My Secret Admirer

My Secret Admirer
bab 46 semakin nyaman


__ADS_3

Suasana kembali canggung saat malam tiba, Rakana maupun Rayna saling terdiam dalam pikirannya masing-masing.


"Pak..."


"Rayna..."


Mereka memanggil secara bersamaan membuat Rakana dan Rayna tersenyum canggung.


"Pak Rakan dulu...."


"Kamu dulu..."


Mereka saling menunjuk secara bersamaan kembali. 


Rakana menghela nafasnya. "Ya sudah ladies first." Ucap Rakana.


Rayna menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara. Di tatapnya wajah Rakana dengan berani.


"Terima kasih saya ucapkan atas semua kebaikan pak Rakan kepada saya. Maaf saya belum bisa membayar semua kerugian yang pak Rakan alami karena saya." Ucap Rayna begitu formal. "Pak Rakan pasti lelah karena menunggu saya di sini." Kembali Rayna berucap. "Dan jangan memperpanjang masalah kejadian tadi pak, saya gak mau jika  nanti hubungan pak Rakan dengan tuan Jonathan menjadi tidak baik gara-gara masalah ini. Hanya saja saya meminta, saya tidak mau bertemu lagi dengan tuan Jonathan." Pinta Rayna dengan memohon, ia benar-benar tak ingin melihat pria bule itu.


"Aku akan tetap memberikan nya sebuah pelajaran. Ini Indonesia bukan luar negeri. Tidak masalah bagiku jika tidak memiliki seorang sahabat seperti dia, tidak rugi bagiku!" Tegas Rakana.


"Aku marah, aku pun kesal karena dia sudah membuat mu terluka. Dia tidak bisa di maafkan!" Rakana berucap dengan sorot marah nya.


"Jangan melarang ku, karena aku sedang mencari keadilan untuk mu Rayna. Apa kamu akan memaafkan nya begitu saja, jika saja saat kejadian tadi aku tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi padamu." Sorot kecewa kini Rakana tampilkan, karena Rayna malah melarang nya untuk memberikan pelajaran pada pria bule itu. "Jika kalian melakukan nya atas suka sama suka aku akan membiarkan hal itu." Walaupun hatinya tak akan rela. Batin Rakana. "Tapi ini, jelas kamu di paksa melayani pria bejad seperti dia, apa kamu akan terima begitu saja!" Rakana seakan merasakan sesak saat mengatakan hal itu, tapi ia harus menyadarkan Rayna, bahwa ia sangat peduli padanya.


"Hidup saya akan hancur dan mungkin saya tak mau hidup lagi." Lirih Rayna menjawab dengan mata yang mulai berkaca-kaca. 


Rayna mulai menangis, jika mengingat kejadian tadi ia merasakan sesak di dadanya, kehormatan yang ia selalu jaga akan ternoda dengan begitu paksa, ia tak terima sebenarnya, ia pun marah akan hal itu, namun ia tak mau semua nya menjadi sulit dan menyulitkan.

__ADS_1


Rayna semakin terisak, namun ia menahan agar sampai tak menangis dengan keras, hidupnya sudah miris sejak awal dan tak menyangka akan ada kejadian seperti ini yang menimpanya.


"Maafkan aku Rayna, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan mu." Ucap Rakana pelan, ia pun mendekat ke arah Rayna yang tubuhnya bergetar karena tangisannya.


"Pak Rakan benar, seharusnya saya tidak boleh membiarkan dia hidup tenang, walaupun saya bukan korban tapi saya hampir menjadi korban." Isak Rayna. 


Rakana berdiri di samping Rayna yang sedang duduk di atas ranjang pasien nya,  sedikit ragu untuk memeluk Rayna, tapi ia ingin sekali menenangkan gadis itu. Rakana mengusap kepala Rayna, sampai ujung rambut dengan pelan, namun tiba-tiba saja hal terduga terjadi, Brug... Rayna memeluk tubuh Rakana yang ada di sampingnya dengan isak tangisnya, Rayna butuh sebuah pelukan agar bisa menguatkan dirinya. Dan pelukan itu berlabuh pada lelaki yang membuat ia selalu nyaman dan aman selain ayahnya.


"Hukum dia pak, jangan beri ampun. Saya tidak mau melihat dia hidup dengan tenang dan melakukan hal yang sama kepada orang lain, beri dia pelajaran yang mampu membuat dia sadar, bahwa dia sudah melakukan kejahatan yang tak bisa di maafkan!" Ucap Rayna dengan tangis kemarahannya.


"Aku akan melakukannya!" Geram Rakana semakin yakin, apalagi Rayna yang sudah meminta nya.


Dan pada akhirnya tangis Rayna pecah, pelukannya kepada Rakana semakin erat dan wajah nya menelusup pada dada hangat Rakana, ia tak mampu lagi untuk menahannya, ia benar-benar tak bisa menjadi wanita kuat jika di hadapan Rakana. Ia selalu lemah!


Rakana membalas pelukan Rayna, ia mengusap punggung Rayna yang bergetar karena tangisannya, menenangkan gadis pemilik hati nya selama ini.


"Menangislah jika itu membuat rasa yang ada di hati mu meluap. Setelah ini kamu tidak boleh menangis lagi." Bisik Rakana. 


Isak tangis berhenti, terganti dengan sebuah keheningan yang melanda dua insan berbeda jenis itu. Namun pelukan mereka belum terlepas. Tangis Rayna memang masih terdengar tapi sudah lebih tenang. Rayna malu sebenarnya karena dialah yang pertama memeluk Rakana. Jadi setelah ia tidak menangis ia bingung harus seperti apa saat pelukan itu terlepas.


Suara dering handphone Rayna berbunyi membuat Rayna mengurai pelukan pada lelaki yang menjadi bos nya itu. Akhirnya...


Rayna melihat sebuah nama tertera di layar handphonenya. "Ayah." Gumamnya.


Rayna melepas pelukannya, lalu dengan cepat mengusap wajahnya yang basah dengan air matanya secara tergesa-gesa.


"Pak Rakan jangan bicara dulu ya." Mohon Rayna seraya menatap wajah Rakana dengan sembab nya dan bibir basahnya, wajah Rayna tepat di bawah wajah Rakana saat gadis itu mendongakkan wajahnya, membuat Rakana gemas sendiri. Rakana mengangguk, lalu sedikit menjauh.


Rayna menarik nafas nya dalam-dalam, lalu mengusap kembali sisa air matanya yang masih membasahi ujung mata dan bulu mata nya.

__ADS_1


"Hallo ayah." Rayna menjawab panggilan video call ayahnya itu.


"Ray kamu baik-baik saja kan? Kamu seperti sedang di rumah sakit?" Tanya ayah langsung saat melihat ruangan seperti kamar inap.


"Aku baik-baik aja kok Yah, aku lagi di klinik hotel tempat aku bekerja, biasa tamu bulanan ku datang." Rayna memberi alasan dengan menampakkan senyum baik-baik nya.


"Tamu bulanan mu masih selalu sakit? Cepat minum pereda nyeri, jangan buat ayah khawatir." Titah nya.


"Siap ayah, aku udah minum kok, ini lagi istirahat mungkin sebentar lagi hilang rasa nyerinya." Kembali Rayna berkilah. Ayahnya memang tahu jika setiap bulannya Rayna akan kesakitan jika haid nya datang, saking dekatnya hubungan mereka membuat ayahnya tahu kebiasaan Rayna satu itu.


"Bagus kalau begitu. Kapan kamu pulang nak? Adik mu Radit selalu menanyakan kabar kamu." 


"Radit tanya kabar aku Yah?!" Kejut Rayna tak percaya, ayah terlihat mengangguk membenarkan.


"Dia bilang, dia ingin meminta maaf padamu secara langsung. Radit selalu menyalahkan dirinya sekarang, karena jarang nya kamu pulang. Adikmu itu berpikir karena dialah alasan kamu gak pulang-pulang." Beber ayah, Rayna melirik ke arah Rakana yang sedang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan antara dirinya dengan ayahnya, membuat Rayna berdehem, ia tak mau Rakana sampai tahu masalah keluarga nya lagi yang sedang tidak baik-baik saja. Sudah cukup! Pikirnya.


"Ayah, nanti kita bicara lagi ya, aku akan menghubungi ayah, jika nanti aku dapat cuti libur aku akan pulang ke rumah." Ucap Rayna, memutuskan panggilan itu, setelah sang ayah mengerti.


"Radit..." Gumam Rayna sedikit tersenyum dalam sebuah lamunannya. Akhirnya adiknya itu mau menerimanya kembali dan itu artinya dia sudah mau memaafkannya. 


"Sudah telponan nya?" Suara berat membuyarkan Rayna dalam lamunannya. Rayna mengangguk pelan.


"Kamu selalu sakit jika sedang datang bulan?" Tanya Rakana tiba-tiba. Rayna menatap tak percaya ia malu jika membicarakan hal seperti itu.


"Kamu harus periksa, mau periksa sekarang, biar aku yang menyuruh dokter untuk memeriksakan nya!" Ucap Rakana cepat, ia tak mau Rayna kesakitan sedikit pun.


"Tidak perlu pak, ini hal biasa kok, lagi pula sekarang saya sedang tidak datang bulan." Tolak Rayna dengan cepat. "Ini hanya alasan saja kepada ayah saya agar ayah saya tidak mengkhawatirkan saya." Ujarnya menjelaskan.


Rakana menarik nafas lega. "Jika kamu sakit bicara saja pada ku. Jangan sungkan." Ucapnya. Rayna hanya tersenyum canggung saja.

__ADS_1


Rayna menatap wajah bos nya itu, kalau jujur Rayna sekarang semakin nyaman dengan bos nya, namun ntah kenapa rasanya sangat jauh jika ia menginginkan hal lebih daripada ini.


__ADS_2