My Secret Admirer

My Secret Admirer
BAB 19 PUTRI SALJU


__ADS_3

Mira membenarkan letak jenggot palsu yang dikenakan Ken. Sedangkan Ken terus menggaruk dagunya yang terasa gatal. Apalagi hidung serta telinga Palsu yang menempel di wajahnya terasa tidak nyaman, membuat bocah itu ingin sekali melepaskannya.


" Jangan ditarik-tarik, Ken,” ucap Mira untuk kali kesekian sambil membenarkan letak hidung dan telinga Palsu Ken.


" Gatel, Ma " keluh Ken.


Mira menjauhkan tangan Ken yang berniat menarik kembali benda-benda itu. " Nggak apa-apa sekarang kamu jadi kurcaci. Nanti kalo udah besar kamu yang jadi Pangeran-nya,” katanya memberi motivasi kepada Ken


" Yang bagus mainnya, ya. Mama lihat dari bangku Penonton,"


Setelah memberi kecupan singkat di Pipi Ken Mira beranjak keluar dari ruang kelas yang dijadikan tempat Persiapan Para Pemain sebelum naik ke Panggung


Arkan mendekati Ken yang tampak bingung harus melakukan apa. Bocah itu kini menjadikan baju Properti yang tergantung di rak sebagai mainan.


Arkan berjongkok kemudian menarik Ken untuk menghadapnya. " Masih ingat, Nggak, kesepakatan kita,” bisiknya.


Ken mengangguk kuat-kuat, membuat Arkan tersenyum senang.


" Apa " tanya Arkan memastikan.


" Habis ini Ken boleh main Timezone sepuasnya, kan," celoteh bocah kecil itu.


Senyum Arkan sirna bahunya merosot lemah bersamaan dengan helaan napas lelah yang diembuskannya.


" Supaya bisa main Timezone sepuasnya Ken harus ngapain,” Arkan masih berusaha menggali ingatan Ken tentang kesepakatan mereka sebelumnya.


" Oh, iya, Ken ingat,"


Senyum Arkan mengembang lagi," Apa Coba bisikin.” Arkan mendekatkan telinganya.


Arkan tersenyum lebar mendengar bisikan Ken. ia jadi geli sendiri bila rencananya itu Benar-benar terjadi Pasti akan menjadi Pertunjukan yang luar biasa menarik.


Lalu Arkan mengangkat sebelah tangan setelah Ken selesai berbisik


" Tos " ucapnya, ketika Ken menyambut high five darinya. la pun mengusap kepala sepupu kecilnya itu.


" Anak Pintar "


Setelah menyulut semangat Ken dengan iming iming bermain Timezone sekali lagi, Arkan beranjak. Masih ada satu hal yang direncanakannya. Dan, ia tidak boleh gagal.


Tidak jauh dari Posisi Ken yang kembali bermain dengan barang Properti, Luna tidak henti hentinya memuji Penampilan Naura yang Cantik mengenakan gaun Putri Salju


" Kakak Cantik banget.”


" Masa sih " Naura sengaja berputar di depan Luna sambil memainkan gaun berwarna biru kuningnya. " Kamu Pasti jauh lebih cantik kalau Pakai gaun ini Nanti habis Kakak Pentas, kamu cobain, ya,"


" iya, iya. Luna mau banget,” ucap Luna Penuh semangat.


" Kamu harus lihat Kakak tampil sampai selesai, ya. Soalnya Kakak cuma bisa kasih kamu Pertunjukan ini buat kado ulang tahun kamu Selamat ulang tahun, ya, Sayang." Naura mengecup lembut kedua Pipi Luna kemudian tergelak ketika menemukan jejak lipstik merahnya di Pipi Luna.


Naura menarik beberapa lembar tisu di dekatnya dan membantu Luna membersihkan Pipinya


" Makasih Kak Luna senang banget sama hadiahnya.” Luna menjawab dengan Pelukan erat untuk Naura


Setelah itu Naura mengantar Luna sampai tempat duduk di depan Panggung. Tempat duduk khusus di Posisi Paling depan itu sengaja diminta Naura kepada Panitia Jadi Luna bisa melihat Pertunjukan dongeng kesukaannya dengan jelas


Di atas Panggung sedang ada Pertunjukan tarian tarian tradisional dari ekstrakurikuler tari. Setelah itu giliran tim Panduan suara, baru kemudian Pentas drama Naura masih Punya waktu sekitar 30 menit sebelum tampil.


Dari sisi lain Kevin tidak bisa menahan senyum ketika melihat Naura berjalan mendekat menuju tempatnya berdiri di belakang Panggung Penampilan Naura luar biasa cantik di matanya.


Kulit seputih salju bibir semerah darah juga rambut hitam Pekat. Sungguh Naura bagai Putri Salju masa kini Cantik. Entah sudah berapa kali Kevin mengucap kata itu dalam hati


" Foto dulu yuk, Ra "


Naura sendiri baru menyadari keberadaan Kevin ketika Posisi mereka sudah dekat. Ia cukup terpukau dengan Penampilan Kevin yang terlihat seperti Pangeran sungguhan. Kostum Pangeran itu sangat Pas dikenakan di tubuhnya yang tegap Lengkap dengan jubah merah kebesarannya.


Kevin menarik Naura mendekat Sebelah tangannya mempersiapkan kamera Ponsel sementara sebelahnya lagi melingkar di bahu Naura


Tubuh Naura mendadak kaku Bahkan ia kesulitan untuk sekadar menarik napas dalam Posisi yang sangat dekat dengan Aman. Ekspresi yang terlihat pun jadi tidak alami.


" Satu, dua—”


" Ada ulat bulu di bahu lo.”


" Tiga "


" Wuaaaaaa.” Naura berteriak dan tanpa sadar menepis tangan Kevin di bahunya. " Mana, mana? Tolong singkirin,” ucapnya Panik Matanya terpejam rapat, tak berani melihat hewan kecil itu.


Naura merasakan bahunya ditepuk dua kali. Saat itu juga ia baru berani membuka mata untuk memastikan makhluk kecil tersebut sudah tidak ada di bahunya.


" Maka ... sih.” Suara Naura mengambang setelah sadar bahwa di dekatnya juga ada Arkan


" Nggak ada ulat, kok,” kata Kevin sambil menunduk mencari sesuatu di sekitar kakinya.


" Lo dibohongin, Ra,"


Naura melirik Galen sebal. " Kakak jail banget, sih. Kalo aku sampai Pingsan gimana,"


" Gue bakal gendong lo ke UKS,” sahut Arkan tenang.


" Eh " Naura tertegun sejenak, tetapi tak mau ambil Pusing. " Jadi, Kakak beneran mau aku Pingsan di sini ? Tega bener.”


Arkan sungguh ingin menelan Naura hidup-hidup saat itu juga.


Tanpa ingin berlama lama, Naura Pamit memanfaatkan waktu yang ada untuk ke kamar kecil.


Kevin menghela napas berat ketika melihat hasil foto di Ponselnya. Wajah Naura tidak tertangkap jelas karena bergerak tadi. Dan Kevin menyadari Arkan sengaja datang untuk mengusik kedekatannya dengan Naura


...•••••...


Sekali lagi Naura memandangi dirinya di cermin toilet. Ia bahkan tidak menyangka Penampilannya jadi tampak cantik dengan gaun yang dikenakan kini. Apalagi Pita merah yang menghiasi rambut hitamnya membuatnya semakin manis.


Akan tetapi, sayang


Naura menunduk sambil mengangkat sedikit gaunnya hingga memperlihatkan sepasang sepatu Pantofel lusuh yang dikenakannya. Kalau saja sepatu baru hadiah dari Papa masih ada tentu Penampilannya hari ini akan semakin sempurna.


Naura keluar dari toilet dengan langkah lemah. Seharusnya ia tidak ceroboh waktu itu. Atau, seharusnya ia mengaku saja waktu Arkan bertanya siapa Pemilik sepatu tersebut. Bila begitu, tentu Arkan tidak akan membuang sebelah sepatunya


Seolah sedang berhalusinasi Naura terdiam sejenak ketika merasa melihat sebelah sepatu yang baru saja dipikirkannya Perlahan ia mundur beberapa langkah untuk kembali menoleh ke Pintu gudang yang terbuka setengah. Kali ini Naura tidak salah. Ia benar benar melihat sebelah sepatu yang dicarinya di atas tumpukan kardus yang menjulang tinggi di dalam gudang.


Naura bersorak dalam hati. Melupakan kemungkinan mengapa sebelah sepatu itu ada di sana, Naura buru-buru menghampiri lokernya. Ia menyimpan sepasang sepatu lusuhnya di dalam sana dan mengeluarkan sebelah sepatu baru yang sudah cukup lama disimpan di sana.


Naura kembali ke gudang dengan hanya mengenakan sebelah sepatu Dengan harapan, sebelah sepatunya lagi bisa ia ambil di gudang


Naura berjalan di lorong sempit di antara kardus kemudian berhenti sambil menghadap tumpukan kardus di hadapan. Tingginya mungkin lebih dari dua meter. Pemandangan serupa juga ditemuinya ketika menoleh ke belakang. Kini ia diapit tumpukan kardus di depan dan belakang dengan jarak tidak sampai satu meter


Naura mendongak, ia yakin betul sepatu yang entah bagaimana bisa ada di atas tumpukan kardus itu miliknya la menjulurkan tangannya ke atas untuk meraih sepatunya, tetapi sayang tidak bisa dijangkaunya. Naura malah hampir merobohkan tumpukan kardus di hadapannya.


Naura menempelkan kedua telapak tangannya ke tumpukan kardus guna menenangkan guncangan yang sempat tercipta. Ia tidak mau ditemukan tidak bernyawa akibat tertimbun kardus-kardus yang ia duga berisi sandang Pangan yang sudah dikumpulkan sekolah untuk kebutuhan Panti asuhan


Naura mendongak lagi, menatap sebelah sepatunya yang masih belum bisa dijangkau. Matanya kemudian menjelajah ke sekitar berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan sebagai Pijakkan.

__ADS_1


Suasana sekitar yang sepi membuat Naura tak bisa meminta bantuan orang lain. Kemudian, suara langkah kaki seseorang dari ujung lorong membuat Naura terkejut. Ia melakukan gerakan mundur secara spontan.


Tumpukan kardus di belakangnya kini berguncang keras karena entakan kakinya. Naura Panik dan seseorang yang mengejutkannya tadi bergegas menghampiri, lalu menahan guncangan kardus kardus di belakang Naura dengan kedua tangannya.


Kini tubuh Naura kaku di dalam kurungan tangan orang itu. Udara di sekitarnya Tiba-tiba terasa menipis jarak wajah mereka kini terpaut sangat dekat.


Orang itu mendongak memastikan kardus-kardus yang ditahannya tidak sampai roboh. Walau ia sendiri tidak yakin, karena menyadari Posisi kardus kardus itu sudah mulai miring condong ke arahnya. Kemudian, ia menunduk menatap mata Naura yang tampak terkejut.


" Ngapain lo di sini "


Naura tersentak karena suara bernada dingin itu. Menatap Arkan dalam jarak sedekat ini membuat Naura kembali mengingat momen adu tahan kedip beberapa waktu lalu. Ia seolah mengulang kejadian itu lagi.


" Kakak sendiri Ngapain di sini,” Naura malah bertanya balik, membuat Arkan berdecak kesal.


" Gue yang nanya lo duluan,"


Naura memutar bola matanya menghindari tatapan Arkan yang seolah mengintimidasi tanpa ampun


" Tadi lagi jalan-jalan aja,” ucapnya berbohong. Tentu ia tidak akan mengatakan bahwa tujuan sebenarnya ke tempat ini untuk mengambil sebelah sepatunya yang hilang. Sudah Pasti Arkan akan tahu bahwa Naura lah Pelaku sepatu melayang dahulu.


Arkan tak merespons. Ia seolah terhipnotis kecantikan Naura yang semakin terpancar jelas karena Polesan make up. Bibir merah di kulit Putih


Naura seakan menjadi Pusat Perhatian Galen saat ini. Ditambah Pita merah di rambut hitam Naura sungguh membuat Naura tampak sangat cantik Dan cewek itu kini berada tepat di hadapannya Hanya dua jengkal dari wajahnya.


Hening yang cukup lama membuat Naura tersadar harus segera menyingkir dari hadapan Arkan, Naura sudah berniat keluar dari kurungan tangan Arkan, tetapi tiba-tiba ia melihat tumpukan kardus yang berada di belakang Arkan berguncang dan hampir menimpa mereka kalau saja Naura tidak Buru-buru menahan dengan sebelah tangan.


Naura menghela napas lega ketika menyadari dirinya berhasil menghindari kecelakaan. Namun beberapa detik kemudian jantungnya terasa hampir lepas begitu menyadari jarak wajahnya dengan Arkan hanya terpaut sejengkal.


Naura spontan menutup bibir dengan tangannya. Ia Panik sekaligus canggung, membuat kardus kardus di belakang Arkan yang sedang ditahannya kembali bergerak ekstrem Sebelah tangan Arkan yang baru saja ditugaskan untuk membekap mulutnya sendiri kini harus ikut menahan guncangan kardus kardus itu. Kedua tangan Naura jadi berada tepat di sisi kiri dan kanan wajah Arkan Dan ini membuat jarak keduanya bukan hanya sejengkal, tapi bahkan beberapa sentimeter.


Tangan Naura sudah gemetar hebat. Bukan hanya tak kuasa menahan sorot tajam mata Arkan melainkan juga karena merasakan beban kardus yang ditahannya semakin berat. Dan Naura sudah tidak kuat lagi.


Sementara itu Arkan merasa ujian kali ini Benar-benar berat. Bagaimana bisa ia menahan diri ketika Pusat Perhatiannya kini seolah menarik dirinya untuk semakin mendekat ?


kardus-kardus di belakang Arkan semakin bergerak ekstrem. Tangan Naura masih bergetar hebat. Ia Panik luar biasa Naura berusaha mendorong


kardus itu lebih kuat, tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaannya Tindakannya justru semakin mempertipis jaraknya dengan Arkan Naura menyadari hal itu. Kemudian sebelah tangannya Buru-buru membekap mulut Arkan ketika menyadari cowok itu seolah sengaja menghabiskan jarak dengannya.


Naura berhasil menghalau hal yang ditakutkannya terjadi. Namun wajah ia dan Arkan kini hanya dihalangi tangannya yang sedang membekap mulut cowok itu sementara bibir Naura menempel di Punggung tangannya sendiri. Naura hanya sanggup bertahan dua detik. Pada detik berikutnya, ia langsung menarik diri karena terkejut.


Naura pun berteriak ketika melihat kardus kardus yang tidak sanggup ditahannya kini ambruk hampir menimpa Arkan Selanjutnya Naura memejamkan mata bersamaan dengan sebuah Pelukan yang menuntunnya untuk berjongkok. Suara kardus-kardus yang berjatuhan terdengar ribut sekali di telinganya. Namun, ia tidak merasakan hantaman keras benda benda itu karena seseorang masih memeluknya.


Setelah suara ribut itu berakhir Naura masih bisa merasakan jantungnya berdebar hebat dalam Pelukan Arkan Sekian lama tidak ada Pergerakan Naura berinisiatif bangkit, kemudian memisahkan diri agak jauh dari Arkan setelah menyingkirkan kardus-kardus yang berserakan di sekitar.


Naura menyentuh bibirnya sendiri. Ia masih belum bisa menjelaskan apa yang baru terjadi


Ia memperhatikan Arkan bergerak dengan susah Payah. Beberapa kardus masih menimpa tubuhnya. Dan, cowok itu bangkit sambil memegang bahunya sendiri.


" yang tadi maksudnya apa," tanya Naura mengabaikan ekspresi wajah Arkan yang tampak kesakitan.


" Kenapa lo lepas sih " kesal Arkan sambil menyingkirkan kardus-kardus yang menghalangi langkahnya. Ia melihat isi beberapa kardus tercecer ke luar, kebanyakan berupa mi kemasan.


" K-kakak barusan nyium aku," Naura masih tampak shock.


Arkan berdecak sekali. " Lo yang maju " katanya mengingatkan.


" Lagian yang barusan kehalang tangan lo mana bisa disebut ciuman,"


Naura sampai kehilangan kata-kata Apalagi ketika kini Arkan berjalan mendekatinya.


Semakin Arkan bergerak mendekat semakin Naura mundur. Hingga ketika tersudut dan tidak lagi Punya ruang untuk mundur Naura akhirnya bersuara.


Arkan masih berusaha memangkas jaraknya dengan Naura. " Mau kasih tahu lo gimana yang namanya ciuman.”


Naura merapatkan tubuhnya ke tembok belakang. Ia memejamkan mata rapat-rapat dan hampir saja berteriak ketika Arkan menyentuh kedua Pipinya. Namun, suaranya tertelan kembali ketika Arkan menuntun wajahnya untuk menoleh ke jendela gudang yang mengarah ke taman belakang sekolah.


" Tapi bukan sekarang,” ucap Arkan santai. la melepaskan tangannya dari Pipi Naura kemudian menunduk


Sungguh sikap dan ucapan Arkan berhasil membuat debaran di dada Naura semakin hebat. Dan, ia tidak tahu cara menghentikannya.


Perlahan Naura membuka mata ketika merasakan sentuhan di kakinya.


Naura menunduk dan menemukan Arkan berjongkok di hadapannya sambil menuntun sebelah kakinya, alu mengarahkan mendekati sebelah sepatu yang dicarinya tadi. Rupanya Arkan menyadari adanya sebelah sepatu yang ikut jatuh dari tumpukan kardus. Kemudian, ia membantu mengenakannya di kaki Naura


" Seperti dugaan gue sepatu ini Pasti Punya lo.” Arkan mendongak untuk menikmati keterkejutan dari sepasang mata cantik Naura


" Lo Punya Pasangannya.”


Naura termangu Tak mampu berkata-kata apalagi membayangkan hukuman yang akan diterima dari Naura setelah ini.


Lantas Arkan bangkit sambil tersenyum kecil.


" Lo lebih Cocok jadi Cinderella nya gue.”


Naura dibuat gugup luar biasa akibat kata kata sekaligus tatapan Arkan saat ini. Hingga kemudian ia menyadari sesuatu. Ada jejak warna merah di bibir Arkan, yang Naura yakini berasal dari lipstiknya. Ia menduga telapak tangannya yang sempat digunakan untuk menutup mulutnya sendiri sebelum membekap mulut Arkan mengakibatkan jejak lipstiknya menempel di bibir cowok itu.


Naura menunjuk bibir Arkan dengan ragu, dan menyentuh bibirnya sendiri Ia bermaksud memberi kode kepada cowok itu untuk menghapus jejak lipstik di bibirnya. Namun Arkan malah bertingkah Pura-pura tidak mengerti


" itu " Naura menunjuk lagi dengan tidak sabar.


" Apa " Arkan masih Pura-pura tidak mengerti.


Suara dari arah Pintu gudang membuat keduanya menoleh. Mereka melihat Kevin berjalan mendekat


" Ada apa nih sampai berantakan gini," tanya Kevin sambil bergerak susah Payah di antara kardus yang berserakan.


Cepat-cepat Naura menutup mulut Arkan dengan sebelah tangannya sebelum Kevin mendekat. Bisa gawat bila Kevin melihat jejak lipstiknya ada di bibir Arkan Mungkin saja Kevin akan berpikiran macam-macam tentangnya.


" Ra gue cariin dari tadi Pentasnya udah mau mulai. Yuk," ajak Kevin Kemudian Pertanyaannya muncul ketika melihat kejanggalan sikap dua orang di hadapannya.


" Kalian Ngapain "


Arkan baru saja ingin menyingkirkan tangan Naura dari mulutnya tetapi Naura malah semakin rapat membekapnya


" ini Kak Arkan marah-marah melulu Gara-gara aku Nggak sengaja berantakin kardus di sini," kata Naura beralasan sambil memaksakan senyumnya. Sedangkan Arkan tersenyum di balik tangan Naura


" Nanti kita beresin sama-sama setelah Pentas. Sekarang, ayo siap-siap,” ajak kevin lagi.


" iya, Kak. Bentar lagi aku nyusul,” sahut Naura la menunggu Kevin keluar dari gudang, baru melepaskan bekapannya di mulut Arkan


Naura meneliti bibir Arkan yang masih tampak merah. Jari-jarinya bergerak begitu saja menghapus jejak lipstik di sana.


Naura tidak tahu seberapa kuat sengatan listrik yang dirasakan Arkan dari setiap sentuhan tangan Naura di bibirnya Dan tentu Arkan menikmatinya.


...•••••...


Mood Arkan mendadak berubah baik berkali kali lipat karena kejadian di gudang tadi. Ia tidak menyangka karena awalnya hanya berniat memergoki Naura yang kedapatan mengambil sebelah sepatu yang memang sengaja diletakkan Arkan di atas tumpukan kardus. Kemudian Arkan akan berlagak seolah menangkap basah tersangka kasus sepatu melayang beberapa waktu lalu. Namun yang terjadi justru lebih dari yang diharapkan.


Mira menyikut Arkan di sebelahnya


" Kenapa senyum-senyum? Memangnya ada yang lucu,"

__ADS_1


Arkan menggeleng cuek.


" Arahinnya ke sini sedikit.” Mira menggeser Ponsel di genggaman Arkan ke kanan.


" Jangan rekam yang kiri terus Nanti Ken masuknya dari sebelah kanan,” keluhnya lagi.


" iya-iya " Arkan menjawab singkat. Ia menuruti kemauan tantenya. Namun hanya beberapa detik karena detik berikutnya ia kembali memfokuskan kamera Ponselnya untuk menyorot Naura di atas Panggung.


Sambil merekam Pertunjukan drama Putri Salju Arkan mengalihkan Pandangan sejenak ke arah lain Dengan mudah ia menemukan Jerry sedang mengalihkan Perhatian Regina yang sedang berusaha mencari dirinya


Gue traktir Hanamasa habis ini, Jer


Kemudian Pandangannya beralih lagi ke lain arah. Kali ini berusaha menemukan Haris. Arkan jadi ragu sendiri ketika tidak melihat Haris di mana pun. Sebab, sahabatnya itu selalu mengeluh bahwa Cherry benar-benar merepotkan.


Setelah mengedarkan Pandangan ke hampir segala arah, Arkan berhasil menemukan Haris sedang berdiri agak jauh di bagian belakang kursi penonton. Galen tidak mendapati Cherry di sekitar Haris. Dan, ia menduga Haris pun sedang berusaha menemukan Cherry yang hilang jejaknya.


Mira mengguncang lengan Galen secara berlebihan. " itu Ken tampil Ayo rekam yang bagus.” Mira bertepuk tangan antusias. Matanya berbinar-binar Penuh kebanggaan menyaksikan anak semata wayangnya tampil di atas Panggung.


Mengabaikan sejenak kekhawatirannya tentang keberadaan Cherry, Arkan kembali fokus merekam Pertunjukan di atas Panggung.


" Siapa yang sudah minum air dari cangkirku,” Suara Ken di atas panggung membuat Penonton gemas sendiri. Apalagi suara itu baru keluar


setelah salah satu anak yang menjadi kurcaci lain menyikut Ken dengan tidak sabar


Suara tawa juga kompak ditunjukkan Para Penonton sejak tujuh kurcaci yang diperankan anak Panti asuhan dan Ken muncul. Ketujuh anak yang usia dan tingginya hampir sama itu sukses menarik Perhatian.


Lengkap dengan kostum yang dikenakan, mereka sungguh menghadirkan kesan lucu yang alami.


Pertunjukan berjalan lancar untuk beberapa saat. Ketika Pertunjukan mendekati akhir Arkan jadi malas merekam karena tiba saatnya Kevin muncul.


Naura terbaring di Peti kaca sementara tujuh kurcaci mengelilinginya sambil menangis atau lebih tepatnya berlomba lomba menciptakan suara tangis bersahut sahutan.


Lalu Pangeran datang


" Dia begitu Cantik Bolehkah aku membawanya ke istana ? Aku akan menjaga sang Putri sepenuh hati.”


Ketujuh kurcaci menjawab kompak,


" Boleh " Hanya kemudian Ken melanjutkan kalimatnya.


" Tapi Ken juga mau ikut ke istana.”


Suara tawa penonton kembali terdengar. Mira yang sebelumnya begitu terpukau dengan Penampilan Ken, kini jadi garuk-garuk kepala menyadari Putranya telah melenceng dari skrip. Mira mengibas-ngibaskan tangan ketika kebetulan Ken menoleh ke bangkunya, memberi kode bahwa Ken sudah tidak ada dialog lagi. Adapun Arkan Diam-diam mengacungkan jempol untuk Ken.


Ken bersikeras ikut ke istana. Begitu dekorasi Panggung diubah selayaknya istana, Ken ada di sana dengan sang Putri masih tertidur di Peti kaca.


Pangeran terus saja memandangi kecantikan Putri Salju, dan kemudian tergerak untuk mendekatinya. Ia berniat memberi kecupan singkat di Punggung tangan sang Putri, tetapi ia merasa ada yang berbeda ketika mengangkat tangan sang Putri seraya memejamkan mata. Tangan itu begitu mungil. Dan benar saja bukannya mengecup Punggung tangan Naura Kevin justru mengecup Punggung tangan Ken yang entah bagaimana sudah berada di dekat Peti kaca.


Suara tawa Penonton tidak dapat dibendung lagi. Ken seolah jadi Pemeran utama. Sehabis ini mungkin banyak yang ingin foto bersama dengannya.


" Biar Ken aja yang bangunin Putri,” kata Ken tenang. Ia lalu mengeluarkan susu kotak cokelat dari sakunya kemudian menusukkan sedotan dan mengarahkannya kepada sang Putri yang masih tertidur


Semua orang dibuat bertanya-tanya karena jalan cerita yang melenceng jauh dari yang seharusnya, tetapi tetap Penasaran sekaligus antusias dibuatnya.


Awalnya Naura terkejut ketika merasakan sesuatu menyentuh bibirnya kemudian cairan manis yang mengalir ke tenggorokannya membuatnya terbatuk dan bangkit dari tidur.


Penonton bertepuk tangan menyaksikan ending yang unik itu


Mira yang sempat malu karena mengira Ken akan mengacaukan Pertunjukan kini justru berbangga diri. Ia ikut bertepuk tangan sambil berseru nyaring.


" Ken anaknya mama Mira.”


Arkan sungguh berutang banyak kepada Ken. Sepupu kecilnya itu memang selalu bisa diandalkan


Ending yang manis, Ken.


Walaupun Pentas drama Putri Salju ini memiliki ending yang berbeda dari versi asli, semua Pihak merasa terhibur Kevin Pun tidak keberatan dengan itu semua la justru ikut tertawa di samping Ken. Ia menepuk Pelan Puncak kepala Ken dengan gemas ketika memberi salam hormat kepada Penonton di akhir Pertunjukan


Naura satu-satunya orang yang tidak bisa tersenyum saat ini. Saat semua Penonton bertepuk tangan menyaksikan Pertunjukan bersama teman teman, Naura justru gelisah karena tidak berhasil menemukan Luna di tempatnya. Ia menyadari adiknya sudah menghilang di Pertengahan Pentas. Naura Pikir Luna hanya Pergi ke kamar kecil, tapi mengapa lama sekali


" NAURA, LUNA...”


Naura yang masih di atas panggung, langsung menoleh ke Fira yang baru saja berhenti tepat di bawah Panggung seperti habis berlari jauh.


" Luna ... Pingsan.”


Jantung Naura seolah berhenti berdetak saat itu juga. Ia bergegas melompat turun dari Panggung tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Terjatuh dengan lutut dan kedua telapak tangan menyentuh tanah sama sekali bukan hal yang ia Pedulikan sekarang. Yang ada di Pikirannya hanya keselamatan Luna.


" Di mana Luna " tanya Naura kepada Fira dengan tidak sabar


Fira menunjuk sisi kiri Panggung dan Salsa langsung menoleh ke sekumpulan orang yang berbondong-bondong menuju taman belakang


Berusaha menolak firasat buruk yang terus menghantui Naura berlari mendahului orang-orang yang sekadar ingin tahu apa yang terjadi di taman belakang. Naura berusaha sampai secepat mungkin. Ia menerobos Padatnya anak-anak berseragam putih abu-abu yang berkumpul mengelilingi sesuatu.


Naura menutup mulut dengan kedua tangan begitu berada di barisan Paling depan lingkaran itu. Ia melihat adiknya terbaring tak sadarkan diri di bawah Pohon besar dengan sepatu sudah terlepas dari kakinya, juga kaus Putih yang dikenakannya sudah Penuh tanah.


Naura menggapai Luna ke Pangkuannya kemudian memeluknya erat sambil menangis menyebut nama adik kesayangannya


" Luna ini Kakak Luna ... Luna "


Naura menggeleng kuat ketika bayangan mengerikan tentang kejadian bertahun tahun lalu kembali bergelut di kepalanya. Tentang bagaimana mengerikannya Peristiwa itu. Peristiwa yang hampir saja membuatnya kehilangan Luna untuk selama lamanya. Naura tidak mau kejadian tersebut terulang kembali. Ia mau Luna bangun dan tidak menakut nakutinya seperti ini.


Akan tetapi kepanikan justru semakin menghantui ketika Naura melihat di telapak tangannya yang menyentuh kepala Luna terdapat darah.


Naura pun menangis sejadi-jadinya Orang-orang yang mengelilinginya semakin Padat. ia tidak bisa berdiam diri seperti ini. Masih dengan air mata yang mengalir deras di Pipinya Naura bangkit menghampiri Arkan yang baru muncul setelah susah Payah memaksa sampai di tengah kerumunan.


Dengan emosi bergejolak Naura mencengkeram kuat-kuat lengan seragam Arkan


" Kak tolongin aku " Naura masih menangis. Kejadian ini sungguh membuatnya takut.


" Tolong bawa Luna ke rumah sakit Tolongin aku, Kak ... aku takut banget.”


Tubuh Naura merosot, bersamaan dengan Arkan yang berusaha menahan tubuh rapuh itu. Tapi gagal keduanya kini terduduk di tanah kering.


" Naura tenangin diri lo.”


" Kakak tolongin Luna Aku mohon Aku nggak mau Luna Pergi.” Naura sekuat tenaga menahan tangisnya sendiri kemudian kembali menguatkan cengkeraman di lengan seragam Arkan


" Aku janji ... aku bakal ngejauh dari Kakak kalo Kakak mau nolongin aku Aku Nggak akan ganggu Kakak lagi. Aku janji ... aku janji.”


Naura sudah tidak Peduli akan keinginannya untuk bertemu Miracle Yang terpenting baginya saat ini keselamatan Luna.


" Naura " Nada suara Arkan memperingatkan. ia tidak suka Naura bicara seperti itu. Tentu saja ia akan menolong Luna tanpa syarat apa pun.


" Aku Nggak akan ganggu Kakak lagi setelah ini Aku janji, Kak. Aku janji aku janji," Naura terus merapatkan kalimat itu, yang justru membuat Arkan kesal.


" Naura astaga,” Arkan sudah hilang kesabaran. Melihat Naura menangis sesedih ini tentu juga menyakiti Perasaannya.


Arkan menepis tangan Naura di lengan seragamnya. Setelah sekilas menghapus air mata yang mengalir deras di wajah Naura Arkan bangkit menghampiri Luna untuk segera membawa gadis itu ke rumah sakit


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2