
"Kenapa kita harus pergi ke tempat seperti ini?" tanya Dara seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Ruangan itu tidak terlalu luas, ada meja bar, sofa dan meja di sudut-sudut ruangan, lalu lantai dansa. Hanya segelintir orang saja yang sedang meliuk-liukkan badan mengikuti alunan musik jazz yang diputar.
"This is a little piece of heaven (Tempat ini adalah secuil surga)," kekeh Nicholas seraya melangkah ke salah satu sofa yang masih kosong.
"Kenapa tempat ini begitu tersembunyi?" tanya Dara. Untuk menuju tempat ini, Dara mengikuti Nicholas menelusuri gang-gang sempit.
"Karena tempat ini adalah berlian di dalam lumpur."
Dara mendesis. Dari tadi Nicholas menjawab pertanyaannya dengan kata-kata kiasan. Entah apa maksud pemuda itu.
"Ini tempat minum favoritku di Edinburgh," terang Nicholas seraya mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"Tempat minum favoritmu adalah bar kecil seperti ini? Kenapa?" tanya Dara tidak percaya.
Nicholas terkekeh. "Karena bar ini satu-satunya bar yang tidak dimiliki oleh keluargaku."
Mata Dara membulat. Artinya semua bar yang ada di Edinburgh adalah milik keluarga Johanssen. Dara menggeleng tidak percaya. Sekaya itu mereka. Belum lagi, bisnis-bisnis lain yang mereka miliki.
Dara ingat cerita Gwen. Keluarga Johanssen memiliki banyak hotel, restauran, amusement park, stasiun televisi, dan masih banyak lagi.
"Jadi seluruh Edinbugh milik keluargamu?" tanya Dara memastikan cerita Gwen adalah benar adanya.
Nicholas menuang cairan coklat ke gelasnya dan Dara. Setelah sebelumnya pelayan menyiapkan racikan bahan lain di dalam gelas.
"Hampir semuanya. Termasuk kampus kita," jawab Nicholas.
"Wow," gumam Dara takjub. Manusia menyebalkan ini sungguh beruntung, lahir di keluarga kaya raya, sehingga ia tidak perlu bersusah payah mengais-ngais rezeki seperti dirinya.
Nicholas mengedikkan bahu. "Kau pasti mengira aku sangat beruntung, ya?" tanyanya, seakan tahu isi kepala Dara.
"Kau benar. Aku sangat beruntung. Kecuali, saat aku harus menemani ibuku menghadiri acara-acara membosankan," gelak Nicholas.
"Acara membosankan yang tidak kau sukai itu masih jauh lebih baik dari pada bekerja paruh waktu untuk biaya hidup," sindir Dara. Ia sebal dengan pemuda yang tidak mau bersyukur itu.
"Ya, ya," sahut Nicholas asal. Ia memberikan gelas yang telah ia isi cairan coklat pada Dara.
"Apa ini memabukkan?" tanya Dara sambil memeriksa gelasnya.
"Tentu saja, Dara. Ini bukan minuman untuk balita. Grow up (Dewasalah)!"
Dara menghembuskan napasnya kasar. Ia belum pernah meminum minuman beralkohol. Bukan tidak mau, hanya saja, uangnya selalu pas-pasan. Untuk hidup saja ia keteteran, apalagi untuk membeli hal-hal yang tidak penting.
"Ini akan membuatmu melupakan rasa sakit hatimu, percayalah."
__ADS_1
"Untuk sesaat."
"Better than nothing, right (Lumayan, kan)?"
Dara memandangi gelasnya. Lalu dengan ragu-ragu ia meneguk isinya. "Aargh!" pekiknya. "It burns my throat (Minuman ini membakar tenggorokanku)," keluhnya.
Nicholas meloloskan tawanya. "Astaga! Kau belum pernah minum minuman seperti ini?"
Dara menggeleng. "Aku terlalu miskin," jawabnya.
Gadis ini jujur sekali, pikir Nicholas. Ia tersenyum memperhatikan gerak-gerik Dara yang canggung. Tapi, beberapa saat kemudian gadis itu sepertinya mulai terbiasa dengan minumannya.
"Kau benar. Aku merasa sedikit rileks," ucap Dara sambil mengangguk-angguk. Tubuhnya terasa ringan dan perasaannya sudah lebih baik.
"Berterimakasih lah padaku, Dara."
Dara tergelak. "Kau ini gila kehormatan, ya?" Ia menunjuk-nunjuk muka Nicholas.
"Sudah berapa kali aku menolongmu, dan kau tidak pernah mengucapkan terimakasih."
Dara meringis. "Baiklah, kali ini aku ucapkan terimakasih."
"Good girl," puji Nicholas seraya menepuk-nepuk pipi Dara.
Dara memperhatikan Nicholas yang sedang mengisi lagi gelasnya. Begitu ia menghabiskan cairan coklat itu, pemuda itu mengisinya lagi, dan lagi.
"Wohoooo!" teriak Dara di lantai dansa.
Ia berputar-putar, bergerak ke sana kemari mengikuti alunan musik yang terdengar menghentak-hentak. Gerakan tubuhnya tidak beraturan. Terkadang ia tidak sengaja menyenggol orang di sekitarnya dan menabrak punggung siapa saja.
Nicholas sesekali membantu gadis itu berdiri tegak, dan meminta maaf pada orang-orang di sekitar yang menjadi korban Dara. Tak jarang ia mencegah Dara agar tidak terjatuh.
"Hei!" panggil Dara pada Nicholas. "Ini menyenangkan sekali!" serunya.
"I'm happy for you!" seru Nicholas mengimbangi suara musik yang menghentak-hentak.
"Kau tidak mau menari, Nicholas?"
"Tidak. Kau saja. Aku di sini untuk memastikan kau tidak menginjak kaki seseorang," kekeh Nicholas.
"Aaah! Kau membosankan sekali," gerutu Dara. Tapi, seakan-akan ia memiliki dunianya sendiri, ia kembali memutar-mutar badannya.
"Aku akan menghabiskan minumanku sebentar. Kau jangan ke mana-mana, okay?"
Dara mengibaskan tangan. Ia tidak terlalu mendengar ucapan Nicholas. Ia hanya melihat pemuda itu berjalan menuju meja mereka.
__ADS_1
"Nona, mau menari bersamaku?"
Dara menoleh ke arah asal suara. Di sampingnya ada seorang pria sedang tersenyum padanya. Dilihat dari tampangnya, sepertinya ia berusia empat puluhan tahun.
"Oh, tidak, Sir. Terimakasih," tolak Dara.
"Ayolah, kalau kau mau menari denganku, aku akan membayarmu. Kalau kau mau menemaniku tidur, bayaranmu akan aku lebihkan." Si pria tidak menyerah. Ia membujuk Dara seraya menyentuh lengan gadis itu.
Dara terbelalak. Kata-kata pria itu membuatnya kesal. Apalagi ia menganggap dirinya seorang wanita penghibur.
"Kau salah orang, Sir. I'm not an escort (Aku bukan seorang wanita penghibur)!" tegas Dara. Ia berusaha berdiri tegak agar pria itu tidak macam-macam padanya.
Namun, pria itu justru semakin berani mendekatinya. Ia menyentuh bahu Dara dan menarik gadis itu ke arahnya.
"Hei! Jangan sentuh dia!" Nicholas menepis lengan pria itu, lalu mendorongnya menjauh.
"Dia bersamamu?" tanya pria itu memastikan.
"Pacarku!" jelas Nicholas.
"What?" Dara terkikik mendengar ucapan Nicholas. "You said I'm your what (Kau bilang aku apamu)?" Dara menekan-nekan dada Nicholas dengan jari telunjuknya.
Nicholas meraih lengan Dara dan membawa gadis itu keluar bar. Kalau tidak, pasti akan terjadi kegaduhan.
"Tunggu, Nic, kakiku pegal," ujar Dara seraya mendudukkan dirinya di pembatas jalan yang tingginya setengah meter.
"Mau aku gendong?" tawar Nicholas.
"Ah, tidak, tidak. Aku tidak sudi," gelak Dara.
Nicholas meraih lengan Dara kembali dan membawa gadis itu berjalan menelusuri gang-gang sempit hingga sampai di pinggir jalan raya.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Dara saat sebuah taksi berhenti di hadapan mereka.
"Ke apartemenku." Nicholas mendorong Dara masuk ke dalam taksi, kemudian ia menyusul gadis itu.
"Kenapa harus ke apartemenmu?" tanya Dara sambil terkekeh.
"Karena aku mau."
"Hhhhh! Kenapa, Nicholas?" tuntut Dara.
"Mmm ... karena kau mabuk."
Dara tergelak. "Siapa yang mabuk? Ada-ada saja. Kau bisa mengantarku pulang, bukan? Ah, sial, aku lupa tas dan pakaianku. Sepertinya aku meninggalkannya di suatu tempat," kikiknya.
__ADS_1
***