.


Peraturan di dalam perpustakaan tentu tidak boleh membuat kegaduhan. Tapi, siapa yang berani menegur seorang Nicholas Johanssen.


"Kau meninggalkan celana dalammu di kamarku," ucap Nicholas. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar semua yang ada di ruangan itu bisa mendengar. Lebih tepatnya lagi, semua orang melihat ia melempar ****** ***** berenda ke atas meja.


Dara tentu saja terkejut bukan main. Beberapa saat ia berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh Nicholas. Matanya memandang bergantian antara ****** ***** berwarna merah di depannya dan juga Nicholas.


"Apa maksudmu?" tanya Dara dengan wajah tegang.

__ADS_1


"Ow, aku juga lupa mentransfer uangnya. Baiklah, aku akan memberikan cash saja padamu." Nicholas mengambil dua lembar uang seratusan pound dan melemparkannya ke wajah Dara.


"Kalian!" ujar Nicholas seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia menatap satu persatu pria di sana. "Kalian bisa memakai jasa gadis ini. Murah saja. Dua ratus pound, dia akan menemanimu overnight."


Nicholas menyeringai ke arah Dara. "Thank you for your service last night. You were good," ucapnya.


Dara baru sadar, dirinya sedang difitnah dan dipermalukan. Tidak bisa dibayangkan betapa malunya ia saat ini. Semua memandangnya dengan remeh. Dan beberapa pria mengulas senyum genit padanya.


"Kau!" Gigi Dara gemeretak menahan amarah yang meluap-luap.


Tepat saat Nicholas memutar badan hendak berlalu dengan senyum puas di bibirnya, Dara bangkit dari duduknya, meraih bahu pemuda itu dan-,


Bukk


Satu pukulan mendarat tepat di hidung Nicholas. Pemuda itu terpekik kesakitan memegangi hidungnya yang berdarah. Semua yang ada di ruangan itu pun terkejut. Tapi, dalam hati mereka mengagumi keberanian Dara.


"Auch! My nose. Gorach pios de cac (Hidungku. Breng sek)," maki Nicholas dalam hahasa Gaelic yang tidak dimengerti Dara.


"I AM NOT A WHORE (Aku bukan pela cur)!" jelas Dara singkat. Ia meraih laptopnya di atas meja, lalu berlalu dari ruangan itu.


Meninggalkan Nicholas yang sedang menahan sakit dan juga malu.


***


"Dara, apa yang kau lakukan di sini? Aku mencarimu ke mana-mana?"


Gwen menduduki ruang kosong di samping Dara. Ia mencari gadis itu kemana-mana, dan sedikit aneh menemukannya di area parkir sepeda, duduk menekuk lutut dan menelungkupkan wajahnya, serta menyandarkan punggungnya di pagar pembatas.


"Kenapa menangis?" tanya Gwen.


"Aaaarg, Gwen!" Dara merangkul bahu sahabatnya itu dan kembali menumpahkan air mata.


"What, Dara? What's going on with you?"


Dengan terbata-bata Dara menceritakan kejadian yang ia alami di perpustakaan sejam yang lalu. Ia tidak menyesal memukul hidung Nicholas. Tetapi, hatinya sakit saat pemuda itu memfitnahnya. Apalagi memfitnahnya sebagai seseorang yang tidak mungkin pernah terbersit dalam benaknya.


"Pasti semua orang menyangka aku seorang pela cur sekarang," isak Dara.


"Dara, tenanglah. Kau sudah menjelaskannya, bukan?"


"Iya, tapi ... aku tidak tahu apa mereka akan percaya. Aku takut mereka lebih percaya pada Nicholas."


Gwen mengelus punggung Dara, mencoba menyemangati gadis itu. "Sebenarnya ini yang aku takutkan, Dara. Kau berurusan dengan Nicholas Johanssen."

__ADS_1


Berurusan dengan Nicholas Johanssen. Benar. Dara menyusut air matanya. Kemudian ia menegakkan dagu. Ini bukan zaman modern. Hak asasi manusia dijunjung tinggi. Apalagi kesetaraan gender kini sedang marak diperbincangkan kembali.


Memang, harus ada yang membangunkan orang-orang macam Nicholas, agar mereka bisa keluar dari tempurung abad pertengahan.


"Owh!" Dara terlonjak saat ponsel di dalam tasnya bergetar. Gadis itu segera meraih benda itu. "It's Braden!" pekiknya tertahan, membuat Gwen mencebik.


"Hi, Braden. Ya, aku di kampus. Apa? Kau ada di luar? Menjemputku? Okay, aku keluar sebentar lagi."


"Kenapa Braden tiba-tiba menjemputmu?" tanya Gwen seraya mengerutkan keningnya. "Kau memang berkencan dengannya, ya?"


Dara meringis. "Thanks, Gwen. Sampai nanti." Ia mencium pipi Gwen dan melesat pergi meninggalkan sang sahabat yang terheran-heran.


Di luar, Dara melihat mobil Braden parkir tidak jauh dari gerbang kampus. Dengan dada berdebar ia melangkah mendekat. Ia melongok ke dalam mobil dan terkesiap saat kaca mobil tiba-tiba terbuka.


"Come on in!" seru Braden dari kursi pengemudi.


Dara tersenyum lebar seraya mengangguk. Tanpa banyak bicara gadis itu pun menuruti permintaan Braden.


"Kau tidak bekerja?" tanya Dara keheranan. Ini pertama kali Braden menjemputnya di kampus.


"Kau lupa aku mengambil cuti?" kekeh Braden seraya membelokan kemudi menuju jalan raya.


Dara menutup mulutnya. Ia baru ingat Braden mengambil cuti untuk memperbaiki sepedanya.


"Temanku, yang punya toko bunga, ingat yg aku ceritakan kemarin?"


"Ya, ya."


"Dia meneleponku, dan memintaku mengantarmu ke sana."


"Oh, great!" Dara terlonjak senang. Akhirnya ia mendapat pekerjaan lagi. Toko bunga, terdengar menarik.


Braden terkekeh seraya mengacak puncak kepala Dara gemas. Dara suka saat Braden melakukan itu padanya. Ia bahkan membayangkan, setelah mengacak rambutnya, Braden akan meraih kepalanya dan membenamkan ke dalam pelukannya, kemudian pemuda itu mengecup puncak kepalanya dalam-dalam.


"Well, di sini toko bunganya."


Dara terkesiap. Cepat sekali mereka telah sampai. Atau mungkin Dara yang terlalu sibuk berkhayal.


Di dalam toko bunga yang tidak terlalu besar tapi cukup lengkap; dari bunga hidup hingga artificial, seorang wanita cantik menyambut kedatangan Dara dan Braden.


"Hi, Alison," sapa Braden pada si pemilik rambut merah, Alison.


"Braden." Alison mengulas senyumnya. Keduanya bertatap mata untuk beberapa saat. Dan Dara menyaksikan hal itu dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


"Owh, ini Dara ... temanku yang aku ceritakan kemarin padamu."


***


__ADS_2