
Dara terbangun saat tiba-tiba dadanya begitu sesak. Seperti ada benda berat menindihnya. Ia yang masih sedikit terpengaruh alkohol, mengerjap-ngerjapkan matanya menatap ke depan. Anehnya, badannya sulit untuk digerakkan.
Ia baru sadar apa yang sedang terjadi setelah mendengar lenguhan seseorang di sampingnya. Oh--tidak. Bukan di sampingnya, tapi di bahunya, dengan sebagian tubuh seseorang itu menindihnya.
"Aaargh!" pekik Dara seraya beringsut ke tepi ranjang. Matanya membulat sempurna. Dadanya berdetak dengan kencang.
"Hei, selamat pagi, Dara," sapa Nicholas dengan senyum lebar, bertelanjang dada dan rambut berantakan.
"K-kau!" tunjuk Dara. "What-the-hell-did-you-do-to-me?!" Tatapannya tajam ke arah Nicholas. Lalu memeriksa kelengkapan pakaian di badannya. Masih seperti semalam, hanya saja ada beberapa kancing yang terbuka.
"Nothing," jawab Nicholas seraya mengangkat tangannya. Tapi, bibirnya masih menyunggingkan senyum lebar.
"Kenapa aku ada di ranjangmu dan kenapa kau tidur di sebelahku?" tanya Dara curiga. Ia memang tidak merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Tapi, tetap saja ia curiga, tubuhnya sudah digerayangi oleh pemuda menyebalkan itu.
"Semalam kau pingsan di pelukanku, Dara," kekeh Nicholas.
"Tidak mungkin!"
"Mau lihat rekaman cctv?"
"Eerrrrgh!" geram Dara. Satu persatu ingatannya akan semalam muncul. Ia yang cerewet, menceritakan semua keluh kesahnya pada Nicholas, bahkan kisah hidupnya pun ia ceritakan pada pemuda itu.
Lalu, ia menjadi sangat melodramatik. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan kesedihan yang semalam sepertinya begitu menyesakkan dada. Dan, yang paling konyol adalah, ia menghambur begitu saja ke pelukan Nicholas, menangis dan menangis, hingga ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Sudah ingat sekarang?" kekeh Nicholas seraya merapikan rambutnya yang sedikit panjang.
"Kau tidak berbuat aneh padaku, kan?" tanya Dara penuh selidik.
"Kalau tentang itu, setelah aku membawamu kemari, mmm ... aku juga tidak ingat apa-apa."
Dara menggeram kesal. Ia merapikan pakaiannya, memeriksa wajahnya yang sembab, kemudian melangkah keluar kamar.
"Hei, tunggu, Dara! Biar aku antar," ujar Nicholas seraya mengenakan celana jeans warna biru.
"Tidak perlu."
"Aku memaksa!"
__ADS_1
Dara mendesis. Akhirnya ia hanya menurut saja. Nicholas pasti tidak mau memberitahukan kode pintu apartemennya, dan ia tidak bisa keluar dari tempat ini kalau pemuda itu tidak mengantarnya.
Sepanjang perjalanan dengan mobil Cadillac milik Nicholas, keduanya tenggelam dalam kebisuan masing-masing. Tapi, Nicholas tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
"Percayalah, Dara. Aku tidak melakukan apapun."
"Waktu aku bangun sebagian badanmu menindihku!"
"Bagaimana aku bisa mengontrol gerakan tubuhku saat aku tertidur pulas. Mungkin, semalam aku pikir kau adalah guling," kekeh Nicholas.
"Tapi, aku tidak menyentuh ...." Nicholas menunjuk dada Dara dengan dagunya.
Dara mendesis. Ia berharap, yang dikatakan Nicholas benar adanya. Lagi pula tidak ada yang aneh dalam dirinya. Ah--tapi membayangkan Nicholas sudah menggerayangi tubuhnya semalam, membuatnya bergidik.
"Thanks," ucap Dara seraya membuka pintu mobil.
"Hei, Dara!" panggil Nicholas urung membuat Dara menutup pintu. "Thanks. It was fun (Semalam menyenangkan)," ucapnya.
Dara tersenyum tipis. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas, ia merasa begitu aneh. Apalagi, melihat sisi lain Nicholas semalam. Ia akui, Nicholas pendengar yang baik.
Masuk ke apartemennya, sudah tentu Gwen memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Sahabatnya itu terlihat begitu cemas sekaligus kesal.
"Maaf, Gwen," sahut Dara seraya menghempaskan badannya ke atas sofa lusuh. Tidak seempuk dan selembut sofa di apartemen Nicholas tentu saja. Berapa apartemen yang dimiliki pemuda itu. Apartemen semalam jauh lebih mewah dibanding apartemen sebelumnya, saat Nicholas menculiknya pertama kali.
"Tas dan pakaianmu sudah aku bawa pulang."
Dara meringis. "Thank, Gwen," ucapnya seraya memeluk sahabatnya itu.
"Aku khawatir setengah mati. Tidak ada yang tahu ke mana kau pergi. Ada yang bilang kau pergi bersama salah seorang tamu pria. Apa benar?" Gwen menyipitkan mata menatap Dara.
Dara kembali meringis. "Nicholas menculikku."
Gwen membulatkan kedua mata beriris hazelnya. "Nicholas? Nicholas Johanssen? Dia ada di gala dinner semalam?" tanyanya.
Dara mengangguk seraya memijit tengkuknya. "Aku juga terkejut dia ada di sana."
"Ah, tentu saja. Dia kan berasal dari keluarga terpenting di Edinburgh," kikik Gwen. Tapi, yang lebih membuatnya tertarik adalah, alasan Dara pergi dengan pemuda konglomerat itu.
__ADS_1
Dara menceritakan semua yang terjadi, dari awal sampai akhir, tanpa ada yang tertinggal. Termasuk, ia yang melihat Braden berciuman dengan Alison di Leith Riverside, dan Nicholas yang menghiburnya dengan cara-cara aneh.
"Ya, ampun. Sepeduli itu Nicholas denganmu?"
Dara mengedikkan bahu. Pertanyaan yang sama. Tapi, Dara lebih merasa kalau Nicholas senang membullynya, daripada disebut dengan peduli.
"Apa dia menyukaimu?" Gwen mengetuk-ngetuk dagunya.
"Oh, tidak, tidak. Sepertinya ia hanya senang membully-ku. Mungkin dia pikir aku sasaran empuk."
"Dari yang kau ceritakan tentang sikapnya padamu, sepertinya dia memang peduli padamu."
Dara menggeleng keras. "Ayolah, Gwen. Kau tahu siapa Nicholas dan siapa aku. Dia bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau. Bahkan selebritis terkenal pun, kalau dia mau dia bisa mendapatkannya. Tidak masuk akal kalau dia peduli denganku."
"Hmm ...." Gwen mencebikkan bibir. "Mungkin dia bosan dan ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Ia bosan dengan wanita-wanita cantik kelas atas dan glamour. Mungkin dia ingin mencoba gadis sederhana sepertimu."
Dara menghembuskan napasnya. "Kalau memang niatnya seperti itu, aku pastikan dia tidak akan memiliki pengalaman apapun denganku!"
Gwen terkikik. Ia memperhatikan Dara dengan seksama. Wajahnya sembab dan matanya bengkak. Seperti yang sahabatnya itu ceritakan bahwa ia menangis hampir semalaman, di pelukan Nicholas.
"Ngomong-ngomong, aku turut sedih tentang Braden," ucap Gwen lirih. "Mau bagaimana lagi? Braden dan bosmu itu sudah bersama, bukan?"
Dara terdiam. Masih terasa perih jika mengingat hal itu. Ia meratapi perasaannya yang kandas begitu saja. Ia sungguh-sungguh menyukai pemuda itu.
"Sudahlah, Dara. Lebih baik kau dekati saja Nicholas," kekeh Gwen. "Bukankah dia jauh lebih segala-galanya dari Braden?"
"It's not gonna happen (Itu tidak akan terjadi)!" ucap Dara yakin. Tidak pernah terpikirkan olehnya memiliki kekasih seperti Nicholas. Sungguh mengerikan.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Dara. Apa yang kau hindari, bisa saja itu yang selalu mendekat padamu."
Dara memutar kedua bola matanya. "It's not gonna happen!" ulangnya masih dengan keyakinan yang sama.
Gwen terkikik. "Kita lihat saja nanti," cebiknya.
"Terserah saja. Nicholas is a Big No!"
It's a Big No. Pemuda itu menyebalkan, mesum, seenaknya sendiri, filter kata-katanya buruk, jahil, dan suka memaksa. Dara mencoba mengingat semua keburukan Nicholas tanpa mau tahu sisi baik pemuda itu, yang sempat membuatnya merasa, aneh.
__ADS_1
***