My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 38. Lampu Hijau?


__ADS_3

Alexandra membuka pintu kamar Nicholas dengan kasar. Ia tidak peduli pada sang adik yang sedang tertidur pulas. Ditariknya selimut tebal yang menutupi tubuh pemuda itu. Dari arah pintu, muncul Portia, sang mama.


"Bangun!" teriak Alexandra kencang.


Nicholas yang terkejut mendecak sebal saat tahu, yang mengganggu tidurnya adalah Alexandra. "Pergi kau dari kamarku!" perintahnya seraya menarik kembali selimut.


"Nic! Aku mau bicara!" Kini Portia yang mengambil alih.


Nicholas mendengus kesal. Tentu ia tidak bisa mengusir sang mama dari kamarnya. "Kalian mau apa?" tanyanya seraya menyingkirkan selimut, lalu duduk di tepi ranjang sambil menguap lebar.


Portia menahan lengan Alexandra yang hendak menghardik sang adik. Wanita paruh baya itu lalu duduk di samping Nicholas. "Alena bilang semalam kau mengacau di pesta ulang tahunnya?"


Nicholas mendecak. Gadis itu benar-benar tukang mengadu. Ia melirik sinis pada Alexandra, yang pasti bersekongkol dengan Alena.


"Kenapa?" tanya Portia. Ia mencoba untuk tidak meninggikan intonasi suaranya pada putra bungsu yang sangat susah diatur itu.


"Aku memukul seseorang yang sudah kurang ajar pada pacarku," jawab Nicholas jujur.


"Pacar?" Portia menaikkan alisnya, berpura-pura keheranan. Tentu saja ia sudah mendengarnya dari Alena dan Alexandra. Ia hanya ingin memancing putranya untuk mengatakan siapa gadis yang menyebabkan Nicholas membuat kekacauan.


"Bukan pacar, Mama. Tapi mainan Nicholas!" tegas Alexandra seraya mendelik ke arah sang adik.


"Hei! Jaga mulutmu!" hardik Nicholas geram.


"Memang dia mainanmu, bukan?" Alexandra tidak mau kalah.


"Kau!" Nicholas hampir saja menampar Alexandra kalau saja tidak dicegah oleh sang mama.


"Benar gadis itu pacarmu, Nic?" tanya Portia. Wanita itu masih berusaha bersikap tenang.


Nicholas menarik sudut bibirnya. "Ya."


Portia memberi isyarat pada Alexandra untuk tenang, dan menyerahkan diskusi ini pada dirinya. Wanita itu menyentuh bahu sang putra lembut. "Siapa namanya, dan seperti apa dia?" tanyanya dengan senyum yang dibuat-buat.


"Dara. Dia cantik dan baik. Dia satu kampus denganku. Penerima beasiswa dari luar negeri," jawab Nicholas.


"Oh, bukan gadis Skandinavia?" Portia menaikkan kedua alis tebalnya. Ia baru tahu tentang hal ini. Alexandra dan Alena mungkin lupa memberitahukan hal itu padanya.


"No, she's Asian. North East Asian."


Portia melempar pandang pada Alexandra. Gadis itu hanya menggeleng pelan. Bagi mereka, ini sangat buruk. Gadis-gadis Asia Tenggara terkenal sebagai gold digger di Eropa, terutama yang berasal dari Filipina.


"Apa kau bisa mengundang pacarmu kemari, Nic? Makan malam, mungkin? Denganku?"

__ADS_1


"Mama!" sergah Alexandra, namun Portia langsung mengangkat satu tangannya, meminta sang putri untuk diam.


"Kau serius, Mama?" tanya Nicholas tidak percaya. Ia menyipitkan mata menatap ibunya.


"Ya. Kenapa tidak? Ajak dia kemari akhir pekan besok. Katakan padanya aku mengundangnya makan malam." Portia beranjak dari duduknya, kemudian menepuk-nepuk bahu sang putra.


Wanita itu lalu menggandeng Alexandra keluar dari kamar Nicholas. Sementara Nicholas, meskipun sedikit curiga dengan keinginan sang mama, tetap mengulas senyumnya.


***


Dara sungguh tidak mampu berkonsentrasi mengikuti kelas hari ini. Pikirannya tak bisa lepas dari Nicholas dan ciuman mereka semalam. Perutnya mulas bukan main. Bukan karena ia harus membuang hajat, namun lebih kepada banyaknya kupu-kupu beterbangan. Entah bagaimana nanti kalau tiba-tiba ia bertemu dengan Nicholas, rasanya ia begitu malu dan canggung.


Saat kelas usai, ia belum beranjak dari kursinya hingga semua orang meninggalkan kelas. Dara pun melangkah keluar. Namun, baru saja ia menginjakkan kaki di luar pintu, Nicholas muncul dari kejauhan. Gadis itu buru-buru masuk kembali ke dalam kelas dan bersembunyi di balik pintu. Sungguh ia berharap Nicholas tidak melihatnya tadi.


"Hei, kau sedang menghindariku?"


Ah--harapan hanya tinggal harapan. Pemuda itu kini sudah berada di hadapannya seraya memasang raut wajah heran. Dara berharap Nicholas tidak mendeteksi dirinya yang sedang canggung luar biasa.


"Dara?" Nicholas mencondongkan badan ke arah gadis itu, memiringkan kepala untuk mengamati wajah Dara yang sedikit menunduk.


"Aku tidak menghindarimu," ujar Dara seraya memalingkan wajahnya.


"Kenapa pipimu merah?"


"Wait, wait!" Nicholas menarik lengan Dara hingga gadis itu urung melangkahkan kaki keluar dari pintu kelas. "Mau ke mana kau, Sayang?" Ia tersenyum nakal seraya mendesak Dara ke dinding dan memenjarakan gadis itu di antara kedua lengannya.


"Nic! Jangan macam-macam. Ada cctv!" pekik Dara saat Nicholas mulai mendekatkan wajah padanya.


"Siapa peduli?" cebik Nicholas. "Kalau kau tidak mau aku cium di sini, ayo kita ke apartemenku."


"Ish! Apa-apaan kau, Nic?" Dara memukul pelan dada Nicholas sambil memasang raut wajah sebal.


"Jadi, di sini saja?"


"Nic!" Mata Dara mendelik. "Bisa kau tidak menggangguku hari ini? Aku sedang kacau."


Nicholas terbahak. "Apa aku yang mengacaukan perasaanmu?" Ia manikkan alisnya. Tatapannya tertuju pada bibir Dara. Ingin ia terkam rasanya detik itu juga.


"Nic, please ...." Dara memohon dengan wajah memelas. Hatinya tidak karuan rasanya. Anehnya, kini ia tidak bisa marah-marah lagi pada Nicholas. Semua yang diucapkan pamuda itu, meskipun menyebalkan, justru membuatnya canggung setengah mati.


"Aku ingin bicara denganmu sebenarnya." Nicholas menarik dirinya memberi jarak pada Dara. Gadis itu tampak menghela napas lega.


"Aku ada kelas sebentar lagi."

__ADS_1


"Tidak usah berbohong," decak Nicholas seraya menggandeng tangan Dara keluar. Beberapa pasang mata memperhatikan keduanya, namun tidak ada yang berani membuat reaksi apapun. Entah berbisik, menatap sinis, dan hal-hal yang mungkin bisa membuat Nicholas mengamuk. Tentu, kabar tentang seorang mahasiswa di kampus ini yang dibuat babak belur oleh Nicholas karena mengganggu Dara, telah tersebar.


"Masuk," pinta Nicholas tatkala Dara hanya berdiri di samping pintu mobil Cadillac-nya, sementara ia sudah membukakan pintu.


"Where are we going?"


"Apartemenku."


Dara menelan salivanya. Ini gawat. Ini kacau. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti saat ia hanya berdua saja dengan Nicholas.


"Ayo, Dara," pinta Nicholas sekali lagi. Gemas, ia mendorong pelan Dara masuk.


Dara kesulitan mengatur napasnya tatkala Nicholas melajukan mobil keluar dari area parkir kampus. Ia melirik pemuda di belakang kemudi yang tampak santai. Berbeda dengan dirinya yang begitu gelisah.


"Kenapa kau terlihat ketakutan, Dara?" tanya Nicholas.


"Ketakutan? Hmm ... tidak," elak Dara. Sial, ia tertangkap basah.


"Relax ...." Nicholas mengelus pipi Dara dengan punggung tangan. "Aku membawamu ke apartemen agar kita bisa leluasa bicara. Dan juga ... leluasa untuk ...." Ia menarik sudut bibirnya.


"Untuk apa?" cicit Dara dengan wajah pucat.


"You know ...." Nicholas menggerak-gerakkan telapak tangan berputar-putar.


"Bi-bisa kau antar aku pulang saja?" pinta Dara terbata.


Nicholas menggeleng. "Of course not!"


***


Hei, Teman-teman ...


Aku ada novel baru di sini, loh.



Ini dia. Bab-nya masih sedikit tapi bisa lah tinggalkan sendal dulu sambil nunggu bab-nya nambah. Up tiap hari kalau lagi kesambet. Semoga kesambet terus, sih.


Tenang, ini bukan novel horor, kok. Mau dibilang science-fiction (sci-fi) boleh, misteri ya boleh.


Yang baca novel-novel mangkrak-ku (Elric, Bunga), mohon bersabar, pasti saya up, saat feel-nya balik dari pengembaraan.


Love, LadyM

__ADS_1


__ADS_2