My Secret Admirer

My Secret Admirer
PART 28 Hangat


__ADS_3

selalu diawasinya dari kejauhan. Arkan hanya bisa menghela napas Panjang tiap kali menyadari bahwa dirinya kembali seperti dahulu, hanya bisa memandangi NauraCobain ini yuk " Seseorang mendekatkan sebuah kemeja kotak kotak yang masih berada di gantungan ke arah Arkan. " Lucu warnanya merah gini. Ada dua ukuran Buat cowok sama buat cewek,” katanya menyimpan kembali ponsel ke saku celana jinsnya. Ditatapnya Cherry yang masih menunggu ia menyambut kemeja dari tangannya.


Pikiran Arkan saat ini. Tentang bagaimana caranya keluar dari Perjodohan yang direncanakan Papanya tanpa menyakiti Naura sedikit Pun. Dan, sepertinya Arkan tahu harus memulai dari mana.


Papanya mengatakan mulai hari ini Naura akan tinggal bersama mama kandungnya. Luna bahkan baru mengetahui ceritanya Pagi tadi, bahwa Naura telah menemukan mama kandungnya tidak Pernah membayangkan akan berjauhan dengan Mira datang ke rumah bersama bocah kecil sekitar satu jam lalu, Luna enggan keluar dari kamar. Yang dilakukannya hanya menangis sedih Naura menengok ke kamar beberapa kali untuk membujuknya. Namun, hal itu justru membuat Luna menangis semakin nyarinr suara koper yang ditarik Luna buru buru beranjak ke luar kamar kemudian langsung mencegah bocah kecil setinggi dadanya membawa koper Salsaengambil gagang koper dari tangan Ken, yang terkejut, berusaha menarik kembali gagang koper itu. Namun, Luna enggan melepasnyaiih, kata Mama, Kak Naura jadi kakaknya Ken mulai sekarang Jadi, dia tinggal sama Ken. Nggak Kak Naura itu kakaknya Luna," Luna masih tidak mau mengalah. Gadis kelas VI SD itu masih sulit menerima kenyataan bahwa Naura mempunyai adik selain dirinyasin," Ken sama keras kepalanya seperti Luna. Dengan jari-jari mungilnya, ia berusaha melepaskan tangan Luna dari kopemaupun Luna tidak ada yang mau mengalah. Aksi keduanya baru terhenti ketika ada campur tangan orang ketiga.


" Sudah Ken, lepasin dulu.” Mira, yang baru muncul dari dalam rumah menuntun tangan Ken untuk melepaskan koper yang sejak tadi diperebutkan.


Sedangkan Naura yang masih duduk di sofa dekat sana berusaha keras menahan tangisnya sendiri sejak tadi. Melihat Pemandangan itu sungguh membuatnya senang sekaligus sedih Senang karena rupanya kehadiran ia diinginkan kedua adiknya. Namun, juga sedih karena Naura hanya diperbolehkan memilih satu di antara Luna atau Ken untuk tinggal bersamanya.


" Kata Mama kita ke sini mau jemput kakaknya Ken," rengek Ken hampir menangis karena tidak terima dipaksa mengalah memperebutkan koper tadi.


" iya, Sayang. Tapi, Nggak sekarang.” Mira berjongkok sambil memegang kedua bahu kecil Ken. " Biarin kakakmu lebih lama lagi di sini, ya. Nanti baru kita Pulang sama-sama.” Tangannya bergerak menyisir rambut hitam Ken.


Beruntung Ken tidak lagi memberontak walau keningnya yang berkerut jelas menandakan bahwa ia sedang menahan kesal.


Martin ikut bergabung di ruang depan setelah gagal membujuk Maria untuk turut serta mengantar Naura. Martin membuang napas berat berkali-kali kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan Naura


" Pa, Mama mana " tanya Naura setelah sekilas menyeka sudut matanya yang berair. Matanya menoleh ke arah dapur karena sejak tadi ia mendengar suara keran air dari tempat Pencucian.


" Tunggu sebentar lagi. Mamamu hampir selesai cuci Piring. Nanti dia Pasti ke sini,” ujar Martin, mencoba menenangkan. Walau ia sendiri tidak yakin dengan kata katanya.


Naura bisa membaca semua dari raut wajah Martin. Bahwa, Maria tidak mau mengantar kepergiannya dari rumah ini. Naura sudah berusaha keras mencoba berpikir Positif bahwa Maria tetap menginginkannya tinggal di rumah ini. Namun, harapannya itu seolah sirna ketika ia menoleh sekali lagi ke arah Pintu. Ia melihat Luna memeluk erat koper merah yang sudah disiapkan Maria untuk kepindahannya hari ini.


Maria yang memasukkan semua Pakaian Naura ke koper itu semalam kemudian memastikan tidak ada satu pun benda milik Naura yang tertinggal


Ma, Mama benar-benar mau aku Pergi dari rumah ini ?


Naura bangkit berdiri. " Biar aku aja yang temuin Mama, Pa,” ucap Naura sebelum akhirnya melangkah ke dapur


Suara cegahan Papanya tidak ia tanggapi. Martin hanya khawatir Naura akan terkena luapan kemarahan Maria yang salah sasaran. Seharusnya Maria marah kepadanya, bukan Naura


Setiba di dapur Naura tidak langsung menghampiri mamanya. Selama satu menit Pertama Naura hanya berdiri di samping lemari Pendingin sambil menatap Punggung Maria yang bergerak naik turun tidak teratur


Entah mengapa melihat Mamanya sibuk membilas sebuah cangkir sejak tadi membuat Naura merasa sedih Jelas jelas sudah tidak ada Perkakas kotor di wastafel. Maria hanya sengaja menyibukkan diri sendiri.


Naura sungguh tidak tega melihat Pemandangan itu. Ia sungguh ingin Maria mengungkapkan apa yang dirasakannya. Bukan mendiamkannya begini.


Naura sudah tidak tahan lagi. Ia bergerak, berjalan cepat menghampiri mamanya, kemudian memeluk tubuh itu dari belakang. Didekapnya erat-erat Punggung yang baru disadari Naura begitu hangat. Sama sekali tidak dingin seperti disangkanya dahulu. Betapa Salsa sangat ingin memeluk mamanya sejak lama, tetapi tidak Pernah ada keberanian. Dan sekarang, Naura takut tidak Punya kesempatan lagi untuk memeluk Mamanya.

__ADS_1


" Mama Nggak mau cegah aku Pergi," Tangis Naura sudah tidak bisa dibendung ketika mengucap kalimat itu. Sungguh ia berharap Maria mencegahnya Pergi. " Aku Nggak akan Pergi kalau Mama cegah aku.”


Naura bisa merasakan tubuh yang dipeluknya kini menegang, tidak bergerak. Maria tidak lagi menyibukkan diri membilas cangkir bersih. Bahkan Salsa bisa merasakan tubuh itu ikut berguncang saat Salsa kesulitan mengatur isak tangisnya.


Maria membiarkan Naura menangis di balik Punggungnya. Keran air sudah dimatikan. Kini hanya suara tangis Salsa yang terdengar memenuhi ruang dapur.


Naura masih yakin bahwa Maria sesungguhnya sangat menyayanginya Maria menunjukkan rasa sayang dengan caranya sendiri. Seperti yang diceritakan Papanya semalam.


" Papa lihat sendiri Mama minum teh hangat buatan kamu waktu itu.”


Kalimat dari Papanya itu mampu meruntuhkan keraguan Naura akan kasih sayang Mama kepadanya selama ini.


Naura juga yakin Maria lah yang menyelimutinya ketika ia tertidur di meja belajar karena kelelahan menunggu chat dari Miracle. Karena Salsa menemukan dirinya terjatuh di lantai dengan selimut di badan ketika Luna membangunkannya Pada Pagi hari.


Bila saja Naura lebih Peka sedikit, tentu banyak Perhatian kecil dari Maria yang seharusnya bisa dirasakan sejak awal Seperti Piring yang selalu disediakan untuknya di meja makan setiap kali sarapan. Apabila selama ini tidak Pernah menganggapnya ada seharusnya Maria hanya menyiapkan Piring Luna setiap Pagi. Namun, justru selalu ada tiga Piring di meja makan dan empat ketika Papanya sedang di rumah.


Naura hampir melewatkan semua Perhatian tersebut. Ia terlalu larut akan Perasaan diasingkan. Padahal, dirinya sendiri tidak menyadari hal hal kecil yang dilakukan mamanya sebagai bentuk Perhatian.


Tubuh di Pelukan Naura semakin berguncang hebat. Kedua tangan Maria kini menyentuh sisi sisi wastafel untuk menumpu tubuhnya sendiri seolah berat menahan Naura yang bersandar di Punggungnya.


Masih ragu Naura tidak yakin guncangan itu berasal dari Maria. Apa Mamanya juga menangis saat ini Ataukah, guncangan itu hanya karena


isak tangis Naura yang semakin tidak terkendali


" Naura kamu harus tahu bahwa bukan Papa yang mencoba mempertemukanmu dengan mama kandungmu Semua ini rencana mamamu.”


Naura bahkan hampir tidak kuasa mendengarnya. Namun, ia juga Penasaran.


" Papa Nggak Pernah sekali Pun berniat untuk cari tahu keberadaan Mira Bahkan, Papa berniat menyembunyikan identitas Mama kandungmu selama yang Papa bisa. Tapi, rupanya mamamu diam-diam mencari tahu sendiri.”


Martin mengurut keningnya yang berkerut. Tubuhnya yang lelah bersandar di kursi. Dipejamkan sejenak matanya sebelum ia melanjutkan cerita kembali.


" Entah bagaimana caranya Mamamu bisa dapat kontak Mira. Mamamu mengirim Pesan kepada Mira. Dia cerita semua tentang kamu. Tentang keberadaan kamu saat ini, dan niatnya untuk mempertemukan Mira sama kamu.”


Naura mendengar semua dalam diam Entah harus bagaimana ia mengartikan sikap tulus mama angkatnya selama ini.


" Hari itu Papa memang sengaja ambil cuti beberapa hari karena janji ketemu kamu dengan mengaku sebagai Miracle. Kebetulan hari itu bersamaan dengan hari saat Mamamu berjanji akan membawa Mira ketemu kamu.”


Kemudian Papa melanjutkan ceritanya. Ia sudah mencurigai gerak-gerik mamanya hari itu, lalu memutuskan untuk membuntutinya.

__ADS_1


Martin sangat terkejut ketika melihat Mira datang ke tempat Maria mengajar Mereka terlihat mengobrol bersama Martin segera menemui mereka untuk menghindari kesalahpahaman. Martin mengira tujuan


Maria mencari tahu keberadaan Mira hanya untuk memastikan ia masih menjalin hubungan dengan wanita itu atau tidak. Padahal Martin sama sekali tidak ada niat untuk mencari tahu keberadaan Mira.


Akan tetapi, bergabungnya Martin ke tengah Perbincangan Penuh gejolak itu rupanya berdampak buruk bagi Maria Tubuh wanita itu malah ambruk Mungkin ia terlalu lelah memikirkan cara untuk mempertemukan Naura dengan mama kandungnya.


Kini Naura mengerti bentuk Perhatian seperti apa yang Mama Maria Punya Dingin di luar, tetapi hangat di dalam hati. Dan Naura bisa merasakannya sekarang.


" Ma Naura sayang banget sama Mama.” Entah bagaimana cara mengungkapkan rasa sayangnya kepada seseorang yang ada dalam Pelukannya saat ini.


" Makasih, Ma "


Sungguh Perasaan Naura menghangat ketika mengingat kembali Perkataan dua siswi SMP yang menjenguk Maria di klinik beberapa waktu lalu.


Naura menunggu mereka hingga keluar dari ruang rawat mamanya. Ia sempat mengingat ingat kembali nama mereka Tasya dan Ema.


Naura Penasaran tentang cerita mamanya kepada mereka mengenai dirinya. Dan, cerita yang dilontarkan keduanya sungguh membuat Naura tersedu.


" Bu Maria Pernah cerita kalau beliau Punya Putri angkat yang sangat cantik dan baik hati, namanya Naura,"


Naura menutup mulut dengan kedua tangannya menahan haru yang tiba-tiba dirasakan.


" iya Bu Maria cerita, walau Kakak itu anak angkat, tapi rasa sayang Kakak buat anak kandungnya tulus banget Kakak sayang banget sama Luna seperti adik kandung sendiri.”


Mata Naura sudah berkaca-kaca Ia tidak Pernah menyangka Maria membanggakan dirinya di depan orang lain.


Naura mempererat Pelukannya saat ini Kepalanya bersandar di Punggung Maria yang terasa sangat hangat


" Jangan Pergi "


Suara bernada Pelan itu membuat Naura sedikit melonggarkan Pelukannya. Ia mendongak untuk memastikan tidak salah mendengar


" Ma ... "


Tangan Maria kini bergerak menyentuh tangan Naura yang masih melingkar di Perutnya.


“ Jangan Pergi Mama mau kamu tetap di sini."


Tubuh itu berguncang kembali Naura yakin guncangan kali ini berasal dari tubuh mamanya. Tangan Maria semakin menggenggam erat tangan Naura

__ADS_1


Benarkah Maria menangis ? Menangisi Naura yang akan Pergi dari rumah ini


...•••••...


__ADS_2