
Sebulan sudah Rayna dan Rakana tak pernah bertemu, Rayna kesal, marah dan kecewa pada semua orang, terutama pada Rakana yang jelas tidak pernah mencoba menghubungi nya. Ya memang Rayna tak di berikan untuk memegang handphone saat ini karena ayahnya takut jika ia akan menghubungi Rakana, namun Rayna sangat kecewa pada suaminya itu karena tak ada upaya untuk mencoba menghubungi atau datang kembali untuk bertemu ayahnya supaya mendapatkan restu dari ayahnya itu.
"Aku kecewa sama kamu. Apa memang harus sampai sini saja hubungan kita." Lirih Rayna merasa sedih lagi-lagi ia harus merasakan kembali sakit nya di tinggal saat sedang sayang-sayangnya.
"Aku hamil mas... Di perut ku ada calon anak kamu." Elus Rayna pada perutnya yang masih rata itu. Sebulan yang lalu ia memeriksa keadaan nya langsung pada dokter, setelah merasa jika tubuhnya merasa semakin tak nyaman, itu juga ayah Bagas yang mengantarkan nya. Namun ayah Bagas tidak mengetahui kehamilan Rayna karena ia takut nanti ayahnya akan menyuruh nya untuk menggugurkan kandungannya. Pikir Rayna ketakutan.
Kegiatan Rayna selama sebulan ini adalah pergi ke kebun bunga ayahnya untuk menyegarkan dirinya yang terkurung di rumah. Kebun bunga ayahnya itu berada tepat di belakang tak jauh dari rumahnya.
"Ayah aku bawakan makan siang untuk ayah." Ucap Rayna seraya meletakkan tempat makan yang berisi makanan yang ia masak tadi.
"Ah ya terima kasih nak, nanti ayah makan." Balas ayah Bagas yang terlihat sedang sibuk dengan seorang laki-laki di depannya. "Rayna sini nak, ayah akan memperkenalkan karyawan ayah yang baru. Dia akan membantu ayah di sini merawat bunga dan membantu ayah mengantarkan bunga pada pelanggan." Jelas ayah menunggu Rayna menghampiri.
"Kenalkan dia Ramli, karyawan baru ayah. Dan Ramli ini anak saya, Rayna." Ayah Bagas memperkenalkan Rayna dan Ramli.
Ramli mengulurkan tangannya pada Rayna dengan tatapan tak lepas menatap Rayna yang terlihat cantik di matanya, dan itu membuat Rayna tak nyaman. Laki-laki berambut gondrong dan brewokan itu tersenyum pada Rayna.
"Rayna." Ucap Rayna sedikit ketus namun ia menerima uluran tangan laki-laki itu.
"Ramli." Ucap laki-laki itu.
"Ramli itu baru seminggu bekerja di sini, tapi dia pemuda yang rajin, ayah suka cara kerjanya." Puji ayah pada Ramli.
__ADS_1
Rayna mengangguk. "Aku pulang ya ayah, jangan lupa makanannya ayah makan." Rayna cepat mencari alasan untuk tidak berlama-lama di sana, ia risih dengan tatapan Ramli padanya.
"Kenapa buru-buru, biasanya kan kamu suka bantu ayah dulu menata bunga." Heran ayah.
"Aku mau nemenin Radit saja di rumah." Kilah Rayna cepat.
"Ya sudah pulang saja, di sini juga panas. Tapi tolong kamu bersihkan kamar tamu, Ramli mulai hari ini dia akan tinggal di rumah kita dan akan menempati kamar tamu itu." Titah ayah yang membuat Rayna membeku, kenapa laki-laki itu harus tinggal di rumahnya. Pikir Rayna.
Rayna membalikkan tubuhnya setelah terkejut dengan ucapan ayahnya itu.
"Kenapa dia harus tinggal di rumah kita? Kenapa tidak pulang pergi saja." Heran Rayna ia sedikit tak terima ada orang baru di rumah nya, ya walaupun kamar tamu tidak menyatu dengan rumah utamanya, kamar itu berada di sebuah paviliun kecil di rumahnya, namun laki-laki asing itu tetap saja berada di lingkungan rumahnya, batin Rayna.
"Dia orang jauh nak, kota sebrang sana, mana mungkin bolak-balik, pulang pergi." Balas ayah yang semakin membuat Rayna tak terima.
"Dia bisa cari tempat tinggal yang dekat di daerah sini, kontrakan atau kosan, bisa kan?" Tatap Rayna menatap tajam pada Ramli yang di balas dengan senyuman, namun senyuman laki-laki itu membuat Rayna mengingatkan nya pada Rakana suaminya. Rayna menggelengkan kepalanya, kenapa ia menjadi menyamakan laki-laki itu dengan suaminya, tidak-tidak!
"Bisa saja, tapi ini ayah yang minta, agar ayah gampang jika ada perlu dengan nya. Lagi pula kamar di paviliun kan kosong, sayang kalau tidak di tempati." Jelas ayah yang membela.
"Terserah ayahlah." Ketus Rayna merasa percuma. Ia pun pergi meninggalkan kebun itu dengan hati kesal.
"Kenapa ayah gampang mempercayai orang lain seperti itu, bagaimana jika dia orang jahat." Gerutu Rayna masih kesal dengan keputusan ayahnya itu.
__ADS_1
"Dia memang tampan, tapi rambutnya gondrong dan wajah nya brewokan begitu, bisa saja kan dia orang jahat yang sedang menyamar." Takut Rayna, ia harus membuat ayah nya membatalkan rencananya untuk Ramli agar tidak tinggal di rumahnya.
***
Malam harinya tiba, Rayna masih sangat kesal bahkan semakin kesal karena ayahnya menyuruhnya memberikan selimut pada Ramli yang sudah berada di paviliun nya. Sempat menolak Rayna akan permintaan ayahnya itu namun ayahnya tetap memaksa nya.
"Ini selimut untuk mu, ayah yang menyuruh ku." Ucap Rayna dengan tak ramah, ia akan membuat Ramli tak betah berada di rumahnya.
Ramli tersenyum melihat keketusan Rayna padanya. "Terima kasih Rayna." Balas Ramli.
Rayna menatap penuh melihat penampilan Ramli, ia ingin lebih jelas melihat wajah itu, siapa tahu dia memiliki bukti bahwa laki-laki ini adalah orang jahat atau sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa kamu ada perlu dengan ku?" Tanya Ramli menatap kecurigaan Rayna padanya.
"Emh tidak." Jawab Rayna cepat. "Tapi jika kamu macam-macam aku tidak akan segan melaporkan mu ke polisi!" Ancam Rayna dengan sungguh-sungguh.
Ramli tersenyum penuh arti. "Silahkan saja, aku tidak takut karena aku bukan orang jahat." Jawabnya.
"Baiklah kalau begitu. Jangan macam-macam!" Rayna pergi dari sana dengan tatapan mengancam pada Ramli, membuat Ramli kembali tersenyum dan geleng-geleng kepala nya melihat Rayna seperti itu.
"Sukses. Penyamaran ku berjalan dengan lancar." Gumam Ramli menatap kepergian Rayna. "Kamu akan terkejut sayang." Sambung nya dengan senyum simpul nya.
__ADS_1