My Secret Admirer

My Secret Admirer
BAB 15 ALASAN UNTUK DENGANMU


__ADS_3

kau akan mndapatkan pesangon dari q",jawab Kevin sambil melempar kunci mobilnya pada pria tua itu dan kmudian brlalu pergi. Kehadiran Kevin membuat smua org takjub bahkan para pegawai wanita trlihat terang2an menggoda sang


bos berdiri mematung di depan kelas dengan tatapan mengarah kepadanya Sepotong mimpi buruknya semalam berkelebat di kepala. Ia tidak ingin Naura menjauh. Ia tidak mau kehilangan gadis itu


Cherry menyadari Naura tengah memperhatikannya. Begitu jarak mereka sudah hampir dekat Cherry sengaja mengapit lengan Arkan Dan Arkan tidak menolak. Tidak berusaha melepaskan tangan Cherry seperti biasa ia lakukan ketika Regina bersikap manja kepadanya.


Arkan memang berangkat bersama Cherry. Cherry meneleponnya dan meminta untuk dijemput. Tentu saja awalnya Arkan menolak. Namun, ia tidak akan bisa menolak bila Perintah itu berasal dari Papanya.


Diam-diam Arkan memperhatikan ekspresi Salsa. Cewek itu terlihat tidak suka melihat Cherry ada di samping Arkan. Arkan sempat menduga Naura sedang cemburu. Ah sepertinya Arkan terlalu banyak bermimpi


Semakin dekat jaraknya dengan Naura semakin kuat Pula keinginan Arkan untuk menyingkirkan tangan Cherry yang masih bergelayut manja di lengannya. Ingin sekali Arkan meluruskan apa pun yang ada di Pikiran Naura saat ini. Bahwa, Cherry bukan siapa siapanya. Bahwa, Cherry bukan


tunangannya Namun Arkan sadar bahwa ia harus lebih menahan diri untuk tidak terang terangan menunjukkan rasa suka kepada Naura Dan ini sungguh menyakitkan


Arkan akan berusaha mengikuti saran Jerry kemarin untuk membalikkan keadaan, dan membuat Naura menyukainya.


" Bye fiance " Cherry melambai singkat kepada Arkan setelah sampai di depan kelasnya. " Jangan lupa nanti siang kita nonton bareng habis Pulang sekolah Biar bagaimanapun kita Perlu saling kenal satu sama lain sebelum tunangan kan," Cherry sengaja menekankan kata tunangan


Kemudian melirik Naura di dekatnya untuk memastikan maksud ucapannya tersampaikan dengan jelas


Arkan tidak merespons. Ia berlalu setelah sekali lagi melirik Naura yang masih belum beranjak dari Posisinya Sedangkan Cherry langsung masuk ke kelas setelah mengibaskan rambutnya ke arah Naura


Akan tetapi baru tiga langkah menjauh Arkan berhenti kemudian menoleh kembali kepada Naura Matanya turun melihat sesuatu yang digenggam Naura sejak tadi. Susu cokelat Arkan yakin Naura berniat ke kelasnya untuk memberikan susu itu kepadanya. Arkan tahu Salsa masih berupaya keras menarik Perhatiannya.


Banyak Pertimbangan dalam kepala Arkan saat ini. Sekuat apa pun mencoba mengabaikan, nyatanya Arkan malah menebak Naura akan memberikan susu itu kepada Kevin bila ia tidak menerimanya.


Akhirnya Arkan menghampiri Naura kemudian mengambil susu kotak dari tangan cewek itu.


Naura terkesiap Matanya mengerjap beberapa kali karena tindakan Arkan


" Gue haus " ucap Arkan cuek sambil menusukkan sedotan Pada kemasan susu yang baru saja direbutnya. Lalu, ia menyeruputnya tepat di hadapan Naura


Mereka saling tatap beberapa detik sebelum akhirnya Arkan kembali berbalik untuk melanjutkan langkahnya.


Naura masih kebingungan di tempat. Ia menatap Punggung Arkan yang semakin menjauh, lalu menghela napas Panjang. Rupanya Arkan mengambil susu itu hanya karena haus.


...•••••...


Anehnya kejadian sepanjang hari ini sama Persis seperti dalam mimpi Naura semalam Mulai dari Nadin yang menebak bahwa Arkan memang menyukainya, lalu Fira yang mengusulkan agar Naura membuat Arkan cemburu


Dan di sinilah Naura kini berada Duduk di bangku Panjang tepat di dekat kelas XII IPA 1 selepas bel Pulang beberapa menit lalu.


Sejauh ini semuanya berjalan seperti dalam mimpi. Naura hanya berharap kejadian kejadian selanjutnya juga akan terjadi sebagaimana dalam mimpi Naura sangat ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.


Naura tidak sabar untuk bertemu dengan sang Miracle Ia langsung berdiri tegak begitu Pintu kelas yang ditungguinya akhirnya terbuka. Ia mengamati satu Persatu wajah yang keluar dari ruangan itu. Bahkan Pemandangan yang dilihatnya ini sangat serupa dengan mimpinya. Naura seolah mengulang kembali sesuatu yang sudah Pernah dialami. Déja vu.


Naura menolehkan kepalanya ke ruang kelas. Suasana di dalam tidak terlalu ramai. Hanya tinggal beberapa anak sedang merapikan alat tulis masing masing, Dan, di antaranya ada Kevin dan Arkan


Lagi-lagi sama Naura menebak sebentar lagi Kevin akan menyapanya


" Hai Naura "


Benar kan ? Rasanya Naura menemukan bakat barunya sebagai cenayang.


" Hai Kak " jawab Naura sedikit kaku. Ia baru saja melirik Arkan. Cowok itu sedang menoleh kepadanya.


Naura melangkah masuk ke ruang kelas kemudian berhenti tepat di depan meja Kevin di deretan depan


" Lo nungguin gue dari tadi," tanya Kevin sambil bangkit dari kursi dan mengenakan tas Punggungnya.


Naura mengangguk dan tersenyum manis Diam-diam diliriknya lagi Arkan yang masih memperhatikannya Namun belum sedetik Naura sudah mengalihkan Pandangan ke lain arah


Gila kenapa bisa sama Persis begini Bahkan, tatapan Arkan kepadanya sama horornya seperti dalam mimpi Mirip ... ah, sudahlah.


" Kita jadi latihan drama kan, Kak,"


Kevin mengangguk. " Sebenernya hari ini Nggak ada jadwal latihan. Tapi berhubung lo baru banget gabung, gue rasa lo Perlu lebih mendalami Peran Apalagi lo jadi Pemeran utama.”


God bahkan kata-kata Kak Kevin sama Persis.


" Jadi kita cuma latihan berdua,” Naura bertanya dengan suara yang sengaja dibuat nyaring. Bahkan, lebih nyaring dari yang ia lakukan dalam mimpi. la menebak sebentar lagi Arkan akan bangkit dan berjalan menghampiri, lalu bilang suka kepadanya.


Naura menoleh Perlahan Dan betapa terkejutnya ia ketika satu Persatu tebakannya menjadi kenyataan. Arkan bangkit dari kursinya, dan kini berjalan mendekat ke arahnya.


" Untuk hari ini iya Kita latihan di sanggar nyokap gue aja, ya. Di sana kita bisa sekalian tanya mentor mentor yang lebih ahli soal seni Peran.”


Sebentar lagi Sebentar lagi. Miracle semakin dekat


" Batalin " ucap Arkan datar, tetapi tajam.


Berbeda dari mimpinya semalam, kali ini Naura tak kuasa menahan senyumnya yang merekah riang Padahal, seharusnya ia memasang ekspresi terkejut. Namun, mau bagaimana lagi ? Naura tidak terkejut karena sudah tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.


" Kakak barusan bilang apa," tanya Naura Pura-pura tidak dengar


Arkan berjalan semakin mendekat kemudian berseru sekali lagi lebih nyaring


" Gue bilang batalin "


" Emangnya Kenapa ? Kakak su ...." Kalimat selanjutnya terpaksa harus


Naura telan kembali karena terpotong suara Arkan


" Batalin acara nonton barengnya.” Arkan berjalan melewati Naura begitu saja untuk menghampiri Cherry yang baru beberapa detik lalu muncul di Pintu kelasnya. Hal ini membuat Naura malu bukan main.


" Kok tiba-tiba dibatalin," tanya Cherry masih heran,"


" Gue udah Pesan tiketnya, loh,"


Tanpa menghiraukan nada kecewa dari Cherry Arkan terus melangkah ke luar kelas dan berjalan semakin jauh


Mata Naura mengikuti kepergian Arkan dengan Perasaan shock luar biasa Bagaimana bisa ini terjadi ? Mengapa kejadiannya melenceng jauh dari mimpinya semalam ?


Jadi Arkan tidak cemburu kepadanya yang akan latihan drama berdua dengan Kevin Jadi Arkan sebenarnya tidak menyukainya ?


...•••••...


Naura membolak-balik naskah drama yang baru saja diserahkan Kevin kepadanya. Keduanya kini duduk bersisian dengan Posisi bersila di lantai marmer yang dilapisi Parket motif kayu dalam ruangan yang hampir seluruh dindingnya dipenuhi cermin. Ruang ini biasa digunakan Para anggota sanggar untuk berlatih tari. Dan, kebetulan tidak ada kelas tari siang hari ini


Kevin tertawa kecil hingga membuat Naura menoleh bingung


" Udah gue duga lo Pasti langsung ngecek scene di akhir cerita, kan," tebak Kevin masih tertawa.


" Nggak kok " Naura mendadak salah tingkah. Mulutnya berkata tidak, tapi berbeda dengan tangannya. Tangannya masih membolak-balik lembar naskah hingga berhenti Pada scene yang dicarinya.


" Ada Perubahan sedikit di akhir cerita,” ucap Kevin seolah tahu apa yang ada di Pikiran Naura saat ini. " Kita Nggak jadi ambil versi Pertama. Setelah menimbang berbagai hal, versi kedua memang lebih aman buat ditonton semua umur. Anak-anak dari Panti Asuhan Kasih Anugerah yang datang juga kebanyakan masih kecil.”


Kevin tidak sepenuhnya berbohong tentang alasan yang dilontarkannya Walau alasan Paling utama sebenarnya karena saat itu Kevin tahu lawan mainnya adalah Regina.


" Tadi Kakak bilang nama Panti asuhan yang diundang apa Kasih Anugerah,"

__ADS_1


Kevin mengangguk sambil tersenyum


" Kenapa ? Pernah dengar "


Ya Pasti Pernah Naura tidak akan Pernah lupa tempat itu. Tempat yang menaunginya dengan sayang selama lima tahun. Tempat yang menurutnya sangat luar biasa.


" BTW lo Nggak kecewa sama versi kedua, kan,” tanya Kevin dengan nada jail.


Naura salah tingkah dibuatnya. " Ya nggaklah, Kak. Aku ....” Suara Naura hilang ketika dikejutkan sentuhan tangan Kevin di wajahnya


" Bulu mata lo ada yang rontok.” Jari jari Kevin menempel di Pipi Naura untuk menyingkirkan sehelai bulu mata yang menempel di sana. Namun setelah melaksanakan tugas dengan baik tangannya masih bertahan di wajah Naura yang terasa sangat dingin.


" Lo kedinginan " tanya Kevin cemas ketika menempelkan tangannya lebih rapat ke Pipi Naura


Naura dibuat kaku di tempat. Ia tidak Pernah membayangkan akan berada dalam suasana canggung bersama Kevin seperti ini. Naura gugup setengah mati. Kevin masih menatapnya dengan sorot mata yang melelehkan.


Pintu ruangan yang awalnya tertutup setengah kini terbuka lebar. Seseorang baru saja menerobos masuk tanpa Permisi. Gerakannya sangat berlebihan Ia memindai tatapan ke sekitar ruangan, seolah sedang mencari seseorang.


Kehadiran orang itu tentu menyudahi aksi saling tatap Penuh canggung antara Kevin dan Naura Keduanya kompak menoleh ke sumber kehebohan


" Arkan " Naura cukup terkejut menemukan Arkan di sini di sanggar milik keluarga Kevin


" Lo Kenapa bisa ada di sini " tanya Kevin langsung


" Gue lagi nyari Ken " jawab Arkan santai Matanya masih menjelajahi ruangan walau sudah dipastikan tidak ada orang lain selain Kevin dan Naura di sana.


" Ken " Naura berpikir sejenak


" Ken ada di sini ? Ngapain "


" Dia mau ikutan belajar tari sama drama, makanya gue daftarin di sanggar ini.” Arkan berjalan semakin dalam


" Rupanya ini sanggar Punya keluarga lo,” ucapnya kepada Kevin


" Terus sekarang Ken ke mana,” tanya Naura lagi


" Tadinya dibolehin masuk kelas drama Tapi tiba-tiba hilang tuh, anak.”


" Ruang kelas drama sama tari, tuh jauh. Lo sengaja, kali, ke sini,” sindir Kevin


Arkan tampak cuek. Ia lalu ikut duduk bersila tepat di sebelah Naura, " Capek nyari Ken dari tadi. Gue Perlu istirahat sebentar di sini.”


Arkan berpura-pura sibuk dengan Ponselnya ketika Naura terus mendesaknya menjawab alasan sebenarnya berada di sini.


" Gue bilang, gue capek," jawab Arkan masih sibuk dengan Ponselnya.


" Kalo capek, duduk di sana aja, Kak," Naura menunjuk kursi di dekat Pintu masuk.


" Di sana lebih adem, dekat sama AC.”


" Bawel Gue udah Pewe di sini "


" Hm " Naura menyipitkan mata curiga membuat Arkan menoleh kepadanya


" Ra Ayo lanjut latihan lagi.” Kevin menepuk Pelan tangan Naura Kemudian, ia menunjuk salah satu scene Pada naskah drama di genggaman Naura


" Nah Pas bagian ini lo Pingsan setelah makan apel beracun, usahakan jatuhnya tetap menghadap depan, ya. Biar Penonton tetap bisa lihat ekspresi lo.”


Kevin masih mengarahkan Naura dengan gaya bak sutradara andal Keduanya tampak serius menatap lembar naskah yang sama. Dan, hal ini membuat Posisi keduanya jadi sangat dekat.


Arkan memperhatikan keduanya dari Pantulan cermin besar yang memenuhi dinding di hadapannya.


" Coba baca dialog yang ini,” tunjuk Kevin ke naskah drama di genggaman Salsa.


Naura mengangguk. " Tidak Tujuh kurcaci memintaku untuk tidak membuka Pintu dan menerima sesuatu dari orang asing,"


" Jelek " Arkan menyahut.


Seketika Naura menoleh karena tersinggung.


" Bagus, kok "


Sahutan Kevin membuat senyum Naura mengembang lagi.


" Lo memang Pantas buat Peranin Protagonis. Nggak salah gue milih to,” kata Kevin sambil balas tersenyum kepada Naura


Arkan membuang Pandangan ke lain arah. la merasa suhu ruangan tiba-tiba memanas.


" Kalau yang ini, gimana, Kak," tanya Naura sambil menunjuk salah satu scene di lembar naskah.


Kemudian Kevin merapat ke Naura Dan tentu Arkan tidak baik-baik saja melihat Pemandangan tersebut


Arkan merebut kertas dari tangan Naura dengan tarikan keras. Tingkahnya sukses mendapat Perhatian dari dua Pasang mata di sebelahnya.


" Kak aku lagi latihan," kata Naura mulai kesal.


" Gue Pinjam sebentar,” sahut Arkan cuek sambil sok sibuk meneliti naskah di genggamannya.


" Nanti aja, Kak Sini kembaliin," Tangan Naura bergerak, berusaha menggapai lembar naskah yang sengaja diacungkan tinggi-tinggi oleh Arkan


Arkan menahan senyuman ketika menyadari Posisi Naura jadi lebih dekat dengannya dibanding Kevin


Saat Naura berusaha merebut kertas dari tangannya, Arkan justru sibuk menahan debaran jantung sendiri mendapati sentuhan tangan Naura menarik narik tangannya.


Hingga beberapa saat kemudian, suara Kevin berhasil menghentikan usaha Naura yang sia-sia


" Pakai naskah gue aja Ra," Kevin mengulurkan lembar naskah yang sejak tadi hanya tergeletak di sampingnya.


Lalu, mereka berdua kembali larut dalam Pembahasan drama sementara Arkan lagi-lagi diabaikan.


Cumi ! Ternyata dia Punya naskah sendiri. Berarti dari tadi beneran modus. Sialan


Akan tetapi rupanya dewi keberuntungan sedang berbaik hati kepadanya. Seorang gadis kecil muncul dari balik Pintu dan masuk dengan tergesa-gesa


" Bang, Bang Kevin," Panggil gadis kecil itu setelah sampai di hadapan mereka.


" Iya kenapa, San " sahut Kevin kepada adiknya yang tampak kelelahan


" Kenapa lari-lari "


" Itu di kelas akting ada yang senggol kamera Abang jadinya Pecah,"


" Hah " Kevin langsung bangkit berdiri Ia shock luar biasa. Bagaimana bisa Kamera kesayangannya ? Kamera impian yang berhasil ia Peroleh dari uang tabungan selama bertahun tahun Kamera dengan teknologi Dual Pixel CMOS AF, sehingga mampu menangkap objek bergerak secara cepat dan akurat. Benda yang harganya hampir setara dengan sebuah motor Kawasaki Ninja R.


Dan, Sandra tadi bilang apa ? Pecah ?


Aman menoleh sekilas kepada Salsa sebelum bergegas ke lokasi yang dimaksud Sandra.


" Ra tunggu sebentar, ya "

__ADS_1


Naura mengangguk singkat. Ia bisa menebak bahwa sesuatu yang rusak itu sangat Penting bagi Kevin


" Lama juga Nggak apa-apa.” Arkan ikut menyahut walau tidak terlalu keras.


Naura langsung menoleh kepada Arkan


" Sebenarnya Kakak Ngapain ke sini,"


Arkan tidak menyahut. Ia kembali Pura-pura sibuk membolak-balik naskah drama di tangannya.


" Kakak sengaja ke sini buat nyusulin aku, kan,"


Arkan mendengkus tanpa minat


" Ge er banget lo,"


" Jujur aja, deh.” Naura kembali mendesak


" Kakak cemburu kan dengar aku mau latihan drama berdua sama Kak Kevin,"


Arkan menoleh cepat. Apakah Naura sudah mulai Peka terhadap Perasaannya atau hanya menebak nebak ?


" Ngapain gue harus cemburu? Lo bukan tipe gue.”


Sepertinya Naura harus menyudahi usaha untuk mewujudkan mimpinya semalam. Semakin ia mendesak Arkan untuk mengatakan suka, nyatanya kata-kata cowok itu malah semakin Pedas.


Naura membuang Pandangan dengan Putus asa. Ia bersandar di dinding sambil kembali menyibukkan diri membaca naskah drama.


Sekian lama sunyi menyelimuti Arkan tidak lagi berminat Pada lembar naskah di tangan. Ia mengangkat kepala memandangi Naura dari Pantulan cermin besar di hadapan. Seolah kurang Puas, ia kini menoleh, menatap langsung sosok gadis yang selalu disukainya dalam berbagai ekspresi itu Termasuk sekarang, saat Naura sangat serius membaca naskah.


Diperhatikannya satu Persatu bagian wajah Naura yang selalu menarik di mata Arkan. Sekian lama mengamati Galen baru menyadari bulu mata Naura sangat lentik bila dipandang dari samping. Hidungnya mancung dan runcing. Serta bibir tipis warna merah muda itu masih seperti yang dahulu Tampak manis dan menarik. Naura masih saja cantik. Bahkan, bertambah cantik berkali kali lipat dari kali terakhir mereka saling menyapa akrab. Dahulu.


Tatapan mata Arkan beralih memperhatikan Pipi mulus Naura yang Putih Pucat. Senyum di wajahnya tiba-tiba sirna ketika mengingat bagaimana Kevin menyentuh Pipi Naura ketika ia muncul tadi.


Berniat menghapus jejak tangan Kevin di sana Arkan mengusap Pipi Naura sekilas hingga membuatnya tersentak kaget.


Naura menoleh kepada Arkan sambil menyentuh Pipinya sendiri


" Kakak Ngapain "


Arkan yang sudah kembali sibuk dengan lembar lembar kertas di tangan menyahut tanpa menoleh sama sekali


" Apa "


" Barusan Kakak Pegang Pipiku "


Arkan masih saja bersikap cool


" Terus "


" Maksudnya apa "


Arkan masih tidak menoleh


" Menurut lo "


" Kakak suka sama aku, ya " curiga Naura


Kali ini Arkan menoleh. " Emang kalo gue Pegang Pipi lo udah Pasti gue suka sama lo,"


" iya " Naura meyakinkan. " Kalo Nggak suka Kenapa Pegang-pegang,


Arkan menghela napas sekali Ditatapnya lekat lekat Naura yang masih menunggu jawaban darinya


" Kenapa tadi waktu Kevin Pegang Pipi lo, lo nggak marah kayak gini,"


Naura memutar bola matanya


" itu ..... "


" inget ya jangan mau dipegang Pegang sembarangan sama cowok lain Tepis aja tangannya. Patahin kalo Perlu,"


Naura tercengang beberapa detik. Sempat bingung dengan sikap Galen yang seperti marah-marah


" Berarti aku boleh Patahin tangan Kakak," tantangnya kemudian


Arkan berdecak sekali. " Kalo gue beda," sahutnya.


" Apanya yang beda "


" Kak Naura," Suara Sandra dari arah Pintu menginterupsi Percakapan keduanya.


" Bang Kevin minta Kakak ke ruang kelas akting sekarang.”


Naura bangkit berdiri


" Ada apa "


" Kakak kenal sama anak laki-laki lima tahun yang baru masuk hari ini Dia nangis Nggak mau berhenti dari tadi,"


Dengan refleks Arkan ikut bangkit


" Ken "


" iya namanya Ken,” sahut Sandra


" Kakak ini abangnya Ken, ya ? Dari tadi Ken nangis nyariin abangnya.”


Arkan bergegas menuju lokasi tempat menitipkan Ken tadi, di kelas akting Naura dan Sandra mengikutinya


Sesampainya di kelas akting Arkan melihat suasana yang kacau. Suara tangisan Ken bersahut sahutan dengan suara bujuk rayu wanita muda yang merupakan guru akting.


Banyak anak berbagai usia di sana Semua mengelilingi Ken yang menangis tidak jauh dari Posisi Kevin sedang memunguti lensa kamera yang Pecah


Arkan mendekati Ken bersamaan dengan Ken yang berlari menghampiri begitu melihatnya muncul dari balik Pintu


" Bang Arkan,"


Lalu Arkan berjongkok dan mengusap air mata di Pipi Ken


" Kamu kenapa nangis "


" Kita Ngapain ... di sini, sih, Bang ? Ken mau Pulang.”


Rengekan Ken berhasil membuat Kevin dan Salsa menoleh serempak. Kata-kata bocah itu sangat bertolak belakang dengan alasan Arkan sewaktu muncul tiba-tiba di sanggar. Ken tidak tampak tertarik Pada tari dan drama seperti alasan Arkan


Arkan menangkap kecurigaan dari tatapan mata Kevin dan Naura Sekarang, alasan apa lagi yang harus dikarangnya ?


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2