My Prince Of Edinburgh

My Prince Of Edinburgh
Bab 35. Dia Pacarku.


__ADS_3

"Gwen, ini terlalu tebal," protes Dara seraya memeriksa wajahnya di dalam cermin. Ia tidak biasa memakai riasan wajah. Menurut Gwen ini cukup natural. Tetapi, bagi Dara, ini sangat berlebihan.


"Gaunmu ini mahal, Dara. Kau harus menyesuaikannya dengan riasan wajahmu. Sudah jangan banyak protes. Ini sudah bagus." Gwen memberi sentuhan terakhir di pipi Dara. Memberinya warna pink samar agar pipi gadis itu terlihat merona.


"Kau yakin?" tanya Dara ragu-ragu.


"Absolutely."


Dara berdiri dan mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Gaun tanpa lengan berwarna salem yang membalut tubuh rampingnya membuatnya terlihat elegan. Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai. Gwen hanya merapikannya dengan alat pencatok rambut. Lalu, ia menunduk memeriksa sepatunya. Sepatu gaya vintage berwarna hitam tanpa hak tinggi miliknya yang jarang ia pakai, tampak manis di kakinya.


"Ah, Dara. Kau cantik sekali. Kau pasti akan membuat Nicholas terpukau," ujar Gwen seraya menangkup kedua pipi Dara.


Dara terbahak. "Apa aku sudah terlihat seperti gadis kaya?" tanyanya.


"Tidak diragukan lagi."


Terdengar suara pintu diketuk. Gwen terlonjak senang. "Pacarmu sudah datang menjemput," selorohnya.


"Dia bukan pacarku!" protes Dara seraya mengikuti Gwen keluar dari kamarnya.


"Aku akan masuk ke dalam kamarku. Aku tidak mau mengganggu momen kalian," kekeh Gwen seraya menghambur masuk ke dalam kamarnya.


Dara menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa tiba-tiba ia gugup akan bertemu Nicholas sebentar lagi. Rasanya ia ingin lari saja bersembunyi di dalam kamarnya.


Pintu kembali diketuk dengan keras, membuat Dara terkesiap. Pelan ia menekan handle dan membukanya. Nicholas berdiri di ambang pintu, terdiam menatapnya. Begitupun Dara. Entah siapa yang memukau siapa, yang jelas, Dara pun terpana melihat penampilan Nicholas.


Pemuda itu mengenakan setelan celana hitam dan kemeja warna coklat tua, lengkap dengan gasper yang melilit dari pinggang hingga kebelakang bahu. Lengan kemeja digulung hingga sebatas siku. Di salah satu pundaknya tersampir jas berwarna hitam.


"Wow!" ucap Nicholas terkagum-kagum melihat bidadari cantik di hadapannya. "Tha thu a’ coimhead cho breagha (Kau cantik sekali)," lanjutnya dalam bahasa Gaelic Skotlandia yang tidak dimengerti oleh Dara. Namun, Dara bisa menebak kalau Nicholas sedang memujinya.


Nicholas mengulurkan tangannya, memanti beberapa saat hingga gadis itu menyambutnya. Ia menggandeng tangan Dara dan berjalan menuju tangga. Ia melangkah turun terlebih dahulu dan layaknya seorang gentleman, ia memastikan Dara tidak terpeleset ataupun keseleo saat menuruni tangga.


Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Dara dan mempersilahkan gadis itu masuk. Setelah itu ia berjalan memutari mobil untuk masuk dari pintu satunya. Ia melajukan mobilnya pelan dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya.


"Nic ...," panggil Dara memecah keheningan.


"Yes?"

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan di pesta itu?" tanya Dara. Keraguan kembali menyerang dirinya. Yang datang ke pesta Alena pastilah anak-anak orang kaya, atau bahkan anak-anak orang penting di negara ini. Sedangkan dirinya, bukan siapa-siapa. Hanya gadis perantau yang kebetulan dipaksa oleh seorang pangeran untuk datang ke pesta itu.


"Makan, minum, bersenang-senang."


Dara mendesis. "Aku serius!"


"Aku juga serius."


Dara menghembuskan napasnya kasar. Nicholas memang sangat menyebalkan. Apa pemuda itu tidak tahu kalau dirinya sedang gugup dan khawatir. Terlebih lagi memikirkan bagaimana reaksi Alena nanti saat melihatnya datang bersama Nicholas.


"Apa kau tidak kasihan dengan gadis itu?" tanya Dara.


"Gadis siapa?"


Dara mendecak. "Yang mengundangmu ke pesta."


"Oh, Sturgeon," kekeh Nicholas. "Kenapa aku harus kasihan padanya?"


"Apa kau buta? Dia menyukaimu, Nicholas!"


"Hei, aku bukan tipe pria yang senang memberi harapan pada wanita. Kalau ada wanita yang suka padaku dan aku tidak suka, aku tidak akan pernah memberinya harapan. Jadi, kenapa aku mengajakmu, karena aku ingin dia tahu, kalau dia tidak punya kesempatan untuk menjadi pacarku."


Nicholas meloloskan tawanya. "Kau bukan sekedar alat, Dara. Kau calon pacarku."


Dara mendesis. Ia akui kepercayaan diri Nicholas sudah dievel dewa. Tetapi anehnya, ia tidak protes atas claim sepihak yang selalu dilakukan oleh Nicholas. Justru kali ini, ia merasa hatinya menghangat. Hingga tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipis.


***


Nicholas menepikan mobil di depan sebuah bangunan berbentuk kastil namun sepertinya itu adalah sebuah hotel. Ia mengajak Dara turun dan masuk ke lobi. Di sana, mereka disambut dua orang berpakaian pelayan yang mengarahkan mereka menuju ballroom tempat di mana pesta ulang tahun berlangsung.


Saat memasuki ballroom yang sudah dihias dengan berbagai ornamen pesta, hampir semua mata tertuju pada Nicholas dan Dara. Terlebih penampilan Dara malam itu mampu mencuri perhatian para pemuda dan membuat iri para wanita. Sederhana, tetapi sedap dipandang mata.


Beberapa orang saling berbisik. Antara kagum dan penasaran. Namun, bagi beberapa orang mahasiswa universitas Edinburgh yang datang, memandang remeh pada Dara. Pikir mereka, Dara adalah mainan baru Nicholas.


Alena belum terlihat di mana-mana. Namun, seorang gadis berambut pirang bergaun merah, menghampiri Nicholas dengan keningnya yang mengerut. Sementara Nicholas menyambut gadis itu dengan memutar bola mata.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Nicholas ketus.

__ADS_1


"Tentu saja Alena mengundangku, Bodoh!" sahut gadis itu seraya mengalihkan pandangnya pada Dara. "Siapa yang kau bawa ini, Nic?" tanyanya curiga.


Nicholas mendecak. "Dara, kenalkan, ini Alexandra, dia musuh bebuyutanku. Alexandra, kenalkan, ini Dara ... pacarku."


Dara tersenyum pada gadis itu dan mengulurkan tangannya. Ia tidak tahu siapa gadis bernama Alexandra itu, yang jelas, gadis itu sangatlah cantik bak putri kerajaan dalam negeri dongeng.


"Pacarmu?" Alexandra membulatkan kedua mata beriris birunya. "Kau serius?"


"Diam kau!" hardik Nicholas.


Alexandra mendelik. Ia lalu menarik lengan Nicholas dan membawa pemuda itu sedikit menjauhi Dara. "Pacarmu kau bilang?" tanyanya tak percaya.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Heh, Anak Bodoh! Alena mengundangmu karena dia ingin merayakan ulang tahunnya denganmu. Kenapa kau malah membawa mainanmu kemari?"


Nicholas mencengkeram lengan Alexandra erat, membuat gadis itu meringis kesakitan. "Dia bukan mainanku. Dia pacarku. Mengerti? Pa-car-ku!" tegasnya.


Alexandra menggeram. "Mama tidak akan menyukai ini. Dia ingin kau dekat dengan Alena. Bukan dengan ...." Alexandra melirik sekilas pada Dara yang berdiri memandang mereka dengan wajah heran.


"Nic, seriously?" ujar Alexandra tidak percaya. Sepertinya ia mampu mendeteksi asal usul gadis yang dibawa oleh adiknya. "Alena tidak boleh melihatmu bersama gadis itu," tegasnya.


"Hei! Kau jangan mengaturku, Alexandra!" Nicholas mendorong pelan bahu sang kakak, kemudian melangkah menghampiri Dara.


"Siapa dia, Nic?" tanya Dara curiga. "Kenapa kalian sepertinya bertengkar?"


"Haaah. Dia gadis paling menyebalkan yang pernah aku kenal. Jauh lebih menyebalkan darimu."


"Ish!" desis Dara sebal. "Apa dia mantan pacarmu?"


"Lebih bagus kalau dia itu mantan pacarku, jadi aku bisa membuangnya jauh-jauh. Sayangnya, dia adalah anak kedua ibuku," gerutu Nicholas.


"Ouh, dia kakakmu?"


Nicholas mengibaskan tangannya. Pada waktu bersamaan, Alena muncul di ruangan itu dalam balutan gaun biru yang indah. Semua orang menyambutnya bak ratu. Senyumnya ia umbar ke seluruh penjuru ruangan. Namun, matanya nanar mencari-cari keberadaan seseorang.


Saat gadis dengan tiara di kepalanya itu melihat sosok Nicholas, wajahnya berbinar. Ia segera mendekati pemuda itu. Namun, senyumnya menghilang saat menyadari bahwa Nicholas tidaklah sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2