
adin tak kuasa menahan seruan hebohnya ketika melihat dua anak yang diketahuinya sebagai Pengurus mading sedang menempelkan Pengumuman.
Selembar Poster berukuran A4 itu sukses menarik Perhatian anak-anak yang lewatMimpi apa Naura semalam sampai direbutin dua cogan sekolah,mikian komentar teman seangkatan NauraSerius Kak Arkan nyalonin diri buat jadi Pangeran di drama itu,"angnya bisa ? Dia, kan, nggak Pernah senyum.di Penasaran "
" Ikutan Polling yuk, "
Siswa-siswi yang memadati mading langsung mengeluarkan Ponsel masing-masing untuk mengikuti Polling yang diadakan Panitia
berarti lo direbutin dua cogan sekolah, ya Jadi iri gue.”
" Apaan, sih, Nad.” Naura menepis tangan Nadin di dagunya dengan salah tingkah.
" Jadi lo berharap siapa yang jadi Pangeran, Ra,"
Naura menoleh karena Pertanyaan Fira Matanya kemudian menerawang. Ada satu nama yang diharapkan Naura hingga membuat senyumnya kini merekah malu-malu. Namun senyumnya tidak bertahan lama karena ketika matanya bertemu dengan sorot mata tajam dari Nadin dan Fira, ia buru-buru menciut
" Inget misi lo, Ra,” Nadin mengingatkan. Ia kemudian mengeluarkan Ponsel dari saku dan langsung meminta yang lain melakukan hal serupa.
" Buruan buka IG-nya OSIS Laskar Polling Pangeran udah dibuka dari Pagi.”
Nadin yang lebih dahulu membuka instastory akun Instagram OSIS Laskar Ia langsung terbahak begitu melihat tampilan foto Arkan di Polling itu
" Gue rasa anak OSIS kesusahan dapetin foto mukanya Kak Arkan Jadinya cuma berhasil nemuin gambar kakinya,"
Untuk beberapa saat mereka sibuk dengan Ponsel di genggaman masing-masing dan memberi suara untuk calon Pangeran di acara drama sekolah.
" Ketahuan Lo barusan milih Kak Kevin kan," Nadin memergoki Naura yang baru saja menekan nama Kevin di layar Ponselnya. Hal ini membuat Naura mati-matian membela diri
" Nggak Lo salah lihat Gue barusan tekan yang sebelah kiri,"
" Bohong Gue lihat sendiri tadi Lo emang Pengin Kak Kevin yang jadi Pangeran, kan, Ra ? Udah ngaku aja," desak Nadin.
" Nadin " Naura menggeram kesal sekaligus malu Wajahnya sudah semerah tomat Bagaimana tidak Akibat seruan nyaring Nadin kini semua mata teman sekelas kompak menatapnya sambil berbisik. Walau hanya ada segelintir orang Pada jam istirahat ini tetap saja Naura malu bukan main
Tanpa sepengetahuan mereka seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat Pintu kelas Naura mendengar Percakapan itu dengan hati Panas Orang itu mengeluarkan Ponsel dan mengetik Pesan yang langsung masuk ke Ponsel Naura beberapa detik kemudian.
__ADS_1
...0817xxxx...
...Ke taman belakang Sekarang...
Naura sudah menyiapkan hati untuk menerima omelan Arkan Sambil memeluk jaket yang warnanya sudah tidak lagi biru, Naura memberanikan diri melangkah menuju tempat yang disebutkan Arkan dalam chat beberapa menit lalu
Naura melihat Arkan sedang berbaring di kursi Panjang di bawah Pohon yang teduh. Sebelah tangan cowok itu digunakan sebagai alas, sedangkan yang sebelah lagi dibiarkan menimpa matanya yang terpejam.
Naura mendekat kemudian memberanikan diri untuk menginterupsi ketenangan cowok itu
" Kak " Panggil Naura takut takut
" Aku mau ngaku dosa "
Tangan cowok itu terangkat kemudian matanya terbuka dan langsung menatap Naura tajam.
Arkan mengubah Posisinya menjadi duduk. Kemudian, dengan suara datar ia menyuruh Naura untuk duduk di sebelahnya.
Beberapa detik berlalu dan Naura masih berdiri mematung di hadapan Arkan
Arkan tidak langsung menyambut jaket itu.
Emangnya siapa yang suruh lo ke sini bawa jaket gue ?
" Lo Nggak denger ? Gue suruh lo duduk,” kesal Arkan entah kepada siapa.
Naura menurut Ia duduk di ujung bangku Panjang itu sambil kembali memeluk jaket yang dibawanya
Arkan memberi isyarat dengan jarinya agar Naura duduk lebih merapat Naura menggeser duduknya sedikit Arkan menggerakkan jarinya lagi, dan Naura hanya mendekat beberapa sentimeter
Arkan dibuat kesal bukan main Akhirnya ia bangkit kemudian berdiri di hadapan Naura
" Lo Duduk di sebelah sana,” tunjuk Arkan ke sisi bangku yang baru saja ia tinggalkan.
Naura mengangkat kepala dengan bingung tetapi tetap menurut
Baru kemudian setelah Naura berpindah ke sisi bangku yang ditunjuk Arkan duduk tepat di sebelahnya Menghilangkan jarak dua jengkal yang beberapa waktu lalu sempat tercipta
__ADS_1
" Kak sebelah sana masih lega,” tunjuk Naura Pada sisi bangku yang kosong
" Di sana Panas Cuma bagian sini yang ketutup Pohon," alasan Arkan tak sepenuhnya salah
Arkan terus menatap Naura dalam jarak Pandang yang sangat dekat Sementara itu Naura menunduk menatap jaket di Pelukannya yang sebentar lagi akan menjadi sumber kemarahan Arkan kepadanya
" Gue mau tanya apa yang bakal lo lakuin sama sesuatu yang Paling lo sayang,"
Naura menoleh takut takut. Sepertinya ia menyadari ke arah mana Pertanyaan Arkan
" Aku bakal jaga sesuatu yang aku sayang itu Apa pun yang terjadi," jawab Naura masih sambil menunduk
Arkan tersenyum samar. " Sama Gue bakal jagain sesuatu yang gue sayang Apa pun yang terjadi.”
Ia mengatur napasnya yang mulai tidak terkendali karena debaran jantungnya saat ini. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Bila Naura masih tidak Peka dengan kode yang tersirat. Kali ini Arkan akan mencoba memberi kode yang lebih jelas. Sangat jelas. Namun, ia sadar harus tetap berhati hati agar Naura tidak menjauh akibat kata-katanya
" Karena gue ini gue say—”
" Kak maafin aku Aku beneran nggak sengaja." Naura memberanikan diri menatap Arkan. Ia kemudian membentangkan dengan lebar jaket di tangannya dan memperlihatkannya kepada Arkan
" Aku beneran Nggak ada maksud bikin jaket kesayangan Kakak jadi begini Aku tahu Kakak sayang banget sama jaket ini. Aku siap terima hukuman dari Kakak. Please, maafin aku.”
Mood Arkan rusak karena Naura terus mengungkit jaket yang bahkan sudah tidak dipedulikannya lagi
Suara ranting Pohon yang terinjak seketika membuat Arkan menoleh Samar-samar ia melihat sekelebat bayangan seseorang yang ia duga sudah mengamati dirinya dengan Naura sejak tadi
Arkan tidak berhasil menangkap jelas sosok itu
" Aku terlambat selametin jaket ini yang udah kecampur sama cucian lain Jadinya luntur begini.”
Naura masih belum berhenti menyebut kata jaket Hal ini tentu semakin membuat Arkan kesal
Arkan menarik kasar jaket tersebut. Ia kemudian melemparkannya ke atas tanah. Selanjutnya ia Pergi begitu saja meninggalkan Naura yang merasa sangat bersalah.
Naura merasa akan sangat sulit mendapat maaf dari Arkan Ia sudah merusak jaket kesayangannya
...•••••...
__ADS_1