
"Selamat pagi nyonya." Sapa Rayna sopan, kini mereka tengah bertemu, setelah pulang dari rumah sakit.
"Selamat pagi, Rayna." Balas mama Mayang.
"Nyonya tahu nama saya?" Rayna terkejut.
"Ya, karena saya sempat menjenguk mu di rumah sakit." Jawabnya.
"Kemarin, saya tidak sengaja sedang berada di rumah sakit, dan saya menjenguk mu saat kamu belum sadarkan diri." Jelas ibunya Rakana itu.
Rayna mengangguk. "Terima kasih nyonya sudah menjenguk saya. Maaf jadi merepotkan banyak pihak."
"Tidak apa-apa Rayna, ini semua tanggung jawab Rakana putraku, jadi jika ada apa-apa langsung katakan padanya." Sang mama melirik Rakana. Rakana hanya menampilkan wajah datarnya saja.
"Bagaimana jika kamu istirahat saja dulu, kamu pasti belum begitu pulih keadaan nya." Titah mama Mayang.
"Tidak perlu nyonya, saya sudah lebih baik." Tolak Rayna merasa tidak enak hati. Siapa dirinya? Rasanya tidak pantas ia berleha-leha di rumah mewah ini? Pikir nya.
"Istirahat dulu, nanti makanan akan di antar ke kamar!" Titah Rakana bersuara.
"Tapi pak saya kan..."
"Ini perintah, jangan membantah!" Tegas Rakana.
"Bi, antar Rayna ke kamarnya." Perintah Rakana pada seorang pelayan di sana.
***
"Hari ini kamu akan pergi bekerja?" Tanya sang mama pada putranya itu. Setelah Rayna benar-benar masuk ke dalam kamar.
"Tidak, aku akan memenuhi panggilan polisi sebagai saksi hari ini." Jawabnya.
"Jadi kamu serius untuk memperpanjang kasus ini?" Sang mama sedikit terkejut dengan keputusan Rakana.
"Ya aku serius mom, aku tidak pernah main-main." Jawabnya pasti.
"Apa kamu mencintai gadis itu?" Tiba-tiba sang mama ingin sekali tahu.
__ADS_1
Ekhem... Rakana berdehem. "Kenapa mom tanya seperti itu?" Rakana menjadi gugup di buatnya.
"Karena tidak biasa nya kamu memperlakukan seorang perempuan seperti itu. Apa dia gadis yang membuat mu memutuskan pembatalan pernikahan dengan Amanda?" Cecar mama dengan segala pertanyaan nya.
"Pembatalan pernikahan ku dengan Amanda tidak ada sangkut pautnya dengan Rayna. Itu real kemauan ku sendiri, karena aku tidak mencintai Amanda." Jawab Rakana cepat.
"Lalu kamu benar mencintai gadis itu?" Mama ingin memastikan.
Rakana menarik nafas dalam-dalam tidak langsung menjawab pertanyaan dari ibunya itu.
"Katakan saja Rakana!" Paksa sang mama.
Rakana mengangguk mantap. "Ya aku mencintainya mom, gadis bernama Rayna itu membuat ku jatuh cinta." Jawabnya pasti.
"Mom tidak apa-apa jika aku mencintai Rayna kan?" Tatap Rakana menatap wajah ibunya itu.
"Mom tidak tahu, mom belum mengenal gadis itu." Jawab mama Mayang.
"Dia gadis yang baik, polos dan tidak enakan, aku mencintainya mom. Dan aku sedang memperjuangkan nya saat ini." Tekan Rakana, ia tak ingin membuat ibunya menolak kehadiran Rayna. Ini keputusan Rakana titik tidak ada koma.
"Aku mau mandi, Rayna untuk beberapa hari akan tinggal di sini. Dia tanggung jawab ku sekarang." Ucap Rakana seraya berlalu pergi.
"Tidak mungkin dia anakmu kan mas?" Batin sang mama, ada ketakutan jika Rayna adalah anak dari seorang pria yang dulu pernah dekat dengan nya.
"Bagaimana jika dia adalah anakmu? Tidak! Tidak mungkin, aku terlalu jauh memikirkannya, mana mungkin!" Sang mama mencoba menghempaskan jauh segala pikiran nya.
***
Setelah Rakana pergi ke kantor polisi sebagai saksi, ibunya Rakana menatap sang putra sampai benar-benar tidak terlihat lagi.
"Aku harus meyakinkan bahwa gadis itu bukan anak mas Bagas." Batin nya.
Ia pun menelpon nomor seseorang, setelah di rasa tak ada orang yang akan mendengar nya, karena ini adalah sebuah rahasia yang selalu ia tutupi dari siapa pun.
"Hallo nyonya." Sapa nya.
"Ada tugas untuk mu! Cari semua informasi kehidupan tentang Rayna, dia seorang karyawan yang bekerja di hotel putraku. Selidiki gadis itu. Tapi ingat jangan sampai ada yang tahu tentang ini, termasuk Rakana!" Titah sang nyonya.
__ADS_1
"Baik nyonya." Jawabnya di seberang sana.
"Ingat, cari informasi itu selengkap mungkin, berasal dari mana dan yang paling penting siapa kedua orang tuanya." Kembali sang nyonya memerintahkan.
"Baik saya mengerti." Jawabnya.
Panggilan itupun terputus, ibunya Rakana yang bernama Mayang menarik nafasnya, ia harus siap mulai dari sekarang.
"Aku harus menerima semua informasi apapun tentang Rayna yang dia berikan padaku." Mama Mayang menatap handphone yang masih ia pegang itu.
"Jika memang Rayna adalah putrimu, kita harus siap untuk berjumpa kembali mas Bagas. Karena putraku sudah jatuh hati pada putri mu, dan aku ingin melihat putraku bahagia." Getir mama Mayang, ia sekarang akan mulai membuka kebahagiaan untuk Rakana dan tak ingin memaksanya untuk menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.
"Tapi semoga Rayna bukan anakmu mas, karena aku tidak akan sanggup untuk bertemu dengan mu lagi." Batinnya ia tak ingin lembaran masa lalu nya terbuka kembali ia ingin menutup semua nya sampai ia mati.
***
Beberapa hari ini mama Mayang mengurung diri, sampai Rayna pun berpikir jika ibunya Rakana itu tidak menyukai keberadaan nya di rumah itu, ia pun memaksa pulang kepada Rakana tapi bos nya itu belum mengijinkan nya pulang karena alasan sebagai rasa tanggung jawab nya.
"Pak saya gak enak di sini terus, lagi pula saya sudah tidak apa-apa." Rayna terus memohon untuk pulang saja, lebih baik diam di rumah sendiri walaupun sempit daripada di rumah mewah milik orang lain.
"Tidak!" Tolak Rakana. "Kamu di sini sampai semua keadaan sudah tenang."
Rayna tidak tahu bagaimana kasusnya sangat berbahaya baginya, karena Jo menjadi kesal dan ingin berbalas dendam, dengan uang dia bisa menyuruh seseorang untuk mencelakai ataupun menteror Rayna agar kasus nya tidak di perpanjang.
"Tapi pak..." Mohon Rayna, ia terus membuntuti Rakana melangkah, kemana pun Rakana berjalan Rayna akan terus mengikuti nya.
"Kamu mau ikut ke kamarku juga? Ayok!" Tarik Rakana membawa Rayna ke kamarnya.
"Jangan pak!" Tolak Rayna mencekal tangan Rakana yang sedang menariknya.
"Saya mau pulang pak." Pinta Rayna dengan mengiba.
"Ya, nanti pulang setelah semua selesai." Jawab Rakana dengan sabar, walaupun tak ingin menjelaskan alasan nya. "Cepat pergi sana, atau kamu mau ikut ke kamar mandi, aku mau mandi sekarang." Tawar Rakana mengusili Rayna.
"Tidak." Tolak Rayna berlalu pergi dengan cepat. Rakana tersenyum melihat tingkah Rayna itu.
Sedangkan di tempat mama Mayang mengurung, ia tengah terkejut dengan semua informasi yang ia dapatkan dari seseorang yang ia perintahkan. Lagi-lagi apa yang ia takutkan terjadi, Rayna benar adalah anak kandung dari Bagas laki-laki yang selama ini ia hindari.
__ADS_1
Menarik nafas dalam-dalam, berpikir dengan membolak-balik, dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap menerima kehadiran Rayna perempuan yang Rakana cintai, ia akan merestui hubungan mereka jika terjadi, walaupun ia memutuskan untuk tidak sampai menemui ayah kandung Rayna.
"Sebisa mungkin, aku tidak boleh bertemu dengan mas Bagas, aku akan mencari alasan apapun itu untuk menghindari bertemu dengannya, sekalipun itu pernikahan Raka dan Rayna." Mama Mayang harus memikirkan nya jauh-jauh hari sebelum semuanya terjadi, ntah bagaimana nantinya, jika memang Rakana mencintai Rayna ia akan membuat pernikahan itu terjadi, demi kebahagiaan putranya sebelum ia meninggal nanti. Pikirnya!