
Rayna selalu di dalam kamarnya, rasanya hidupnya merasa tak bersemangat lagi karena kehidupannya yang selalu seperti ini.
Rumah tampak sepi, karena ayahnya sedang bertemu dengan sahabatnya membicarakan usaha nya yang semakin hari semakin banyak orderan pesanan bunga, apalagi saat musim nikah, karena ayahnya sekarang bekerjasama dengan salah satu wedding organizer sebagai pemasok bunga hidupnya untuk menghiasi acara gedung pernikahan atau pun acara yang memang membutuhkan bunga cantik nya.
Ntah kenapa hari ini Rayna memiliki keinginan untuk menyiram bunga yang ada di depan rumah nya yang cukup luas dan banyak sekali tanaman hias nya, mungkin ini cara satu-satunya ia menghibur dirinya.
"Selamat pagi Rayna." Sapa Ramli melihat Rayna yang tengah sibuk menyirami bunganya itu.
Rayna hanya menatap sekilas saja, seraya mengusap perutnya yang masih rata itu dengan bergumam kata amit-amit berkali-kali. Ntah kenapa ia sangat membenci laki-laki itu.
"Aku boleh minta minum." Pinta Ramli.
"Ambil saja di dalam, tapi awas jangan ambil yang lain." Balas Rayna ketus.
Ramli tersenyum, kenapa Rayna selalu ketus padanya.
"Jangan senyum-senyum!" Sebal Rayna.
Ramli pun kebelakang untuk membawa air minum. Bekerja di luar sungguh sangat membuat ia dehidrasi, apalagi terik matahari begitu cerah pagi itu.
Rayna buru-buru masuk ke dalam kamarnya, ia takut dengan Ramli karena di rumah hanya sendirian, ayah dan adik nya tidak berada di rumah.
Rayna kembali membuka semua pintu setelah Ramli sudah keluar, karena takut terjadi sesuatu di dalam rumah, ia bisa langsung berlari meminta bantuan pada tetangga. Namun Rayna bernafas lega saat tidak terjadi apa-apa, itu semua hanya pikiran jelek nya saja.
***
Malam hari tiba, Rayna bersiap untuk tidur, namun kebiasaannya menonton drama masih ia lakukan, sengaja ia lakukan agar kekesalan nya pada suaminya yang seakan tak ada usaha sejenak ia lupakan.
Saat tengah serius, Rayna di kejutkan dengan suara orang yang masuk ke dalam kamar melalui jendela yang belum ia tutup. Otomatis Rayna melihat ke arah jendela, ia terkejut saat melihatnya, hingga ia hampir berteriak secara kencang, namun lelaki bernama Ramli itu langsung melompat mendekati Rayna dan langsung membekap mulutnya agar Rayna tak berteriak.
"Jangan berteriak, ini aku sayang, suami mu." Bisik nya.
Rayna melototkan kedua matanya, ia tak percaya begitu saja.
"Aku Rakana, aku sengaja menyamar seperti ini karena aku merindukan mu." Lanjutnya dengan berbisik kembali.
__ADS_1
"Lihat aku baik-baik, aku suami mu sayang." Kembali Rakana berucap, Rayna menatap wajah nya dengan tatapan penuh.
"Bagaimana, kamu percaya kan jika ini aku?" Rakana mencoba membuat Rayna percaya.
Rayna mengangguk dengan mata berbinar. Lalu Rakana tersenyum lega dan melepaskan bekapan tangannya pada mulut Rayna.
"Jangan berteriak, nanti ayah akan tahu penyamaran ku." Bisik Rakana seraya memeluk istrinya dengan erat, Rayna mengangguk cepat dan membalas pelukan itu sama eratnya.
"Aku merindukan mu sayang, sangat." Bisik Rakana di tengah pelukannya.
"Aku juga mas..." Lirih Rayna. Ia tak percaya lelaki yang ia benci itu adalah suaminya sendiri, pantas saja ia merasa tak asing dengan senyuman nya.
Rakana merenggangkan pelukannya lalu menatap wajah istrinya. Istrinya itu sekarang lebih berisi namun wajah nya terlihat pucat.
Cup. Rakana mengecup bibir sang istri.
"Bagaimana penampilan ku sekarang?" Goda Rakana.
"Berbeda dari yang sebelumnya, kamu berhasil menipu semua orang, termasuk aku." Jawab Rayna dengan cemberut sebal.
Rakana tersenyum. "Aku terpaksa sayang, jangan marah ya, aku lakukan ini semua karena aku ingin bertemu dengan mu. Jika ayah tidak mempersulit aku untuk bertemu dengan mu, aku tidak akan melakukan hal ini." Balas Rakana.
"Jangan bersedih, aku akan berusaha mendapatkan restu dari ayah kembali, apapun resikonya." Ucap Rakana dengan serius.
Rakana mengecup bibir Rayna, kecup-kecup awalnya lama-lama mencium bibir itu dengan gemas dan penuh hasrat.
Rayna mendorong pelan dada suaminya itu agar ciuman panas nya terlepas.
"Sayang.... Ada kabar baik yang ingin aku sampaikan." Ucap Rayna, setelah ciuman panas itu terlepas.
Rakana menatap Rayna dengan sayu dan dengan nafas sedikit terengah. "Kabar baik apa?" Menatap serius dan menuntut.
Rayna menarik tangan Rakana, dan membawanya pada perut rata nya, Rakana seakan penasaran namun dia diam saja menunggu istrinya kembali berbicara.
"Aku sekarang sedang hamil mas... Kita sebentar lagi akan menjadi ayah dan juga ibu." Ucap Rayna dengan senyuman nya.
__ADS_1
"Kamu hamil?" Kejut Rakana, Rayna mengangguk penuh.
"Aaa." Rakana berteriak namun Rayna langsung membekap mulut suaminya itu.
"Suuut, nanti ayah dengar." Bisik Rayna mengomeli suaminya karena hampir saja ia berteriak dengan cepat.
"Aku lupa, sayang." Balas nya berbisik.
"Ayah belum tahu kalau aku hamil." Ucap Rayna.
"Kenapa?" Rakana bertanya.
"Aku takut ayah akan menyuruh ku menggugurkan kandungan ku."
"Apa ayah setega itu?" Tak percaya jika mertuanya akan melakukan hal itu, jika memang benar kekhawatiran nya terjadi Rakana tidak akan diam saja.
"Ntahlah, ayah juga tega memisahkan kita tanpa alasan, dan sekarang aku takut ayah..."
Rakana memeluk tubuh istrinya itu membuat ucapan Rayna terhenti. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan melindungi mu dan calon bayi kita." Ucap Rakana menenangkan.
Rayna mengangguk ia percaya dengan kata-kata suaminya. Lalu pelukan mereka pun merenggang. Rayna menatap wajah sang suami dengan penampilan baru nya, ia sempat membenci laki-laki itu sebelum tahu bahwa dia adalah suaminya.
Rayna mengusap wajah Rakana dengan jari lentiknya. "Brewok nya bikin aku geli mas. Dan apa ini asli semua?" Tanya Rayna penasaran, ia menarik rambut gondrong rapi suaminya lalu mengusap-usap brewokan suaminya.
"Hemm pelan-pelan dong narik nya, ini asli semua karena aku takut penyamaran ku tidak maskimal." Jawab Rakana yang pasrah saja semua wajah dan rambut nya Rayna tarik dan usap.
"Tapi kamu jadi lebih maco mas, walaupun terlihat tidak rapi." Puji Rayna, ia yang selalu biasanya melihat penampilan sang suami selalu necis, bersih dan rapi berbanding terbalik dengan penampilan nya saat ini.
"Tapi aku tetap suami tampan mu, yang setia dan penuh cinta." Balas Rakana, membuat Rayan tersenyum.
"Ya semoga saja, itu yang aku inginkan dari mu." Balas Rayna.
Rakana mengecup-ngecup bibir Rayna, lalu menekan penuh ciumannya, ia tak tahan lagi meluapkan semua kerinduan nya pada sang istri.
"Malam ini aku tidur di sini. Bolehkah?" Pinta Rakana dengan suara serak, Rayna mengangguk.
__ADS_1
"Sebelum semua bangun, aku akan keluar dari kamar ini." Sambung Rakana. Rayna mengangguk saja, karena ia pun sama merindukan suaminya itu.
Kembali Rakana mencium bibir Rayna dengan menggebu-gebu, ia sungguh sangat merindukan istrinya, sebulan lebih ia tak bertemu dengan Rayna membuatnya hampir gila, lalu ide gila pun muncul dengan menyamar sebagai karyawan ayah mertuanya sendiri dengan penampilan yang berbeda.