
"Pak Rakan tidak apa-apa tidur di sana?" Melihat Rakana tengah berbaring di sofa bad yang ada di dalam ruangan inapnya membuat Rayna merasa kasihan, bos nya itu rela tidur tak nyaman karena mau menjaganya.
"Memangnya aku boleh tidur satu ranjang dengan mu di sana? Sepertinya enak tidur di atas ranjang." Goda Rakana dengan senyum nya seraya bangkit untuk mendekati Rayna yang kini terbaring nyaman di ranjang nya.
Rayna melototkan kedua matanya lalu menggeleng dengan cepat. "Jangan!" Cegah nya, seraya menggoyangkan tangannya sebagai sebuah larangan.
"Hemmm aku pikir boleh." Gumam Rakana santai. "Ya sudah aku tidur di sini saja kalau begitu, ini lumayan nyaman. Cepat tidur, sudah malam." Titah Rakana. "Atau mau aku dongengkan sebuah cerita terlebih dulu?" Tawar nya karena melihat Rayna belum memejamkan matanya.
"Tidak perlu pak, saya bukan anak TK." Tolak Rayna sebal. "Selamat malam pak, selamat istirahat." Rayna membalikkan tubuhnya membelakangi Rakana mencoba memejamkan matanya. Rakana tersenyum melihat punggung Rayna.
"Selamat malam, mimpi indah Rayna." Balas Rakana, ia pun mencoba memejamkan kedua matanya namun sulit, ia tak bisa tidur karena tak biasa tidur di tempat seperti itu.
Detik menjadi menit, dan menit menjadi jam.
Rakana membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, lalu bangun, duduk karena matanya tak mampu terpejam, ia melihat Rayna seperti nya sudah terlelap.
"Hah aku tidak bisa tidur." Gumamnya pelan. "Dingin sekali." Ia merasa tubuhnya kedinginan. Mengusap-usap kedua tangannya yang terasa dingin itu.
"Dasar asisten tidak peka, kenapa dia tidak membawakan ku selimut saat dia memberikan ku pakaian, awas saja besok kalau aku bertemu dengannya!" Kesal Rakana, ia memang lupa tidak menyuruh asistennya itu untuk membawakan nya sebuah selimut untuk nya, seharusnya asistennya itu peka. Pikir Rakana.
"Jika besok pagi aku jatuh sakit karena kedinginan, aku akan membiarkan dia bekerja sendiri." Gerutu Rakana dengan kesal.
Rayna membalikkan tubuhnya dengan mata terpejam. Awalnya Rakana terkejut namun ia malah memperhatikan Rayna yang tengah tertidur dengan nyaman menghadap padanya.
"Sedang tidur saja cantik." Puji Rakana memandang wajah Rayna. "Apalagi kalau..." Rakana menggeleng dengan pikirannya yang mulai nakal.
"Bersyukur sekali Rayna sudah tenang saat ini, mungkin kejadian yang ia alami tidak membuatnya trauma berat, aku akan berusaha untuk membuat Rayna melupakan kejadian itu." Tekad Rakana.
Memandang wajah cantik Rayna ketika tidur membuat Rakana tersenyum-senyum sendiri, tanpa sadar matanya pun menjadi lelah lalu ia pun tertidur dengan lelap.
Saat subuh tiba, Rayna merasakan sakit di bagian kemih karena merasa sudah sangat penuh, ia ingin sekali buang air kecil. Pertama kalinya yang ia lihat adalah sosok tampan yang berbaring di sofa bad dengan tenang dalam tidurnya.
Ia pun turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, takut membangunkan Rakana yang tengah terlelap itu.
Rayna melewati tempat dimana Rakana terbaring, Rakana sedikit terusik dan terlihat kedinginan karena lelaki itu tertidur seraya memeluk kedua tangannya di dadanya.
__ADS_1
Rayna kembali ke arah ranjang nya, membawa selimut yang tergulung di ranjang itu. Lalu memakaikan nya pada tubuh Rakana dengan sangat hati-hati.
"Kasihan sekali pak Rakan." Gumam Rayna, Rakana bergerak kecil dan terlihat nyaman saat selimut itu menghangatkan tubuhnya. Dengan tergesa dan membawa sebuah infusan di tangannya, Rayna langsung pergi ke dalam kamar mandi ia akan malu jika nantinya lelaki itu tiba-tiba terbangun ketika ia tengah memandang nya.
***
Keesokan paginya, Rayna sudah di perbolehkan pulang saat dokter memeriksa nya pagi itu. Rayna berterima kasih kepada dokter dan juga para perawat di sana.
"Ayo kita pulang." Suasana Rakana sangat cerah pagi ini, apalagi saat ia mengingat jika Rayna menyelimuti tubuhnya, ya walaupun ia tidak tahu kapan gadis itu menyelimutinya.
Rayna mengangguk, kini ia sudah mengganti pakaiannya yang sudah di siapkan Rakana tentunya. Karena pagi tadi seorang pelayan datang mengantarkan pakaian itu.
"Seharusnya pak Rakan tidak perlu mengantarkan saya pulang, saya bisa kok pulang sendiri." Ucap Rayna, mereka kini tengah berada di dalam mobil.
"Kamu masih tanggung jawab ku." Jawab Rakana, Rayna selalu saja merasa tidak enak padanya.
"Pak Rakan sudah lelah, semalaman ada di rumah sakit, nanti bapak malah sakit." Balas Rayna ia sedikit perhatian pada Rakana.
"Aku akan meminta mu untuk mengurus ku nantinya, karena kamu yang membuat ku sakit." Jawab Rakana dengan senyum jahil nya.
"Kok saya sih pak, kan saya dari kemarin suruh bapak pulang." Rayna sebal, tak terima jika di salahkan.
Deg...
Rayna berdehem malu, tanpa mau membalas godaan Rakana. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping kiri mobil, ia berpura-pura tidak mendengar dan tak mengerti ucapan Rakana.
Rakana tersenyum simpul, menatap sekilas wajah Rayna yang tiba-tiba terdiam.
"Terima kasih Ray." Ucap Rakana.
"Terima kasih untuk apa pak?" Canggung Rayna.
"Karena sudah menyelimuti ku. Aku sampai bangun kesiangan saking hangatnya." Ujar Rakana.
Ekhem... "Sama-sama pak." Balas Rayna pelan. Sudahlah ia sudah ketahuan! pikir Rayna.
__ADS_1
***
"Lho pak, ini bukan jalanan kosan saya." Kejut Rayna tersadar jika jalanan ini bukan arah tempat tinggal nya.
"Memang." Jawab Rakana santai seraya membelokkan mobilnya ke arah perumahan mewah.
"Lalu bapak mau bawa saya kemana?" Takut Rayna, ia mulai waspada, apalagi setelah kejadian kemarin.
"Ke rumahku, momi ku ingin bertemu dengan mu." Jelas Rakana.
"Ibu pak Rakan?" Tuntut Rayna. "Untuk apa pak?" Rayna mulai panik.
"Aku tidak tahu, mungkin saja untuk menikahkan kita." Canda Rakana dengan wajah datarnya.
"Pak jangan bercanda!" Sebal Rayna. "Aduh pak saya mau pulang saja." Pinta Rayna panik.
"Kenapa kamu takut begitu? Momi ku tidak akan memakan mu." Rakana terlihat sangat santai.
Ya tadi ibunya menelpon dan memintanya untuk membawa Rayna ke rumah nya, ntah kenapa dan untuk apa, tapi ibunya mengatakan jika ia merasa kasihan pada Rayna, karena gadis di samping itu masih membutuhkan pendampingan.
"Ayo turun. Kita sudah sampai." Ucap Rakana, mobil sudah berhenti di depan rumah yang begitu mewah.
"Tapi pak." Ragu Rayna ia mencekal lengan Rakana saat akan turun dari dalam mobil.
Rakana menghentikan gerakannya, ia menangkup tangan lembut Rayna yang berada di lengannya.
"Tidak apa-apa, momi hanya ingin memiliki teman, kamu cukup menemaninya dan mendengarkan cerita nya." Ucap Rakana menenangkan Rayna, ia berkilah supaya Rayna tidak merasa takut.
"Baiklah." Pasrah Rayna.
Rakana tersenyum. "Jangan tegang, santai saja."
Rakana pun turun, Rayna pun mengikuti Rakana dari belakang tubuh lelaki itu, ketika mereka berjalan menuju rumah besar di depannya.
"Deg-degan seperti mau bertemu dengan camer saja." Gumam Rayna pelan. Hatinya tiba-tiba saja berdebar-debar.
__ADS_1
Rakana tersenyum saat mendengar gumaman Rayna, lalu tubuh nya berbalik menatap Rayna yang ada di depannya. "Aamiin." Ucapnya.
"Aamiin untuk apa pak?" Tanya Rayna polos ia tak mengerti maksud Rakana itu. Rakana hanya tersenyum saja sebagai jawaban akan kebingungan Rayna.