
" Mama mau kamu tinggal sama Mama Kita bisa mulai buat kenangan sama-sama Mama kehilangan banyak momen waktu kamu kecil Sekarang Mama nggak mau kehilangan momen kamu dewasa Mama sayang kamu Naura,"
Naura memejamkan mata lelah. Bukan hanya ucapan Mira kemarin yang menyita Perhatiannya melainkan juga fakta yang baru diketahuinya dari Martin.
" Maafin Papa Papa Nggak berniat menutupi ini semua dari kamu Papa Pikir ini yang terbaik buat kamu Naura Papa bisa jelaskan semuanya kalau memang kamu mau tahu yang sebenarnya terjadi saat itu."
Naura terlalu terpukul kemarin Batinnya terguncang hebat karena tak kuasa menahan kejutan-kejutan dalam hidupnya. Harusnya ia menahan diri untuk tidak Pergi saat itu. Biar bagaimanapun ia ingin mengetahui semua cerita tentang dirinya, juga orang tua kandungnya.
Malam nanti ia akan meminta papanya menceritakan semuanya. Dan Naura akan menyiapkan diri mendengar semua, walau mungkin akan sangat menyakitkan untuk dirinya
" Jadi kapan mama kandungmu mengajak kamu tinggal sama dia,"
Rasanya tidak Cukup Naura menangis semalaman dikamarnya kemarin Melihat kondisinya yang kacau semalam, Luna mengira Naura menangis karena Maria sempat Pingsan siang harinya. Luna belum tahu semua hal yang mengejutkan ini.
Di satu sisi Naura tidak ingin kehilangan Luna. Ia menyayangi gadis itu seperti adik kandungnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan reaksi Luna bila situasi mengharuskannya Pergi dari rumah.
" Minum dulu Ra Biar agak tenang.”
Naura membuka mata. Ia melihat Nadin meletakkan segelas teh hangat di meja tepat di hadapannya, kemudian bergabung duduk di kantin siang itu Fira menyusul membawa es kelapa dan duduk di depan Naura
Melihat minuman-minuman itu Naura jadi teringat bahwa hari ini ia belum mendapat susu cokelat dari Arkan Cowok itu tidak datang ke kelasnya Pagi tadi. Tidak ada chat atau telepon dari Blebug-Blebug sejak kemarin
Awalnya Naura tidak begitu menganggap chat dan telepon dari Galen sebagai sesuatu yang Perlu dinantikan. Namun, ia baru merasakannya sekarang. Chat yang awalnya ia anggap tidak terlalu Penting, juga Percakapan singkat tiap malam karena Arkan ingin mendengar suaranya sebelum tidur mulai menjadi bagian hidupnya.
Kini Naura merasa kehilangan semua Perhatian kecil itu. Ada apa dengan Arkan Apa dia sakit ? Mungkin tidak ada salahnya bila Naura yang menghubungi atau menyapa lebih dahulu Karena Arkan adalah kekasihnya.
Naura meraih Ponselnya Namun sebelum ia menemukan kontak Naura Pertanyaan yang dilontarkan Fira membuat gerakan tangannya melemah Naura meletakkan kembali Ponselnya ke atas meja kantin.
" Gimana kondisi nyokap lo ? Udah lebih baik,"
Naura mengangguk kecil. Ia belum siap untuk bercerita lebih detail kepada siapa Pun.
" Lo Udah ketemu sama Miracle Lo ? Dia Nggak lupa sama janjinya buat ketemu lo kemarin, kan," Kali ini Nadin yang bertanya.
Naura menghela napas berat mendengar Pertanyaan itu kemudian menggeleng
" Dia Nggak muncul "
" Masa sih ? Bukannya kata lo Miracle itu Nggak Pernah main-main sama ucapannya ? Harusnya dia nggak akan bikin janji Palsu.” Fira berpendapat
" Ngomong-ngomong gue curiga deh sama murid baru kelas sebelah itu Yang negur lo kemarin Siapa namanya," Nadin mengetuk ngetuk
keningnya dengan jari telunjuk demi mengingat sebuah nama yang sempat disebut Naura
" Yang mirip nama cairan Pembersih kuku itu, loh.”
" Aseton " sebut Fira sedikit ragu
" Seingat gue namanya mirip nama hotel deh." Ia ikut berpikir
" Aston " ucap Naura Ia tidak dalam mood yang baik untuk bercanda
" iya-iya Itu maksud gue,” seru Nadin heboh
" Gue curiga kalau dia itu Miracle lo, Ra Kata lo, Aston teman kecil Lo, kan ? Jadi menurut gue, dia satu satunya orang yang Punya kan Paling besar yang Patut kita curigai sebagai Miracle.”
Naura mulai berpikir Benarkah ? Asep ada hubungannya dengan Miracle Asep yang waktu kecil dianggapnya musuh karena sering membuatnya menangis adalah Miracle ? Yang benar saja. Bila memang benar, apa alasan masuk akal yang membuat Asep membantunya selama ini ?
" Bisa jadi Naura ” Fira ikut berpendapat
" Kalau dipikir-pikir Kenapa juga Aston tiba-tiba Pindah ke sekolah ini Padahal belum Pergantian semester ? Dan, yang lebih bikin gue curiga, dia muncul tepat Pada hari Miracle seharusnya muncul.”
Kepala Naura rasanya akan meledak sebentar lagi. Bagaimana bisa saat Pikirannya belum tenang karena berbagai kejutan kemarin Nadin dan Fira sudah tega menambah beban Pikirannya.
Akan tetapi, bila dipikir-pikir dugaan Nadin dan Fira cukup masuk akal. Apa Miracle Pula yang mengupayakan Naura bertemu dengan ibu kandungnya kemarin ? Apakah benar Aston itu Miracle nya ?
" Naura tuh Aston Kebetulan banget," ucap Nadin sambil menyikut Naura di sebelahnya dan memberi kode agar Naura melihat ke arah matanya tertuju
Naura dan Fira menoleh ke Aston yang sedang membuka lemari Pendingin untuk memilih minuman.
" Kebetulan Naura Coba sekarang lo kirim chat ke Miracle. Kita lihat sama-sama, Pesan lo masuk ke handphone Aston atau Nggak," usul Fira yang segera didukung Nadin
" Percuma Miracle belum baca chat gue sejak dua hari lalu."
" Nggak ada salahnya dicoba, Naura,” desak Fira meyakinkan.
Dengan ragu Naura meraih Ponselnya kembali dan membuka ruang obrolannya dengan Miracle. Seperti dikatakan tadi, Pesannya dua hari lalu masih belum dibaca.
Naura mengetik Pesan baru
...anastasyaNaura...
...Sudah Lewat 1 hari tapi kamu belum muncul juga...
Sent
Naura menunggu beberapa saat kemudian read ! Naura hampir tidak memercayainya. Apalagi ketika merasakan tangan Nadin mengguncang tubuhnya sambil berseru heboh
" Naura dia langsung ambil handphone dari sakunya Udah Pasti Aston itu Miracle lo.”
Naura ikut menoleh ke Aston yang masih berdiri di tempat tadi. Benar yang dikatakan Nadin, Aston memegang Ponsel dan tampak seperti sedang mengecek Pesan yang baru masuk.
Beberapa detik kemudian Pandangan mereka bertemu. Aston langsung dapat menemukan Naura di tengah ramainya kantin siang ini. Ia tersenyum sementara Naura semakin bingung. Apa arti senyuman itu ?
...••••...
Gerakan Fira tak kalah heboh dari Nadin ketika melihat Aston berjalan menuju tempat mereka sambil membawa sekaleng susu putih.
" Dia mau samperin Lo Naura," Fira langsung bangkit berdiri, kemudian mengajak Nadin untuk beranjak dari sana.
" Semangat, ya Naura Kita Nggak mau ganggu.”
Naura bingung harus merespons seperti apa. Belum sempat ia mencegah kepergian Nadin dan Fira Aston sudah tiba di hadapannya
Aston meletakkan sekaleng susu cap beruang di meja, lantas menggesernya mendekati Naura. Naura memperhatikan dengan kening berkerut.
" ini gue cicil gantiin susu yang sering gue rebut dari lo waktu kecil." Aston terkekeh di akhir kalimatnya.
Masih kebingungan Naura kini menatap Punggung Aston yang menjauh. Ia baru tersadar dan berupaya menyusul setelah Posisi Aston cukup jauh
Dengan susu kaleng di tangan Naura berusaha menyusul Aston. Namun matanya tiba-tiba saja bertemu dengan sepasang mata dingin milik Arkan Rupanya cowok itu memperhatikannya dari jauh entah sejak kapan
Naura jelas dapat melihat ketidaksukaan dari tatapan mata Arkan Langkahnya terhenti. Ia tidak lagi berupaya menyusul Aston, tetapi berbalik arah untuk menyusul Arkan yang baru bergerak dan menghilang di balik Pintu kantin
Sepertinya Arkan salah Paham melihat Naura menerima susu kaleng Pemberian Aston. Naura Perlu meluruskan kesalahpahaman ini. Ia tidak mau Arkan marah kepadanya
Di luar kantin Naura mempercepat larinya untuk mengejar Arkan
" Kak Arkan jangan salah Paham Cowok yang tadi itu teman masa kecilku Dia baru Pindah ke sekolah ini kemarin Tadi dia cuma mau .... "
" Kita akhiri aja "
Langkah Naura terhenti untuk beberapa saat. Ia mengira salah mendengar gumaman Pelan Arkan
Menyadari dirinya tertinggal cukup jauh Naura kembali berlari. Kali ini langsung mengadang langkah Arkan
__ADS_1
" Kak, Kakak jangan cemburu. Dia beneran cuma teman kecilku Tadi dia cuma mau kasih susu ini sebagai gant ...." Suara Naura kembali tertelan akibat Perkataan Arkan
" Lo Nggak dengar tadi gue bilang apa Kita Putus," tegasnya.
" Kak " Naura masih tidak Percaya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Arkan Mereka belum lama jadian, tapi Arkan sudah memutuskannya.
" Bukannya Kakak yang bilang Nggak boleh minta Putus,"
" iya " Arkan menyahut cepat.
" Lo Nggak boleh minta Putus dari gue Tapi, gue boleh,"
Mata Naura sudah berkaca-kaca Tidak menyangka begitu banyak kejutan menyakitkan yang diterimanya sejak kemarin.
" Dan Mulai sekarang gue mau Putus dari Lo," ucap Arkan tanpa sedetik pun mengalihkan tatapan dari Naura
" Tapi, kenapa, Kak " Kini sebutir air mata jatuh membasahi Pipinya membuat Arkan mati-matian menahan diri agar tangannya tidak bergerak untuk menghapusnya.
" Kita Nggak bisa sama-sama Naura Karena, kita sepupuan." Arkan mengerang marah dalam hati. Ia terpaksa menggunakan alasan itu agar Naura mau menjauhinya. Karena Arkan tahu bahwa Naura mengira Arkan anak kandung Papanya Roy.
" Maksudnya " Naura masih butuh Penjelasan.
" Lo anak kandung tante gue Tante Mira Lo kakaknya Ken Naura Kita sepupuan.” Arkan mengucapkannya dengan berapi-api. Ia marah dengan keputusan yang diambilnya. Namun, ini demi Naura. Ia tidak ingin Naura bersedih karena dipisahkan kembali dari ibu kandungnya.
Naura menggeleng tidak Percaya. Ia baru menyadari bahwa Mira itu mamanya Ken, adik sepupu Arkan Pantas saja ia merasa seperti Pernah bertemu dengan wanita tersebut Rupanya Mira adalah wanita yang sama yang Naura lihat di pentas seni sekolah beberapa waktu lalu, yang membantu Ken mengenakan semua Properti drama.
Jadi, dia dan Arkan sepupu
Mengapa keadaan berkehendak seperti ini saat Naura mulai membuka hatinya untuk Arkan ?
" Makanya, kan, Ken anteng banget digendong sama lo waktu kalian baru Pertama ketemu. Padahal, Ken Paling susah akrab sama orang baru."
Naura mendengarkan dengan perasaan terpukul.
" Harusnya gue udah curiga ngelihat ciri-ciri wajah lo mirip sama Ken.”
...•••••...
Naura tidak menyangka semua akan jadi begini. Dipertemukan dengan Mama kandungnya justru membuat ia harus kehilangan orang terdekatnya satu Persatu. Siang tadi ia harus rela ketika Arkan meminta Putus darinya karena mereka ternyata sepupu. Lalu apa ia juga harus kehilangan keluarga yang telah mengasuhnya selama ini Mama Maria, Papa Martin, dan Luna
Naura berharap Miracle datang pada saat seperti ini. Menghiburnya dan membantunya melewati semua Permasalahan.
Sambil menyeka sudut matanya Naura meraih Ponsel di meja belajar kamarnya, kemudian duduk di kursi Dibukanya ruang obrolannya dengan Miracle. Ia harus memperjelas semuanya.
Naura mengirim Pesan untuk Miracle
...anastasyaNaura...
...Kamu bohong Kamu Nggak muncul kemarin...
Naura kembali meletakkan Ponsel di meja belajar setelah cukup lama menunggu tapi tidak ada tanggapan Miracle tidak lagi membaca Pesannya secepat yang ia harapkan
Sekarang apa yang harus Naura lakukan ? Menyalahkan Miracle atas semua yang terjadi atau justru berterima kasih atas semua kejutan dalam hidupnya
Drrtttttt
Getaran singkat itu membuat Naura buru-buru meraih Ponselnya. Ada Pesan baru dari Miracle. Miracle Kita sudah bertemu kemarin, bahkan hari ini. Mata Naura membulat tak Percaya. Benarkah mereka sudah bertemu? Kemarin dan hari ini ? Itu artinya Miracle ada di sekitarnya ? Namun, siapa ? Naura segera mengirim Pesan balasan
...anastasyaNaura...
...Kamu siapa...
...anastasyaNaura...
...Kasih tahu aku kamu siapa...
Ada satu orang lagi yang tidak boleh dilewatkan Naura juga bertemu Aston kemarin dan hari ini
Jadi siapa Miracle sebenarnya ?
Sudah lebih dari setengah jam, tetapi Miracle belum juga membaca apalagi membalas Pesannya.
Naura memutuskan untuk meneleponnya. Bila diingat ingat, ini kali Pertama Naura memberanikan diri untuk menelepon Miracle. Sebelumnya ia tidak Pernah berani entah karena apa. Namun sekarang Naura merasa Perlu memperjelas semuanya.
Nada sambung yang monoton terdengar berkali-kali di ujung Ponsel Naura la masih merapatkan Ponsel ke telinga sambil berjalan ke luar kamar menuju dapur. Mendadak tenggorokannya kering dan ia butuh segelas air
Naura melangkah menuju kitchen set mengambil gelas kosong kemudian meletakkannya ke tempat untuk mengambil air di dispenser
Belum juga Naura menarik water tap berwarna biru di dispenser suara getaran di dekatnya terdengar menarik Perhatian Naura menoleh
Ponselnya masih rapat di telinga Kemudian ia terkejut bukan main ketika menyadari getaran yang didengarnya berasal dari Ponsel yang tergeletak di meja makan
Naura hampir tidak memercayainya. Ia berjalan semakin dekat untuk memastikan kecurigaannya. Dan, kini semua semakin jelas. Naura bisa melihat namanya muncul di layar Ponsel yang bergetar itu. Ditambah lagi foto wajahnya yang ia gunakan sebagai Profil LINE terpampang jelas di sana
Jadi Miracle nya selama ini ada di rumah ini Dan Naura sangat mengenali Ponsel berwarna coral blue itu
Ponsel itu milik
Sebuah tangan muncul dari balik Punggung Naura dan mengambil Ponsel yang bergetar di atas meja makan Naura sampai menahan napas ketika menoleh untuk melihat Pemilik tangan tersebut. Tangannya yang sejak tadi merapatkan Ponsel ke telinga kini terkulai di sisi tubuhnya yang menegang.
" Papa "
Ponsel itu milik Papa Martin
" Papa " ulang Naura tak Percaya
" Jadi selama ini ... "
Martin mengangguk sambil tersenyum kecil. Dipandanginya layar Ponsel yang masih bergetar, ada foto Naura di sana Kemudian, Martin menolak Panggilan itu. Kepalanya terangkat, menatap Naura yang mendadak kehilangan kata kata.
" Papa yang chat kamu selama ini,” aku Martin.
" Papa orang yang selama ini kamu sebut Miracle.”
" Bagaimana bisa " Naura masih tidak mengerti. Ini semua tidak masuk akal Ia tidak Pernah menemukan tanda tanda bahwa Papanya adalah Miracle nya selama ini.
" Bagaimana bisa " ulang Naura lagi
" Papa kenal si Kutub Es Apa tujuan misi terakhir itu,"
" Naura sepertinya Papa harus cerita semua sama kamu sekarang Kamu berhak untuk tahu.”
Selanjutnya Martin mengajak Naura mengobrol di teras. Ia tidak ingin reaksi emosional Naura nanti membangunkan Maria yang tengah beristirahat di kamar.
Naura sudah memutar kursi menghadap Martin. Ia menunggu dengan tidak sabar cerita dari Papanya Tentang semua hal yang belum bisa dianggapnya masuk akal.
Ya, benar-benar tidak masuk akal bagi Salsa. Bagaimana bisa Martin menjadi Miracle saat keluarganya kebingungan mencari dana untuk biaya pengobatan Luna dahulu ? Bagaimana bisa Martin membantunya melindungi Luna dari gangguan Cherry ketika SD ? Dan, yang Paling dirasa Naura tidak masuk akal adalah misi terakhir Miracle Sebenarnya apa hubungan Papanya dengan Arkan ? Apa Martin sudah mengenal Arkan sebelumnya
" Apa arti misi terakhir itu, Pa ? Papa kenal Kak Arkan dari mana," desak Naura tak sabar
" Arkan " Martin mengulang nama itu dengan nada ragu.
Naura mengangguk kuat-kuat, " iya Kutub Es sekolahku yang Papa maksud di dalam misi Papa mau aku menaklukkan dia, kan ? Kemudian Papa akan muncul dan kasih tahu identitas Miracle yang chat aku selama ini. Begitu, kan,"
" Naura " Martin meraih sebelah tangan anaknya, memindahkan ke Pangkuan dan mengusapnya Pelan. " Sepertinya kamu salah Paham mengartikan misi dari Papa. Papa memang minta kamu buat menaklukkan gunung es di dekatmu. Tapi, yang Papa maksud bukan teman sekolah melainkan mamamu sendiri, Mama Maria.”
__ADS_1
Naura tercengang Ia terkejut luar biasa. Benarkah ? Ia baru ingat Maria selalu bersikap dingin kepadanya Namun Naura sama sekali tidak Pernah berpikir bahwa Maria lah yang dimaksud Miracle sebagai si Gunung Es
Ragu Naura buru-buru mengecek Ponselnya. Ia membuka kembali ruang obrolannya dengan Miracle, kemudian mengecek Percakapan mereka hingga berhenti Pada misi yang dikirim tiga bulan lalu.
...Miracle...
...Lucu saat banyak orang tertarik untuk Pergi ke arah barat, kamu malah ke timur sendirian. Yang lain berlomba lomba mencari Perhatian tapi kamu sama sekali tidak tertarik Hidupmu terlalu datar Misi kali ini akan sangat menarik untukmu Buktikan seberapa hebat kamu bisa mencairkan gunung es yang ada di dekatmu....
" Lalu apa arti timur dan barat di misi ini ? Dan siapa yang mencari Perhatian siapa," Naura mengarahkan layar Ponsel ke arah Martin. Ia butuh Penjelasan sejelas-jelasnya
Martin melirik sekilas Ponsel Naura kemudian menjawab, " Naura kamu lupa Mamamu adalah seorang guru Banyak murid berlomba menarik Perhatiannya supaya diberi nilai Prakarya yang bagus. Dan, mamamu mengajar di dua sekolah. SMP Tunas di Jakarta Barat dan SMP Nusa di Jakarta Timur. Papa Pikir kamu mengerti arti misi itu.”
Kini Naura merasa bodoh sekali Bagaimana bisa ia tidak menyadari semuanya ? Mengapa ia malah bersusah Payah memutar otak hingga mencurigai Arkan sebagai target misinya ? Seharusnya Naura tidak Perlu berpikir sejauh itu karena target misinya adalah orang terdekatnya sendiri.
" Tujuan Papa baik " Martin kembali meraih sebelah tangan Naura yang sempat terlepas ketika Putrinya itu sibuk membuka Ponsel. Ia mengusap sayang Punggung tangan Naura
" Papa mau melihat kamu dan mamamu akur Karena Papa yakin sebenarnya mamamu sayang sama kamu Hanya Saja ....”
Naura mengerutkan kening memperhatikan wajah letih Papanya. la kini menyadari bahwa Martin lebih lelah darinya. Pasti sulit menutupi ini semua entah apa pun alasannya.
" Hanya saja apa, Pa," tanya Naura Penuh rasa Penasaran
" Hanya saja karena kesalahan Papa mamamu menutupi rasa sayangnya sama kamu selama ini.”
" Kesalahan Papa " Naura mengulang dua kata kunci itu.
" Kesalahan apa yang Papa maksud,"
" Papa sudah bilang sama kamu kemarin bahwa Mira mama kandungmu. Dan, Papa kandungmu adalah Papa sendiri." Tanpa sadar Martin meremas tangan Naura kuat-kuat
Sedangkan Naura sedang berjuang keras menahan isak tangisnya sendiri Mendengar kembali kenyataan itu rupanya masih memberi efek emosional yang sama besar seperti kemarin Naura hampir tidak ingin memercayainya
" Dengarkan Papa Naura Papa Punya alasan membiarkan kamu hidup di Panti asuhan selama lima tahun masa kecilmu. Semua itu karena .... " Martin kembali menggantung kalimatnya membuat Naura Penasaran sekaligus tidak sabar
" Karena apa, Pa ? Tolong ceritain semua sama aku. Aku Perlu tahu semua.” Kali ini Naura gagal menahan tangisnya sendiri. Air mata lolos begitu saja dari sudut matanya.
Mungkin tidak akan ada yang mengerti gejolak Perasaannya saat ini. Betapa Salsa merasa senang dan takut secara bersamaan. Ia senang mendengar kabar bahwa kedua orang tuanya masih ada. Sungguh. Namun, ia juga takut. Takut kalau keadaan ini justru akan menjauhkannya dari orang orang yang dicintainya. Dan, ketakutan itu Perlahan terbukti. Siang tadi ia kehilangan Arkan
Apa besok ia harus kehilangan Luna Kemudian Mama Maria ? Naura tidak Pernah mau membayangkan hal itu Sekarang Naura benar-benar takut Siapa lagi yang akan memperhatikannya nanti ?
" Papa dan Mama kandung kamu dulu menikah tanpa restu keluarga.” Martin memulai ceritanya sambil menerawang mengingat saat saat itu. " Keluarga Mira memaksa kami untuk berpisah Papa bahkan hampir nggak Pernah tahu bahwa Mira sempat melahirkan kamu Sebab, kami dipisahkan cukup lama Sampai suatu hari, Papa diberi tahu oleh teman yang bekerja di rumah sakit. Dia yang membantu Persalinan Mira waktu itu. Kebetulan dia juga kenal sama Mira dan tahu bahwa Papa kehilangan kontaknya.”
Naura mendengarkan cerita itu dengan Perasaan berkecamuk. Ia bahkan tidak Pernah menduga bahwa Martin dan Mira sempat memiliki hubungan di masa lalu.
" Teman Papa bilang bahwa Mira melahirkan anak Perempuan Dan anak itu kamu Naura Tapi keluarga Mira mengatakan kamu tidak tertolong saat dilahirkan semata-mata agar Mira tidak terikat dan mau dijodohkan dengan Pria Pilihan keluarganya.” Terpancar jelas kemarahan di mata Martin Namun, Percuma Semua sudah lama berlalu. " Padahal yang terjadi saat itu kamu dititipkan ke Panti asuhan oleh kakaknya Mira Dan Mira sangat terpukul hebat. Dia tidak Pernah mau kehilangan kamu Naura Bahkan, ia bersikeras mempertahankan kamu di kandungan tanpa sepengetahuan siapa pun.”
Naura menggeleng Pelan Entah alasan semacam itu Patut ia maafkan entah tidak.
" Lalu kalau sudah tahu sejak awal kenapa Papa Nggak langsung cari aku Kenapa harus tunggu sampai lima tahun, Pa," Kalimat yang terlontar dari mulut Naura terdengar sangat emosional.
" Papa kehilangan jejak kamu Naura Teman Papa Nggak tahu kamu dititipkan ke Panti asuhan mana Keluarga Mira menutupi semua rapat rapat.” Martin berusaha keras meyakinkan Naura " Hampir semua Panti asuhan di Jakarta sudah Papa kunjungi. Dan, Tuhan baru mengabulkan doa Papa ketika kamu berusia lima tahun Papa bersyukur sekali bisa ketemu kamu waktu itu.” Tangan Martin bergerak menghapus air mata di Pipi Naura
" Maafin Papa Naura "
Naura Perlahan menunduk tak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Air matanya mengalir deras. Ia tidak menyangka situasi pada masa lalu serumit itu.
" Jadi Mama sudah tahu," Naura mengangkat kepala, menatap Papanya
" Mama sudah tahu kalau aku sebenarnya anak kandung Papa,"
Martin merapatkan bibirnya, kemudian mengangguk Penuh haru. " Mamamu tahu sejak sehari setelah kami resmi mengangkatmu sebagai anak. Memang mamamu yang mengusulkan untuk mengangkat anak dari Panti asuhan sebagai Pancingan agar kami segera Punya momongan. Dan, Maria langsung tertarik ketika Papa tunjuk kamu di Panti asuhan. Mama kamu langsung setuju untuk angkat kamu sebagai anak. Mamamu sudah suka sejak kali Pertama lihat kamu.”
" Tapi " Naura masih belum paham sepenuhnya. Tangisnya semakin Pecah ketika mengingat Perlakuan dingin Maria selama ini kepadanya
" Tapi kenapa sikap Mama dingin sama aku ? Kenapa Mama kelihatannya benci banget sama aku, Pa,"
" Semua salah Papa.” Martin membuang napas berat, mengusap Punggung tangan Naura untuk menenangkannya. " Besoknya setelah kamu ikut kami, tanpa sengaja mamamu lihat berkas berkas di tas kerja Papa. Isinya benar-benar buat mamamu shock Berkas itu hasil tes DNA yang Papa lakukan diam-diam untuk memastikan bahwa kamu anak kandung Papa.”
Lagi kejutan demi kejutan seolah tidak Pernah ada habisnya di hidup Naura. Ia bahkan sudah hampir lelah menghadapi semua ini. Entah berapa lama lagi Salsa akan bertahan.
" Mamamu marah sama Papa karena menyembunyikan hal yang sebenarnya Bahwa kamu anak kandung Papa dari wanita lain Maafin Papa Naura," Martin menggenggam erat tangan Naura yang berada di Pangkuannya sejak tadi.
" Papa yang buat kamu kehilangan kasih sayang mamamu Maaf,"
Naura memejamkan mata menjatuhkan lebih banyak air mata yang sejak tadi tertampung di Pelupuknya Tangisnya kini Pecah semakin tidak terbendung. Ia sedih sekaligus terharu.
Jadi, Maria bersikap dingin selama ini bukan karena marah kepada Naura yang Pernah tidak sengaja membuat Luna koma dan hampir celaka ? Jadi Maria sebenarnya sangat menyayanginya ? Jadi, Maria selama ini hanya Pura-pura bersikap dingin kepadanya?
Kemudian Naura teringat sesuatu hal yang masih tidak ia Pahami tentang Miracle. Ia membuka mata, lalu menatap Martin Penuh tanya
" Lalu bagaimana Papa tahu aku sudah berhasil menuntaskan misi sebelum tiga bulan ? Papa balas Pesanku waktu itu.”
" Tentu Papa tahu.” Martin mengangguk yakin.
" Hari itu Papa sedang istirahat di Proyek karena mendadak turun hujan deras Mamamu telepon hanya untuk tanya di mana Papa simpan mantel hujan yang lama. Papa sampai terharu ketika mendengar mamamu bilang mantel hujan itu untuk kamu. Karena kejadian itu, Papa menganggap misimu sudah tuntas. Kamu hebat Naura,"
Ingatan Naura melayang ke hari itu. Tepat ketika ia hendak menjemput Luna di sanggar
Maria menahan bahu Naura sekilas, "
" ini jas hujan " katanya sambil mengulurkan mantel berwarna merah yang masih terbungkus Plastik bening kepada Naura. Ia menepuk beberapa kali Plastik itu untuk menghilangkan sedikit debu yang tampak mengotori mantel karena terlalu lama tidak dipakai.
Naura terpaku beberapa detik. la mencoba mengartikan maksud mamanya. Oh, Naura mulai Paham setelah lima detik berlalu
" iya Ma Nanti aku kasih mantelnya buat Luna," Naura meraih mantel itu Namun matanya kembali menatap Maria ketika merasa mamanya masih menahan mantel di tangannya.
" Pakai aja Luna sudah Punya mantel sendiri di tas " ucap Maria kemudian melepaskan mantel yang dipegangnya Ia berbalik masuk ke rumah meninggalkan Naura dengan hati yang tiba-tiba saja terasa hangat
" Mama .... " sebut Naura dengan suara Pilu. Tangisnya sudah tidak terbendung lagi. la sungguh senang menyadari sikap Maria waktu itu adalah bentuk Perhatian untuknya.
Dan hari itu kebetulan bertepatan dengan Arkan yang mengungkapkan Perasaan kepadanya di lapangan menjelang upacara bendera Pagi harinya.
" Lalu misi Papa yang minta aku nyanyi lagu Aku Tak Mau Sendiri itu apa maksudnya," Sebab tidak mungkin papanya tahu Fira sedang marah kepadanya saat itu.
" Sayang, itu lagu kesukaan Mamamu Tentu Mamamu senang kamu nyanyikan lagu itu buat dia.”
" Tapi aku nyanyinya di sekolah astaga." Naura mengusap wajah dengan sebelah tangannya ketika teringat sesuatu. Ia baru ingat, sehari sebelum menyanyikan lagu itu di sekolah dirinya sempat berlatih di rumah malam harinya. Dan kemungkinan besar Maria mendengarnya bernyanyi saat itu.
Mengapa semua bisa sangat kebetulan ?
Naura menggeleng kuat-kuat ketika mengingat misi lain yang masih tidak dimengertinya.
" Terus Papa Punya uang dari mana buat bayar biaya Pengobatan waktu Luna koma Nggak mungkin, kan, Papa Tiba-tiba Punya uang sementara aku Pernah dengar Papa mengucap syukur dan terima kasih sama donatur yang bersedia membayar semua biaya rumah sakit Luna," Hal ini yang Paling tidak dimengerti Naura. Naura menunggu Papanya bersuara, tetapi yang dilihatnya justru hanya gelengan Pelan.
" Kalau itu bukan Papa tapi Miracle,” sahut Martin dengan sorot mata teduh.
Naura sungguh tidak mengerti. Jelas jelas Martin baru saja mengakui bahwa dirinya adalah Miracle yang selama ini bertukar Pesan dengan Naura melalui LINE. Lalu, apa maksudnya bahwa Martin bukanlah Miracle yang memberi keajaiban saat Luna koma
" Maksud Papa ada dua Miracle," tebak Naura ragu.
Martin mengangguk. " Papa tahu kamu Punya seseorang yang selalu jagain kamu sejak kecil yang kamu sebut Miracle Papa Pernah temuin banyak kertas berbentuk Pesawat dengan tulisan tangan seseorang di kotak mainan kamu. Sejak itu Papa tahu bahwa kamu Percaya bahwa Miracle selalu ngelindungin kamu.”
" Jadi, Papa tahu " Naura bahkan tidak pernah memperlihatkan kertas kertas berbentuk Pesawat itu kepada Nadin dan Fira.
" Dari situ Papa coba meniru cara Miracle yang selalu kasih kamu misi Dari dulu, Papa selalu ingin lihat kamu akur sama mamamu Papa tahu mamamu sebenarnya sayang sama kamu. Dia hanya marah sama Papa Jadi, Papa mulai kirim misi untuk kamu melalui Pesan LINE. Semua misi itu bertujuan untuk mendekatkan kamu sama mamamu.”
__ADS_1
" Kalau begitu siapa Miracle asliku sejak kecil,"
...•••••...