
Cowok itu tersenyum menyaksikan keterkejutan di wajah Naura Kenalin Ia mengulurkan tangannya, tetapi tak kunjung disambut Naura. Tanpa tersinggung dengan sikap tak bersahabat Naura ia menarik kembali tangannya dan menyebutkan namanya
" Nama gue Aston "
Kening Naura semakin berlipat. Ia tidak Pernah mendengar nama itu sebelumnya. Terlebih Penampilan cowok itu yang kelihatan seperti anak orang kaya, membuatnya ragu sendiri Teman-teman Naura kebanyakan berasal dari keluarga sederhana.
" Masih belum ingat juga," Tanya cowok itu mulai tak sabar.
" Tunggu sebentar Gue Punya cara buat mengingatkan lo sama gue.β Ia merogoh saku celana abu-abunya cukup lama, membuat Naura semakin Penasaran.
Lalu, Aston cepat-cepat meletakkan sesuatu berwarna hijau di bahu Naura membuatnya spontan berteriak ketakutan.
" Aaarrrgggh, singkirin " ujar Naura sambil mengendikkan bahu berkali-kali Kedua matanya terpejam rapat.
Tawa nyaring Aston membuat Naura memberanikan diri untuk membuka mata perlahan. Ia melihat Aston mengulurkan sesuatu berwarna hijau tepat di depan wajahnya.
" ini Cuma karet gelang Naura," kata Aston masih terbahak. " Lo masih ngira gue suka bawa ulat bulu ke mana-mana buat jailin lo,"
Pikiran Naura seolah langsung terhubung dengan kejadian bertahun tahun lalu, ketika ia sering menangis karena selalu dijaili teman sepanti yang selalu bermain main dengan ulat bulu.
Naura menunjuk cowok di depannya sambil membuka mulut. Ia tidak mungkin salah. Cowok itu teman masa kecilnya selama tinggal di Panti. Cowok jail yang sering berkomplot dengan Mika untuk merebut jatah susunya
" As ....β Naura kembali mengingat nama bocah laki-laki nakal di masa kecilnya.
Sedangkan Aston sudah mengangguk kecil, menyadari Naura sudah mengingatnya.
" As ... Asep "
Senyum di wajah Aston memudar seketika. Ia menempelkan telunjuk di bibirnya. " Sssttt. Itu nama gue yang dulu. Sekarang gue udah ganti nama jadi Aston. Keren, kan,"
" Astaga, Asep " Naura memperhatikan Penampilan Aston yang sangat berbeda dari teman kecilnya dahulu. " Lo beneran Asep ? Bocah dekil yang suka main di Pohon itu kan buat nyari ulat itu," tanyanya masih takjub mendapati Perubahan drastis Penampilan teman lamanya.
Wajah Aston berubah kecut ketika Salsa masih saja memanggilnya dengan nama lama.
" Panggil gue Aston " katanya kembali mengingatkan.
" Lo murid Pindahan " tanya Naura
Aston mengangguk.
" Kenapa Pindah ke sini "
" Sengaja. Mau ketemu sama lo "
" Gue," Naura mengerutkan kening
" Mau Ngapain "
Sebelum Aston menjawab pertanyaan Naura Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan nama yang membuat cewek itu sedikit cemas.
Mama calling π
Mama jarang sekali meneleponnya Dan apabila hal itu terjadi Naura yakin ada sesuatu. Naura segera menjawab Panggilan itu
" iya, halo, Ma "
" Kakak bisa ke klinik 24 jam dekat rumah sekarang? Mama Pingsan Luna takut banget.β Suara Pilu Luna di ujung Ponsel membuat Naura Panik.
" Ada apa " tanya Aston cemas saat menangkap raut wajah Naura berubah
...β’β’β’β’β’...
Sesampai di klinik 24 jam yang disebutkan Luna tadi langkah Naura terhenti di depan Pintu ruang rawat ketika menemukan Papanya baru saja keluar.
" Pa, Papa Kapan Pulang dari Bandung Mama kenapa," Naura langsung mencecar Martin dengan Pertanyaan
Martin menyentuh kedua bahu Naura Tatapan matanya tampak sangat lelah
" Papa baru sampai Jakarta tadi Pagi Papa memang sengaja ambil cuti beberapa hari,β jawabnya dengan nada lemah
" Mamamu masih belum sadar Dokter bilang dia terlalu banyak Pikiran belakangan ini Jadi kondisinya drop,"
Naura melirik celah Pintu ruang Perawatan yang sedikit terbuka
" Aku mau ketemu Mama, Pa "
Papanya mengangguk kemudian melepaskan tangannya dari bahu Naura
Naura masuk ke ruangan itu kemudian menghampiri Luna yang sedang duduk menemani Maria di ranjang nomor dua dari kiri. Mengingat bukan hanya mamanya yang dirawat di situ Naura berusaha untuk tidak mengganggu Pasien lain.
Naura menyingkap sedikit tirai yang menutupi ranjang Maria, lantas bergabung dengan Luna yang masih berpakaian seragam sekolah Tampaknya Luna sama dengannya bergegas ke tempat ini ketika mengetahui Mama dilarikan ke klinik
Dipandanginya wajah Maria yang Pucat Pasi. Terbaring tak berdaya dengan selang infus di Pergelangan tangan
" Mama Pingsan Kak Papa yang bawa Mama ke klinik Papa juga yang jemput Luna di sekolah buat nyusul ke sini," kata Luna menceritakan hal yang diketahuinya.
" Udah lama Mama Pingsan," tanya Naura Tangannya Perlahan bergerak menggenggam tangan mamanya di sisi ranjang.
Luna menggeleng Pelan. " Luna juga baru sampai setengah jam lalu terus langsung telepon Kakak."
Genggaman tangan Naura semakin erat. " Ma, Mama mikirin apa, sih sampai drop begini ? Harusnya Mama bagi bagi sama aku. Aku Pasti senang kalau Mama mau cerita sama aku.β
Cukup lama Naura duduk di sebelah Luna menunggu mamanya yang masih tertidur. Sepertinya Maria kehilangan banyak waktu istirahat belakangan ini karena memikirkan sesuatu hal Naura akan membiarkan Mamanya tidur lebih lama lagi.
Cepat bangun, ya, Ma. Aku lebih takut kalau Mama diemin aku dengan cara kayak gini.
genggaman di bahunya membuat Naura menoleh Papa muncul di sebelahnya sambil menatap dengan tatapan yang sama lelahnya.
" Papa mau bicara sebentar sama kamu.β
Naura mengikuti Papa yang mengajaknya ke luar ruangan kemudian menghampiri seorang wanita yang langsung bangkit dari duduknya begitu melihat mereka mendekat Tatapannya sendu. Naura bisa menebak bahwa wanita itu habis menangis
" Papa mau kenalin kamu sama seseorang.β
Ucapan Martin membuat Perasaan Naura tiba-tiba saja bergejolak Dipandanginya kembali wanita yang berdiri tidak jauh darinya dengan teliti Kali ini wanita tersebut mulai terisak Pandangannya tidak Pernah beralih sedetik Pun dari Naura Dan, hal itu sudah dirasakan Naura sejak tadi, sejak ia sampai di depan ruang rawat mamanya.
Naura Pikir wanita itu duduk bersedih setelah menjenguk salah satu kerabat yang kebetulan seruangan dengan mamanya. Namun, mungkin tebakannya salah. Apa wanita ini kerabat Mama ? Atau, teman Mamanya ?
" Naura " Martin menepuk bahu Putrinya hingga membuat Naura tersadar dari segala tebakan yang berkecamuk di kepalanya.
__ADS_1
" Kenalkan ini Mira teman Papa,β ucapnya kepada Naura Tatapan Martin kemudian beralih menatap Mira
" Mira kenalkan ini Naura "
Tangis Mira semakin meledak ia meraih cepat Naura ke dalam Pelukannya Menyalurkan begitu besar kerinduan akan sosok yang berada dalam Pelukannya saat ini, sosok yang ia Pikir tidak akan bisa dipeluknya senyata ini
" Naura " ucap Mira terdengar pilu di telinga Naura
Naura terlalu terkejut dengan Perlakuan wanita yang kini memeluknya erat. Biar bagaimanapun ia merasa Pelukan ini bukan sesuatu yang wajar untuk seseorang yang baru saling bertemu. Kecuali bila wanita ini mengenal baik dirinya.
Naura menoleh ke Papanya, yang tampak terharu dengan Pemandangan ini. Rasa Penasaran Naura sudah berada di titik Puncak. Ia curiga Papanya menyembunyikan sesuatu
" Pa, dia siapa "
" Naura ...." Mira masih meraung memeluk Naura membelai rambut Panjangnya Penuh haru
" Naura dia .... " Suara Martin tertahan raungan Mira.
" Naura Maafin Mama.β
Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Naura mendengar kalimat itu Tubuhnya kaku sekaku kakunya lidahnya terasa kelu walau begitu banyak Pertanyaan yang ingin ia lontarkan saat ini
...β’β’β’β’β’...
Tanda Pulang berbunyi Namun Arkan tidak menemukan Naura keluar dari kelas itu. Ia berniat mengantar Naura Pulang sebelum menjemput Ken di sekolahnya.
Arkan baru menyadari bahwa dua orang teman Naura baru saja meninggalkan kelas tanpa Naura Arkan berniat mengejar mereka, tetapi suara seseorang di belakang membuatnya urung melangkah.
" Masih berani nemuin cewek itu "
Arkan berbalik Ia menemukan Cherry sedang memangku tangan sambil menyunggingkan senyum sinis kepadanya.
" Gue Nggak ada urusan sama lo," Arkan berniat berbalik kembali, tetapi kalimat yang dilontarkan Cherry selanjutnya membuatnya waspada
" Memangnya bokap lo belum bilang apa-apa sama Lo," tanya Cherry Penuh angkuh.
" Oh biar gue tebak Mungkin Om Roy lagi nunggu lo di rumah buat bicarain satu hal Penting sama lo."
Arkan mencurigai sesuatu Perasaannya mulai tidak tenang. Dan, benar saja Tidak lama berselang ia merasakan getaran Ponsel di sakunya. Getaran yang entah mengapa ia yakini berasal dari Panggilan Papanya.
Masalah apa lagi yang harus dihadapi Arkan kali ini ?
...β’β’β’β’β’...
" Mama Mira sedang ada di halaman samping klinik Kamu temui dia, ya. Dia lagi nungguin kamu.β
Perkataan Martin itulah yang membuat Naura kini berjalan ke lokasi yang disebutkan Papanya Naura menemukan Mira di sana sedang duduk di kursi Panjang sambil menangis Pelan Pandangan wanita itu mengarah Pada layar Ponselnya yang menyala
Semakin dekat Naura bisa mendengar dengan jelas suara tangis wanita berusia sekitar empat Puluh tahunan itu. Terdengar sangat memilukan Sampai saat ini Naura masih belum bisa Percaya bahwa sosok itu ibu kandungnya seseorang yang selama ini ingin ia temui
Akan tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa ada Perasaan marah yang terpendam dalam hatinya. Tentang alasan wanita itu tega membuang dan meninggalkannya hingga belasan tahun.
Tanpa sadar Naura ikut terisak. la bingung harus bersikap seperti apa sekarang.
Suara tangis Naura semakin jelas, hingga membuat Mira menoleh. Ia mematikan video yang sedang diputarnya sejak tadi, menampilkan Pertunjukan Putri Salju yang sempat diperankan Naura bersama Ken beberapa waktu lalu. Ia baru menyadari bahwa Naura begitu mirip dengan Ken
" Naura ke sini " Panggil Mira sambil menepuk bangku di sebelahnya
" Naura Anastasya " sebut Mira Penuh haru
" Nama yang bagus.β Kali ini ia tersenyum
" Mama kangen banget sama kamu Naura," Suaranya bergetar tangan Mira mengusap sayang rambut Naura yang sama hitam seperti rambutnya
Naura balas menatap Mira Penuh haru
" Mama " tanyanya ragu Panggilan itu bahkan masih terdengar asing untuknya. Selama ini, hanya Maria yang dipanggilnya dengan sebutan Mama sejak kecil.
" iya ini Mama Sayang Mama kandung kamu.β Mira tak kuasa menahan tangisnya. la memeluk Naura erat seolah takut bila harus dipisahkan kembali.
" Mama Nggak nyangka bisa ketemu sama kamu Mama kiraββ Suaranya tertahan isak tangisnya sendiri. la hampir tidak Percaya dengan keajaiban ini, dipertemukan dengan Putrinya yang ia Pikir tidak Pernah ada
" Kenapa ninggalin Naura ? Kenapa biarin Naura sendirian ? Kenapa Nggak Pernah cari Naura ? Kenapa baru muncul sekarang Kenapa....β
" Naura " Pelukan Mira semakin erat untuk Naura Ia berusaha menahan tubuh Naura yang berguncang hebat karena tangis.
" Kenapa? Kenapa " Suara Naura bergetar hebat.
" Papa yang salah "
Suara serak itu membuat Mira melepas Pelukannya. Ia dan Naura menoleh kompak ke sumber suara. Mereka melihat Martin berjalan mendekat Wajah lelah Pria itu membuat keduanya mengerti bahwa bukan hanya Naura dan Mira yang terguncang dengan keadaan ini.
Martin Perlahan duduk di sebelah Naura kemudian menatap Putrinya dengan tatapan bersalah
" Papa salah karena sembunyikan ini dari kamu begitu lama.β
Dengan Pipi yang basah karena air mata Naura menatap Papanya dengan alis menyatu berharap mendapat Penjelasan.
...β’β’β’β’...
" Jadi sekarang Papa bawa-bawa alasan kalau aku sama Naura itu sepupuan dan nggak mungkin bisa sama-sama Nggak ada alasan yang lebih masuk akal lagi, Pa,β
Kini di sinilah Arkan berada. Ia berinisiatif menemui Papanya di ruang kerja setelah membiarkan Ken bermain di kamarnya. Ia berpesan kepada bocah itu untuk tidak beranjak dari sana sampai Mamanya menjemput.
" Naura itu anak tantemu Dia kakaknya Ken Kalian saudara sepupu Arkan,"
Roy berkali-kali melemparkan fakta itu kepada Arkan. Arkan berusaha untuk tidak memercayainya, tetapi kejadian semalam ketika ia memergoki Mira menangis sambil menggenggam erat Ponselnya membuat Pikiran Arkan bercabang. Arkan kini malah curiga bahwa tantenyalah Miracle LINE Naura selama ini.
Apakah semalam Tante Mira menangis karena membaca chat dari Naura ?
" ini masalah Tante sendiri Tante yang akan selesaikan sendiri.β
Arkan mengingat tangisan Pilu Tante Mira semalam. Apa hari ini tantenya berniat menemui Naura sampai meminta dirinya untuk menjemput Ken ?
Benarkah Tante Mira adalah Miracle LINE Naura " Mira ? Miracle β ucap Arkan tak Percaya. Apa ini semua hanya kebetulan ? Mengapa tantenya bisa sangat rapi menutupi semua ini
Lalu ingatannya seolah terputar kembali Pada kejadian beberapa waktu lalu ketika ia memperhatikan Naura dalam diam di sanggar
Sekian lama sunyi menyelimuti Arkan tidak lagi minat Pada lembar naskah di tangannya. Ia mengangkat kepalanya memandangi Naura dari Pantulan cermin besar di hadapannya Seolah kurang Puas ia kini menoleh menatap langsung sosok gadis yang selalu ia sukai dalam berbagai ekspresi Termasuk
__ADS_1
saat ini saat Naura sangat serius membaca naskah.
Diperhatikannya satu Persatu bagian wajah Naura yang selalu menarik di mata Arkan. Sekian lama mengamati Arkan baru menyadari bahwa bulu mata Naura sangat lentik bila dipandangi dari samping seperti ini Hidungnya mancung dan runcing. Serta bibir tipis warna merah muda itu masih seperti yang dahulu. Tampak manis dan menarik. Naura masih saja cantik Malah bertambah cantik berkali-kali lipat dari kali terakhir mereka saling menyapa akrab, Dahulu.
Dan ciri-ciri Naura itu juga dimiliki Ken Arkan masih sulit memercayai bahwa Salsa adalah kakak kandung Ken
" Kalian saudara sepupu " Roy kembali mengingatkan, hingga membuat Arkan semakin kesal kepada Papanya.
" Terus kenapa, Pa " Arkan berusaha terlihat baik baik saja, walau sejujurnya ia shock luar biasa.
" Aku sama Naura sama sama dari Panti Kami Nggak ada hubungan darah sama sekali."
" Papa tetap Nggak akan setuju kamu sama Perempuan itu," bantah Roy cepat. " Pertunanganmu dengan Cherry akan dipercepat Papa akan mempersiapkan semuanya Kamu hanya cukup menurut apa kata Papa dan semuanya akan berjalan dengan semestinya.β Roy berjalan mengitari meja kerjanya, lalu duduk di bangku kebesarannya
" Kamu sudah bisa keluar "
" Pa, aku Nggak mau nasibku sama seperti Tante Mira yang Pernikahannya berakhir dengan Perpisahan karena Perjodohan yang dipaksakan.β Arkan tetap bersikeras Pada Pendiriannya
" Arkan Cukup " Roy menyahut dengan tidak sabar.
" Kamu dan Cherry bukan akan langsung menikah besok Kalian masih Punya banyak waktu untuk saling mengenal.β
" Nggak ada yang aku mau selain Naura Pa.β
" Keluar Arkan ! Nggak ada lagi yang Perlu kita debatkan.β
Roy meraih remote TV lalu menekan tombol Power Ia berusaha meredam Paksa suara Protes Naura dengan suara TV yang baru ia nyalakan Dan berhasil Kini hanya suara headline news yang terdengar menggema nyaring dalam ruangan. Sementara itu Arkan terdiam menatap Papanya dengan emosi yang bergejolak.
" Perusahaan ekspor impor milik Roy Bagaskara yang sempat menjadi yang terbesar di Indonesia kini berada dalam masa krisis Lebih dari seribu karyawan terancamββ
Roy buru-buru mengganti saluran TV yang menyiarkan headline news tentang keadaan Perusahaannya Namun, sialnya semua channel saat ini sedang menayangkan berita serupa hingga membuatnya memutuskan untuk mematikan kembali TV itu
Sayangnya Arkan bukan orang bodoh yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Sepenggal cuplikan berita yang didengarnya tadi sudah cukup membuatnya tahu bahwa Perusahaan Papanya sedang dalam masa krisis Karena hal ini Pula Papanya memutuskan untuk mempercepat Pertunangannya dengan Cherry alih-alih menjadikan Naura sebagai alasan awal.
" Kenapa belum keluar ? Papa sedang banyak kerjaaan," Kini Roy menyibukkan diri dengan membuka berkas berkas di atas meja. Ia berpura-pura tidak terpengaruh dengan berita tadi walau kepanikan tergambar jelas di mimik wajahnya
Setelah menahan kemarahan sebisanya Arkan berbalik menuju Pintu Namun gerakan tangannya tertahan di daun Pintu ketika suara Papanya kembali terdengar.
" Papa Nggak main-main Arkan ini menyangkut kelangsungan Perusahaan Papa Kalau kamu menolak Pertunangan ini ....β Roy menggantungkan kalimatnya, membuat Arkan menoleh karena Penasaran
" Papa Nggak akan segan-segan untuk menjauhkan Naura dari mama kandungnya lagi,"
" Lagi " Satu kata itu yang memancing Arkan bersuara
Arkan memutar kembali tubuhnya kemudian melangkah cepat mendekati meja kerja Papanya
" Papa tega Pisahin ibu dan anak yang baru dipertemukan,"
Arkan tahu begitu besar keinginan Naura untuk bertemu orang tua kandungnya. Ia masih ingat topik bahasan yang diceritakan Naura kecil waktu itu. Tentang betapa ingin Salsa memeluk mama kandung yang ia yakini tidak benar-benar ingin membuangnya Walau Arkan sendiri Pun terkejut ketika mengetahui bahwa Mama kandung Naura adalah tantenya sendiri
" Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan supaya Papa Nggak berbuat setega itu, kan," tanya Roy bernada ancaman.
...β’β’β’β’...
Naura mundur beberapa langkah Sebelah tangannya membekap mulutnya sendiri demi mencegah tangisnya semakin Pecah. Ia sungguh tidak bisa hanya duduk tenang ketika Papanya menceritakan semuanya Tentang dirinya tentang mama kandung yang baru ditemui hari ini juga tentang Papa kandungnya
" Naura dengarkan Papa dulu.β Martin berusaha mencegah kepergian Naura Namun Naura malah berbalik dan berlari pergi meninggalkan Papa juga Mira yang tidak kuasa membendung tangisnya sendiri. Wanita itu bahkan sampai jatuh terduduk di rerumputan halaman klinik ketika gagal menggapai Salsa yang semakin menjauh
Air mata Naura tumpah. Ia tidak sanggup memercayai kenyataan ini Semua ini terlalu menyakitkan baginya Keadaan ini membuatnya merasa marah.
" Kak, Kak Naura "
Suara Luna dari arah Pintu masuk klinik membuat Naura buru-buru menyeka air mata dengan Punggung tangan
Luna menoleh dan menemukan Salsa berdiri tidak jauh dari Pintu. Ia lalu mendekat.
" Kak Mama udah bangun Dari tadi nyariin Kakak.β
Naura tersenyum senang, lalu bergegas masuk untuk menemui Maria Dibukanya Pintu ruang rawat. Naura langsung bisa melihat Maria sedang duduk bersandar di kepala kasur dengan Ponsel di genggamannya
Naura mendekat. Ia sungguh senang melihat Maria sudah sadar. Wajah mamanya sudah tidak Pucat seperti waktu Pingsan tadi.
" Ma " Naura menyapa Pelan, berusaha tidak mengganggu kesibukan Maria yang mungkin saja sedang mengecek notifikasi notifikasi Penting yang masuk ke ponselnya sejak ia Pingsan tadi
Akan tetapi niat baiknya justru dibalas Maria dengan nada ketus, Mama menyahut tanpa mengalihkan Pandangan sedikit Pun dari Ponsel di tangannya.
" Sudah ketemu sama mama kandungmu,"
Hati Naura seolah teriris Mau sampai kapan Maria bersikap seperti ini kepadanya ?
" Ma, Naura .... "
" Dia baik, ya. Lebih baik dari Mama.β
Naura hampir menangis mendengar kalimat dari mulut Maria. Demi Tuhan Naura tidak Pernah berpikiran seburuk itu. Tidak Pernah terpikir olehnya untuk membandingkan hal semacam itu Naura tidak mau Maria membencinya Ia menyayangi mamanya itu, meski mereka tidak ada hubungan darah sekalipun.
" Ma, tolong jangan kayak gini Naura sedih dengarnya." Naura berusaha menyentuh tangan Maria tetapi wanita itu sudah lebih dahulu menjauhkannya.
" Jadi Kapan Mama kandungmu mengajak kamu tinggal sama dia," tanya Maria, sengaja menekankan dua kata itu.
" Mama " Suara Naura kali ini bergetar hebat, diiringi sebulir air mata yang tidak sanggup lagi ditahan.
Maria menurunkan tangan Pandangannya tidak lagi menatap Ponsel Kini ia menoleh kepada Naura yang menangis semakin sedih di sebelahnya. Ia menatap putri angkatnya itu cukup lama.
" Jadi Kapan ? Mama kandung kamu Pasti kangen banget sama kamu.β
Naura menggeleng sambil memejamkan matanya rapat-rapat menjatuhkan air matanya yang kini mengalir semakin deras. Ia sangat sedih menyadari Maria sangat menginginkan dirinya keluar dari rumah. Karena Maria sangat membencinya.
Bunyi Pintu yang dibuka Perlahan membuat Maria dan Naura menoleh kompak. Dua orang siswi berseragam SMP muncul di sana. Salah satunya memeluk keranjang buah yang dikemas cantik.
Naura menyadari dua siswi itu adalah dua gadis manis yang sempat datang ke rumah untuk mengantarkan tugas Prakarya kepada Maria Mereka anak didik mamanya.
" Kamu sudah bisa keluar.β Suara Maria membuat Naura menoleh
" Mungkin kamu butuh waktu untuk berkemas.β
Naura tidak kuasa untuk menyahut Menyadari Mama yang teramat membencinya membuat hati Naura sakit bukan main.
Dua siswi itu mendekat dan sebelum mereka melihat Naura yang sangat kacau, ia segera beranjak dari sana Gadis itu menutup Pintu ruang rawat bersamaan dengan tangisnya yang kini Pecah.
__ADS_1
...β’β’β’β’β’...