
Ketukan pintu membuat dua sejoli yang sedang melampiaskan rasa rindunya terkejut, apalagi terdengar jika suara ayah yang memanggil nama Rayna.
"Ray, kamu sudah tidur belum?" Panggil ayah seraya terus mengetuk pintu. "Rayna." Panggil nya lagi.
"Emmm." Kejut Rayna ia memukul dada suaminya mencoba melepaskan ciuman Rakana padanya.
Rakana melepaskan ciumannya itu, sedangkan Rayna menyahuti panggilan ayahnya seraya merapikan diri nya yang hampir acak-acakan gegara suaminya itu, lalu ia pun mengusap bibirnya dan menarik nafasnya agar ayahnya tidak curiga padanya.
Rayna langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu sedangkan Rakana berlari ke belakang pintu, ia pun merasa berdebar karena takut penyamaran nya terbongkar sebelum misi nya berhasil.
"Ya, ayah ada apa?" Tanya Rayna berpura-pura menguap agar terlihat jika dirinya sudah tertidur.
"Kamu sudah tidur? Tadi ayah merasa mendengar orang tengah berbicara. Kamu sedang berteleponan?" Tanya ayah penuh selidik.
"Aku tadi lagi nonton drama yah di laptop, tapi malah ketiduran." Kilah Rayna beralasan seraya kembali berakting menguap.
"Oh." Jawab ayah dengan menengok ke dalam kamar Rayna. "Jangan tidur malam-malam, jangan lupa juga tutup jendela kamar, kebiasaan kamu suka buka-buka jendela." Omel ayah.
"Iya ayah." Sahut Rayna.
"Ya sudah ayah juga mau istirahat. Capek." Pamit ayah seraya pergi meninggalkan Rayna.
Rayna menghela nafasnya lega, melihat ayahnya masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Rakana yang tengah berada di belakang tubuh Rayna dengan segera menutup pintu kamar Rayna lalu menguncinya dengan cepat membuat Rayna terhenyak lalu menepuk punggung sang suami.
"Sudah aman." Bisik Rakana dengan senyuman nakal nya, ketika mertuanya terdengar menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama lagi Rakana langsung mencium kembali bibir Rayna dengan rakus, ia tak akan membuang waktu nya lagi, sudah sebulan ia berpuasa tak menyentuh istrinya itu.
Tengkuk Rayna ia tahan agar ciumannya semakin dalam dan semangat dalam lagi, ia benar-benar merindukan istrinya.
"Mas..." Bisik Rayna terengah-engah saat ciuman itu terlepas.
"Aku merindukan mu Rayna." Balas Rakana berbisik juga dengan nafas terengah-engah. "Bolehkah aku..."
Rayna memotong ucapan Rakana dengan mencium bibir suaminya itu dengan mengecupnya. "Boleh, tapi pelan-pelan. Karena di sini sudah ada calon bayi kita." Ucap Rayna seraya mengusapkan tangan Rakana pada perutnya.
Rakana tersenyum senang karena mendapatkan ijin dari istrinya itu, lalu ia menggendong tubuh istrinya membawa nya ke atas ranjang. "Aku akan main pelan-pelan sayang." Kecup Rakana dengan menatap wajah istrinya, Rayna tersenyum malu, dengan mengelus wajah Rakana dengan jari nya dan menampilkan wajah sensual nya. Menelusuri wajah yang kini penuh dengan bulu-bulu halus, ini wajah suaminya yang berbeda dari biasanya, namun ternyata semakin membuat Rayna bergairah melihatnya.
***
"Mas Bagas mencoba memisahkan Rakana dan Rayna, apa dia sudah tahu jika Rakana adalah putraku." Gumam Mayang ibu kandung Rakana. Ia bahagia mendengar kabar Rayna tengah mengandung namun ada ke khawatiran karena besannya berniat memisahkan mereka.
Mayang menengok ke arah dimana seseorang tengah berdiri di belakang, ia terkejut dan sangat terkejut mendengar suara itu. "Mas..." Getar Mayang sungguh ia sangat terkejut.
"Mas Bagas ap...apa kabar?" Mayang mencoba berbasa-basi.
"Tidak perlu berbasa-basi dengan ku." Tekan Bagas dengan dingin.
"Apa alasan mu merestui hubungan anakku dengan anakmu?" Sorot mata penuh kemarahan pada Mayang membuat ia menelan ludahnya susah.
"Ka... karena mereka saling mencintai." Jawab Mayang ia tak bisa mengelak lagi, pria di hadapannya itu sungguh berbeda saat menatap nya, dulu pria itu selalu menatap nya dengan tatapan lembut namun sekarang pria itu menatapnya dengan penuh kebencian padanya.
Bagas tersenyum sinis. "Aku tidak percaya dengan ucapan mu. Apa kamu pikir denganmu tidak pernah mau bertemu dengan ku membuat aku akan diam saja! Ya aku memang diam saja karena aku percaya jika besan ku sedang sibuk di luar negeri, tapi Tuhan lebih sayang padaku, karena sudah membuat aku tahu siapakah besan ku yang selama ini selalu tak ingin bertemu dengan ku. Ya... dan ternyata aku bodoh karena sudah menikahkan anakku dengan anakmu!" Bagas dengan dingin sungguh sangat menyesal.
__ADS_1
"Tapi Rayna tetap anakku, dia akan tetap menjadi anakku. Aku akan berusaha membuat mereka berpisah dan tidak saling memiliki hubungan apa-apa lagi." Lanjut Bagas tidak main-main.
"Rayna memang anakmu mas, tapi putraku mencintai Rayna." Balas Mayang, ia tak akan diam saja. "Apa kamu tega memisahkan orang yang saling mencintai mas." Sambung Mayang.
"Jangan mengatakan cinta di depanku, kamu pun tidak mengerti apa arti sebuah cinta." Balas Bagas dengan dingin.
"Aku minta maaf mas, karena masa lalu kita membuat anak-anak kita menjadi korban nya. Aku sungguh sangat menyesal." Ucap Mayang lirih ia memang sangat menyesal.
"Tidak ada gunanya kamu menyesali nya sekarang, karena aku tetap akan memisahkan Rayna anakku dengan anak mu. Aku tidak sudi memiliki menantu dari orang-orang yang sudah memberikan luka pada ku." Ucap Bagas tak terima.
"Aku minta maaf mas, aku sungguh sangat menyesal. Aku terpaksa melakukan itu pada mu." Sesal Mayang.
Bagas tersenyum sinis. "Terpaksa, tapi kamu bahagia kan hidup dengan laki-laki itu?!" Dingin Bagas menatap tajam pada Mayang, perempuan yang dulu sangat ia cintai, wajah nya terlihat putih pucat. "Ya kamu pasti bahagia hidup dengan pria bule dan kaya, karena semua yang kamu inginkan akan terpenuhi, sedangkan dengan ku, kamu tidak akan mendapatkan kebahagian itu kan?" Sinis nya.
Mayang diam namun ia merasa sakit dengan ucapan Bagas itu.
"Aku sakit mas, aku mengidap kangker payudara stadium akhir, hidup ku tak akan lama lagi. Aku ingin melihat putraku bahagia dengan perempuan yang ia cintai. Rakana tak pernah tahu sakit ku selama ini, aku bolak-balik ke luar negeri untuk pengobatan, namun aku beralasan dengan pekerjaan di sana pada Rakana." Jelas Mayang dengan lirih ia terpaksa menceritakan hal itu pada Bagas, bukan ingin di kasihani tapi karena ia ingin Rakana dan Rayna kembali bersatu. "Aku merahasiakan sakit ku pada putra ku, karena aku tidak ingin membuat Rakana bersedih. Aku ingin melihat putraku bahagia sebelum akhir hidup ku habis." lanjut Mayang.
Deg, jantung Bagas seakan berhenti saat mendengar penjelasan Mayang, ntah kenapa ia merasa sakit mendengar nya.
"Rayna juga sedang mengandung calon cucu kita mas." Mayang memberi tahu akan hal itu.
Deg, kembali jantung Bagas berdetak lebih kencang. Dari mana Mayang tahu jika Rayna sedang mengandung, dia yang ayahnya saja bahkan tinggal satu rumah pun tidak pernah mengetahui akan hal itu.
"Apa kamu tega melihat bagaimana cucu kita tidak memiliki orang tua yang lengkap. Buang sikap egois mu mas, demi kebahagiaan anak-anak kita. Walaupun aku sadar jika kesalahan ku akan masa lalu kita tidak akan pernah bisa kamu maafkan. Maafkan aku mas, maafkan aku." Lirih Mayang dengan menunduk sendu.
Ntah perasaan apa yang kini Bagas rasakan, ia hanya diam dan tak mampu membalas ucapan Mayang. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Mayang.
__ADS_1