My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 7. Kecewa.


__ADS_3

"Auch!" seru Nicholas saat perempuan paruh baya itu menempelkan handuk dingin ke hidungnya. Memar, sudah pasti. Pukulan Dara begitu kerasnya hingga sempat mengeluarkan darah.


"Apa hidungku patah?" tanya Nicholas khawatir.


"Tidak. Untung saja. Siapa yang memukulmu sampai seperti ini, Nicholas?" Perempuan itu, Marry, kepala pelayan di rumah keluarga Johanssen, menjawab.


Nicholas mendesis pelan. Tentu saja ia tidak mau mengatakan pada Marry siapa yang telah memukulnya. Bisa-bisa perempuan itu mentertawakannya.


"Kau berkelahi?" tanya Marry. Nicholas sudah seperti anaknya sendiri. Dirinyalah yang mengasuh pemuda itu dari kecil. Mengingat Tuan dan Nyonya Johanssen adalah orang-orang yang sangat sibuk.


"No," jawab Nicholas pendek.


"Lalu?" tuntut Marry.


"Sudahlah, Marry, aku tidak mau membicarakannya."


Marry mencebik. Ia sudah hapal dengan tabiat anak asuhnya itu. Trouble Maker. Ia menduga, orang yang Nicholas ganggu, memberikan perlawanan.


"Ya, Tuhan, Nicholas! Apa yang terjadi padamu?"


Nicholas memutar bola matanya saat melihat kehadiran seorang perempuan paruh baya lain, melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Dia, Portia Johanssen, sang ibu. Penampilannya elegan ciri khas perempuan bangsawan Eropa. Rambut pendek yang disisir rapi, perhiasan sederhana tapi terlihat mahal, dan pakaian terusan setinggi lutut berwarna biru muda yang membalut tubuh rampingnya.


"It's nothing, Mother," ujar Nicholas.


"No, it isn't!" sergah Portia. "Wajahmu terlihat buruk sekali. Bagaimana kau bisa menemaniku menghadiri acara makan malam dengan Duke Of Essex?"


"Kalau begitu aku tidak usah ikut, Mum." Nicholas menyahut ringan.


"Kau sengaja, bukan, Nicholas? Agar kau tidak perlu ikut acara nanti malam?"


"Ajak saja Thomas, atau Alexandra. Atau Papa. Ke mana mereka semua? Kenapa harus aku yang menghadiri acara membosankan itu?!"


Portia membulatkan kedua mata birunya tidak percaya. Ia sengaja mengajak anak bungsunya ini menghadiri acara-acara resmi agar belajar bersikap baik dan sopan, seperti kedua kakaknya. Tetapi, Nicholas selalu punya cara untuk menghindar.


"Unbelievable (Tidak bisa dipercaya)!" Portia mengangkat kedua tangannya pasrah seraya berbalik keluar dari kamar Nicholas.


Nicholas menghembuskan napas lega. Ia mencebik seraya memandang ke arah Marry yang sedang menggelengkan kepala.


"Mungkin aku harus berterimakasih pada gadis itu," gumam Nicholas sambil terkekeh.


"Gadis?" tanya Marry penuh selidik.


"Huh? What?"


"Jadi yang memukulmu ini seorang gadis?"


"Apa aku bilang aku dipukul?"


Marry terbahak. Nicholas kena batunya. Ia tahu sepak terjang anak asuhnya itu dengan para gadis di luar sana.

__ADS_1


"Happy, eh?" desis Nicholas sebal.


"Nicholas Johanssen, dipukul seorang gadis? Bukankah ini peristiwa langka?"


"Pergi dari kamarku, Marry! Aku tidak mau melihatmu selamanya!" gerutu Nicholas seraya mendorong pelan bahu Marry.


Perempuan itu masih tergelak saat meninggalkan kamar Nicholas. Pemuda itu menghembuskan napasnya kasar. Dipijitnya pangkal hidungnya yang terasa pegal.


***


Dara dengan seksama mendengarkan penjelasan Alison mengenai seluk beluk toko bunganya dan apa saja yang harus dikerjakannya mulai besok. Pikir Dara, pekerjaan ini jauh lebih menyenangkan dari pada di restauran. Meskipun gajinya sedikit lebih kecil.


"Kau sudah mengerti, Dara?" tanya Alison seraya menyunggingkan senyum manisnya.


Dara sempat terkesima dengan kecantikan Alison. Mata beriris hijau yang indah, rambut merah yang halus dan tubuh proporsional yang terlihat seksi dalam balutan gaun mini bunga-bunga.


Ia menoleh ke arah Braden yang sedang memandang ke arahnya dan Alison. Memandang Alison, lebih tepatnya. Terlihat jelas pemuda itu mengagumi sosok cantik di sampingnya itu.


"Jadi, kau menerima Dara, Ally?" tanya Braden.


"Sure. Dia bisa bekerja mulai besok siang."


"Tidak apa-apa kalau Dara hanya bekerja paruh waktu?"


"Tidak masalah. Lagi pula dia akan bekerja penuh dari pagi sampai sore di hari Sabtu dan Minggu."


"Thank you, Ally."


Lamunan Dara buyar saat Braden mengajaknya pulang setelah berpamitan pada Alison. Sepanjang jalan Dara hanya diam dan sesekali menanggapi obroran Braden.


"Alison mantan pacarku," jelas Braden tanpa Dara menanyakannya.


"Owh," sahut Dara. Ia menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang kering. "T-tapi, hubungan kalian baik-baik saja, bukan?"


"Oh, ya, ya. Aku dan Alison baik-baik saja. Aku sedang menjaga hubungan kami agar tetap baik. Karena ...." Braden menghentikan ucapannya. "Ah, sudahlah. Lupakan saja. Yang penting kau sudah mendapat pekerjaan baru sekarang. Yeay!"


Dara mengulas senyum tipis. Ia berpikir, alasan Braden mengenalkannya pada Alison dan memberinya pekerjaan, agar ia tetap bisa berhubungan dengan mantan pacarnya itu. Atau mungkin, Braden berniat kembali pada Alison.


Dada Dara terasa nyeri memikirkan kemungkinan itu, yang sangat mungkin terjadi.


"Kau baik-baik saja, Dara? Kau agak pendiam dari tadi?"


"Owh, benarkah?" tanya Dara terkejut.


"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Emm ... tidak. Sebenernya, iya." Dara menjawab dengan gugup.


"Ayo, katakan padaku."


Dara menggaruk kepalanya sambil meringis. "Aku sedang memikirkan ...." Kembali ia menelan salivanya. "Owh, orang gila yang merusak sepedaku. Hari ini aku memukulnya."

__ADS_1


"What?"


"Ya. Sepertinya dia terus mencari masalah denganku." Dara menceritakan kejadian di dalam perpustakaan dengan Nicholas.


"What a jerk (Breng sek sekali dia)."


"Ya. Sangat breng sek. Mungkin dia sedang membuat perhitungan denganku," kekeh Dara hambar.


"Kau harus berhati-hati, Dara. Yang sedang kau hadapi adalah Nicholas Johanssen. Semua orang tahu siapa dia. Bisa dibilang, keluarganya yang memiliki Edinburgh."


"Yeah, aku tahu. Hanya saja ... aku tidak bisa mentoleransi apa yang dilakukannya padaku." Dara meraup wajahnya kasar. "Kenapa aku harus bertemu orang gila seperti dia," sesalnya.


"Aku mengerti. Kalau aku jadi kau, aku akan melakukan hal yang sama."


"Yeah."


"Beri tahu aku kalau dia macam-macam lagi padamu, Dara."


Dara memaksakan senyumnya. Sikap Braden yang gentleman itu membuat hatinya semakin kacau.


"Braden ...."


"Ya?"


"Kenapa kau baik sekali padaku?"


Braden terbahak. "Karena kau temanku. Berapa kali kau harus menanyakan itu, Dara?"


"Hanya itu?" pancing Dara.


"Ya. Hanya itu. Emm ... mungkin ada satu alasan lagi," ralat Braden seraya mengulas senyum jahil.


"Apa itu?"


"Karena kau cantik."


Dara tercekat. Dadanya berdesir mendengar pujian Braden.


"Aku bercanda. Maksudku, ya, tentu saja kau cantik, Dara. Tapi, aku membantumu karena kau temanku. Hanya itu. Tidak usah khawatir. Aku bukan pria breng sek yang suka memanfaatkan wanita," kekeh Braden.


Dara kembali memaksakan senyumnya. Entah perasaan apa yang melanda hatinya saat ini, yang jelas, ia merasa begitu kecewa dengan jawaban Braden.


Seharusnya Dara senang karena Braden begitu tulus padanya tanpa ada maksud apapun. Justru Dara yang berharap lebih.


"Sudah sampai," ucap Braden membuyarkan lamunan Dara.


"Thanks, Braden." Dara mencium pipi Braden sekilas sebelum akhirnya menghambur keluar dari mobil pemuda itu.


"Bye," ucap Dara seraya melambaikan tangan pada Braden.


Dara memandangi mobil Braden melaju pelan meninggalkannya. Dihelanya napas dalam-dalam menghalau perasaan nyeri yang menyelimuti hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2