
"Alison, sepertinya ini bukan jalan menuju rumah sakit," ucap Dara. Sejak beberapa saat lalu, ia sudah dibuat keheranan oleh Alison yang sepertinya salah mengambil jalan. Yang seharusnya ia melajukan mobil ke arah kiri, tetapi ia justru mengambil jalan lurus.
"Memang bukan," jawab Alison dengan seringai yang membuat Dara semakin keheranan.
"Apa maksudnya ini?" Dara mulai gelisah. Perasaannya menjadi tidak enak.
"Diam dan menurut saja."
"A-apa?"
"Diam dan menurut saja!" bentak Alison. Tidak hanya itu, entah bagaimana, gadis itu kini menodongkan pistol ke arahnya. Tentu saja hal itu membuat Dara terkejut bukan main.
"Buang ponselmu!"
Dara yang syok segera menuruti perintah Alison. Ia membuang ponselnya ke luar jendela.
"Bagus, kalau kau menurut, aku tidak akan menyakitimu."
Wajah Dara seketika pucat pasi. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. Meskipun di dalam benaknya muncul banyak pertanyaan, namun ia berusaha menahan diri untuk tidak bersuara.
Lebih dari satu jam lamanya Alison mengemudikan mobilnya keluar dari Edinburgh. Mereka sampai di sebuah halaman rumah yang sepertinya tidak terawat dengan baik. Alison menghentikan mobilnya di depan teras yang tampak berantakan, dan menyuruh Dara untuk keluar dari mobil.
"Masuk!" perintahnya sambil mendorong punggung Dara dengan ujung pistolnya. Keduanya melewati teras dan masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci. Alison membawa Dara ke sebuah ruangan kosong. Hanya ada satu kursi di sana, dan ia menyuruh Dara duduk di sana.
"Untuk apa kau melakukan ini?" tanya Dara memberanikan diri.
"Kau akan tahu sebentar lagi." Alison masih menodongkan pistol ke arah Dara. "Braden, kemarilah!" serunya.
Mata Dara nanar memandang ke arah pintu, di mana sosok Braden muncul dari sana, dengan senyumnya yang tampak begitu manis dan ramah. Namun, sama sekali tidak membuat Dara terpukau. Ia tidak bodoh. Dan dirinya menyadari, kedua orang ini sedang menjebaknya. Sepertinya, yang Nicholas katakan bahwa Braden bekerja untuk Portia, benar adanya. Ini pasti ulah wanita itu.
"Hi, Dara," sapa Braden sembari menyiapkan segulung tali. "Maaf, aku harus mengikatmu."
"Kenapa kau lakukan ini, Braden?" tanya Dara tak percaya. Ini adalah pemuda yang pernah membuatnya tersiksa dengan perasaan cinta yang tidak berbalas. Pemuda yang selama ini ia kenal baik dan selalu ada saat dirinya membutuhkan bantuan.
__ADS_1
"Well, I need money, Dara," jawab Braden sambil mengikat kedua tangan Dara ke belakang punggungnya. Kemudian, tali yang lain ia gunakan untuk mengikat tubuh gadis itu pada kursi.
"Kau bekerja pada Nyonya Johanssen?" tanya Dara seraya menggeleng pelan. Rasanya seperti mimpi melihat semua kenyataan ini.
"Aku tidak bisa mengatakan padamu aku bekerja untuk siapa," kekeh Braden. "Yang jelas, kau sudah tahu dengan siapa kau berurusan, bukan? Kau dalam masalah besar, Dara."
"Aku benar-benar tidak menyangka ...." Rasa sesal di hati Dara membuat dadanya perih. Ia menyesal karena telah membuang-buang air mata menangisi pemuda itu.
"Ini bukan hanya masalah tradisi keluarga kaya menjodohkan anak-anaknya dengan orang yang sepadan. Tapi, ini tentang bisnis mereka. Dan kau adalah batu sandungan, Dara. Kau mengerti?" Braden menepuk-nepuk pipi Dara, namun gadis itu seketika menghindar.
Braden terkekeh. "Kau berencana untuk menikah dengan sang pangeran besok, bukan?" Ia memiringkan kepala mengikuti arah mata Dara menatap. "Tapi, harus aku katakan kalau itu tidak akan pernah terjadi."
Dara mendesis seraya mengalihkan pandangannya pada Alison. Gadis yang biasanya terlihat cantik dan lembut itu tampak bengis dengan pistol di tangannya. Oh, sungguh naif dirinya. Kedua orang ini ternyata tidak seperti yang ia pikirkan selama ini.
"Kalian akan membunuhku?" tanya Dara seraya menantang tatapan tajam keduanya. Rasa takut yang ia rasakan berganti dengan amarah. Mengetahui kenyataan ini sungguh membuatnya marah.
"Menurutmu?" Braden terkekeh seraya menoleh sekilas pada Alison yang tengah menarik sudut bibirnya.
***
Lagi-lagi, Nicholas dibuat kesal oleh Dara saat membaca pesan dari gadis itu. Ia baru sempat memeriksa ponsel setelah menyelesaikan pekerjaannya. Niatnya pergi ke rumah Thomas untuk mengambil setelan jas yang akan ia kenakan besok di gereja, terpaksa ia urungkan. Nicholas ingin cepat kembali ke apartemen dan mengkonfrontasi Dara.
Sampai di apartemen, gadis itu ternyata belum kembali. Kekesalannya pun menjadi-jadi saat ponsel Dara tidak bisa dihubungi. Tanpa pikir panjang, ia pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh Dara dalam pesannya untuk mencari gadis itu. Ia sudah gelap mata. Kalau harus menghajar Braden malam ini, maka akan ia lakukan tanpa ragu-ragu.
Namun, di rumah sakit pun ia tidak menemukan Dara. Bahkan saat ia bertanya pada petugas, tidak ada pasien bernama Braden.
Nicholas pun kalang kabut. Ia mendatangi toko bunga milik Alison, dan toko itu sudah tutup. Lalu, ia bergerak mendatangi bengkel tempat Braden bekerja, dan yang ia temui hanya seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai paman pemuda itu. Si paman mengatakan kalau Braden sudah berhenti bekerja dua minggu lalu.
Lalu ke mana Dara?
"Apa mungkin dia berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk menikah denganmu?" ujar Thomas saat Nicholas mendatangi rumahnya, untuk membicarakan masalah ini.
"Apa memang begitu?" Nicholas memijit keningnya. "Kenapa dia harus kabur? Kenapa dia tidak bicara denganku terus terang? Aku bisa menunda pernikahannya. Aku akan menunggu sampai dia siap."
__ADS_1
"Entahlah. Pikiran wanita memang terkadang aneh."
"Atau ada sesuatu yang terjadi pada Dara. Aku harus mencarinya sampai ketemu." Nicholas beranjak dari duduknya, tetapi dicegah oleh Thomas.
"Hei, tenanglah dulu, Nic. Mungkin kau harus memberinya waktu untuk berpikir."
Nicholas menggeleng. "Ada yang tidak beres. Sikap Dara pagi ini tidak memperlihatkan kalau dia punya niat untuk membatalkan pernikahan kami besok."
"Kau sudah coba meneleponnya lagi?"
"Ratusan kali. No respond."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan lapor polisi tentang orang hilang. Dara tidak punya teman lain selain Gwen. Dan mereka tinggal bersama. Gwen juga tidak tahu di mana dia. Barang-barang miliknya masih ada di apartemen. Kalau dia ingin menenangkan diri, paling tidak dia membawa beberapa pakaian. Tapi, pakaiannya masih utuh di lemari."
"Polisi tidak akan menanggapi laporanmu karena ini belum 24 jam, Nic."
"Geez!" umpat Nicholas. "Kita keluarga Johanssen. Kita punya power di Edinburgh."
Thomas terkekeh. "Kau lupa kalau kau telah menentang keluargamu?"
"Aaargh!" teriak Nicholas frustrasi. Ia mengacak rambut pirangnya kasar. "Breng sek!" makinya.
Thomas berusaha menenangkan sang adik dengan menepuk-nepuk punggungnya. Namun tentu saja hal itu tidak banyak membantu Nicholas untuk tenang.
"Cari pacarmu sampai ketemu sekarang juga, Nic."
Kedua pria tampan yang sedang gundah di ruang tengah itu menoleh ke arah asal suara. Magdalene---istri Thomas---berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat tegang.
"Kau tidak lupa apa yang dulu ibumu lakukan padaku beberapa hari sebelum pernikahan kita, bukan, Sayang?" ucapnya pada Thomas.
***
__ADS_1