My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 39. Saat Kau Siap.


__ADS_3

"Apartemen mana lagi ini?" tanya Dara seraya menggeleng. Nicholas membawanya ke sebuah apartemen yang berbeda dari dua apertemen sebelumnya. Letaknya di pinggiran kota Edinburgh. Gedungnya tidak tinggi. Hanya ada dua lantai, namun memanjang.


Nicholas merebahkan badannya di atas sofa berdesain klasik dengan motif bunga-bunga. "Aku belum pernah membawa gadis mana pun kemari. Hanya kau. Aku ingin membuat kenangan bersamamu di sini, Dara." Alih-alih menjawab pertanyaan Dara, Nicholas justru mengatakan hal-hal yang membuat dada Dara semakin berdebar kencang.


"Dara, apa kau akan berdiri saja di situ?" kekeh Nicholas. Ia telah melepaskan mantelnya dan melemparnya sembarang. Terlihat hanya kemeja warna putih saja yang membalut dada kokohnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Dara sembari menjatuhkan pan tatnya di kursi seberang meja. Ia tidak mau duduk berdekatan dengan Nicholas.


"Kenapa duduk di situ. Kemari, duduk di dekatku," pinta Nicholas seraya menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Ia menyunggingkan senyum miring dengan tatapan jahil.


Dara terkesiap. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Tiba-tiba ia melihat Nicholas seperti seorang Sugar Daddy yang sedang memintanya untuk duduk di pangkuan, sambil berucap, "Come to Daddy ... come to Daddy ...."


"Dara?"


Gadis itu tersentak. "Y-ya?"


"Aku hanya menyuruhmu duduk di sini. Kenapa wajahmu terlihat ketakutan seperti itu?"


Dara menggeleng. Ia lihat Nicholas menggerakkan kepala memberi isyarat agar ia berpindah duduk di sebelahnya. Pelan Dara berdiri dan melangkah ke arah pemuda itu. Nicholas tersenyum memperhatikan gerakakan tubuh Dara menduduki tempat kosong di sebelahnya.


"Relax, Dara. Kau tegang sekali," kekeh Nicholas seraya merapikan rambut Dara yang sebenarnya sudah rapi. Itu hanya alasannya saja untuk membelai rambut gadis itu.


"Jadi, kau mau bicara apa?" tanya Dara mencoba memberanikan diri untuk menatap mata biru Nicholas.


"Ibuku mengundangmu makan malam akhir pekan ini."

__ADS_1


Dara membulatkan mata. Ini benar-benar di luar dugaan. Ia tiba-tiba saja merasa takut. "Kau cerita apa dengan ibumu, Nic?" tanyanya penasaran.


Nicholas tersenyum lebar. "Kemarin dia meminta penjelasan padaku tentang kekacauan yang aku buat di pesta Alena. Ya, sudah pasti dia marah karena ... kau tahu, dia ingin aku dekat dengan anak perdana menteri itu. Jadi, aku bilang saja aku sudah punya pacar."


"Lalu?"


"Lalu dia bertanya siapa pacarku. Aku jawab, kau pacarku. Aku pikir dia akan murka. Ternyata dia malah mengundangmu makan malam. Mungkin dia ingin mengenalmu lebih jauh."


Dara menelan salivanya. Ia atur napasnya untuk meredakan debar di dadanya. "Kenapa kau seserius ini denganku, Nic? Sampa-sampai ingin mengenalkanku pada keluargamu?"


"Aku memang serius denganmu, Dara," decak Nicholas sebal. "Astaga! Susah sekali meyakinkanmu."


Dara meringis. Ketegangannya kini bertambah dua kali lipat. Sudah gelisah karena berduaan dengan Nicholas di tempat ini, ditambah lagi dengan undangan makan malam ibunya Nicholas yang rasanya cukup aneh. Ah--kegelisahan ini sudah keterlaluan.


"Nic!" pekik Dara tatkala mendapati Nicholas tanpa aba-aba mencondongkan badan ke arahnya, dan mengincar bibirnya. Refleks ia menjauh. Namun sial, punggungnya membentur sandaran sofa, sehingga dengan mudah kedua tenang Nicholas mengurungnya di sana.


"K-kau mau apa?" tanya Dara saat Nicholas dengan lembut membaringkannya di atas ranjang. Dara memaki diri sendiri yang tidak mampu menolak perbuatan pangeran menyebalkan ini.


"Entahlah, mungkin mencumbumu," kekeh Nicholas seraya mengelus pipi Dara.


Kembali Dara menelan salivanya. Namun, tatapannya tidak bisa lepas dari mata Nicholas. Posisi wajah keduanya begitu dekat, hingga ia mampu melihat bayangannya sendiri dalam iris mata biru yang jernih itu.


"Kau gugup?" bisik Nicholas.


Dara hanya bisa mengangguk lemah. Hembusan napasnya tidak beraturan dan suara saliva melewati tenggorokannya terdengar jelas. Ia sudah tahu akan terjebak bersama Nicholas seperti ini, namun ia tidak kuasa menolak. Ia mempertanyakan perasaannya sendiri terhadap pemuda yang tengah menelusuri lehernya dengan sapuan bibir.

__ADS_1


Ini pengalaman pertama untuk Dara, ada seorang pria yang begitu intim menyentuh bagian-bagian sensitif tubuhnya. Dan parahnya, ia mengizinkan. Apakah sudah saatnya ia menjadi gadis dewasa yang sadar akan kesenangan diri, atau ia harus mempertahankan gelar culun yang selama ini ia sandang.


Tangan Nicholas pelan membuka sebagian kancing baju milik dara, lalu menurunkannya hingga sebatas lengan atas. Bahu Dara terekspos begitu saja, membuat Nicholas tidak menyia-nyiakannya. Ia kecupi bahu gadis itu lembut, lalu melebar ke dada, dan berhenti di tengah belahan samar yang terbuka sebagian. Sungguh pemandangan yang membuat Nicholas semakin penasaran dengan apa yang ada di balik pakaian itu.


"N-nic," lenguh Dara seraya menempelkan kedua tangan di dada Nicholas, mencoba menahan dada pemuda itu agar sedikit berjarak dengannya.


"Why, Dara? Don't you want it?" bisik Nicholas. Ia tidak mengindahkan protes Dara. Lagi pula, itu hanya protes kecil. Ia tahu, gadis ini sedang bergulat dengan pikiran antara mau dan tidak.


"A-aku tidak tahu. Aku masih belum siap," ucap Dara dengan napasnya yang memburu. Pasalnya, Nicholas bergantian menyerangnya dari bibir, pipi, leher, bahu, belahan da da, semua menjadi sasaran kejahilan Nicholas. Pemuda itu bahkan mengurungnya dalam dekapan, membuatnya kesulitan untuk meloloskan diri. Namun, apakah ia memang berniat untuk meloloskan diri dari kungkungan pangeran tampan ini.


"Anggap saja ini latihan," bisik Nicholas kembali. Gadis ini sudah benar-benar ada di dalam ganggaman tangannya. Mana mungkin ia akan melepaskannya begitu saja. Ia begitu menyukai Dara dan hasratnya hanya untuk gadis manis berwajah Asia ini. Apapun yang ia lakukan, akan ia pertanggung jawabkan nantinya. Bukan hanya bertanggung jawab, namun ia akan memperjuangkannya.


Nicholas meloloskan pakaian yang membalut tubuhnya, lalu membuangnya ke lantai. Tangannya pun bergerak halus menurunkan pakaian Dara hingga sebatas pinggang.


Wajah Dara sudah memerah menahan malu. Tubuh bagian atasnya kini hanya terbalut bra. Dan ia refleks menahan tangan Nicholas yang ingin meloloskan satu-satunya tameng yang melindungi dua bongkahan mungil di dadanya.


"Kenapa? Kau malu? Atau tidak ingin?" tanya Nicholas, masih dengan suara setengah berbisik yang mampu membuat perempuan mana pun melayang.


"Aku malu, eh, maksudku ... tidak ingin. Mmm ... aku tidak tahu." Dara sudah tidak mampu menyusun kata-kata dengan benar. Pergulatan dalam kepalanya kini semakin hebat. Ia takut, ragu, tapi menginginkan Nicholas melanjutkannya. Entahlah, ia benar-benar bingung. Pastilah ekspresi wajahnya kini terlihat sangat aneh.


Nicholas mengulas senyumnya. Gadis ini sepertinya belum siap. Entah kenapa ia tidak ingin memaksa. Jika perempuan lain pasti akan dengan senang hati ia perlakukan seperti ini, namun tidak dengan Dara. Si manis ini memang benar-benar polos. Dan itu membuatnya tidak tega melanjutkan perbuatannya, seberapa ingin pun dirinya.


"Anggap saja ini pemanasan," kekeh Nicholas seraya mendaratkan kecupan di kening Dara. Ia lalu merapikan pakaian gadis itu seperti semula.


"Kau spesial, Dara. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti perempuan-perempuan lain. Kita akan melakukannya kalau kau sudah siap."

__ADS_1


Dara tersenyum tipis. Ia tatap mata Nicholas lekat-lekat. Ada ketulusan yang ia temukan di dalam iris birunya yang jernih.


***


__ADS_2