My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 11. Si Pengganggu


__ADS_3

"Hei!"


Dara dan Gwen menoleh. Mata kedua gadis itu membulat melihat siapa yang memanggil mereka. Nicholas berdiri beberapa meter dari hadapan mereka, memandang ke arah sepeda yang dituntun oleh Dara.


"Ah, Nicholas, kebetulan kau di sini," ucap Gwen girang. "Sophie merusak sepeda Dara tadi," lapornya sambil menunjuk sepeda milik Dara.


"Diam, Gwen!" Dara menyikut lengan Gwen.


Nicholas menaikkan alisnya. "Is that correct (Apa itu benar)?" tanyanya pada Dara.


"Bukan urusanmu!" sungut Dara, membuat Gwen ingin memaki-maki sahabatnya itu.


"Aku bisa menggantinya. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih karena kau telah membongkar masalah Sophie."


"Tidak perlu. Dengan tidak menggangguku saja sudah cukup!"


Nicholas mendekati Dara dan mengulas senyumnya. "Aku serius. Aku akan menggantinya." Ia merogoh saku celana dan mengambil dompet.


"Lima ratus pound, apa itu cukup?" tanya Nicholas seraya menyodorkan lembaran seratus pound.


"Terima saja, Dara," bisik Gwen seraya menarik-narik lengan Dara.


Dara tersenyum miring. Ia mengambil uang dari tangan Nicholas, lalu melemparkannya ke wajah pemuda itu. Baik Nicholas maupun Gwen yang menyaksikan perbuatan Dara, sama-sama terkejut.


"Simpan saja uangmu!" tegas Dara. "Jangan ganggu aku. Ayo, Gwen!"


"Tapi, Dara ...."


"Ayo!" seru Dara seraya memutar badan dan melangkah menjauhi Nicholas yang masih terbengong-bengong.


Tentu Nicholas syok dengan sikap Dara. Baru kali ini ia ditolak mentah-mentah oleh seorang perempuan. Baru kali ini ada perempuan yang bersikap ketus padanya. Baru kali ini ada perempuan yang tidak ingin berurusan dengannya.


Antara kesal dan kagum dan penasaran, bercampur menjadi satu. Hingga Nicholas tidak mampu berkata-kata dan hanya memandangi kepergian Dara.


"Aku tidak bisa percaya ini," gumam Gwen saat keduanya sampai di apartemen mereka. "Kau menolak uang lima ratus pound, Dara," sesalnya.


"Aku tidak mau menerima apapun dari pemuda gila itu." Dara merebahkan badannya di atas sofa.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan sepedanya?"


"Biar saja jadi barang rongsokan."


Gwen menggeleng. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu."


Dara mengedikkan bahu. Ia meraih remote televisi dan menghidupkannya.


"Tapi, aku akui kau hebat, Dara," kekeh Gwen seraya menempatkan diri di samping Dara. "Kau bersikap seakan-akan kau tidak tahu siapa Nicholas."


"Memangnya dia harus diperlakukan spesial? Dia hanya anak manja yang hidup dalam bayang-bayang kekayaan keluarganya. Sama sekali tidak membuatku kagum."


Lain halnya dengan Braden, pria sejati yang bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri, tanpa campur tangan orang tuanya.


"Tapi, tetap saja dia pemuda tertampan di Edinburgh," gelak Gwen.

__ADS_1


"Tampan saja tidak cukup," cebik Dara. "Lagi pula, kenapa kita harus membicarakan pemuda gila itu? Aku malas sekali."


Gwen terkikik. "Tapi, kau sudah berhasil menarik perhatiannya, Dara."


"Aku harap tidak. Aku benar-benar tidak mau punya urusan dengan Nicholas."


"Kita lihat saja nanti. Aawh, bukankah romantis sekali jika seorang pangeran jatuh cinta dengan gadis biasa yang sederhana?"


Dara terbahak. "Khayalanmu terlalu jauh."


***


Nicholas sedang berbincang dengan Alastair dan Aegon saat ia melihat Dara melintas tidak jauh darinya. Gadis itu sepertinya sedang menuju ke perpustakaan.


"Hei, mau ke mana kau?" tanya Alastair, melihat Nicholas tiba-tiba saja beranjak meninggalkan mereka.


"Ke perpustakaan," jawab Nicholas.


Alastair dan Aegon saling melempar pandang. Keduanya saling mencebikkan bibir.


"Kenapa akhir-akhir ini dia sering pergi ke perpustakaan?" tanya Alastair keheranan.


Aegon mengedikkan bahu. "How could I know (Gimana aku bisa tahu)?"


"Apa dia jatuh cinta dengan penjaga perpustakaan?"


"Mrs Weasley?"


Sementara Nicholas, mengikuti Dara masuk ke dalam gedung perpustakaan. Ia lihat gadis itu duduk sendirian di sudut ruang baca.


"Nic, jangan membuat keributan, okay?" Mrs. Weasley, si penjaga perpustakaan, memperingatkan.


Nicholas menyahutnya dengan mengangkat kedua telapak tangan. "I'll try (Aku coba)," kekehnya.


Perhatiannya kembali tertuju pada Dara yang sedang berkutat dengan laptop dan bukunya. Ia menarik kursi di seberang meja gadis itu dan mengetuk-ngetuk meja.


Dara memutar bola matanya jengah. "Mau apa kau?" tanyanya ketus. "Aku sudah bilang padamu, jangan ganggu aku!"


"Aku hanya heran, kenapa kau menolak uang ganti rugi dariku?"


"Aku tidak mau menerima apapun darimu."


Nicholas tersenyum miring menatap Dara yang sama sekali tidak mau menatapnya.


"Kau gadis yang sombong, ya? Apa kau kaya?"


Dara mendesis. Ia tidak berminat menjawab pertanyaan bodoh Nicholas. Merasa tidak diacuhkan, Nicholas semakin ingin mengganggu gadis itu.


"Jadi, namamu Dara, ya? Nama yang aneh. Seperti orangnya."


Dara hanya mengedikkan bahu. Ia tetap berkutat dengan laptop dan bukunya. Baginya, meladeni Nicholas adalah hal yang sama sekali tidak penting.


"Kau berani tidak mengacuhkanku, Dara?" Nicholas menggedor meja.

__ADS_1


"Jangan ganggu aku. Berapa kali aku bilang padamu, aku tidak mau berurusan denganmu."


"Kenapa tidak ingin berurusan denganku?"


Dara mendecak sebal. "Karena kau orang gila yang menyebalkan," terangnya.


Nicholas terbahak. "Okay, aku gila. Tapi, kau gadis bodoh."


Dara menatap tajam Nicholas dengan raut wajah kesal. "Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan itu?"


"Karena memang kau bodoh," kekeh Nicholas.


Dara menggeram pelan. Ia sadar, Nicholas sedang memancingnya untuk memulai sebuah perdebatan. Akhirnya, Dara hanya mengibaskan tangan, menganggap ucapan Nicholas hanya angin lalu.


"Dari mana asalmu?" tanya Nicholas, sambil mengetuk-ngetuk meja, meminta perhatian Dara yang kembali berkutat dengan laptopnya.


"Planet bumi."


Nicholas tertawa terbahak-bahak. "Very funny (Lucu sekali)."


"Yeah, funny." Dara meringis sekilas, kemudian kembali memasang wajah masamnya.


"Hei, Dara. Apa kau tahu siapa aku?" pancing Nicholas.


"Hmmm."


"Who am I (Siapa aku)?"


"Anak manja yang haus perhatian."


Kembali Nicholas terbahak, sehingga membuat beberapa orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah mereka. Tapi, tidak ada yang berani menegur, tentu saja.


"Orang gila yang tidak punya empati pada orang lain," lanjut Dara.


Nicholas bertepuk tangan. "Kau sangat pintar menilai orang rupanya."


"Di jidatmu sudah tertulis semuanya."


"Holy crab, you're good, Dara," ucap Nicholas sambil menggeleng pelan.


Dara menghembuskan napasnya kasar. Sepertinya ia tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas dengan kehadiran Nicholas yang sangat mengganggunya. Ia pun segera menutup laptop, meraih buku dan beranjak dari duduknya.


"Where are you going?" tanya Nicholas seraya mengikuti langkah Dara menuju ruang penyimpanan buku.


"Menghindari orang gila sepertimu." Dara menyelipkan buku tebal di tangannya di antara buku-buku lainnya di salah satu rak.


Dara melangkah keluar dari gedung perpustakaan. Nicholas masih mengikutinya hingga sampai di depan sebuah kelas.


"Menjauh dariku!" Dara mendorong dada Nicholas keras. Kemudian ia masuk ke dalam kelas dan menutup pintunya rapat-rapat.


Nicholas mengulas senyumnya seraya menggeleng pelan.


***

__ADS_1


__ADS_2