
Nicholas mengaktifkan ponselnya setelah beberapa hari ia matikan. Pesan dan panggilan tidak terjawab seketika masuk berderet-deret di layar. Ia menarik sudut bibir. Sebagian besar berasal dari Dara. Sepertinya gadis itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Namun, matanya menyipit saat nama Alena muncul di antara nama Dara. Gadis itu mengiriminya dua buah foto.
Matanya membulat saat melihat isi foto. Rahangnya seketika mengeras. "Baji ngan!" umpatnya dengan telapak tangan terkepal.
Ia menyudahi makan siang----yang ia rangkap dengan makan malam--di ruang karyawan kantor Thomas, dan meraih jaket kemudian mengenakannya sambil berjalan cepat keluar ruangan itu.
"Nic, sudah selesai?" tanya Thomas yang kebetulan berpapasan dengannya di lobby.
"Ya. Sampai besok, Thomas." Nicholas menjawab sekenanya. Wajah memerah pemuda itu membuat sang kakak sedikit heran. Namun, ia membiarkan saja Nicholas berlalu.
Nicholas melajukan mobil kencang menuju apartemen Dara. Tujuannya sudah pasti mengkonfrontasi gadis itu tentang foto yang dikirimkan oleh Alena. Foto kemesraan Dara bersama Braden di tepi sungai Leith.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai di apartemen Dara. Ia menggedor pintu berkali-kali. Terdengar derap kaki dari dalam apartemen berlarian menuju pintu dan pintu pun terbuka.
"Nic!" Gadis yang berdiri di hadapannya itu terlonjak dan menghambur ke arahnya. Tubuhnya dipeluk dengan erat sambil menangis. Nicholas tidak menyambut pelukan Dara. Ia hanya diam mematung dengan rahang mengeras. Namun, beberapa saat kemudian tangannya bergerak melepaskan pelukan gadis itu. Dara pun terkejut dan menatapnya heran dengan mata yang telah basah.
"Kau kembali pada si breng sek itu?" tanya Nicholas. Ia mencoba berbicara tanpa meninggikan volume suara. Meskipun hatinya telah dipenuhi amarah.
"Aku ingin kita meluruskan masalah beberapa hari lalu. Aku tidak menikmati ciuman itu, Nic. Braden tiba-tiba saja melakukannya. Aku tidak sempat menghindar." Dara hanya ingin Nicholas benar-benar tidak salah paham padanya. Ditinggal pemuda itu berhari-hari membuatnya kelimpungan. Dan saat ini Nicholas ada di hadapannya dan ia tidak ingin pemuda itu pergi lagi.
"Bukan itu yang aku permasalahkan sekarang!" seru Nicholas. Ia hampir saja tidak mampu mengendalikan diri. Diambilnya ponsel dari saku jaket, lalu ia menunjukkan foto-foto yang dikirim oleh Alena beberapa saat lalu. Satu foto memperlihatkan Braden sedang merapikan anak-anak rambut Dara, dan foto yang lain memperlihatkan Braden sedang mengecup keningnya.
Dara terperangah. Tentu ia tidak bisa mengelak. Semua yang ada di dalam foto adalah benar. Tetapi, saat itu Dara sedang kebingungan dan sebagian besar isi kepalanya dipenuhi pikirkan tentang Nicholas. Sehingga ia tidak begitu menyadari apa yang dilakukan oleh Braden. Namun, bagaimana menjelaskannya pada Nicholas.
"Nic ...." Dara menyentuh dada Nicholas, namun pemuda itu seketika menepis tangannya.
"Kau ini ...." Nicholas menggeleng sembari menghela napas berat. "Kenapa masih mau diajak pergi oleh si breng sek itu? Apa yang kau lihat darinya, hah?!"
Dara menggeleng pelan. "Aku bisa jelaskan, Nic. Kau mau mendengarkanku?"
Nicholas memijit keningnya. Satu tangannya memberi isyarat pada Dara untuk melanjutkan ucapannya.
"Tadi sore Braden datang dan dia bilang ingin bicara serius denganku. Aku menolak, tapi dia memohon. Aku terpaksa menuruti. Dia mengajakku ke Leith Riverside dan ...."
__ADS_1
"Dia menyatakan perasaannya padaku, lalu meminta maaf atas sikapnya dulu. Tapi, saat itu pikiranku sedang tidak fokus dan dia melakukan hal-hal yang ada di foto, seperti yang kau lihat ...."
"Maaf, Nic ...," ucap Dara lirih.
"Apa jawabanmu?" tanya Nicholas. Sejujurnya ia lega, Dara mau menjelaskan semua ini. Kalau dia tidak peduli padanya, bisa saja gadis itu masa bodoh apa yang dipikirkannya tentang foto itu.
"Aku ...." Dada Dara tiba-tiba berdebar kencang. "Aku bilang ...."
"Bilang apa? Cepat katakan, Dara!" sentak Nicholas.
"Aku bilang ... perasaanku padanya tidak sama lagi. Karena ...."
Nicholas menaikkan alisnya. "Karena apa?" desaknya.
"Karena aku telah jatuh cinta pada seseorang." Dara menundukkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.
"Hei, kau jatuh cinta pada siapa? Apa kau ingin aku juga menghajar pria itu?" Suara Nicholas berubah lembut. Ia meraih dagu Dara dan memaksa gadis itu menatapnya. "Siapa pria itu? Kurang ajar sekali telah membuatmu jatuh cinta."
Dara hendak memalingkan wajahnya, namun Nicholas menahannya. Sehingga ia tetap berhadapan dengan wajah pemuda itu.
"Aku jatuh cinta dengan pria menyebalkan, tukang paksa yang suka seenaknya sendiri."
Bibir Nicholas menyunggingkan senyuman lebar. "Akhirnya kau mengakuinya juga," kekehnya sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu.
"Aku tidak bilang pria itu adalah kau!" Dalam hati Dara merasa begitu lega. Amarah Nicholas sepertinya telah mereda. Demi apa pun, Dara ngeri melihat kemarahan pemuda itu.
"Say you love me!" perintah Nicholas seraya menatap lekat sepasang mata Dara.
"Ppppfhh!"
"Come on, say it, Dara!"
Dara menghela napas dalam-dalam. "I love you," ucapnya lirih dan cepat.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mendengar dengan jelas."
"I love you! I love you!" seru Dara. "Happy now?"
Nicholas tergelak. Diraihnya tubuh gadis itu dan ia benamkan dalam dekapannya. Ia ciumi ujung kepala Dara gemas. "Calon istriku yang bandel dan keras kepala."
Senyum Dara terbit. Kedua tangannya ia kaitkan di punggung Nicholas. Demi apapun, rasanya nyaman sekali. Beberapa saat lamanya ia tenggelam dalam pelukan Nicholas yang hangat. Semua kegundahan yang ia rasakan selama beberapa hari tanpa kehadiran pemuda itu, berangsur hilang. Baru ia menyadari bahwa sosok Nicholas begitu ia rindukan. Rindu perlakuannya, suara, tingkah jahilnya, semua tentang sang pangeran.
"I miss you." Tanpa sadar bibir Dara mengucapkan kata-kata itu.
Nicholas melepaskan pelukannya. "Aku lebih merindukanmu. Beberapa hari ini terasa seperti neraka. Rindu, marah, dan ingin membunuh seseorang."
Dara mendelik. Sembarangan saja kalau bicara. Ia memukul dada Nicholas pelan. "Kau ini sungguh mengerikan kalau sedang marah."
Nicholas terbahak. "Semua gara-gara kau."
"Kau tempramen. Suka main pukul seenaknya."
"Aku hanya melindungi apa yang menjadi milikku. Perjuanganku sudah cukup berat untuk mendapatkanmu. Enak saja orang lain tiba-tiba datang mengambilmu."
Dara mencebik. "Aku memang sempat ragu akan perasaanku pada Braden. Mungkin aku belum sepenuhnya melupakannya. Tapi ... wajah tengilmu ini sungguh seperti hantu. Selalu membayangi pikiranku," sungutnya. "Tidak nyenyak tidur, tidak enak makan, aaargh ... menyebalkan sekali!"
"Akhirnya kau terjerat pesonaku yang luar biasa ini."
Kembali Dara mencebik. Namun bibirnya cepat disambar oleh Nicholas dan memagutnya lembut. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan bibir semanis dan selembut marsmellow itu. Kalau sudah begini, ingin rasanya ia membawa Dara ke atas ranjang dan ....
"Oh, come on. Get a room, guys!" Gwen yang baru saja keluar dari kamarnya langsung dihadapkan dengan pemandangan yang membuatnya ingin menelepon sang pacar dan melakukan hal yang sama.
***
Mampir juga ke novel baru, yaaa ....
Nggak kalah uwu-nya juga meskipun harus rada-rada rumit, hahahaha.
__ADS_1
Okay, ditunggu ....